Human Divination

Human Divination
Pertarungan



Peringatan : karakter, tokoh dan cerita ini hanya imajinasi penulis, jadi cerita ini hanya imajinasi penulis saja.


Aku melihat ada seseorang yang lewat di depan ku, orang ini terasa tidak asing Dan dia...


"SE-SETYOOO!!!" kata ku sambil kaget karena teman baiknya ada penyihir juga.


"Eh, kok kamu bisa di sini?, sejak kapan kau, jadi penyihir?,aku tak percaya ini" sambil menepuk kepalanya, "hei, seharusnya aku yang tidak percaya kalau teman baikku, adalah seorang penyihir"


"Ahahaha, maaf aku tidak bisa memberitahu mu, karena penyihir harus menyembunyikan pandangannya dari manusia biasa"


"Hmm itu benar juga, sih tapi set..." setyo langsung memotong pembicaraan ku, "hei Vin mulai hari ini panggil aku senior," dengan gaya yang sok gagah.


Saat aku ingin bicara, Rani berbicara terlebih dahulu, "Benar kata senior, vin kau harus memanggil dia senior mulai hari ini"


"Hah, dia ini teman ku yang paling lemah di sekolah" candaku, "hei kau bicara apa hah, sudahlah mulai sekarang kau panggil aku senior, dasar penyihir amatir," dengan tatapan yang sombong.


"Hei aku ini masih baru tahu, memangnya kau sekuat apa hah S.E.N.I.O.R," kataku sambil meledeknya. "hoho, jadi kau ingin bertarung dengan ku?, dan cara memanggil ku senior tidak seperti itu tahu"


"Tentu saja, aku akan mengetes seberapa kuatnya dirimu, waspadalah dengan penyihir sepertiku senior," dengan percaya diri aku menunjuk setyo agar kelihatan gagah di hadapan para wanita.


"Wah vin hebat, memang yang terbaik, mau menantang senior, semoga berhasil vin"


"Panggil aku seperti itu ya, oke, akan ku tunggu kau di arena, dan siapkan dirimu sebelum bertanding dengan ku, semoga berhasil, vin" setyo pergi meninggalkan ku.


Aku berpikir bahwa, aku sudah bersikap tidak baik pada teman ku, "sepertinya aku sudah keterlaluan tadi, maaf Senior, aku akan datang untuk bertarung dan minta maaf" gumam ku.


Rani melihat ku yang sedang merasa bersalah, "hei ada apa vin, apa kau baik-baik saja?"


"Hanya saja, sepertinya aku keterlaluan, tiba-tiba saja kata-kata seperti itu keluar dengan sendirinya, apa kau bisa antar kan aku ke arena?" kataku dengan perasaan bersalah.


"Pergilah minta maaf, mungkin keadaannya akan lebih baik, ayo aku antar" Kata Rani sambil menunjukkan jalannya. Akhirnya tak lama kemudian, aku sampai, di arena, terlihat banyak sekali penonton.


Aku melihat setyo yang sedang menunggu ku. Terlihat wajah setyo yang membenciku, lalu aku datang menghampirinya untuk minta maaf padanya, "hei setyo, mungkin tadi aku terlalu sombong padamu, maafkan aku, aku hanya saja terlihat keren dihadapan orang lain" setyo memotong pembicaraan ku.


"Sudahlah aku tak mau mendengarkan kau lagi, lebih cepat kita mulai" kata setyo yang marah padaku" Memang sekarang aku punya banyak teman, tapi aku kehilangan sahabat terbaik ku.


"Baiklah, tapi sebelumnya aku minta ma..."


"DIAAMM!!!" setyo langsung menyerangku, dengan petir yang keluar dari tangannya. Secara tanpa sadar aku berhasil menghindarinya, tapi aku terjatuh, saat menghindarinya.


"Wah, hebat juga kau, biasanya tidak ada yang lolos dengan serangan tadi," Lalu setyo loncat ke arahku dan bersiap memukul ku dengan tangan petirnya.


Lagi-lagi tanpa di sadari, ada sebuah shield di sekeliling ku. Serangan setyo tidak bisa menembus shield ku, penonton bersorak padaku, "pantas saja kau sombong padaku, ternyata karena punya kekuatan seperti ini"


Kesalah pahaman ini semakin memburuk, padahal bukan itu maksudku. "Setyo kau salah paham denganku"


Lalu aku mencoba serangan yang ada di buku itu. Aku membaca mantra, dan seketika keluar 3 monster di sekelilingku, dan langsung menyerang setyo. "Rara panggil keamanan mungkin ini sangat gawat" kata Rani, Rara langsung berlari dan mencari keamanan.


"Apa apaan ini, sebenarnya kau siapa vin, tidak mungkin penyihir pemula seperti mu bisa menggunakan skill summon" Setyo terlihat sangat panik, dan berusaha melindungi dirinya dari serangan monster itu.


Lalu para penonton sangat terkejut denganku. Monster-monster ku mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Yaitu kekuatan api, angin, dan tanah, Monster ku tak berhenti menyerang setyo.


Aku tidak bisa mengendalikan monster-monster itu, aku hanya bisa panik. Sedangkan setyo terlihat kewalahan menahan serangan monster itu. Lalu aku datang di waktu yang pas, saat Setyo terpojok.


Aku datang dan membuat shield, untungnya para monster itu tidak bisa menembus shield ku.


"Vin apa yang terjadi ini, dan kau sebenarnya siapa, kenapa kau masih ingin melindungi ku?" kata setyo.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku ini temanmu, aku pasti akan melindungi mu, dan kita harus segera pergi dari sini, nanti akan ku jelaskan semuanya" setyo pun nurut padaku.


Saat aku dan Setyo kabur, monster itu mengikuti kamu, dan datang keamanan untuk mencegah monster-monster itu. Petugas keamanan itu sangat kuat ia berhasil mengalahkan ketiga monster itu.


Dan seketika monster itu menghilang, arena itu hancur karena ku, untung saja para penonton sempat pergi saat monster itu muncul. Mungkin mereka tahu kalau ini sangat berbahaya.


Lalu petugas keamanan itu datang kepada ku bersama Rara, dan Rani. "Hei nak, apa yang kau lakukan tadi, itu sangat berbahaya" kata petugas itu, aku hanya tidak tahu yang ku lakukan, dan petugas itu pergi.


"Hei vin, sebenarnya kamu itu siapa, dari kekuatan kau itu lebih kuat dari senior, dan sepertinya, kau sudah masuk peringkat penyihir komandan," kata Rara.


"iya benar, tolong jelaskan pada kami kenapa kau mempunyai kekuatan seperti itu" kata setyo yang berbaring lemah. Lalu aku melihat sekitar, untunglah pada saat itu hanya ada aku, setyo, rara, dan rani.


"Baiklah, tapi kalian janji padaku, jangan menyebarkan identitas ku?", lalu mereka menganggukkan kepala.


"Hah, apa kalian tahu tentang ramalan manusia..." Setyo langsung memotong pembicaraan ku, "APAA!!!, jangan bilang kalau kau adalah orangnya, iya kan?"


"Hmm begitu lah," Lalu mereka terkejut dan secara berbarengan teriak padaku, "APAAA!!!, INI TIDAK MUNGKIN!!"


"Ssst, diem, nanti pada datang kesini," kataku panik karena takut terdengar yang lain.


"Aku tak percaya kalau sahabat ku adalah orangnya, hei vin apa kau tahu kakek mu adalah penjaga buku itu, ia tidak akan membiarkan orang lain menyentuh sedikit pun, lalu bagaimana kau bisa mengambil buku itu" kata setyo


"Oh benarkah?, ternyata kakek ku seperti itu ya?, tapi sebelum itu aku mau minta ma..." Lagi-lagi memotong pembicaraan ku. "Hah sudahlah jangan bahas itu lagi, aku sudah memaafkan mu kok" kata setyo, sambil garuk-garuk kepala.


"Terima kasih setyo sudah percaya padaku, oke sekarang waktunya mendengarkan cerita yang panjang" kataku. Lalu yang lain mendengarkan cerita ku sampai selesai. Saat selesai bercerita, ada seseorang mendatangi ku.


Bersambung...


Hallo semuanya author minta dukungannya dari kalian, mohon bantuannya kasih like sama rate ya teman-teman, terima kasih.