Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 24 : Apa kamu benci pada ku?



Leon meringkuk di sudut ruang kosong yang ada di Mansion, entah sejak kapan sudah menjadi sebuah kebiasaan dirinya dikala sedang gundah ia mulai suka bersembunyi di sudut ruangan kosong.


"Hiks!. Hiks!." Isak tangis Leon yang menggema di ruangan tersebut.


Sering kali dirinya berulah, namun bukan karena ia seorang anak nakal namun hanya karena sebuah perhatian dari Daddy nya.


Leon tahu ini salah tapi entah mengapa ia selalu ingin melakukannya. Dan sering kali dirinya ingin di dengar, sesering itu pula Joon Woo tak mempedulikannya.


"Omma... Hiks!. Omma... hiks!." Kata-kata yang selalu dirinya ucapkan di saat bertengkar dengan Joon Woo.


Bayangan masa lalu mulai terngiang di ingatannya. Masa-masa di mana Leon kecil menangis karena kepergian Jane, Ibunya.


"Omma.. Jangan pergi!. Nanti Leon cama ciapa?. Omma.... Hiks!." Leon yang menangis menahan kepergian Jane.


"Leon,,, Leon anak baik!. Lupakan Omma... anggap Omma tak pernah ada. Mulai hari ini kamu hanya punya Daddy." Ucapan Jane yang selalu terngiang di telinga Leon sejak saat itu.


"Omma... Leon maunya sama omma... Hiks!." Leon yang kembali menarik tangan Jane yang hendak pergi darinya.


"Selamat tinggal, Leon!." Kata-kata terakhir yang diucapkan Jane sebelum dirinya pergi meninggalkan Leon dan juga Joon Woo.


"Omma!!. Omma!!." Teriak Leon yang masih berusaha membuat Jane kembali. Tapi yang ada Jane semakin menjauh dari hadapannya.


"Hiks!. Hiks!." Tangis Leon yang semakin menjadi mengingat kejadian tersebut.


Di sisi lain tepat di samping ruangan tersebut, terlihat Joon Woo yang diam-diam mendengar isak tangis anaknya.


Joon Woo tahu anaknya selalu mengingat kejadian di mana Omma nya, Jane pergi meninggalkan mansion ini.


"Daddy tahu kamu selalu mengingat hal itu, tapi Daddy tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang harus Daddy lakukan agar kamu tak pernah mengingatnya?." Gumam Joon Woo dari balik pintu ruangan itu.


"Mister?." Panggil suster Eka yang melihat Tuannya mengintip Leon dari balik pintu.


"Sstt!. Kamu mau ke mana?." Tanya Joon Woo pada suster Eka.


"Mau kasih Tuan Kecil makan." Ucap Suster Eka yang terlihat membawa sepiring nasi dan susu.


"Sepertinya saat ini Leon lebih butuh sendiri, Suster." Pinta Joon Woo agar Suster Eka membiarkan Leon sendiri terlebih dahulu.


"Suster Eka, kurang lebih satu jam lagi, bawa Nona Gisel menemui ku di ruangan!." Pinta Joon Woo pada Suster Eka.


"Baik, Mister!." Jawab Suster Eka.


Dan kemudian Joon Woo berbalik arah menuju ke kamarnya untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.


***


Gisel sudah berada di hadapan Joon Woo saat ini, dengan bibir merah yang sudah ia buat lebih merah dari sebelumnya dan baju kemeja yang sebelumnya terbuka hanya dua kancing kini berubah menjadi tiga kancing. Apalagi yang ingin dia lakukan?. Yaitu menggoda Tuannya yang sekarang sudah ada di depan matanya.


Namun yang terjadi Joon Woo tak menatapnya sama sekali, ia justru hanya terfokus pada lembaran buku yang ada di mejanya.


"Nona Gisel?." Sapa Joon Woo tanpa menatap lurus ke depan.


"Iya, Mister." Jawab Gisel dengan gestur yang sedikit dibuat-buat.


"Apa semua ini mata pelajaran yang kamu berikan kepada Leon?." Sambil memperhatikan setiap lembar buku pelajaran yang ada ditangannya saat ini.


"Benar, Mister." Jawab Gisel yang mulai seperti cacing kepanasan.


"Apa saya ada salah, Mister?." Tanya Gisel.


"Tidak, hanya aku penasaran apa yang membuat anak ku Leon tak ingin diajar oleh mu?." Jawab Joon Woo yang masih enggan menatap Gisel yang terlihat seperti wanita murahan di depannya.


"Tidak, Mister. Bahkan buku-buku itu belum sempat di baca Tuan Kecil." Ucap Gisel yang memasang wajah tak berdosa seperti biasanya.


"Aku memang tak pernah melihat kamu berinteraksi secara langsung dengan Leon. Jadi aku tak bisa menilai begitu saja, hanya saja ini sudah lebih dari 6 bulan lamanya dan aku butuh orang yang kompeten di sini." Ucap Joon Woo yang tak ingin Gisel menganggap enteng pekerjaannya.


"Tidak, Mister. Selama ini saya telah memberikan yang terbaik untuk Tuan Kecil, biarkan saya membuktikannya!. Saya mohon, Mister!." Ucap Gisel memohon agar tak diberhentikan.


"Aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja aku juga tak ingin Leon terus menerus bersikap memberontak seperti tadi. Untuk itu, aku mohon bantuan Nona Gisel agar bisa mendidik Leon dengan sepenuh hati." Ucap Joon Woo memohon kepada Gisel.


"Mister, tentu saja itu sudah tugas saya sebagai seorang Tutor untuk Tuan Kecil." Ucap Gisel dengan semangat berapi-apinya.


"Aku mohon Nona Gisel!." Ucap Joon Woo sekali lagi kepada Gisel.


Hal itu tentu saja santapan empuk untuk Gisel yang pada dasarnya memang menginginkan hal ini terjadi. Di mana dirinya akan menaklukkan Leon untuk bisa mendapatkan hati Joon Woo.


Dan senyum pun terbit di sudut bibirnya seakan matahari telah terbit dari timur. Akhirnya Gisel berhasil mendapatkan kepercayaan Joon Woo untuk menangani anaknya Leon.


***


POV Raya


Pagi harinya Kantor seakan menjadi riuh, seperti biasa karena kedatangan si DUREN alias Mr. Joon yang selalu dinanti para karyawan.Jajaran sekretaris berkumpul demi menyambut kedatangan Kak Joon di depan lobi perusahaan, aku jadi teringat beberapa drama Korea yang sering ku tonton belakangan ini ceritanya sama persis seperti yang ku lihat saat ini.


Aku yang saat itu baru saja sampai di depan lobi mendapati Mr. Joon yang baru saja keluar dari mobil mewahnya. Mungkin bagi sebagian karyawan wanita yang ada di sini itu merupakan sebuah kehormatan mendapatkan kesempatan untuk melihat wajahnya secara langsung tapi tidak dengan ku, hal ini sama saja seperti sebuah kesialan dalam memulai hari.


"Pagi, Dimas dan yang lainnya. Bagaimana jadwal ku hari ini?." Sapa Kak Joon menjawab sapaan Dimas.


"Anda akan meeting dengan perusahaan FX secara online dan tentunya membahas cabang perusahaan anda yang ada di Korea." Tutur Dimas.


"Laras!." Panggil Joon Woo yang menyadari keberadaan ku yang diam-diam berada diantara kerumunan karyawan saat itu.


"Aku?." Seketika aku terkejut dengan panggilan Kak Joon yang tiba-tiba itu membuat para karyawan memusatkan tatapannya ke arah ku.


"Iya kamu, siapa lagi?." Jawab Kak Joon menegaskan.


"Iya ada apa Mr. Joon?." Tanya ku.


"Apa kamu bisa menemani ku meeting online dengan perusahaan FX?." Tanya Joon Woo.


"Perusahaan FX?." Aku yang masih bingung dengan permintaan Kak Joon pada ku.


"Ya, tentu saja perusahaan mu, aku butuh dirimu untuk menjelaskan progress project kita." Ucap Kak Joon.


"Baiklah!." Jawab ku.


Tanpa berpikir kembali aku pun mengiyakan ajakan meeting kali ini, untung saja itu adalah perusahaan ku. Mungkin saja aku akan menolaknya jika itu tidak berkaitan dengan pekerjaan.


"Jam 11 temui aku di ruangan!." Ucap Kak Joon.


"Baik, Mister!." jawab ku tegas.


Dan setelah itu kami pun pergi ke lantai masing-masing dengan lift yang terpisah karena jajaran eksekutif ke atas memiliki lift khusus untuk dinaiki mereka. Sedang aku yang notabene-nya hanya karyawan biasa tentu saja menggunakan lift biasa, tapi setidaknya ini bisa jadi sebuah alasan untuk menghindari Kak Joon.


Selang beberapa jam setelah kejadian di lobi, aku pun sudah ada di ruangan Kak Joon yang telah siap dengan perangkat meetingnya. Dan Dimas mulai menyambungkan perangkat tersebut dengan sebuah aplikasi yang dapat terhubung langsung dengan perusahaan FX.


Dan muncullah Mr. Jo di layar yang ada di depan aku dan juga Kak Joon.


"Halo Selamat pagi Mr. Jo!." (bahasa inggris) Sapa Kak Joon kepada Mr. Jo atasan ku di Jerman.


"Halo, Mr. Joon apa kabar anda hari ini?." (bahasa inggris) Sapa Mr. Jo kembali.


"Tidak pernah sebaik ini." (bahasa inggris) Jawab Kak Joon.


"Oh iya, Mr. Joon kali ini saya akan memperkenalkan putra saya Darren, karena ia akan saya kirim ke Indonesia untuk menangani project ini nantinya." (bahasa inggris) Ucap Mr. Jo yang kemudian layar pun beralih kepada Darren.


"Halo, Mr. Joon. Saya Darren yang akan membantu anda dalam project ini. Salam kenal!." (bahasa inggris) Sapa Darren.


"Saya juga akan memperkenalkan seseorang yang pastinya kalian sangat kenal. Ini dia Laras." (bahasa inggris) Kak Joon yang memperkenalkan diri ku kepada Mr. Jo dan juga Darren.


"Halo, sayang ku!." (bahasa inggris) Sapaan Darren yang membuat ku sangat amat terkejut, pasalnya ia menyebut kata itu di saat meeting seperti ini.


"Mr. Darren, saat ini anda sedang di ruang meeting harap anda sedikit memiliki sikap." (bahasa inggris) Ucap ku pada Darren yang tak mengenal malu itu.


"Maaf, aku kelepasan. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu di sana!." (bahasa inggris) Ucap Darren yang lagi-lagi tak mengenal tempat itu.


"Dar, hentikan!." (bahasa inggris) Perkataan Mr. Jo yang langsung membuat Darren terdiam, karena tentunya ia tak berani melawan Daddy nya.


Dan meeting kami pun di mulai dan berlangsung selama dua jam lamanya. Setelah itu aku pun bersiap melakukan persiapan untuk meeting selanjutnya.


"Apa hubungan mu dengan Darren?." Tanya Kak Joon pada ku, entah mengapa ia ingin tahu dengan hal ini.


"Kami teman sejak sama-sama menempuh pendidikan di Jerman." Jawab ku.


"Sepertinya hubungan mu lebih dari itu?." Tanya Kak Joon yang masih tak percaya dengan jawaban ku.


"Terserah anda akan mengartikannya seperti apa?. Tapi yang jelas itulah fakta yang sebenarnya." Ucap ku yang tak ingin Kak Joon bertanya lebih lanjut.


"Raya, apa kamu benci pada ku?." Tanya Kak Joon yang seketika membuat ku sedikit terdiam.


"Maaf, apa yang bisa membuat diri saya benci terhadap anda?." Jawab ku tanpa menoleh ke arah Kak Joon.


"Entahlah!. Aku merasa kamu berubah dan berusaha menghindari ku." Ucap Kak Joon yang ingin sebuah penjelasan.


"Mr. Joon, saya tak ingin mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Dan pastinya anda pun seperti itu, jadi saya harap anda bisa mengerti." Tegas ku seraya memutar tubuh ku ke hadapannya.


"Raya?." Kak Joon yang tak mengerti maksud dari ucapan ku, dan sepertinya ia bermaksud membawa ku kembali ke masa lalu.


"Dan Mr. Joon, jangan panggil saya dengan sebutan itu, karena nama saya adalah Laras." Tegas ku sekali lagi mengingatkan Kak Joon pada posisinya.


Ia tak berhak membawa ku kepada masa lalu yang sangat ingin aku lupakan, karena dialah yang membuatku memilih jalan ini.


"Tapi..." Ucap Kak Joon yang langsung ku potong saat itu.


"Baiklah!. Bila tidak ada hal lain kalau begitu saya permisi dulu, Mister!." Ucap ku yang kemudian pergi menjauh dari hadapannya.


Dan untung saja Dimas tak mendengar percakapan kami saat itu, jadi percakapan itu hanya terjadi antara diri ku dan juga Kak Joon. Mungkin Kak Joon tak bersalah dalam hal ini, dan aku pun tak pernah membenci dirinya. Karena semua ini hanyalah sebuah cara untuk menghindar dari masa lalu, walau sangat berat untuk menghindarinya tapi sebisa mungkin aku coba untuk melawannya.


"Raya, kamu pasti bisa!." Ucap ku dalam hati.