Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 60 : Kejutan Untuk Ratna



Satu Minggu Setelah kejadian penangkapan, tiba waktunya kasus Ratna dan Jalal masuk ke persidangan. Ratna tampak sangat gugup, ia sudah duduk disamping jaksa penuntut yang siap menuntut Jalal dan mengambil hak asuh sepenuhnya terhadap anaknya Kenzo. Dan aku yang setia menemani Ratna duduk mendengarkan persidangan sampai akhir di bangku penonton bersama Kak Joon.


Di persidangan Jalal tetap bersikukuh bahwa dirinya tidak melakukan kekerasan terhadap Ratna istrinya, yang ia lakukan terhadapnya satu minggu lalu adalah haknya sebagai seorang suami terhadap istrinya. Jalal tak terima bahwa dirinya dituduh melakukan pemerkosaan juga penyiksaan terhadap Ratna.


Namun bukti sudah menjadikannya terdakwa dan bukti-bukti itu pun tak dapat disangkal oleh Jalal. Dan akhirnya selama beberapa kali persidangan, hakim pun memberikan keputusan bahwa Jalal bersalah atas tindakan KDRT yang dilakukannya terhadap Ratna dan Ratna pun berhasil bercerai dan mendapatkan hak asuh atas anaknya Kenzo.


Ratna sangat terharu dan benar-benar bersyukur atas keputusan hakim yang benar-benar adil untuknya. Iapun bersujud syukur selesai hakim memutuskan. Dan tak lupa Ratna menjabat tangan kepada para hakim, jaksa dan juga para saksi yang terlibat di dalam persidangan tersebut.


Aku pun turut merasa bahagia karena akhirnya Ratna dapat kembali bersatu dengan anaknya setelah beberapa bulan ini tak bertemu. Tak lupa Ratna pun memberikan pelukan yang hangat kepada ku selepas dirinya keluar dari ruang sidang.


"Selamat Ya, Na!." Ucap ku menyelamati sambil memeluk erat Ratna.


"Makasih, Raya. Ini semua berkat kamu yang udah dukung aku sampai dititik ini. Makasih sayang." Peluk Ratna kembali yang masih terharu dengan hasil dari persidangan.


Dan ia pun beralih ke arah Kak Joon yang berdiri tepat di samping ku. Namun tanpa sadar Ratna melaju ke arahnya dan hampir saja memeluknya, namun aku yang melihat itu entah mengapa tak ingin Ratna menyentuh tubuh Kak Joon walau hanya sekedar pelukan terima kasih.


"Eits!. Maaf, Na. Yang ini jatah ku." Ucap ku yang sedikit malu mengakui kalau aku cemburu.


"Oh, maaf maaf aku gak sengaja. Aku cuma terlalu bahagia, Raya." Ucap Ratna yang sedikit merasa bersalah terhadap ku.


"Ehem!." Deham Kak Joon yang merasa bahagia kalau diri ku cemburu pada Ratna.


"Kamu cemburu?." Senyum Kak Joon setelah berbisik ke telinga ku.


"Ehem!. Ayo kita pulang!. Leon pasti sudah menunggu." Dalih ku agar Kak Joon dan Ratna tak lagi menggoda ku.


Dan kami pun pulang ke mansion bersama dengan diantar Pak Udin.


Sesampainya di sana suasana mansion berubah menjadi sepi, tak ada satu pun pelayan rumah yang terlihat menyambut kami di depan lobby kecuali petugas keamanan yang membantu kami membuka pagar.


Aku pun turun bersama Ratna dan mencoba melihat ke sekitar berusaha mencari kejanggalan yang ada saat itu. Namun Kak Joon lekas menyuruh kami masuk ke dalam dan tidak mencurigai apapun.


"Apa yang kamu pikirkan?. Ayo masuk!." Pinta Kak Joon.


Aku dan Ratna pun menuruti perintah Kak Joon dan ikut bersama ke dalam mansion tanpa memikirkan kembali kejanggalan yang ada. Tapi anehnya sampai kami masuk ke dalam mansion pun tak ada tanda-tanda keberadaan pelayan lain maupun Leon. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut kepada Kak Joon.


"Di mana yang lain?." Tanya ku.


"Maksud mu siapa?." Tanya Kak Joon kembali yang sedikit tak mengerti pertanyaan ku.


"Para pelayan dan juga Leon tentunya." Jawab ku.


"Iya, ini sungguh aneh." Ucap Ratna menanggapi perkataan ku.


"Mungkin mereka ada di lantai atas. Biar ku temani kalian!." Ucap Kak Joon yang mengantarkan kami ke lantai atas tempat di mana kamar ku dan Ratna berada.


"HHmm.. tapi sepertinya kalian jangan langsung ke kamar. Temani aku di ruang keluarga sebentar." Pinta Kak Joon.


Lalu kami punĀ  pergi menuju ruang keluarga yang ada di lantai atas. Dan begitu sampai kami dikejutkan dengan para pelayan dan Leon yang telah menunggu kami dengan memberi ucapan selamat atas kemenangan kasus Ratna. Dan lebih bahagianya lagi ada seorang bayi laki-laki di tengah-tengah mereka. Bayi itu tentu adalah Kenzo, anak Ratna yang berhasil di ambil secara hukum dari Jalal.


"Kenzo...!. Sayanggg...!." Panggil Ratna seraya mengambilnya dari dekapan Baby Sitter yang ada.


"Hai!. Kenzo!. Kamu lucu sekali!." Panggil ku yang baru pertama kali melihatnya.


"Tante, kenzo lucu sekali. Apa ia akan tinggal di sini?." Tanya Leon berharap.


"Tentu saja, Kenzo akan tinggal di sini sampai Tante Ratna menemukan keluarganya." Jawab Kak Joon mewakili Ratna.


"Tapi, Mister. Saya sudah lama merepotkan anda. Bagaimana kalau saya cari kontrakkan saja." Ucap Ratna yang tak enak hati dengan Kak Joon.


"Sudahlah!. Anggap saja kalian menemani Raya dan Leon di sini. Kau tahu aku sangat sibuk, bahkan Raya juga bekerja, aku sedikit khawatir meninggalkan Leon sendirian, karena dengan adanya kalian ia jadi tak kesepian." Ucap Kak Joon yang memberikan alasan pada Ratna.


"Tapi..."


"Sudah, Na. Aku tahu kamu sungkan, tapi percayalah ini juga yang terbaik untuk Kenzo. Karena mansion ini lebih baik untuk tempat tinggal anak mu daripada di rumah kontrakkan." Ucap ku untuk membujuk Ratna.


"Iya, tante. Aku sangat senang karena rumah ini semakin ramai, bahkan aku bisa memiliki adik seperti Kenzo yang lucu ini." Ucap Leon seraya mencubit kecil pipi tembam milik Kenzo.


"Adik?. Apa kamu ingin adik Leon?." Tanya Ratna yang ada maksud tersembunyi dibalik pertanyaannya.


"Iya, tante." Jawab Leon dengan semangat.


Lalu Ratna pun membisikkan sesuatu di telinga Leon, entah apa itu aku tak dapat mendengarnya.


"Daddy, Mommy. Kapan kalian akan menikah?." Pertanyaan itu sontak membuat ku terkejut.


"Leon.. apa yang kamu tanyakan?." Tanya ku memastikan pertanyaan yang keluar dari mulut Leon.


"Kata tante Ratna, bila Daddy dan Mommy menikah aku pasti bisa punya adik seperti Kenzo." Ucap Leon dengan mata yang berbinar seolah harapannya itu sangat ingin ia wujudkan segera.


"Ehem!. Leon jika menikah semudah itu, aku pasti sudah menikahi Mommy mu sekarang juga." Ucap Kak Joon yang membuat ku semakin terkejut. Pasalnya bukannya menengahi, Kak Joon malah menambah panas keadaan.


"Kak, apa yang kamu lakukan?." Tanya ku pada Kak Joon dengan sedikit kecewa.


"Tapi benarkan?. Bukan aku yang ingin menundanya, tapi kamu." Ucap Kak Joon yang langsung membuat ku terdiam. Aku akui memang ini semua salah ku karena belum bisa memberikan jawaban atas ajakan Kak Joon menikah.


Tentu saja itu semua karena aku yang belum memberitahukan hal ini kepada Ayah. Dan aku masih takut akan reaksinya saat tahu bahwa aku sudah bersama dengan Kak Joon.


"Bagaimana?. Mommy?. Daddy?." Tanya Leon memastikan jawaban kami.


"Tentu saja sayang setelah Daddy mu ini mendapatkan restu dari calon kakekmu." Ucapan Kak Joon yang lagi-lagi membuat ku semakin merasa bersalah kepada semua yang ada ruangan itu. Dan aku pun hanya bisa menganggukkan kepala atas jawaban Kak Joon, karena memang benar adanya bahwa kami harus mendapat restu terlebih dahulu dari Ayah.


"Oh Tuhan, semoga Ayah mengerti akan keputusan ku saat ini. Ku mohon." Batin ku.