Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 10 : Tugas Ke Indonesia



Di Sebuah kantor di Jakarta


Tampak ruangan mewah yang dilengkapi berbagai macam furniture artistik di dalamnya, terdapat sebuah meja yang terdapat papan nama bertuliskan Lee Joon Woo “CEO”. Meja tersebut kosong sepertinya sang pemilik sedang tidak berada di ruangannya, hingga sebuah suara pintu terbuka dan tampaklah seorang lelaki dengan pakaian formal dan wajah yang sangat tampan memasuki ruangan tersebut, lelaki tersebut adalah Joon Woo, cinta pertama Raya.


“Mr. Joon, saya mau melaporkan sesuatu!.” Ucap sekretaris laki-laki Joon Woo sambil memasuki ruangannya.


“Silahkan!.” Ucap Joon Woo pada sekretarisnya.


“Sudah ada jawaban dari perusahaan arsitektur di Jerman, Mister.” Ucap sekretaris laki-laki itu.


“Apa jawabannya?.” Tanya Joon Woo.


“Mereka telah setuju bekerja sama dengan kita, dengan syarat mereka ingin arsitek mereka yang turun langsung untuk project ini.” Jawab sekretaris itu.


“Turuti saja keinginan mereka, aku tidak masalah asal project kita berhasil dan berjalan sebagaimana mestinya.” Ucap Joon Woon.


“Baiklah, Mister. Kalau begitu saya permisi dulu!.” Ucap sekretaris Joon Woo.


“Dimas, berikan aku beberapa design yang sempat mereka ajukan. Aku akan melihatnya kembali.” Pinta Joon Woo.


“Baiklah, Mr. Joon. Akan segera saya siapkan.” Ucap Dimas.


Tiba-tiba saja terdengar suara ponsel milik Joon Woo yang terdengar seperti lagu soundtrack doraemon.


“Pasti anak ini lagi yang merubah ringtone ku.” Gumam Joon Woon lalu mengangkat panggilan dari ponselnya.


“Daddy!.” Sapa seorang anak dari sebrang ponselnya.


“Leon!. Apa kamu sudah pulang?.” Tanya Joon Woo pada anak tersebut.


“Daddy!. Aku tidak ingin di jemput oleh nenek sihir itu lagi!. Aku membencinya!.” Teriak anak itu merajuk pada Joon Woo.


“Daddy sudah katakan, jangan mempersulit Daddy!. Mencari asisten untukmu tidak semudah itu. Sudah!. lebih baik sekarang kamu makan siang dan kerjakan tugas-tugasmu!. Daddy masih banyak pekerjaan di kantor!.” Ucap Joon Woo lalu menutup panggilan di ponselnya.


“Kapan kamu bisa belajar menerima semua ini, Leon?.” Gumam Joon Woo sambil mengerutkan keningnya.


“Mr. Joon!. Ini beberapa design yang telah dikirim perusahaan FX.” Ucap dimas sambil menyerahkan map berisi design dari perusahaan tersebut.


Lalu Joon Woo pun mengambil map tersebut dan mulai membukanya satu persatu.


“Design ini cukup cocok dengan yang aku inginkan.”Ucap Joon Woon yang terpaku pada satu design yang ada.


Joon Woo melihat sebuah design rumah klasik yang minimalis namun terkesan elegan untuk sebuah perumahan menengah ke atas. Iapun lalu mencermati setiap bagian detail design tersebut lalu memberitahu Dimas atas keputusannya.


“Aku sudah memutuskan, aku akan memilih design ini untuk project perumahan kita kali ini.” Ucap Joon Woo sambil menyerahkan design yang ia inginkan.


“Baiklah, Mister. Saya akan segera memberikan mereka feedback secepatnya.” Ucap Dimas lalu segera berlalu dari hadapan Joon Woo.


***


POV Raya


Aku  menumpuk beberapa dokumen untuk dihancurkan di mesin penghancur kertas. Tiba-tiba saja suara teriakan mengganggu telingaku.


“Laras!!!!!.” Teriak Angela yang kemudian menghampiriku.


“Kabar baik!.” (bahasa inggris) Teriak Angela sambil menarik nafas dalam-dalam karena berlari dari ruangannya menuju bilik ku.


“Design mu terpilih!.” (bahasa inggris) Ucap Angela yang hampir kehabisan nafas itu.


“Terpilih apa?.” (bahasa inggris) Tanya ku yang mulai bingung dengan ucapannya.


“Design kamu terpilih oleh perusahaan yang ada di Indonesia.” (bahasa inggris) Ucap Angela lagi.


Mendengar kata Indonesia aku langsung menjatuhkan setumpuk dokumen yang ada di tangan ku saat itu. Jantung ku mulai berdegup kencang mendengar kalimat yang diucapkan Angela pada ku.


“Akhirnya tim kita bisa mendapatkan project besar!.” (bahasa inggris) Ucap Angela sambil memelukku yang masih terdiam di tempat.


“Mulai hari ini kita akan meeting dadakan dengan Mr. Jo!.” (bahasa inggris) Ucap Angela yang kemudian kembali menuju ruangannya.


Aku masih mencoba mencerna perkataan Angela dan berpikir keras akan maksud ucapannya. Entah mengapa aku merasakan sesuatu akan datang pada ku di hari itu.


Sampai saatnya meeting tim pun tiba, di mana tim kami harus melakukan presentasi ulang untuk project tersebut. Angela dan aku pun berhasil menyelesaikan presentasi kami untuk project kali ini, dan Mr. Jo pun sangat senang dengan hasilnya.


DEG


Ucapan Mr. Jo yang seketika membuat diri ku terperangah, masalahnya aku belum siap untuk meninggalkan negara ini apalagi untuk kembali ke Indonesia rasanya sedikit berat.


“Maaf, Mister. Apa tidak bisa diwakilkan dengan designer lain?.” (bahasa inggris) Ucap ku.


“Laras, kamu itu adalah designer nya tidak mungkin saya menyuruh designer lain untuk menyelesaikan pekerjaan mu!. Sudah!. Tidak ada alasan lain!. Project ini harus berjalan dengan baik ke depannya. Saya minta siapkan dirimu untuk berangkat dua minggu lagi!.” (bahasa inggris)


Ucapan Mr. Jo yang sudah tidak dapat ditawar lagi itu, membuat diri ku hanya bisa menerimanya dengan pasrah.


“Apa aku harus pergi ke sana, Bunda?.” (bahasa inggris) Ucap ku dalam hati yang mengingat Bunda saat itu.


“Hei Laras!. Kok murung?. Harusnya kamu senang dong akhirnya setelah sekian lama, design mu berhasil lolos untuk project besar. Apalagi itu di negara kelahiran mu sendiri?.” (bahasa inggris) Ucap Angela menghiburku.


“Kau benar.” (bahasa inggris) Ucap ku yang mencoba terlihat bahagia.


“Bagaimana kalau nanti malam kita adakan pesta kemenangan!. Aku yang pilih tempatnya kali ini!.” (bahasa inggris) Ucap Angela sambil merangkul ku.


“Ok!.” (bahasa inggris) Aku pun hanya bisa pasrah dengannya.


***


Malam pun tiba, Angela membawa tim kami ke sebuah restoran khas Korea yang berada di pusat kota Jerman. Entah kenapa Angela hari itu berani mentraktir kami di restoran mahal kali ini.


“Selamat datang semua!. Hari ini Manager kita Mrs. Florent mentraktir kita makan!.” (bahasa inggris) Ucap Angela yang di sambut meriah oleh seluruh anggota tim saat itu.


“Sekaligus untuk memberikan selamat kepada Designer berbakat kita, Laras!. Selamat untuknya!.” (bahasa inggris) Ucap Mrs. Florent sambil bersulang kepada ku.


Tim kami pun menghabiskan malam itu sambil bersulang dan tak terasa anggota tim kami roboh satu per satu terkecuali aku dan Angela tentunya yang selalu kebagian membereskan hal ini.


“Kamu 3, aku 3!.” (bahasa inggris) Ucap Angela yang membagi banyaknya jumlah orang yang harus di pulangkan dalam keadaan mabuk.


Aku pun kemudian memesankan taksi untuk membawa rekan sekerja ku pulang. Dan di saat itu tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna silver berhenti tepat di hadapan ku. Seperti biasa Darren muncul tanpa sepengetahuan ku, tapi kali ini ia tak bersama dengan teman wanitanya.


“Apa kamu membutuhkan bantuan?.” (bahasa inggris) Ucap Darren setelah membuka kaca  mobilnya.


“Kalau kamu sudah melihatnya?. Bisakah turun dan membantuku?.” (bahasa inggris) Ucap ku yang terlihat kewalahan membopong rekan sekerja ku.


Lalu Darren pun memarkirkan mobilnya di depan restoran, lalu memapah salah satu teman ku dan membantunya masuk ke dalam taksi satu per satu.


Dan terakhir kami menemani Angela sampai mendapatkan taksi, setelah itu Aku dan Darren pun ikut pulang. Di dalam mobil seperti biasa, kami berbicara mengenai hal yang terjadi di kantor.


“Aku dengar design mu terpilih kali ini?.” (bahasa inggris) Tanya Darren pada ku.


“Ya begitulah.” (bahasa inggris) Ucap ku.


“Tapi tampaknya kamu kurang senang dengan hal ini?.” (bahasa inggris) Tanya Darren yang penasaran dengan ekspresi ku saat itu.


“Tidak, hanya saja aku harus meninggalkan Ayah di sini.” (bahasa inggris) Ucap ku sedikit berbohong.


“Benar hanya itu?.” (bahasa inggris) Darren yang sedikit meragukan jawabanku.


“Iya, Dar. Apalagi memang?.” (bahasa inggris) Tegas ku yang tak ingin Darren bertanya lebih jauh.


Aku memang tak pernah menceritakan seputar cinta bertepuk sebelah tangan ku dengan Kak Joon pada siapapun di Jerman, karena aku ingin melupakan Kak Joon sepenuhnya. Rasanya tak ingin membuka masa lalu sedikit pun.


Akhirnya aku pun sampai di kediaman ku dan saat itu aku pun mengucapkan terima kasih kepada Darren yang sudah mengantar ku sampai ke rumah.


“Raya!.” Aku yang terkejut karena Darren tiba-tiba memanggilku dengan panggilan lama ku.


“Kalau kamu butuh teman curhat!. Aku siap kapan pun itu!.” (bahasa inggris) Ucap Darren dengan tatapan yang sedikit berbeda terhadap ku.


Malam itu aku merasa Darren seperti orang yang berbeda, hingga hampir saja aku tak mengenalinya.


“Baiklah.” (bahasa inggris) Jawab ku.


Lalu aku pun masuk ke rumah ku dan meninggalkan Darren yang masih menatap ku dari kejauhan seakan ingin memastikan bahwa aku sampai dengan selamat.


"Raya, andai saja kamu mau melihat ku sebagai seorang pria sedikit saja." (bahasa jerman) Ucap Darren sebelum dirinya meninggalkan kediaman Raya.