Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 47 : Tak Mau Mengalah



Flashback Setengah Jam Yang Lalu.


"Laras, sayuran ini sangat baik untuk kesehatan mu!. Makanlah!." (bahasa inggris) Pinta Darren yang memberikan beberapa sayuran pakcoy untuk ku makan.


"Nona Laras, Sup iga ini saya pesan khusus untuk mu di restoran ini. Dan sup ini telah ditambahkan dengan ginseng, sangat baik untuk kesehatan." (bahasa inggris) Mr. Fred yang juga memberikan semangkuk sup sehat di samping ku.


Melihat itupun rupanya Kak Joon tak tinggal diam. Ia juga ikut memberikan potongan daging steak dan juga minuman hangat di samping ku.


"Nona Laras, sepertinya tenggorokan mu sedang tidak baik dan tak dapat mengunyah terlalu cepat. Makanlah steak punya ku, aku sudah memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil. Dan minumlah lemon hangat ini, jangan minum minuman dingin lainnya tidak baik untuk kesehatan!." Pinta Kak Joon sambil ikut repot memindahkan sepiring steak dan lemon hangat kepada ku.


Dan ternyata kejadian ini tak berhenti sampai di situ, Darren dan Mr. Fred yang melihat perlakuan Kak Joon akhirnya juga tak mau kalah. Mereka terus menerus menambahkan makanan ke meja ku tanpa henti, hingga akhirnya semua makanan itu menumpuk di samping ku.


"Apa mereka kurang kerjaan?. Hingga harus melakukan hal ini?." Batin ku.


Begitulah akhirnya cerita makanan-makanan itu berakhir berada di sebelah ku.


Flashback Selesai.


"Maaf, sepertinya ada yang salah dengan ini?." (bahasa inggris) Ucap ku seraya menatap mereka bertiga. Tapi tampaknya tak ada satu pun yang menganggap ini sebuah kesalahan.


"Mr. Darren, apa aku terlihat seperti orang yang membutuhkan banyak sayuran di matamu?." (bahasa inggris) Aku yang menatap tajam Darren saat ini.


"Tentu, kau harus banyak makan sayuran karena pencernaan mu akhir-akhir ini kurang lancar." (bahasa inggris) Tegas Darren.


"Mr. Fred, apa saya terlihat sangat tak sehat di mata anda?." (bahasa inggris) Tanya ku pada Mr. Fred.


"Tentu saja!. Lihat kantung mata mu saja sangat terlihat!. Aku seperti melihat seekor bayi panda!." (bahasa inggris) Jawab Mr. Fred yang melihat ku dengan penuh kekhawatiran yang berlebihan.


"Mr. Joon anda tidak perlu melakukan semua ini, karena saya masih bisa melakukannya sendiri." Sambil menunjuk steak yang terpotong rapih hasil karya Kak Joon.


"Kamu baru saja sembuh, ini perhatian dari seorang atasan kepada bawahannya." (bahasa inggris) Pinta Kak Joon yang seperti tak bisa dibantah oleh ku.


"Anda mengatakan itu terlihat sekali bahwa itu hanya sebuah dalih." (bahasa inggris) Sindir Mr. Fred seraya menatap tajam Kak Joon.


"Sudahlah, semuanya terima kasih atas perhatiannya!. Tapi sepertinya saya tidak bisa menghabiskan semuanya sendiri." (bahasa inggris) Lalu aku pun memakan steak pemberian Kak Joon, sedikit sup pemberian Mr. Fred, dan beberapa sayuran yang diberikan Darren pada ku. Setidaknya aku dapat menghormati mereka walau hanya sedikit yang bisa ku makan.


Akhirnya perjamuan makan siang pun selesai, aku, Kak Joon beserta Darren segera kembali ke kantor kami.


"Masuklah!." Pinta Darren yang ingin aku segera masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak!. Nona Laras akan bareng saya kali ini karena ada sesuatu yang akan kami selesaikan setelah tadi anda dan Mr. Fred meng-interupsi." (bahasa inggris) Kak Joon yang menarik tangan ku dan membawanya hingga ke mobilnya.


"Ta.. tapi..." Rupanya Kak Joon tak mau mendengarkan perkataan ku dan tetap membawa paksa diri ku masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak ada tapi... tapi kamu harus menuruti perkataanku saat ini!." Bisik Kak Joon yang seketika membuat wajah ku memerah. Pasalnya saat ini Darren sedang memperhatikan interaksi kami berdua dari kejauhan.


Aku pun yang mendengar itu langsung terdiam dan akhirnya mengalah padanya dan ikut masuk ke dalam mobil.


"Jalan!." Pinta Kak Joon kepada supirnya.


Kak Joon yang terlihat sedikit menghela nafas lalu merenggangkan dasinya seakan ia telah terlepas dari beban.


"Akhirnya para pengganggu itu sudah menjauh." Seraya menyandarkan kepalanya di pundak ku.


"Mr. Joon, apa yang anda lakukan?. Di sini ada supir anda." Ucap ku mengingatkan Kak Joon bahwa masih ada Pak Udin yang melihat kami.


"Pak Udin sudah tahu hubungan kita. Kamu tenang saja!." Ucap Kak Joon yang masih dalam posisi kepalanya yang bersandar di pundak ku.


"Mr. Joon... ku mohon." Bisik ku takut bila Pak Udin mendengarnya.


"Panggil aku Oppa.. sayang...!. Kita hanya berdua saat ini." Pinta Kak Joon yang ingin bergelayut manja saat ini.


"Tapi...."


"Eits!. Ku mohon Raya aku hanya ingin seperti ini kali ini saja!. Pliss!." Mohon Kak Joon pada ku.


Setengah Jam Kemudian.


"Kak, kita sudah sampai." Pinta ku pada Kak Joon yang masih asik terlelap di pundak ku.


"Apa kita sudah sampai?." Tanya Kak Joon yang akhirnya terbangun.


"Sudah, Tuan." Ucap Pak Udin.


"Ayo!. Kita harus segera keluar dari sini!." Pinta ku pada Kak Joon.


"Sebentar lagi!. Aku masih mengantuk." Ucap Kak Joon yang tak ingin terburu-buru.


Tiba-tiba saja bunyi ponsel ku berbunyi. Aku pun melihat di layar ponsel ku yang tertera nama Darren.


"Halo."


"Kamu di mana?." (bahasa inggris) Tanya Darren.


"Aku di suatu tempat." (bahasa inggris) Jawab ku.


*"*Apa kamu sedang bersama Mr. Joon?." (bahasa inggris) Yang mulai terdengar posesif.


"Seperti yang sebelumnya kamu lihat. Aku sedang bersamanya." (bahasa inggris)


"Baiklah!. Kabari aku bila kamu sudah sampai kantor!." (bahasa inggris) Pinta Darren.


"Dar, aku bukan seorang anak kecil yang harus selalu melapor pada mu kapan pun itu!. Jadi tak usah khawatir berlebihan karena aku dan Mr. Joon sedang membahas pekerjaan saat ini." (bahasa inggris) Aku yang mulai sedikit tak nyaman dengan tingkahnya itu. Walau kami adalah teman dekat bukan berarti ia harus tahu di mana pun aku berada.


"Ingat Laras!. Ayah mu menitipkan mu pada ku!. Jadi apapun yang terjadi terhadap mu adalah tanggung jawab ku!." (bahasa inggris) Tegas Darren yang sering kali mengingatkan hal itu.


"Ia aku tahu, Dar. Tunggu saja kabar ku." (bahasa inggris) Aku langsung mematikan panggilannya secara sepihak karena rasa kesal ku.


"Ada apa?." Tanya Kak Joon yang melihat ku terlihat kesal.


"Tidak, hanya saja..."


"Apa bule itu membuat mu tak nyaman?." Kak Joon yang mengerti dengan siapa yang ku maksud.


"Tidak... hanya saja akhir-akhir ini ia terlihat sedikit bertingkah posesif." Ungkap ku.


"Sudah ku bilang dia itu menyukai mu!." Tegas Kak Joon.


"Kak.."


"Oppa..!" Kak Joon yang selalu mengingatkan ku untuk memanggilnya Oppa di saat sedang berdua.


"Oppa..."


"Nah gituh dong!."


"Darren itu hanya menganggap ku teman tidak lebih. Karena dia itu..."


"Playboy maksudmu?."


"Iya maksud ku seperti itu." Ucap ku yang tak ingin Kak Joon salah paham.


"Lihat saja!. Aku akan membuktikannya pada mu."


"Sudahlah!. Buat apa kita berdebat panjang!. Semakin lama kita di sini, lama-lama orang akan mengetahui hubungan kita." Ucap ku.


"Baiklah!. Mari kita pergi!. Tapi sebelum itu, CUP!." Lagi-lagi tingkah jahil Kak Joon yang mencium bibir ku tanpa permisi. Aku lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa akan tingkahnya ini.