
Seperti jiwaku, bukan... tetapi Hyun Go. Dia juga memberikan kekuatannya karena masuk ke dalam jiwaku. Karena itu dia selalu bilang kalau itu, adalah kekuatan milik dia. Dan juga sepertinya ada yang aneh pada diriku yang cepat kuat ini. Sepertinya tidak hanya Hyun Go, dan Akira saja yang masuk kedalam tubuhku. Akan tetapi orang lain juga masuk kedalam tubuhku.
Karena aku merasakan kekuatan yang luar biasa dari masuk ke dalam tubuhku. Jujur aku saja tidak tahu dari mana asal kekuatan petirku ini. Tiba-tiba saja aku mempunyai kekuatan petir, dan langsung bisa menggunakannya. Kekuatan dari siapa ini, apakah ini kekuatan dari Akira.
Karena dia sudah masuk ke dalam tubuhku seperti Hyun Go leluhurku. Atau dari orang-orang yang ikut masuk ke tubuhku juga tanpa sepengetahuanku. Aku masih belum memastikan pikiranku ini benar atau hanya perkiraan ku saja. Mulai sekarang aku akan memanggil jiwaku, Hyun Go, satu persatu rahasianya akan ku ungkapkan.
Untung saja waktu itu ruang bawah tanahnya tidak ikutan hancur saat di serang iblis itu. Kalau saja hancur aku tak akan menemukan buku yang berisi foto-foto itu, karena di dalam foto itu yang bernama Hyun Go. Wajahnya sama dengan yang mengaku sebagai jiwaku sekarang, tapi aku tak tahu itu foto siapa saja.
Kalau foto keturunan keluarga ku, pasti di foto itu ada foto kakek, dan juga orang tuaku. Tapi ini kenapa tak ada, hanya ada foto orang lain yang tak ku kenal. Yang ku kenal paling hanya leluhurku, Hyun Go saja, aku akan mencari rahasia ini lagi untuk seterusnya.
"Vin ada apa yang terjadi denganmu? kenapa kau sering tiba-tiba pingsan begini?" tanya Jisu di sampingku dan khawatir.
"Eh, ah hmm anu... aku juga tak tahu kenapa aku sering seperti ini. Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir Jisu" kataku, sambil bangun kembali.
"Vin... apa kau tak bisa menyembuhkan koma Setyo? kau kan kuat, kau pasti bisa Vin" kata Jisu, dengan sedih.
"Kenapa kau sedih begitu terhadap orang yang kejam bagimu?" kataku.
"Menurutku dia tak kejam, dia hanya kehilangan kendali saat dia kelaparan. Karena aku ingin sekali berteman dengannya, karena sepertinya dia itu orang yang menyenangkan" kata Jisu.
"Jadi kau tak ada rasa benci sedikitpun padanya. Kau sungguh orang yang baik Jisu, setelah apa yang telah Setyo lakukan padamu. Oh ya Jisu, sepertinya es krim yang kau bawakan untuk Setyo sudah busuk. Lebih baik kau buang saja es krim itu" kataku.
"Hmm... baiklah, akan ku buang sampahnya. Sekalian aku ingin membeli makanan untuk nanti malam" kata Jisu sambil beranjak pergi.
Lalu hari-hari pun berlalu dengan lamanya, tak terasa sudah sebulan berlangsung. Dan Setyo pun belum siuman dari komanya, dan juga selama sebulan ini juga masih ada berita. Tentang pembunuhan secara diam-diam ini, jika seperti ini terus manusia akan mencapai titik kepunahan.
Hal ini sama seperti saat perang dunia dengan iblis, banyak manusia yang kehilangan nyawanya saat perang itu. Dan lagi perkembangan manusia selama dua tahun ini, belum bisa mengembalikan banyaknya manusia sebelum perang itu terjadi. Lalu di suatu tempat...
"Apa kalian semua sudah siap untuk perang di rumah sakit"
Semuanya serentak menjawab, "Ya! Kami Siap!"
"Kalau begitu ayo kita mulai rencana b ini, semoga saja berjalan dengan lancar tak ada kendala sedikitpun"
Lalu saat aku sedang tertidur di rumah sakit, tepatnya pada malam hari. Tiba-tiba saja ada suara berisik yang membuatku terbangun, dan setelah ku lihat banyak sekali orang-orang yang berdatangan di ruangan Setyo. Semua pasukan penyihir berkumpul di ruangan Setyo, aku panik.
"Hah? bukannya anda yang memanggil kami untuk kesini" kata salah satu orang yang datang ke ruangan Setyo.
"Apa? aku yang memanggil kalian? tapi sejak kapan aku memanggil kalian?" kataku.
"Apa kau serius tak memanggil kami, kami datang karena ada keadaan darurat. Dan kau menekan tombol yang waktu itu di berikan oleh pak direktur Sunghon"
Lalu tiba-tiba saja suara bergemuruh datang dari bawah rumah sakit. Tepatnya di dasar rumah sakit, gedung rumah sakit ini yang tingkatnya 10, bergoyang-goyang. Aku sedang berada di tingkat 7, dan tiba-tiba saja lantai di ruangan kami jebol hancur kebawah.
Seluruh isi rumah sakit itu terluka parah, termasuk denganku. Setelah aku bangun, dan berdiri, aku terkejut begitu melihat keadaan rumah sakitnya. Rumah sakitnya hancur lebur karena guncangan itu, lalu diantara puing-puing ada seseorang berjubah dengan jumlah yang banyak mengelilingiku.
Aku sangat panik bagaimana dengan keadaan Setyo. untunglah Jisu pergi keluar, kalau tidak dia akan mati karena dia hanya manusia biasa. Begitu juga dengan tim petugas keamanan di kepung oleh orang-orang berjubah ini.
Untunglah karena jumlah kami tak kalah dengan orang-orang berjubah ini. Karena para petugas keamanan sempat datang, tapi aku masih bingung, siapa yang memanggil mereka. Padahal aku tak menekan tombol itu, dan juga seharusnya tombol itu sudah hancur saat aku kalah melawan iblis itu.
Lalu aku langsung marah, dan meminjam kekuatan Hyun Go. Orang-orang berjubah ini kenapa dari tadi tak menyerang kami, dan tiba-tiba saja mereka memberi isyarat. Dan mereka semua kabur dengan cepat setelah memberi isyarat itu.
Sebelum orang-orang berjubah itu pergi, ada satu orang berjubah yang berdiri di depanku. Pakaiannya agak lain dengan yang lain, hanya dia saja yang berpakaian berwarna putih, sedangkan yang lain berwarna hitam. Mungkinkah dia itu adalah pemimpin orang-orang berjubah itu.
Dan dia juga yang telah memberi isyarat kepada yang lain untuk mundur. Orang-orang berjubah itu memakai topeng yang tertutup, dan aku sempat melihat gambar yang ada di punggung jubah itu. Gambar itu sama seperti lambang yang ada di kertas itu, kertas yang memperingatkan ku untuk tak pergi keluar.
Sayangnya saat aku ingin mengejar mereka, mereka kabur lebih cepat dariku. Karena mereka menggunakan kekuatan untuk membuka portal. Lalu aku mencari-cari Setyo di puing-puing bangunan, aku mencari-cari Setyo di bawah puing-puing bangunan, tapi tak ku temukan.
Aku panik sekali, dan aku meminta para petugas keamanan juga membantu ku untuk mencari Setyo. Lalu aku melihat ada tangan yang keluar di tumpukan bangunan. Lalu aku mengangkat puing bangunan yang besar itu yang menimpa seseorang di bawahnya.
Setelah ku lihat ternyata dia Setyo, tubuhnya di lumuri darah. Dan keadaan tangannya patah, aku langsung cepat-cepat memanggil petugas keamanan untuk membawa Setyo ke rumah sakit di perusahaan.
Beberapa tim petugas keamanan, membantu korban yang terkena serangan ini. Aku membawa Setyo bersama petugas keamanan ke perusahaan, karena di bawah tanahnya ada rumah sakit. Lalu aku menelepon Jisu untuk datang ke perusahaan.
Rumah sakit ini berada di dalam tanah, dengan urutan ke 3. Aku menangis, karena panik takut Setyo kenapa-napa, dan juga perasaan amarah yang sangat besar. Lalu Jisu datang membawa makanan yang dia beli untuk makan malam. Dan keadaan Setyo semakin memburuk kata dokter setelah kejadian tadi.
Bersambung...