
Sebenarnya foto-foto siapa ini, kenapa kakek tak memberitahuku. Sebenarnya siapa orang-orang ini, foto pertama yang ada di buku itu sudah 10 abad lamanya dia mati. Lalu ku perhatikan sekali lagi foto itu, ternyata di pojok foto itu tertulis namanya setiap foto. Dan kulihat nama di foto yang pertama itu adalah "Hyun go" seingat ku dia adalah orang pertama yang menemukan buku ini.
Saat aku sedang bergegas untuk turun. Para iblis itu langsung pergi menghilang, "Pergi semuanya! ada manusia ramalan itu yang akan datang ke sini" kata salah satu iblis itu.
Lalu mereka menghilang tepat saat aku sampai di bawah. Aku tak tahu para iblis itu pergi ke arah mam, tapi sepertinya mereka sekumpulan iblis yang cukup kuat. Karena mereka mempunyai kekuatan teleport, lalu aku melanjutkan perjalananku.
Aku terbang ke atas untuk membunuh para naga-naga itu, bersama dengan iblis nya. Aku bunuh satu-satu setiap ada naga yang datang, langsung ke belah menjadi dua dengan pedangku. Iblis yang selamat dari seranganku, aku langsung mengejarnya, dan membunuhnya. Aku lihat dari atas sini, para penyihir baru kesulitan melawan para iblis, dan ada juga banyak para penyihir baru yang mati tergeletak di tanah.
Aku lihat jumlah iblis semakin banyak saja dari manusia. Mereka berkeliaran dimana-mana, lalu aku memikirkan cara tercepat untuk membersihkan mereka semua. Mungkin dengan cara sekarang seperti ini akan membutuhkan waktu yang lama untuk membunuh naga, dan juga iblis. Jadi aku langsung berubah menjadi monster lagi, dan mengendalikan petir-petir untuk menyambar mereka semua yang ku lihat.
Petir-petir ku membunuh mereka semua dengan sangat cepat sekali. Iblis yang mendekatiku langsung aku sambar dengan petirku, tidak ada satu iblis yang bisa mendekatiku. Lalu tiba-tiba saja bumi berguncang dengan dahsyat, tanah-tanah retak dengan berbentuk bulat. Seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari bawah tanah itu, lalu tanah yang retak itu runtuh ke bawah, dan membuat lubang yang besar.
Lalu dari lubang yang besar itu keluar monster lahar yang sangat menyeramkan. Monster itu memiliki tanduk yang menjulang tinggi, dan tangannya di ikat oleh rantai. Jadi makhluk itu tak bisa keluar dari lubang itu, dia hanya mengeluarkan setengah dari tubuhnya. Giginya yang sangat tajam, dan juga berapi-api itu menembakkan ke arahku. Lalu aku menangkisnya dengan pedang petirku, dia terus menembaki ku dengan giginya.
Gigi yang hilang yang telah di keluarkan, terus tumbuh lagi dengan cepat. Giginya sangat besar, seukuran orang dewasa, namun serangannya tak ada yang berhasil mengenai ku. Lalu dia memukul-mukul tanah sampai bergetar keras, lalu tanah yang ada di bawahku menyemburkan lahar.
Aku langsung menghindar, lahar terus bermunculan walau aku pindah tempat. Semua tempat yang aku lewati menyemburkan lahar yang panas sampai ke atas. Keadaan bumiku di penuhi oleh pemandangan lahar di sana-sini. Dan juga para penyihir yang tak bisa terbang, mati terbakar oleh lahar itu. Banyak sekali korban yang mati terbakar yang di akibatkan oleh monster ini, walau monster ini hanya mengincar ku.
Tapi penyihir yang disekitarnya juga terkena serangannya, karena serangan yang dia timbulkan sangat besar. Kalau begini terus umat manusia akan kalah, dan menghilang dari kehidupan. Aku tak boleh membiarkan perang ini terus berlanjut, akan ku hancurkan monster itu dengan petir besar ku.
Lalu aku menyambar dia dengan petir yang sangat besar, seperti para iblis lainnya lainnya. Lalu petir besar yang ku arahkan ke dia tak berpengaruh sama sekali. Seperti tak ada efek sama sekali, dia terlihat seperti tak terkena seranganku. Lalu aku mencoba menyambar petir besar dengan kedua kalinya, setelah ku perhatikan ada semacam pelindung yang melindunginya.
Ini mustahil sekali, bagaimana mungkin petir yang sangat kuat ini, tak berpengaruh terhadap pelindungnya. Bahkan tak retak sama sekali pelindungnya, kalau terus seperti ini aku harus bagaimana. Lalu aku mencoba mendekati monster itu dengan sangat cepat, dan memukul pelindung itu dengan sangat kuat. Pukulan ku menghasilkan ledakan yang sangat luar biasa, namun pelindung itu sama sekali tak berpengaruh.
Lalu ada yang berbicara denganku lewat telepati, "Vin kau sedang berurusan dengan monster yang sangat besar itu bukan?" tanya pak direktur Sunghon.
"Ah pak direktur Sunghon ternyata, iya bapak benar. Saya sama sekali tak bisa menghancurkan pelindungnya pak, apa yang harus saya lakukan?" tanyaku.
"Kurasa itu mustahil untuk menghancurkan pelindung itu Vin. Karena pelindung itu dari kekuatan sang raja iblis, mustahil bagi kita yang akan menghancurkannya. Bapa juga sedang mengurusi monster yang sama denganmu" kata pak direktur Sunghon.
"Bapak sudah bertanya-tanya kepada seluruh penyihir di dunia. Kalau belum ada tanda kemunculan raja iblis, dan di seluruh dunia juga sedang mengurus monster yang sama dengan kita Vin" kata pak direktur Sunghon.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pak! tak mungkin kita hanya diam saja bukan" kataku.
"Kita hanya bisa bertahan saja Vin, tak ada yang bisa kita lakukan dengan monster ini. Lebih baik kau mengurusi iblis yang sedang berkeliaran, dan melindungi para penyihir" kata pak direktur Sunghon.
"Kalau begini terus kita akan kalah pak. Masa tidak ada cara yang bisa kita lakukan" kataku.
"Sudah bapak bilang tak ada cara Vin! kau dengarkan aku! tidak ada yang bisa kita lakukan dengan para monster ini!" kata pak direktur Sunghon dengan kesal.
"Kalau begitu aku akan mencarikan caranya pak. Aku yakin pasti akan ada keajaiban yang datang, percayalah pada keajaiban pak. Pasti kita sebagai umat manusia tak akan musnah begitu saja oleh para iblis" kataku.
"Kau masih percaya dengan hal seperti itu? apa kau benar-benar yakin pada dirimu kalau kau itu seorang anak ramalan hah?" kata oak direktur Sunghon.
"Apa maksud bapak? kenapa bapak bicara seperti itu" kataku.
"Apa kau tahu Vin, kau itu bukanlah seorang anak ramalan itu. Aku hanya alat saja, kau lihat keadaan bumi kita begitu buruk. Yang kita lihat cuma kehancuran, kebakaran, kematian di sana-sini" kata pak direktur Sunghon.
"Apa maksudmu kalau aku adalah alat... memang bumi kita sedang sangat kacau balau. Tapi aku akan menghentikannya" kataku.
"Suatu hari nanti kau akan tahu kebenarannya Vin. Sudah bapak bilang tak ada yang bisa menghentikan kekacauan ini... sampai dia datang" kata pak direktur Sunghon.
"Siapa dia, memangnya siapa dia? apakah dia yang diramalkan itu, dan bukannya aku?" kataku.
Setelah mendengar perkataan pak direktur Sunghon. Seakan-akan impianku menghilang di dalam diriku, seakan-akan aku hanya seorang figuran di dalam suatu novel. Bukan seorang tokoh utama, atau tokoh pendukung, aku hanya... seorang figuran.
Bersambung...