Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 6 : Mengubur Kenangan



8 bulan kemudian


Mata ku terpaku oleh sebuah undangan berwarna hijau dan terikat pita berwarna emas. Di sana tertulis nama Lee Joon Woo dan Kim Jin Kyong, aku menyadari bahwa yang ada di hadapan ku saat ini adalah undangan pernikahan Kak Joon Woo dan Jane.


Bodohnya aku karena tidak menyadarinya, seakan lupa bahwa mereka akan segera menikah. Aku membuka isi undangan perlahan, di sana tertulis hari dan lokasi tempat ke dua mempelai melaksanakan pesta pernikahan.


“Apa aku harus datang?.” Batin ku yang masih berat untuk menghadapi Kak Joon.


“Neng Raya, gak jadi ke makam Ibu?.” Pertanyaan Bi Shanti yang seketika membuat ku menghentikan lamunan ku.


“Eh iya Bi, baru mau berangkat.” Jawab ku.


Hari ini aku berniat mengunjungi makam Bunda untuk terakhir kalinya sebelum diri ku yang akan menyusul Ayah tinggal di Jerman. Aku pun segera mengambil kunci mobil ku lalu menuju garasi.


“Bi, saya pergi dulu ya!. Tolong jaga rumah!.” Pinta ku pada Bi Shanti sekejap sebelum meninggalkan rumah.


Aku pun pergi mengendarai mobil ku menuju ke TPU tempat Bunda di makamkan.


Sesampainya di sana aku membeli sekeranjang bunga dan air kembang untuk di taburkan di makam Bunda.


“Bunda, Raya datang.” Aku yang menyapa Bunda begitu sampai di makam.


“Bunda, hari ini aku datang untuk berpamitan dengan mu. Pastinya Ayah sudah sempat menemui mu sebelum aku.” Ucap ku sambil menaburkan bunga di makam Bunda.


“Aku akan pergi menemani Ayah ke Jerman, aku akan meraih cita-cita ku di sana.” Senyum ku agar Bunda melihat kesungguhan dari ucapan ku.


“Bunda, aku akan melupakan semua tentang Kak Joon. Sekarang aku tahu arti ucapan Bunda kepada ku. Mulai hari ini aku akan menjalankan amanat mu. Aku janji!.” Janji ku yang ku ucapkan kepada Bunda.


Dan aku pun memberikan salam perpisahan ku untuknya. Aku pergi tanpa menoleh ke belakang kembali karena hati ku begitu berat untuk meninggalkan kenangan Bunda. Apapun yang berada di sini harus aku lupakan, terkecuali dirimu Bunda, kenangan Bunda akan selalu tersimpan di hati ini selamanya. Aku pun sekejap menutup mata ku mencoba merasakan kehangatan Bunda yang pernah singgah di hati.


Sekilas aku mengingat betapa hangatnya Bunda yang selalu menemani hari-hari ku semasa kecil dulu. Bunda yang tak pernah mengeluh meski penyakit menggerogotinya, Bunda yang selalu bahagia meski hatinya menangis. Ia selalu tersenyum apapun kondisinya.


“Aku akan selalu mengenang hal itu Bunda, Pasti!.” Batin ku berkata.


Setelah itu aku pun pergi meninggalkan TPU dan pergi menuju SMA ku dulu. Aku hari ini memang ingin melepas semua kenangan ku bersama Kak Joon dengan cara mengunjungi kembali tempat ku yang pernah memiliki kenangan dengannya.


Di sana aku melihat pohon manggis tempat di mana aku secara diam-diam melindungi Kak Joon dari teriknya sinar matahari. Aku duduk di bawah pohon manggis yang kini sudah banyak kehilangan rantingnya sehingga pohon itu sudah tak lagi rindang seperti sebelumnya.


Aku mulai mengenang kembali bagaimana aku memandangi ketampanan Kak Joon yang sedang tertidur pulas di bawah pohon manggis ini.


Hati ku sedikit pilu mengingat kenangan itu, namun sekaligus merasa lega karena akhirnya aku bisa lepas dari bayang-bayangnya selama ini. Aku menatap ke atas langit siang itu dan mencoba mengingat diri ku yang sedang menyatakan perasaan ku kepada Kak Joon di bawah pohon manggis itu.


Flash Back 5 tahun lalu.


Kak Joon seperti biasa sedang asik duduk di bawah pohon manggis favoritnya. Dan aku pun berlari ke arahnya, tanpa ragu-ragu aku menghampirinya yang tengah duduk di sana.


“Kak Joon!. Aku menyukai mu!. Jadilah pacar ku!.” Aku yang tiba-tiba saja memberanikan diri menyatakan perasaan ku kepadanya untuk yang ke dua kalinya.


“Aku tahu kau akan melakukannya lagi. Tapi bagi ku sampai saat ini kau hanya seorang adik bagi ku, Raya.” Ucap Kak Joon yang kedua kalinya.


Aku tak menyerah sampai di situ. Aku pun mengutarakan sejak kapan aku menyukainya.


“Aku menyukaimu sebagai seorang laki-laki sejak dulu. Apa kau tak pernah menyadarinya?. Aku bukanlah anak kecil seperti yang kau pikirkan. Dan aku bukanlah adik mu!.” Ucap ku meyakinkan Kak Joon.


“Raya, kau tetap adik yang manis bagi ku dan selamanya akan seperti itu!.” Ucap Kak Joon kepada ku, lalu ia menghampiri ku dan mengusap pucuk kepala ku sesaat sebelum ia meninggalkan diri ku di pohon manggis itu.


Hari itu saat kelulusan Kak Joon, lagi-lagi aku mendapatkan penolakan ke dua kali karena pernyataan cinta ku.


Flash Back selesai.


Kata-kata yang masih terngiang hingga sekarang di pikiran ku, aku teringat tekad ku saat itu yang tak akan berhenti menyerah dalam mengejar cinta Kak Joon.


Tapi sepertinya kali ini aku harus menyerah untuk mengejar cintanya. Aku memetik daun pohon manggis yang ada di dekat ku lalu aku meniup daun tersebut sampai terbawa angin hingga tinggi ke atas langit. Seolah-olah daun itu mewakilkan diri ku yang sudah melepaskan segala kenangan ku di SMA bersama Kak Joon.


Lalu aku pun pergi ke SMP ku karena jaraknya tidak jauh dari SMA ku berada hanya sekitar 200 meter saja. Dan aku pun pergi dengan berjalan kaki hingga sampai di gerbang sekolah SMP diri ku dan Kak Joon berada dulu.


Di gerbang itu aku teringat Kak Joon yang hampir setiap hari mengantar ku menggunakan sepedanya.


Flash Back 8 Tahun lalu.


“Kak Joon!.” Sapa ku pada Kak Joon yang saat itu hendak menjemput ku ke sekolah.


“Raya!. Apa kamu sudah siap?.” Tanya Kak Joon kepada ku sambil tersenyum hangat.


“Ayo!.” Aku pun yang langsung menaiki boncengan belakang sepeda Kak Joon saat itu dan Kak Joon lalu mengayuh sepedanya hingga ke gerbang sekolah.


Aku langsung turun dari sepeda Kak Joon saat sudah sampai di depan gerbang dan kami pun terpisah di sana saat masuk ke dalam sekolah.


“Kak Joon sampai jumpa saat pulang nanti!.” Ucap ku sebelum berpisah dengan Kak Joon.


“Sampai jumpa nanti!.” Jawab Kak Joon, ia pun kemudian mengayuh sepedanya sampai masuk ke gerbang sekolah.


Flash Back selesai.


Saat itu hati ku merasa bahagia mengingat saat-saat Kak Joon masih tersenyum hangat kepada ku. Sesaat jantung ku berdetak tak karuan mengingat indah nya masa-masa kami saat di SMP .


“Kak, mungkin kau sudah lupa masa-masa itu?.” Gumam ku yang sepintas teringat akan Kak Joon.


Dan hari ini ku tutup dengan menggali kenangan yang ku tanam dan berada di taman depan dekat rumah ku.


Aku ingat saat aku masih berumur 9 tahun aku menerima sebuah hadiah persahabatan dari Kak Joon. Aku pun menggalinya dengan setangkai kayu hingga sedikit dalam. Dan aku pun menemukan sebuah kotak tua, lalu membukanya perlahan. Aku menemukan gelang rajutan berwarna merah muda.


Flash Back 10 tahun yang lalu.


Aku berlari mengejar Kak Joon yang mencoba menghindari ku. Kak Joon berlari semakin kencang hingga aku tak kuat untuk mengejarnya.


“Kak, sudah aku menyerah!.” Ucap ku yang tak kuat berlari.


“Ah.. payah!. Baru segitu aja kamu sudah nyerah?.” Kak Joon yang menghampiri ku dan mengusap pucuk kepala ku dengan lembut.


“Nyerah, Kak!. Kaki Kakak kan panjang tidak seperti aku yang pendek!.” Ucap ku kesal pada Kak Joon yang meledek ku.


“Sudah!. Anggap saja kamu menang. Aku punya hadiah buat kamu. Nih!.” Kak Joon yang saat itu memberikan sebuah hadiah untuk ku.


Sebuah gelang rajut berwarna merah muda dan ternyata gelang itu adalah gelang pasangan. Kak Joon memperlihatkan miliknya yang mirip dengan milik ku hanya berbeda warna saja yaitu biru.


Aku pun langsung memakai gelang pemberiannya saat itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


Flash Back Selesai.


Namun setelah perubahan Kak Joon terhadap ku, ku putuskan untuk mengubur gelang itu di taman. Aku berharap akan membukanya kembali bila Kak Joon menerima cinta ku nanti. Tapi apa yang ku harapkan tak pernah datang, oleh karena itu aku pun memutuskan untuk menguburnya untuk selamanya.


Lalu kotak itu ku kembalikan ke dalam tanah dan ku kubur kembali dengan sepucuk surat perpisahan untuk Kak Joon di dalamnya. Aku berharap dengan ini aku dapat melupakannya dengan cepat, setelah itu aku pun kembali pulang ke rumah ku menjelang senja.