
Malam harinya aku sudah diperbolehkan kembali ke rumah, dan aku keluar rumah sakit tepat pukul 8 malam. Di luar aku berniat untuk memanggil taksi untuk kembali ke apartemen ku namun sudah hampir setengah jam lamanya tak ada satupun taksi yang terlihat.
Hingga sebuah mobil mewah berhenti di hadapan ku dan ternyata mobil itu adalah milik dokter Fadil.
"Hai, apa kamu sedang mencari taksi?." Sapa Dokter Fadil yang sudah membuang formalitasnya saat ini.
"Iya, kebetulan taksinya belum terlihat sampai sekarang." Aku yang sedikit malu untuk mengakui bahwa aku sedikit takut bila sendirian di malam hari, apalagi saat ini aku belum menemukan satupun teman yang bisa dimintai bantuan.
"Di mana rumah mu?." Tanya dokter Fadil pada ku.
"Di apartemen S." Jawab ku.
"Kebetulan kita searah, naiklah!. Aku akan mengantar mu!." Ucap Dokter Fadil yang menawarkan bantuannya kepada ku.
"Apa tidak merepotkan?. Saya tidak apa-apa untuk menunggu beberapa lama lagi. Anda duluan saja!." Ucap ku karena merasa sungkan.
"Masuklah!. Aku yakin kamu tak akan menemukan taksi sampai satu jam berikutnya, karena aku sangat tahu itu." Ucap Dokter Fadil pada ku.
"Baiklah!." Aku pun akhirnya menerima niat baiknya itu.
Di dalam mobil Dokter Fadil memperkenalkan dirinya pada ku secara resmi. Ternyata dia adalah pribadi yang sangat ramah, sangat berbeda dengan Darren, ia adalah orang yang baik dan sopan terhadap perempuan, aku telah salah menilainya.
"Bagaimana akhirnya kamu bisa alergi seperti itu?." Tanya Dokter Fadil.
"Makan siang dengan bos besar." Jawab ku.
"Apa kamu tidak bisa menolaknya dan berkata kalau kamu alergi makanan laut?." Tanya Dokter Fadil lagi.
"Bisa, hanya saja saya terlalu sungkan untuk mengatakannya, Dok." Ucap ku yang menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
"Kamu tidak boleh menganggap enteng sebuah alergi, karena nyawamu bisa terancam karena itu." Nasehat Dokter Fadil.
Jujur aku sangat tahu hal itu, karena beberapa kali alergi ini membuat diri ku lemas dan sesak seakan hampir kehilangan nyawa.
"Baiklah Dok!. Saya akan berhati-hati mulai saat ini!." Ucap ku yang berjanji padanya.
"Tolong jangan panggil aku Dokter saat kita di luar jam kerja seperti ini. Panggil saja aku Fadil." Ucap Dokter Fadil sambil melemparkan senyumannya yang menawan dan tentunya hampir saja membuatku salah paham terhadapnya.
Akhirnya aku pun di antar sampai ke depan Apartemen ku, dan Aku pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dokter Fadil karena berkat dia aku sampai dengan selamat. Ternyata Tuhan masih sayang terhadap ku, karena masih ada orang yang tampan dan berhati baik seperti Dokter Fadil di dunia ini, sangat beruntung orang yang bisa menjadi istrinya kelak pikir ku saat itu.
"Ah apa yang ku pikir kan?." Batin ku sambil melihat kepergian mobil Dokter Fadil yang menjauh dari Apartemen ku.
Aku pun masuk ke dalam Apartemen ku yang mulai gelap karena hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sesampainya di dalam Apartemen aku langsung membersihkan diri lalu setelah itu merebahkan diri hingga terlelap ke alam mimpi saking kelelahannya.
***
Esok harinya aku mengendarai sepeda listrik ku seperti biasa menuju ke perusahaan tempat ku bekerja. Dan seperti biasa aku membeli bekal sarapan yang ada di pinggiran jalan dekat Apartemen ku berada. Sayangnya aku tidak pernah sempat untuk memasak menu sarapan sendiri karena padatnya waktu kerja ku saat ini. Berbeda pada saat diri ku di Jerman, Ayah tidak pernah lupa membuatkan ku sarapan sebelum aku berangkat bekerja, setidaknya dua lembar roti bakar tersaji hangat hampir setiap pagi.
Sayangnya aku harus berjauhan dengan Ayah saat ini, rasanya baru satu minggu tinggal di Jakarta sudah membuat ku merasa sangat rindu dengan nya.
"Ayah apa kabar mu di sana?." Batin ku yang sangat merindukan Ayah saat ini.
Setelah membungkus beberapa roti bakar aku pun menjalankan sepeda listrik ku kembali menuju ke kantor. Di perjalanan menuju ke kantor tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh suara klakson mobil yang memekikkan telinga, hampir saja aku hendak melempar roti bakar ini ke arah si pengemudi.
"Tin!. Tin!".
Namun suara seorang anak laki-laki menghentikan aksi ku itu, dan anak itu adalah Leon yang memanggil ku dari balik kaca mobil.
"Hei!. Wanita Jelek!." Lagi-lagi Leon memanggil ku dengan sebutan itu.
"Untung saja kamu anak dari bos ku." Batin ku yang mencoba menahan amarah.
Kemudian Leon pun keluar dari dalam mobilnya lalu menghampiri ku.
"Hei!. Apa kamu mau ke kantor Daddy?." Tanya Leon pada ku yang sudah berada di depan sepeda listrik ku saat ini.
"Ya benar. apa kamu tidak sekolah?." Tanya ku kepadanya.
"Hari ini aku libur, sekolah sedang mengadakan rapat koordinasi." Jawab Leon.
"Trus?. Apa yang akan kamu lakukan di sini?." Tanya ku.
"Tentu saja untuk menagih janji!." Ucap Leon yang kemudian membuat ku sedikit berpikir, pasalnya aku tak tahu janji apa yang dia maksud.
"Apa kau lupa?." Tanya Leon yang mulai berkacak pinggang.
"Sungguh!. Aku ingin tahu janji apa itu?." Tanya ku sekali lagi, karena jujur saja aku sudah lupa.
"Kau berjanji akan membawa ku memainkan mainan mu saat masih kecil." Ucapnya memarahi ku.
"Oh baiklah!. Baiklah!. Tapi saat ini pekerjaan ku sedang menumpuk. Bisakah aku menyelesaikan pekerjaan ku terlebih dahulu?." Tanya ku pada Leon.
"Baik!. Aku janji!." Ku berikan janji jari kelingking ku pada nya.
"Apa ini?." Leon yang tak mengerti dengan maksud ku.
"Janji jari kelingking. Aku sering melakukannya saat ku kecil untuk memegang janji seseorang." Ucap ku meyakinkan Leon.
"Heh!. Seperti anak kecil saja." Leon yang masih merasa bahwa dirinya bukanlah anak kecil.
Akhirnya kami membuat janji jari kelingking bersama, lalu Leon kembali ke mobilnya dan kami sama-sama memasuki perusahaan dengan kendaraan yang berbeda.
Leon menunggu di ruangan khusus milik Kak Joon yang ada di lantai paling atas, sedang diri ku harus menyelesaikan pekerjaan ku yang menumpuk terlebih dahulu di ruangan ku.
Sore harinya, akhirnya pekerjaan ku terselesaikan dengan baik hari ini. Aku sudah menyusun beberapa detail bahan yang harus digunakan untuk project kali ini dan semuanya sudah tersusun rapih di meja ku.
Setelahnya aku tinggal memberikannya kepada Bobby untuk di order kepada vendor yang ada.
"Bobby, boleh tolong di cek terlebih dahulu!. Dan tolong ingatkan aku apabila masih ada yang kurang!." Pinta ku pada Bobby yang saat itu menerima dokumen dari ku.
"Baiklah!." Bobby yang menerimanya dengan cepat karena tak ingin menunda pekerjaan ku.
"Hei Laras!. Kamu sudah mau pulang?." Tanya Septi menghampiri ku yang saat ini terlihat sedang membereskan berkas-berkas dan merapihkan tas.
"Ya, karena aku sudah ada janji dengan seseorang." Jawab ku.
"Apa dia laki-laki?." Tanya Septi lagi.
"Ya, dia laki-laki dan dia sangat tampan." Jawab ku sambil tersenyum membayangkan wajah Leon yang imut dan tampan.
"Wah!. Wah!. Gercep juga kamu!. Baru Seminggu di Jakarta udah dapat gebetan aja!." Ledek Septi.
"Udah ya!. Aku duluan!. Bye!." Balas ku yang tak ingin Septi meledek ku berkepanjangan.
Aku pun pergi menemui Leon yang sudah berada di parkiran menunggu ku.
Sesampainya di parkiran aku langsung ikut mobil Leon dan pergi ke taman tempat ku bermain sewaktu kecil. Ya, tempat itu adalah taman yang ada lingkungan rumah ku dulu, taman tempat pertemuan diri ku dengan Kak Joon.
"Apa benar tempat ini?. Kau tidak salah kan?." Tanya Leon yang melihat taman itu tidak asing dengannya.
"Iya, taman ini. Inilah taman tempat ku kecil bermain." Jawab ku.
"Kau pasti bercanda?. Ini adalah taman di rumah kakek ku." Ucap Leon.
"Kakekmu?." Aku yang lupa bahwa Kak Joon pernah tinggal di tempat ini dengan ku.
"Di mana rumah kakek mu?." Tanya ku pura-pura tidak tahu.
"Di sana!. Dan aku pernah bertemu dengan mu seminggu yang lalu." Jawab Leon yang mengingat pertemuan pertama kali dengan ku dan awal dirinya yang memanggil ku dengan sebutan Wanita Jelek.
Aku yang bodoh dan tak mengingat pertemuan kami. Aku yang saat itu sangat kesal dengan sikap anak kecil sombong yang pernah ku temui. Dan ternyata anak itu adalah Leon, anak dari Kak Joon.
"Bukankah rumah itu kosong?." Batin ku yang mengingat bahwa rumah itu saat ku datangi terlihat sudah tak berpenghuni.
"Bukankah Daddy mu tidak tinggal di sini?. Dan sepertinya rumah itu sudah kosong?." Ucap ku yang sebenarnya hanya ingin mencari tahu.
"Kakek memang sudah tidak tinggal di situ, tapi aku masih menempatinya." Ucap Leon yang seketika membuat ku sedikit penasaran.
"Apa mungkin Leon tinggal terpisah dengan Daddy nya?." Batin ku yang masih terusik rasa penasaran akan hubungan Ayah dan anak ini.
"Apa kamu tidak tinggal bersama Daddy mu?." Tanya ku lagi.
"Mana mungkin!." Teriak Leon memarahi ku yang sudah bertanya sembarangan.
"Sudahlah!. Sekarang aku ingin tahu permainan apa yang membuat ku harus menunggu seperti ini?." Leon yang kemudian mengalihkan pembicaraannya.
"Baiklah!. Sebenarnya aku sudah membawa sesuatu untuk kita. Tadaaa!!." Aku yang memberikan sebuah bola usang yang kusimpan selama 15 tahun di rumah lama ku.
"Apa ini?." Tanya Leon yang terkejut dengan bola pemberian ku.
"Kamu jangan lihat dari rupanya, karena bola ini adalah bola legendaris dan masih sangat bagus untuk di mainkan." Dan kemudian aku pun mulai melemparkan bola tersebut ke arah Leon.
Dan Leon menangkapnya dengan cepat.
"Cuma segitu tenaga mu?." Leon pun melempar kembali bola yang kuberikan dengan sekuat tenaga.
"Enak saja!. Coba yang satu ini." Aku pun melempar kembali bola tersebut ke arah Leon dan kali ini lebih bertenaga dari sebelumnya.
Dan kami pun memulai bermain tangkap bola dengan semangat, hingga sore kami menjadi berwarna dengan suara tawa dan canda diantara kami. Ternyata bahagia itu sederhana, hanya sebuah permainan jadul membuat kami begitu bahagia dan sejenak dapat melupakan rasa sakit yang pernah singgah di hati.
Mungkin aku memiliki masa lalu yang menyakitkan dan selalu merasa butuh penghiburan, namun di moment ini aku merasa Leon lebih butuh penghiburan dibanding diri ku. Entahlah hubungan apa yang terjadi antara diri ku dan Leon, yang jelas aku hanya ingin membuat dia tersenyum bahagia saat ini.