
Aura halilintar merah yang dia miliki menghilang sejenak saat hantaman tadi. Dan dia menatap ke atas, dia menatapku dengan tajam, ternyata benar dia adalah direktur Wang. Lalu tiba-tiba aura halilintar itu kembali, dan dia melesat ke atas, dan bersiap menyerangku.
Dia melakukan uppercut padaku, sehingga aku terpental, dan terhuyung-huyung. Mataku menjadi buram setelah menerima uppercut tadi, lalu aku melihat ada aura merah yang tak jelas di depanku.
Sepertinya dia adalah direktur Wang, lalu dia memukuli ku bertubi-tubi. Aku semakin, tak bisa bergerak, dan rasanya semakin terhuyung-huyung. Lalu akhirnya aku terjatuh, dan berbaring di atas tanah.
Sambil menatap langit, namun ada sesuatu yang tak jelas kulihat yang tiba-tiba datang. Dan sesuatu itu terus mengajar ku sampai habis-habisan. Aku tahu yang kulihat itu adalah direktur Wang.
Bagaimana ini... apa yang harus kulakukan, kesadaran ku mulai hilang. Oh iya aku baru ingat, kalau dari buku itu mempunyai semacam shield yang melindungi ku. Sudah lama sekali aku tak memakai shield itu.
Lalu setelah aku menggunakan shield itu, serangan direktur Wang yang sangat kuat itu. Tak berpengaruh sama sekali pada shield ku, aku terus tiduran di tanah.
Sembari mengambil alih kesadaran ku, namun pada akhirnya tetap sama saja. Lagi-lagi aku kehilangan kesadaran ku lagi untuk yang kedua kalinya. Aku terbangun di dunia ilusi bertema bambu, itu adalah ilusi milik Hyun Go.
"Vin... kau tetaplah disini" kata Hyun Go yang berdiri di depanku, dan membelakangi ku. Seketika aku melihat sebuah cahaya yang terang, dan juga di sambut dengan angin yang berhembus dengan kencang.
Yang membuat pakaiannya terhembus angin, saat itu yang ada di pikiranku adalah "Pahlawan". Karena aku takjub tak berkata satu patah pun melihat dia yang seperti itu.
Lalu cahaya itu semakin terang, dan terang, "Hyun Go? k-kau... mau kemana?" tanyaku dengan takjub.
Dia tak menoleh kebelakang sedikitpun, itu yang membuatnya terlihat keren. Dan juga cahaya terang yang ada di depannya itu, begitu juga angin yang berhembus dengan kencang dari arah cahaya itu.
"Heh... sudah waktunya aku yang menggantikan dirimu, Vin" kata Hyun Go.
Dan tiba-tiba saja cahaya itu semakin terang, dan terang sekali yang menyilaukan mataku. Begitu juga dengan angin nya juga semakin berhembus semakin kencang, aku menutup mataku saat itu.
Lalu tiba-tiba saja cahaya, dan hembusan angin itu menghilang. Dan aku mulai membuka mataku dengan perlahan. Dan kulihat hutan bambu yang tadi kulihat ternyata sudah menghilang.
Yang kulihat hanyalah warna putih yang tiada ujungnya. Hanya putih polos, dan tak ada sesuatu di dalamnya. Begitu juga dengan Hyun yang tadinya di depanku tiba-tiba saja menghilang begitu saja.
Sebenarnya ada apa ini? ada dimana aku? kenapa aku tak bisa sadar kembali?. Apakah aku sudah mati? ya sepertinya aku sudah mati, ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak direktur Sunghon.
Kalau aku bukanlah seorang manusia ramalan itu. Hahaha selama ini aku mikir apa sih, masa iya yang dulunya aku hanya seorang pecundang di sekolah. Tiba-tiba menjadi seseorang yang sangat di ramalkan oleh sekian banyak orang.
Lalu aku terduduk di dunia yang berwarna putih itu. Aku hanya diam, dan merenungkan semua yang pernah kulakukan di dunia ini. Lalu aku tertidur, dan bangun lagi, sebenarnya sudah berapa lama aku berada disini.
Aku tak mengenal waktu di dalam ilusi ini, ah bukan ilusi. Aku ini sudah mati, aku tak tahu harus menyebutkan apa. Aku juga tidak makan, ataupun minum, dan juga tidak buang air selama ada disini.
Dan aku lagi-lagi hanya terdiam saja, tak ada yang bisa ku ajak bicara karena tak ada siapapun kecuali aku disini. Dan aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, dan sepertinya aku mulai kehilangan akal sehat ku.
Aku selalu bergumam pada diriku, "Sebenarnya sudah berapa lama aku disini? apa yang terjadi pada dunia manusia sekarang? apakah ada seseorang yang dapat menolong ku saat ini?" gumamku.
Dan juga terkadang aku tertawa-tawa sendiri, dan juga aku selalu memikirkan bagaimana dengan keadaan Zack saat ini. Namun, aku tak bisa mengendalikan diriku, aku hanya ingin terus tertawa.
Dan rasanya perlahan-lahan ingatanku mulai menghilang di otakku. Dan aku semakin tak terkendali, hatiku juga tak merasakan ketenangan. Begitu juga dengan jiwaku yang rasanya campur aduk sekarang.
"Hahaha... hahaha... hahaha... Zack... kumohon jangan ambil.... hahaha.... ingatanku... haha... yang berharga... hahaha" kataku terus tertawa.
Aku semakin sulit untuk mengingat, aku tak bisa mengingatnya lagi. Masa-masa yang indah di kehidupanku, hahaha apakah ini rasanya saat mati. Semua yang berharga yang dulunya dimiliki semasa hidupnya akan menghilang saat kita mati.
"Hahaha!... Zack?.... hahaha siapa itu Zack?... hahaha rasanya aku tidak mengenal manusia yang bernama Zack... ah aku ngomong apa sih?... manusia itu apa?... hahaha" kataku.
Ingatanku semakin memburuk, tapi aku masih bisa mengingat kakek, dan juga Setyo. Walau ingatan itu semakin terkikis, dan hilang... beginilah rasanya mati.
Dan beginilah kehidupan saat kau mati, kau merasa seperti mayat hidup. Mayat hidup yang biasa kita tonton, tak memiliki akal, ataupun jiwa. Karena semuanya yang dulu manusia yang miliki yang sangat berharga, akan menghilang begitu kau mati.
"Tidak!... hahaha... kakek jangan hilang dari ingatan ku!... hahaha. Eh?... kakek? memangnya aku punya kakek?... tunggu... apa itu kakek?" aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Seandainya ingatanku tentang Setyo tak menghilang. Ingatanku saat itu kita bertiga sedang memasak, namun yang kulihat di ingatanku hanyalah sosok Setyo. Yang kulihat saat itu dengan sosok Zack hanyalah sebuah bayangan hitam yang bergerak, dan juga berbicara.
Suaranya juga sangat aneh, karena aku tak mengingat Zack lagi. Namun kulihat saat di mimpi itu, tiba-tiba saja tangan Setyo mulai menghitam seperti Zack. Ini pertanda kalau Setyo juga akan menghilang dari ingatanku.
"Hiks-hiks.... hiks-hiks... jangan, kumohon jangan lagi" kataku tangis tersedu-sedu.
Tubuhnya mulai menghitam menjadi bayangan, dan suaranya juga menjadi semakin berbeda. Dan kini yang berwarna dari tubuhnya hanya tersisa di kepalanya saja.
"Ja-jangan.... jangan... hahaha... jangan... hiks-hiks" kataku dengan pikiran kacau.
Sebelum kepalanya menjadi bayangan, Setyo yang ada dipikiran ku berbicara padaku, "Vin... tunggulah aku, aku akan segera kembali" kata Setyo.
Dan tiba-tiba saja, tubuh Setyo menjadi bayangan sama seperti Zack. Eh? dengan siapa tadi aku berbicara? hmm aku tidak tahulah. Hahaha, sekarang aku memiliki teman-teman baru.
Aku berteriak kepada dua bayangan itu (Zack, dan Setyo), "Hei teman-teman mari kesini, ayo kita makan" kataku kepada mereka.
Lalu kami makan bersama-sama, tanpa mengenal siapa bayangan itu. Karena aku sudah tak mengingatnya lagi, gambaran terakhir yang kulihat adalah makan bersama dengan dua bayangan itu.
Kami makan bersama, dan juga bertengkar, dan bahagia bersama di meja makan itu.
Walau aku bermain dengan entah siapa lebih itu. Bermain dengan bayangan saja, sudah membuatku bahagia, walau kami tak saling mengenal. Namun... kami sangat bahagia
Bersambung...