
Lalu aku tiba-tiba saja sadar dari mimpiku, dan aku melihat tubuhku tak kenapa-napa. Dan rasa sakit yang di dunia mimpi hilang setelah aku bangun. Dan juga Hyun Go telah memblokir ayahku sehingga tak akan pernah menemui ku lagi lewat mimpi.
Padahal tadi itu adalah sesuatu yang penting bagiku untuk mengetahui tentang Hyun Go. Tapi sayangnya Hyun Go mengetahuinya, benar juga sih, dia adalah penyihir terkuat. Dia bisa mengetahui apa saja, dan bisa melakukan apa saja. Tak ada yang bisa menghalangi dia dari jalannya.
Andai saja tadi aku tak banyak basa-basi, pasti aku sudah tahu tentang Hyun Go biarpun hanya sedikit. Kenapa sih dia itu menutupi rahasianya dengan rapat-rapat, sehingga tak ada yang tahu. Tapi kalau tidak salah pak direktur Sunghon mengetahui tentang Hyun Go.
Karena dia terus mengatakan yang membuatku terus berpikir. Sama seperti dengan apa yang Hyun Go katakan padaku. Tapi percuma saja jika dia masih hidup juga, dia pasti tak akan memberitahu informasi tentang Hyun Go padaku.
Lalu aku pergi keluar rumah berniat untuk menemui Rick. Untuk mengobrol seperti biasanya karena aku selalu kesepian, namun saat aku sedang berada di luar. Para petugas keamanan mengelilingi rumahku, lagi-lagi hal yang sama terjadi seperti di rumah sakit waktu itu ada serangan.
"Hei! kenapa kalian datang lagi, dan sekarang kalian datang ke rumahku" kataku.
Lalu salah satunya menjawab pertanyaan ku, "Lagi-lagi anda berbicara seperti itu tuan, Vin. Sudah jelas bukan kalau kami datang karena anda menekan tombol itu" kata orang itu.
"Astaga! aku kan sudah bilang benda yang di berikan pak direktur Sunghon itu sudah rusak. Dan bukan aku yang menekannya tahu! aku tak tahu sama sekali" kataku.
"Sudahlah anda jangan berbohong tuan Vin. Seperti waktu itu saat di rumah sakit, saat anda menekan tombol itu. Akan ada peperangan yang terjadi, seperti saat ini pasti akan terjadi lagi. Oleh orang-orang berjubah itu, berkat kau kami jadi bisa mengetahui keberadaan orang-orang yang selama ini menutupi dirinya rapat-rapat menjadi terlihat" kata orang itu.
"Hei sudah kubilang kan... bukan aku yang menekan tombol itu. Oh ayolah apa kalian tak percaya padaku..." kataku, lalu tiba-tiba saja segerombolan orang-orang berjubah datang.
Mereka datang, dan berdiri di depan kami dengan menggunakan posisi segitiga. Orang yang paling depan, itu adalah pemimpinnya karena dia yang waktu itu berpakaian yang berbeda dengan yang lainnya lainnya. Karena dia memakai jubah berwarna putih, lalu dia berbicara pada kami.
"Ah lagi-lagi kalian semua datang. Bagaimana kalian bisa tahu hah, kalau kami akan datang di hari ini. Apa kalian mempunyai penyihir peramal?" kata pemimpin grup jubah itu.
"Buka topeng mu! sebelum aku yang akan membukanya" kataku dengan amarah yang meluap-luap.
"Wow wow, santai aja kali, baiklah jika kau berkata seperti itu apa boleh buat. Ayo kita coba, apa kau bisa membuka topengku?" kata pemimpin grup jubah.
Lalu aku langsung melesat dengan cepat menggunakan kekuatan petirku. Aku tak menggunakan kekuatan Hyun Go karena aku benci padanya. Dan juga aku yakin tanpa kekuatan Hyun Go pun, aku pasti bisa menang melawan mereka.Lalu aku memukul ke arah topengnya, dan seranganku di tangkap oleh dia.
"Cih... hanya segini saja kekuatanmu hah? kalau seperti ini kau tidak pantas di sebut dengan manusia ramalan itu. Yang pantas darimu adalah kematian teman yang tak berguna itu, hahaha!" kata pemimpin jubah itu.
Lalu aku memanggil langit untuk mengeluarkan badai yang besar, dan petir yang menyambar dimana-mana. Tanpa memikirkan orang-orang yang sedang bersamaku sekarang, aku langsung saja menyambar petir itu kemana-mana secara acak. Karena aku belum bisa mengendalikan petir-petir itu, kecuali petir yang sangat besar.
Lalu para petugas keamanan ingin membantuku, dan tiba-tiba saja orang yang berada di belakang pemimpin jubah. Itu terbang, dan menghalangi pertarungan aku, dan pemimpinnya. Para petugas keamanan bertarung dengan anak buah dari orang berjubah yang sedang ku tangani.
Tapi anehnya hanya ada satu orang berjubah yang hanya mengamati kami berperang. Orang itu tak ikut serta dalam pertarungan ini, dia hanya diam saja, dan duduk di atas pohon. Saat ku lihat petir-petir ku yang menyambarnya, dia menangkisnya dengan tanah neraka.
Tiba-tiba saja aku teringat pada iblis yang mengalahkan ku waktu itu. Dan aku langsung pergi terbang ke arahnya dengan cepat, lalu pemimpin jubah itu menghalangiku, dan memukulku dengan kekuatannya hingga aku terjatuh. Tapi jubah yang di pakai iblis itu sama dengan jubah yang di pakai oleh anggota lainnya. Apa berarti yang sedang ku hadapi ini lebih kuat dari dia, tapi rasanya dia lebih lemah dari iblis itu.
"Kita bertemu lagi Vin... apa kau sedang memikirkan mana yang lebih kuat di antara kami? kalau kau tanya hal seperti itu pasti kau sudah bisa merasakannya kan" kata iblis itu.
"Ternyata benar dugaan ku, kau adalah iblis yang waktu itu mengalahkan ku. Kalian para iblis datang lagi untuk menghancurkan dunia manusia, dasar payah" kataku sambil berdiri.
"Hmm..." kata iblis itu tanpa satu katapun.
"Hei Vin! urusi saja urusan di depanmu ini. Aku ingin mengetahui seberapa kuatnya manusia ramalan itu. Ayo serang aku lagi!" kata pemimpin jubah itu sambil melesat membawa pisau petirnya.
Ternyata dia juga pengguna petir sama sepertiku. Kalau begitu dia adalah penyihir, dia manusia bukan iblis. Tapi ada juga iblis yang menggunakan kekuatan seperti penyihir, salah satunya iblis yang bisa mengalahkan aku itu. Lalu aku menghindari serangannya dengan cepat, tapi pisau yang dia pegang tak ada di tangannya.
Setelah ku lihat lihat lagi, ternyata pisau itu tertulis di perutku. Aku langsung terjatuh, karena tubuhku tersetrum tak bisa bergerak, lalu dia mendekatiku. Sambil membawa pisau petirnya lagi, padahal tadi sudah jelas kalau aku sudah menghindari serangannya.Tapi kenapa, kenapa serangannya bisa mengenai ku?.
"Apa kau terkejut Vin? kenapa tiba-tiba pisau yang ku serang padamu mengenai mu?" kata pemimpin jubah itu.
"Ba-bagaimana bisa serangan mu bisa mengenai ku?" tanyaku dengan kesakitan karena tersetrum.
"Sebenarnya pisau yang ada di tanganku tadi ku lemparkan sambil membuka portal. Tepat sekali aku membuka portal di tempat kau menghindari seranganku" kata pemimpin jubah itu.
Lalu tiba-tiba saja aku kehilangan kesadaran ku, karena aku di panggil oleh Hyun Go. Dia berniat untuk membantuku tapi aku menolak bantuan darinya. Karena aku tak mau mendapatkan bantuan dari penyihir tak berperasaan seperti dia.
Bersambung...