
8 Tahun Kemudian.
Suasana kantor yang hectic, suara ratusan kertas yang di foto kopi menambah riuhnya suasana perkantoran saat itu. Terlihat dari kejauhan seseorang berlari menghampiri salah satu bilik yang ada di kantor tersebut.
“Laras!. Ada beberapa revisi yang diajukan oleh klien kita. Coba kamu lihat ini!.” (bahasa inggris) Suara seseorang yang mencoba membangunkan seseorang yang terlihat tertidur di depan komputernya.
“Laras!.” Teriak orang itu lagi namun kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.
“Iya!.Iya!. Kau tidak lihat aku sudah hampir tidak tidur dua hari?. Revisi lagi?.” (bahasa inggris) Ucap wanita yang ada dihadapannya yang terbangun karena teriakan.
Ya, Aku lah Laras yang sudah 3 tahun bekerja sebagai tim arsitek di sebuah perusahaan swasta yang ada di Jerman. Aku yang sudah begadang dua hari itu karena sebuah project yang tak kunjung usai karena banyaknya permintaan dari klien.
Aku yang sudah lelah karena terlalu banyak bekerja, terbangun karena suara teriakan rekan se-tim ku. Hari itu rasanya aku ingin segera pulang ke rumah hanya sekedar untuk merebahkan tubuh, namun tak bisa karena dead line yang sudah semakin dekat.
“Laras!. Kau harus merevisinya sekarang juga!. Karena sore ini akan di bawa Mr. Jo ke klien.” (bahasa inggris) Pinta Angela yang menyerahkan hasil revisi klien kepada ku.
“Revisi lagi?. Kau tidak lihat ini sudah revisi yang ke 16 kalinya?.” (bahasa inggris) Ucap ku kepada Angela sambil menatapnya dengan wajah ku yang lelah dan sudah di hiasi lingkaran hitam.
“Sudahlah ini juga bukan kemauan ku!. Aku janji setelah ini aku akan mentraktir mu makan malam!.” (bahasa inggris) Ucap Angela memohon.
“Baiklah!. Tapi pastikan ini yang terakhir kalinya!. Kau lihat aku sudah seperti Panda!." (bahasa inggris) Pinta ku yang menginginkan belas kasihan Angela.
Angela adalah asisten manager tempat ku bekerja, ia salah satu teman terdekat ku selama bekerja di perusahaan ini. Tapi tidak sedekat diri ku dan Ratna yang sangat dekat sampai diri ku dapat menceritakan masalah pribadi, tapi setidaknya Angela adalah teman yang cukup membuat ku merasa nyaman dalam lingkungan kantor.
Di Jerman aku mengganti nama panggilan ku yaitu Laras, karena aku ingin melupakan masa lalu. Mungkin dengan mengganti nama panggilan, aku dapat sedikit melupakan masa lalu ku. Walau sebenarnya sampai detik ini aku belum bisa melupakan Kak Joon seratus persen. Kekasih?. Tentu tidak ada, entah kenapa aku sulit untuk jatuh cinta.
Meski ada beberapa rekan sekantor atau pun teman se-fakultas ku di Jerman yang menyatakan cinta pada ku, tapi tak satu pun dari mereka yang berhasil meluluhkan hati ku. Mungkin saja hati ini ikut membeku seiring diri ku yang melupakan cinta ku terhadap Kak Joon.
Bukan berarti aku ingin selamanya menjomblo, hanya saja aku belum menemukan seseorang yang benar-benar klik dengan ku.
“Laras!. Pacar mu datang!.” (bahasa inggris) Teriak Angela menghampiri ku yang sedang sibuk dengan design.
“Diam!. Aku sedang serius!. (bahasa inggris) Tegas ku yang tak ingin diganggu.
“Laras!.” Teriak seorang lelaki yang menghampiri ku dan aku pun menoleh ke asal suara itu.
“Darren?. Maksud ku Mr. Darren.” (bahasa inggris) Ucap ku yang melihat Darren yang berada di hadapan ku.
“Kamu sedang apa?.” (bahasa inggris) Darren bertanya sambil melihat ke sekitar dan Angela yang melihat itu langsung menjauhi kami sambil menyengir kuda entah apa yang ada di pikirannya tentang kami.
“Kamu tidak lupa kan dengan janji makan malam kita?.” (bahasa inggris) Tanya Darren kepada ku.
“Kamu tidak lihat dengan pekerjaan ku yang menumpuk ini?.” (bahasa inggris) Ucap ku sambil memperlihatkan tumpukan kertas yang ada di sisi kanan meja.
“Aku mengerti dan aku tahu bahwa kamu akan menyelesaikannya sore ini kan?. Jadi setidaknya kamu bisa menemaniku makan malam walau hanya sebentar.” (bahasa inggris) Pintanya yang seakan memohon pada ku.
“Okay!. Okay!. Tapi kamu harus memberi ku waktu untuk menyelesaikan ini.” (bahasa inggris) Aku yang akhirnya mengalah padanya.
Darren adalah anak pemilik perusahaan di mana tempat ku bekerja, dia juga menempati posisi General Manager di sini. Walau Darren saat ini baru berusia 27 tahun, namun karena kepintarannya ia sudah berhasil menempati posisi tinggi di perusahaan. Kami sudah sangat dekat layaknya sahabat dari saat kami masih sama-sama kuliah, dan karena kedekatan kami membuat semua orang salah paham dan mengira kami adalah sepasang kekasih.
Dan yang sebenarnya sampai sekarang kami tak pernah sedekat itu, bahkan Darren yang notabene-nya seorang lelaki tampan dan digilai para wanita itu memang sejak dulu di kenal sebagai seorang playboy. Namun aku tak pernah menganggapnya seorang pria karena tingkahnya yang seperti itu. Kami dekat satu sama lain hanya karena kedua orang tua kami merupakan kawan lama. Dan Ayah sering kali mencoba menjodohkan kami, namun sampai detik ini aku selalu menolak permintaan Ayah dengan berbagai alasan. Padahal sesungguhnya, alasannya hanya satu, Darren adalah seorang pria yang tak bisa memiliki satu wanita di hidupnya. Bagaimana aku yang selalu menganggap ikatan cinta adalah sesuatu yang suci ini mau dengan dirinya?.
Walau usia ku saat ini sudah tak terbilang muda yaitu 29 tahun, tapi lebih baik aku menjomblo seumur hidup daripada harus hidup di duakan oleh seorang pria.
***
Dan hari itu pun aku harus terjebak oleh permainannya, yaitu harus berpura-pura menjadi pacarnya yang kesekian kali untuk memutuskan salah satu pacarnya.
“Dar, kamu sungguh tega menduakan aku dengan wanita ini?.” (bahasa jerman) Ucap seorang wanita dengan isak tangis menghampiri Darren dan diri ku yang tengah duduk berdua di sebuah restoran malam itu.
“Aku tak pernah mencintai mu!. Kau saja yang terlalu naif!.” (bahasa jerman) Ucap Darren sambil meletakkan tangannya di atas tangan ku untuk melengkapi actingnya yang hampir membuat ku muak.
“Kau bohong Dar!. Lalu bagaimana malam-malam yang terjadi pada kita sebelumnya?.” (bahasa jerman) Teriak wanita itu yang masih berusaha untuk membuat Darren kembali padanya.
“Aku sudah tak mengingatnya!. Kamu tak lebih hanya sekedar teman tidur ku saja.” (bahasa jerman) Ucap Darren yang hampir membuat ku ingin menampar wajahnya saat itu namun ku tahan dengan sekuat hati.
“Kalau saja aku tidak ingat kau Bos Ku!. Aku pasti sudah menghajar mu saat ini, Dar.” Batin ku saat itu.
Dan akhirnya wanita itu menyerah dan pergi dari hadapan kami. Aku pun yang melihat kepergian wanita itu langsung menarik tangan ku yang digenggam oleh Darren secepat kilat.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini?. Ini sudah ke tiga kalinya aku melakukannya. Lama-lama mantan-mantan mu akan menyadarinya Dar!.” (bahasa inggris) Ucap ku mengingatkan Darren.
“Aku tak peduli mereka hanya lalat yang mengganggu.” (bahasa inggris) Ucap Darren seperti tak memiliki hati.
“Dar, mereka itu wanita seperti aku!. Aku tahu rasanya disakiti!. Apa kamu tak ingin menghormati mereka sedikit pun?.” (bahasa inggris) Ucap ku tegas.
“Di mata mereka aku hanya pelampiasan hasrat saja, tak ada satupun dari mereka yang menganggap ku seorang pria sejati. Harta dan tahta itu saja, seandainya aku ini hanya lelaki biasa apa mereka mau dengan ku?.” (bahasa inggris) Ucap Darren dengan sedikit menundukkan wajahnya.
“Apa tidak ada satu pun wanita yang bisa menarik perhatian mu?. Setidaknya wanita itu dapat merubah kepribadianmu yang bejat ini.” (bahasa inggris) Ucap ku sambil menatap matanya nyalang karena aku sudah tidak tahan dengan kelakuannya.
“Mungkin ada.” (bahasa inggris) Darren yang berbicara sambil menatapku dengan tatapan yang tak biasa.
“Kau aneh Dar!. Sudah!. Ayo kita akhiri sandiwara ini!. Aku sudah tidak nafsu makan, lebih baik aku pulang ke rumah dan beristirahat!.” (bahasa inggris) Ucap ku lalu bergegas meninggalkan restoran itu.
Namun di tengah diri ku yang mulai berbalik arah dari meja, Darren menarik tanganku tiba-tiba.
“Tunggu!.” (bahasa inggris) Ucap Darren.
“Aku ingin pulang Dar!. Jangan halangi aku!.” (bahasa inggris) Pinta ku pada Darren.
“Aku akan mengantar mu!.” (bahasa inggris) Lalu Darren menarik ku dan membawa ku ke mobilnya kemudian mengantar ku pulang.
Di mobil Darren terus menatap ku yang terlihat kesal, karena hari itu ia sudah sukses membuat Mood ku berubah seratus persen karena telah menjebak ku dalam permainannya.
“Apa kamu tidak bosan menatap ku seperti itu?.” (bahasa inggris) Ucap ku yang tak ingin menoleh ke arahnya.
“Aku tahu aku salah, tapi aku janji bahwa ini yang terakhir karena aku berniat untuk berhenti main-main.” (bahasa inggris) Ucap Darren yang terlihat bersungguh-sungguh.
“Kamu pikir aku akan percaya?. Kamu sudah mengatakan itu berkali-kali Dar!. Aku sudah bosan!.” (bahasa inggris) Ucap ku yang tak ingin memaafkannya begitu saja.
“Pliss, Laras!. Maafin aku!.” (bahasa inggris) Ucap Darren yang masih berusaha mendapatkan maaf dari ku.
Dan saat kami sampai di rumah ku pun Darren masih berusaha mendekati ku hingga masuk ke dalam rumah. Dan Ayah yang melihat kami berdua datang dengan keadaan seperti itu membuatnya penasaran dan mulai mendekati Darren.
“Darren, ada apa dengan kalian?.” (bahasa inggris) Tanya Ayah.
“Biasa Om, lagi ngambek!.” (bahasa inggris) Ucap Darren yang lagi-lagi membuat Ayah salah paham dengan hubungan kami.
“Kalau dalam hubungan itu bertengkar hal yang biasa, apalagi kalian sebentar lagi akan bertunangan.” (bahasa inggris) Ucap Ayah yang selalu menginginkan kami sebagai pasangan.
“Om, bisa bujuk Laras?.” (bahasa inggris) Ucap Darren mencoba mendekati Ayah.
“Hanya kalian berdua yang bisa menyelesaikan masalah ini.” (bahasa inggris) Ucap Ayah yang tak ingin ikut campur.
“Ayah!. Sudah tidak usah ladeni dia!. Dar!. Lebih baik kamu pulang!. Aku sudah lelah!.”. (bahasa inggris) Teriak ku dari dalam kamar.
Aku cukup tahu Darren seperti apa, rasanya lelah hati ini mengimbangi keinginan orang tua yang sudah sangat menginginkan seorang cucu seperti Ayah. Aku tahu Ayah hanya ingin kebahagiaan ku tapi tidak serta merta ia juga turut campur dalam masalah percintaan ku.
“Raya!.” Panggil Ayah.
“Ya, Ayah.” Jawab ku.
“Kalian bertengkar?.” Tanya Ayah yang menghampiri ku ke kamar.
“Itu masalah yang terjadi seperti biasanya dengan kami, Ayah. Ayah tidak usah khawatir, lagipula hubungan kami tidak seperti yang Ayah bayangkan. Darren hanya teman ku, Yah. Tidak lebih!.” Tegas ku.
“Iya!. Iya!. Ayah tahu. Tapi apa salahnya dengan dia, sepertinya Darren menganggap mu lebih dari teman. Ayah bisa melihat dari tatapannya saat melihatmu. Cobalah kamu pikirkan baik-baik permintaan Ayah yang sudah tua ini.” Pinta Ayah memohon.
“Ayah!. Sudah ya!. Jangan mulai lagi. Raya capek mau tidur.” Pinta ku memohon pada Ayah agar membiarkan ku sendiri.
Ayah memang sudah pensiun dari pekerjaannya di Jerman, namun aku dan Ayah tetap memilih tinggal di Jerman karena pekerjaan ku. Dan memang aku sudah tak berharap kembali ke Indonesia apalagi mengingat masa lalu ku yang kelam.
Walaupun sebenarnya Ayah sangat ingin kembali ke Indonesia karena keinginannya untuk bisa berdampingan dengan Bunda saat akhir hayatnya nanti. Namun rasanya aku belum siap untuk itu, aku masih ingin menata hidup ku kembali di negeri ini.