
Di sebuah pesawat terlihat seorang lelaki paruh baya melihat-lihat sebuah majalah bisnis yang telah memampang foto dari seorang pengusaha muda terkenal di bidang property. Wajah itu membuat dirinya terpaku dan mengernyitkan dahinya, pasalnya dia adalah lelaki yang berhasil membuat kehidupan putrinya porak-poranda bagai diterpa badai. Dan hampir tak dapat membuatnya menjadi seorang Kakek selamanya.
Ya, Lelaki paruh baya itu adalah Farid, Ayah Raya yang sedang dalam perjalanan menuju Indonesia untuk menemui anak tercinta sekaligus calon menantu kesayangannya. Dan foto lelaki yang ia lihat saat ini, adalah foto dari Joon Woo kekasih anaknya yang telah membuat moodnya saat ini menjadi berantakan.
"Dasar anak sialan!. Bisa-bisanya kau sukses sekarang. Dimana anak ku belum bisa move on dari mu!." Gumam Farid.
Hingga orang yang duduk di sebelahnya pun sempat terkejut mendengar gumaman Farid.
Ladies and gentlemen, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also, make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead bins. Thank you.
Suara speaker monitor di pesawat yang menandakan bahwa pesawat yang dinaiki Farid sudah sampai ditujuan. Dan Farid pun yang mendengar itu bangun dan segera mengambil barang-barang yang ada di kabin pesawat. Lalu iapun bergegas menuruni pesawat sesuai instruksi para pramugari dan pramugara yang ada.
Sesampainya di tangga pesawat perasaan yang telah lama hilang kembali berdesir di dadanya.
"Akhirnya aku pulang Samira. Apa kau merindukan ku?." Batin Farid yang teringat akan mendiang istrinya.
Ia pun kemudian menuruni anak tangga itu dan bergegas keluar menuju arah keluar gate.
***
POV Raya
Aku merasa beberapa saat mata kiri ku berkedut, entah ada perasaan yang aneh menjalar di diri ku.
"Apa ada sesuatu yang akan terjadi?." Ucap ku dalam hati.
"Hayo lo!. Mikirin apa?." Tanya Septi yang tiba-tiba saja mengagetkan ku dari arah belakang.
"Tidak, hanya..."
"Hanya apa?."
"Ih kamu mau tahu aja aja aku lagi mikirin apa?." Ketus ku pada Septi.
"Ya kirain kamu tuh lagi merindukan seseorang makanya belakangan ini bawaannya galauuu terus."
"Ya terus kenapa kalau aku galau?. Apa urusannya sama kamu?." Ketus ku lagi.
"Hadeuhh ini anak. Aku tuh peduli sama kamu. Karena kalau sampai kamu begitu nanti nasib mu tuh sama dengan si Bobby si jomblowan sejati." Ledek Septi.
"Ish!. Kamu bisa saja!." Kesal ku.
"Sudah!. Ayo kita makan siang!. Kali ini biar aku yang traktir!."
Tapi sayangnya aku siang ini sudah terlanjur janji makan siang dengan Kak Joon. Dan sangat sulit untuk mencari alasan untuk menolak ajakan Septi.
"Hhmm sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu."
"Kenapa?."
"Hhmm hari ini aku harus merampungkan beberapa design untuk di presentasi besok." Aku yang mencoba untuk berdalih.
"Bukannya design itu sudah lama di approve dan tinggal di laksanakan saja?. Ayolah!."
"Tapi..."
Tiba-tiba saja ponsel ku pun berdering. Dan kebetulan Kak Joon yang menelepon ku, ini bisa menjadi sebuah alasan untuk menolak Septi.
"Lihat!. Mr. Joon sampai menelpon ku!." Aku yang berpura-pura kalau Kak Joon menelpon untuk urusan pekerjaan.
"Ya, ya baiklah!. Biar kami pergi dulu kalau begitu." Akhirnya Septi dan yang lain memilih pergi lebih dulu setelah tahu hal tersebut.
"Halo sayang!."
"Ya Mr. Joon!. Ada yang bisa saya bantu!." Ucap ku keras agar yang lain mendengarnya.
"Ayo kita pergi sekarang sayang. Tunggu.. tunggu.. ada apa dengan nada bicara mu?."
"Baiklah Mr. Joon saya akan segera menemui anda!." Ucap ku lalu bergegas mengambil hand bag dan jaket milik ku untuk menemuinya.
"Kak... maaf tadi ada karyawan lain di ruangan itu. Aku akan menunggu mu di basement seperti biasa." Ucapk ku lalu memutuskan langsung panggilan takut ada karyawan yang lewat lantas mencurigai ku.
Lalu tak lama aku pun sudah sampai basement tempat biasa kami bertemu. Aku pun mengedarkan pandangan mencari keberadaan Kak Joon di sekitar. Dan benar saja tak lama kak Joon pun muncul dengan wajah yang dipenuhi senyuman.
"Kenapa dia sangat tampan hari ini?. Hadeuuhh.. Raya sadar!. Baru pagi tadi kamu ketemu dengannya!. Masa masih terpesonanya aja!." Batin ku yang sulit menolak pesona seorang Joon Woo.
"Kamu sudah lama?." Tanya Joon Woo begitu sampai di hadapan ku.
"Ada apa dengan mu?. Kenapa kamu menatap ku seperti itu?."
"Tidak hanya saja kamu sangat tampan." Suara ku yang mengecil begitu mengatakannya.
"Apa?. Apa?. Boleh lebih keras?." Tanya Joon Woo yang ingin mendengarnya sekali lagi.
"Kamu sangat tampan. Puas!." Ucap ku keras di telinga kak Joon.
Kak Joon pun yang mendengar itu terkekeh geli. Seakan baru pertama kali ia mendengar sesuatu yang lucu seperti itu.
"Kenapa Kakak malah tertawa?."
"Tidak hanya saja baru kali ini kamu menjadi sangat jujur."
"Bukankah kau selalu tahu hal itu, karena sejak kecil yang aku sukai adalah Kak Joon dengan wajah tampannya." Ucap ku jujur apa adanya.
"Tapi bukankah baru sekarang kamu mengatakannya lagi?. Ini yang selalu aku rindukan dari mu, Raya." Seketika perkataannya itu membuatku tertegun. Aku baru ingat bahwa perkataannya memang benar. Raya yang dulu sempat mati ditelan waktu karena perasaannya yang mulai berubah terhadap lelaki dihadapannya saat ini.
Namun entah mengapa rasa ini kembali lagi, bahkan semakin membuatnya tak dapat mengendalikan diri. Bahkan aku yang saat itu berada sangat dekat dengan bibirnya membuat ku ingin segera meraupnya saat ini juga. Tapi tiba-tiba saja...
"CUP." Kak Joon mengecup bibir ku tanpa permisi.
"Kak!."
"Ssstt!. Jangan berisik bila kau tak ingin orang lain mendengarnya." Ucap kak Joon sambil tertawa geli.
"Ish!." Aku yang kesal karena tak dapat berkata apapun.
"Ayo masuk!." Dan kak Joon pun membawa ku masuk ke mobilnya segera. Dan kami pun pergi ke resto untuk makan siang bersama.
***
Kami akhirnya sampai di sebuah restoran ala italia yang ada agak jauh dari kantor kami, aku memutuskan untuk memilih tempat yang agak jauh dari kantor kami. Pasalnya aku takut bila karyawan lain tahu mengenai hubungan kami.
Aku pun sengaja memilih menu italian food karena aku sedikit rindu dengan menu-menu di eropa. Tiba-tiba saja bayangan saat menyantap hidangan itu terlintas dipikiran ku, bagaimana dulu aku selalu mencoba tepat waktu untuk menyantap pasta dari cafe dekat kantor ku dulu.
"Bagaimana rasanya?." Tanya Kak Joon sambil menatap ku yang sedang asik melahap menu pasta saat ini.
"Hhmmm... tidak buruk." Jawab ku.
"Tidak buruk?. Tapi aku lihat kamu sangat menikmatinya?." Ucap Kak Joon sambil terkekeh geli melihat cara makan ku yang tak ada urat malu itu.
"Uhuk!. Aku pun yang tiba-tiba tersedak karena makan terlalu cepat langsung disodorkan air mineral oleh Kak Joon.
"Minumlah!." Pinta Kak Joon.
"Ehem!. Apa aku terlihat aneh di mata mu?."
"Tidak!. Hanya saja..."
"Hanya saja memalukan begitu?."
"Tidak sayang. Hanya saja aku sudah lama tak melihat sisi mu yang seperti ini. Aku sungguh rindu Raya yang dulu ku kenal."
"Aku masih sama seperti Raya yang kamu kenal dulu."
"Ya!. Ya!. Hanya ia baru menunjukkannya akhir-akhir ini."
Aku pun terdiam mendengar perkataan dari Kak Joon tapi itu memang benar adanya. Bahwa selama ini aku berusaha untuk menghindari masa lalu, tapi kenyataannya hal itu justru menyiksa ku dan membuat ku berpura-pura menjadi orang lain.
"Maafkan aku, Kak." Tiba-tiba saja tak terasa air mata menetes di sudut mata ku.
"Raya, apa kamu menangis?." Kak Joon yang terkejut dengan reaksi ku.
"Ti.. tidak."
"Kenapa kamu menangis?. Apa aku berbuat salah?." Tanya Kak Joon seraya menyeka air mata ku.
"Tenanglah!. Bukan maksud ku membuat mu menangis. Aku hanya merindukan Raya yang dulu. Tapi itu justru membuat mu seperti ini. Maafkan aku sayang." Ucap Kak Joon yang merasa bersalah.
"Tidak, itu salah ku. Harusnya aku tak menghindari mu dan menerima mu seperti dulu." Sesal ku.
"Tidak, Raya. Aku yang salah, kamu wajar bertindak seperti itu, karena aku lah yang bersalah. Sudah!. Ayo kita makan lagi!." Pinta Kak agar aku tak membahas kembali hal tersebut.
Dan aku pun menghentikan tangisan ku dan berusaha tenang. Karena tak ingin Kak Joon khawatir.