
Di sebuah rumah sakit di ruangan IGD yang penuh hiruk pikuk orang yang berlalu lalang. Terlihat seorang dokter yang sedang kewalahan menangani seorang pasien.
"Bu Sara, minumlah obatnya sekarang. Kalau tidak anda harus kembali diinfus karena tak bisa makan." Ucap dokter tampan idola para pasien yang ada di rumah sakit yaitu dokter Fadil.
"Tidak dokter. Kalau saya meminum obat itu kemungkinan saya sembuh akan lebih cepat dan saya tidak bisa bertemu dokter lagi dong!." Canda wanita paruh baya yang terbaring di sebuah kasur yang ada di kamar IGD tersebut.
"Bu Sara, saya mohon permudahlah pekerjaan saya!." Pinta Dokter Fadil.
"Hhmm tapi dokter saya tak bisa meminumnya, karena itu sangat pahit." Eluh Bu Sara lagi sambil memasang wajah memohonnya.
"Kalau anda meminum obat ini dengan baik. Saya janji besok sore saya akan menemani anda berkeliling taman depan rumah sakit." Ucap Dokter Fadil yang seketika membuat wajah Bu Sara berubah bahagia.
"Benarkah, Dok?." tanya Bu Sara memastikan.
"Benar Ibu." Jawab Dokter Fadil.
"Baiklah!." Langsung saja Bu Sara mengambil obat yang ada di atas nakas dan langsung meminumnya dengan cepat dihadapan Dokter Fadil dan Dokter Fadil yang melihat itupun akhirnya bisa bernafas lega.
"Suster, setelah ini berikan dosis seperti biasanya dan jangan lupa setelah 2 jam berikan makanan yang seperti biasanya. Lihat terus kondisinya apa ia sudah memakannya atau belum!." Pinta Dokter Fadil pada suster yang bersamanya.
"Baik, Dok!." Jawab suster itu lalu Dokter Fadil pun pergi meninggalkan bangsal dan kembali ke ruangannya.
Di ruangan ia mengendurkan dasi dan melepas stetoskop miliknya lalu menaruhnya di atas meja. Ia kemudian mengambil segelas air dari dispenser dan meneguknya hingga habis seakan pekerjaan yang ia lakukan hari ini sungguh sangat membuatnya lelah.
"Hah!. Bisa gila aku!." Ucap Dokter Fadil seraya memijat dahinya.
Ia melihat ke arah jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 3 sore. Ia sadar bahwa dirinya sudah melewatkan makan siang, lalu iapun mengorder makanan dari aplikasi pesan antar yang ada di ponselnya. Kemudian setelah itu iapun menyenderkan bahunya ke bangku kerjanya dan memejamkan matanya untuk sekedar beristirahat.
Namun baru saja sekejap ia menutup matanya, tiba-tiba seseorang memasuki ruangannya tanpa permisi.
"Fadil." Suara seorang wanita terdengar di telinganya hingga membuatnya membuka mata.
Perlahan matanya terbuka dan terlihat seorang wanita paruh baya cantik sudah berdiri di hadapannya saat ini.
"Nyonya?."
"Hhmm... lagi-lagi kau memanggilku Nyonya." Wajah kesal wanita itu yang ia perlihatkan kepada Dokter Fadil karena panggilan Nyonya yang ditujukan kepadanya.
"Maksudku Omma."
"Kamu terkejut?." Tanya wanita paruh baya itu yang kita kenal sebagai Nyonya Chae Ibu dari Joon Woo.
"Mau apa Omma kemari?." Tanya Dokter Fadil.
"Tentu saja mau menemui anak Omma."
"Hhmm... mau apa Omma ke sini?. Nanti orang-orang akan tahu kalau aku adalah anak mu."
"Kau memang anak Omma. Kau dan Joon adalah anak Omma."
"Iya, aku tahu hanya saja..."
"Fadil, sayang..."
Fadil sebenarnya memang anak Nyonya Chae hanya beda Ayah dengan Joon Woo. Nyonya Chae menikahi seorang lelaki biasa yang berasal dari Indonesia, namun sayang pernikahan mereka tidak direstui keluarga besar Nyonya Chae. Sehingga ia harus berpisah dengan lelaki tersebut, bahkan anak hasil pernikahan mereka tidak boleh dimasukkan ke dalam kartu keluarga mereka. Dan yang sebenarnya Joon Woo bukanlah campuran Indonesia Korea melainkan asli Korea, karena Nyonya Chae sebelumnya menikahi anak kerabat Ayahnya yang merupakan orang asli Korea.
Lalu Joon Woo sendiri sedari kecil tinggal bersama Kakek angkatnya yang tinggal di sebelah rumah Raya. Kakek yang sebenarnya adalah saudara dari kerabatnya yang sudah lama bekerja dengan Kakeknya, Tuan Kim. Itu pun atas keputusan dari Tuan Kim untuk membiarkan Joon Woo tinggal di Indonesia karena merasa tak cocok dengan keluarga besarnya.
Dan yang selama ini dikira Raya adalah Ayah Joon Woo sebenarnya adalah Asisten pribadi Tuan Kim yang ditugaskan untuk menjadi wali Joon Woo selama di Jakarta. Dan selama ini Raya tak pernah tahu silsilah di keluarga Joon Woo, karena ia tak pernah peduli dengan itu semua.
"Apa kamu bahagia, sayang?."
"Aku bahagia Omma. Lihatlah aku!."
"Bagaimana kabar Ayah mu?." Tanya Nyonya Chae dengan berbinar-binar.
"Ayah baik. Ia memulai bisnisnya dengan baik di Amerika."
"Sudahlah Omma, aku yakin kau lebih tahu daripada diriku. Kau diam-diam menetap di sana untuk mengawasi kami kan?." Tanya Dokter Fadil yang membuat wajah Nyonya Chae berubah seketika.
Nyonya Chae memang masih sangat mencintai Ayah Fadil, bahkan sampai sekarang ia masih sering mencari tahu kabarnya dan iapun sengaja menetap di Amerika untuk mengawasi mantan suaminya itu. Dan sampai sekarang pun banyak orang yang tak tahu bahwa dirinya sebenarnya sudah bercerai lama dengan Tuan Nugroho mantan suaminya.
Karena dirinya masih menganggap perceraian itu tak pernah terjadi. Ia selalu menganggap dirinya sebagai Nyonya Nugroho.
"Omma, lupakanlah kami!. Bila kau masih ingin bersama keluarga mu itu yang kaya raya." Ucapan monohok yang semakin membuat Nyonya Chae tak dapat menahan emosinya, hingga air mata pun menetes dari pelupuk matanya.
"Fadil, bisakah kau memaafkan Omma. Karena lebih memilih Kakek mu dibanding dirimu?."
"Aku sudah memaafkan mu sedari dulu." Ucap Fadil yang kemudian mengusap air mata milik Nyonya Chae.
"Fadil.. hiks." Nyonya Chae yang kemudian memeluk anak keduanya dengan penuh kerinduan.
"Apa yang Omma minta waktu itu sudah kau lakukan?."
"Mengawasi Jane maksud Omma?."
"Iya, sayang. Tidak ada yang bisa Omma andalkan selain dirimu untuk hal ini."
"Aku sudah menugaskan orang lain untuk meretas ponsel milik Jane. Dan ia akan segera melaporkannya begitu berhasil. Omma tenang saja!."
"Terima kasih, sayang." Ucap Nyonya Chae seraya menggenggam jemari Fadil dengan erat.
"Apa kau sudah menyesalinya?." Tanya Dokter Fadil.
"Maksudmu?." Tanya balik Nyonya Chae yang tak mengerti ucapan dari Fadil.
"Maksudku apa kau sudah menyesali soal keputusanmu yang menikahkan Joon dengan Jane?."
"Kau tahu begitulah aku. Aku selalu mengulangi kesalahan ku kesekian kalinya. Dan mulai sekarang aku tak ingin mengulanginya lagi. Aku akan membiarkan ke dua anak ku bahagia dengan pilihannya." Ucap Nyonya Chae seraya menatap Fadil dengan penuh harap.
"Karena itulah aku tak ingin bernasib sama seperti Joon."
"Apa kamu sudah memiliki pacar?." Tanya Nyonya Chae yang seketika membuat Fadil salah tingkah.
"Kenapa tiba-tiba Omma menanyakan itu?."
"Aku hanya ingin tahu."
"Aku tidak punya. Dan lagi aku tak ingin memikirkan hal itu dulu." Fadil yang berdalih.
"Setidaknya ada wanita yang kamu suka?."
"Tidak, ada Omma."
"Kau berbohong kan?." Tanya Nyonya Chae yang tahu bahwa Fadil menyembunyikan sesuatu.
"Tidak, walau ada yang aku suka tapi orang itu sudah milik orang lain." Gumam Fadil selintas terdengar oleh Nyonya.
"Apa yang kau katakan?. Aku sepertinya mendengar kau berbicara sesuatu?." Nyonya Chae yang masih menginginkan pengakuan dari Fadil.
***
Di tempat lain jangan lupakan dua orang sepasang kekasih yang sedang sangat berbahagia. Yaitu Raya dan Joon Woo yang saat itu sedang menghabiskan hari bersama di bekas SMA-nya. Di sana mereka duduk sambil berpegangan tangan di bawah pohon manggis tempat dimana Joon Woo baru saja melamar Raya.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?." Tanya Joon Woo pada Raya.
"Tentu saja aku akan mengaku kepada Ayah bahwa kamu sudah melamar ku." Ucap Raya.
"Ngomong-ngomong harusnya minggu depan Ayah mu sudah sampai di Indonesia. Apa sudah ada kabar darinya?."
"Belum. Sepertinya Ayah benar-benar berniat ingin menyembunyikan kedatangannya dari ku."
"Lalu kau tahu dari mana bahwa ia akan datang?."
"Hhmm... dari Darren."
"Darren?. Kalian masih berhubungan?. Bukankah ia sudah tidak menganggap mu teman?." Joon Woo yang terkejut mendengar nama Darren dari Raya.
"Kak, sudah ku katakan Darren tetap teman ku walau aku sudah menikah sekalipun nantinya dengan mu. Itu tak akan pernah berubah."
"Iya.. iya aku tahu. Tapi aku hanya bingung saja. Waktu itu dia sempat bilang kalau dia memilih memutuskan hubungan dengan mu."
"Beberapa hari lalu ia mengajak ku bicara. Aku juga sempat terkejut dengan perubahannya saat itu. Tapi ternyata ia hanya perlu waktu untuk menerima semua ini." Ucap Raya.
"Baguslah!. Kalau sampai ia membuat mu kesulitan berarti ia tidak lain hanya seorang pengecut yang tak bisa menerima kenyataan."
"Hhmm.. tapi kurasa Darren bukanlah orang yang seperti itu." Ucap ku yang tak bermaksud membelanya.
"Raya, kamu masih saja membelanya." Ucap kesal Joon Woo.
"Kak, walau Darren playboy tapi aku sangat tahu karakternya. Bahkan ia membiarkan dirinya seperti orang brengsek dihadapan wanita-wanita yang diputuskannya. Jika dia orang yang seperti itu, pasti dia akan menjaga citranya di depan orang lain."
"Hhmm baiklah. Aku setuju dengan mu. Tapi sayang, berjanjilah apapun yang Ayahmu katakan tetaplah memilih ku. Dan aku akan terus memperjuangkan mu apapun yang terjadi." Pinta Kak Joon.
"Pasti Kak. Jangan khawatir."
"Itu baru Raya ku." Seketika Joon Woo mencium kening Raya dengan mesranya.
Dan kemudian mereka melanjutkan memandang langit yang indah dari balik pohon manggis hingga menjelang malam hari.