Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 49 : Tinggal Bersama



Hari berikutnya Ratna dan aku sudah sampai di Mansion milik Kak Joon. Kami berdua sudah sepakat akan tinggal bersama di Mansion ini. Saat sampai di Mansion Ratna juga sempat terkesima dengan kemewahan Mansion milik Kak Joon, reaksi yang sama seperti yang ku alami dan ini sangat wajar karena kami berdua sama-sama tidak menyangka bahwa Kak Joon bisa sekaya ini.


"Apa kamu tidak tahu selama ini bahwa si Junaedi sangat kaya?." Tanya Ratna sambil berbisik kepada ku.


Dan aku pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Aku dan Kak Joon memang sangat dekat dulu hanya saja saat itu ia masih tinggal di rumah Kakek neneknya yang ada di sebelah rumah ku tanpa ku tahu bahwa dirinya adalah keturunan keluarga ningrat asal Korea.


"Andai saja kalian sudah pacaran sedari dulu, mungkin saja aku sudah tinggal di Mansion ini sedari dulu." Goda Ratna.


"Selamat datang di kediaman ku yang sederhana ini, Nona Ratna." Sapa Kak Joon yang sudah ada di depan pintu menyambut kami berdua.


"Jangan panggil aku dengan Nona, panggil aku Ratna saja." Ucap Ratna.


"Bagaimana, Ratna?." Sapa ulang Kak Joon.


"Mansion anda sangat indah dan megah. Sebuah kehormatan bisa diizinkan tinggal bersama anda saat ini." Senyum Ratna yang mengiringi setiap perkataannya.


"Daddy, kapan kau akan mengenalkan ku padanya!." Ucap Leon yang sudah tidak sabar untuk dikenalkan.


"Oh ya, maaf kenalkan ini Leon anak ku satu-satunya." Ucap Kak Joon memperkenalkan Leon kepada Ratna.


"Halo, Aunty. Nama ku Leon. Salam kenal!." Sapa Leon kepada Ratna.


"Wah!. Wah!. Tumben sekali kamu bersikap manis seperti ini!. Andai saja kelakuan mu seperti ini sedari dulu!." Goda ku pada Leon.


"Aunty!. Aku sudah manis sedari dulu kau saja yang tak pernah menyadarinya!." Kesal Leon.


"Siapa anak tampan ini?." Tanya Ratna yang mengagumi ketampanan Leon.


"Aku Leon, Aunty."


"Leon, senang berkenalan dengan mu." Ratna yang membalas sapaan Leon.


"Betapa senangnya bila nanti kamu mendapat anak sambung yang tampan seperti dia." Bisik Ratna pada ku.


"Sstt!." Kesal ku menanggapi Ratna, karena itu belum tentu terjadi karena siapa yang akan tahu masa depan. Masih terlalu dini bagi aku dan Kak Joon untuk memikirkan ke arah sana.


Setelah saling berkenalan kami pun di antar untuk ke kamar kami masing-masing. Ratna di bawa ke kamar tamu yang berada di dekat kamar Leon sedang kamar ku berada tak jauh dengan kamar Kak Joon, karena hal ini membuat Ratna tak hentinya menggoda ku.


"Jieee... yang gak bisa jauh dari ayang!." Goda Ratna.


"Apa sih, Na?." Ucap ku.


"Bukannya kamu pernah tinggal di sini beberapa hari?. Jadi tentunya kamu pernah melakukan itu?." Tanya Ratna menggoda ku.


"Tidak mungkin. Aku masih menjaga kesucian ku sampai saat ini!." Tegas ku.


"Ohh.."


"Oh apa?. Kamu gak percaya?." Tanya ku melihat Ratna yang masih terlihat tak percaya.


"Tok!. Tok!. Tok!." Terlihat seorang pelayan yang sudah ada di depan pintu kamar ku.


"Maaf Nona, Mister memanggil anda untuk segera datang ke ruang makan untuk makan bersama." Pinta pelayan wanita itu.


"Baiklah!. Ayo Ratna!."


"Apa di sini mau makan saja harus di hampiri seperti ini?." Tanya Ratna yang belum terbiasa dengan gaya hidup orang di sini.


"Apa di keluarga mu tidak seperti ini?." Tanya ku yang tahu kalau Ratna dulunya adalah orang yang cukup berada.


"Tidak, kami lebih sering makan di kamar kami atau di ruang televisi. Jarang sekali kami makan dalam satu tempat yang sama. Yah, menurut ku saat ini semua orang juga melakukan hal yang sama kan?." Jawab Ratna.


"Mungkin, tapi kalau aku lebih memilih makan bersama dalam satu meja dengan Ayah. Kamu tahu kalau hanya tinggal berdua saja." Balas ku menimpali Ratna.


"Yah, senangnya yang masih memiliki Ayah." Ucap Ratna yang seketika merasa sedih mendengar kata Ayah dari ku. Mungkin ia terlintas bayangan Ayahnya yang sudah meninggalkannya kurang lebih setahun yang lalu.


"Maaf, Na. Aku lupa soal Ayah mu." Ucap ku kepada Ratna yang terlihat tertunduk lesu.


"Tidak apa-apa, aku hanya teringat sesaat dengan Papa." Ucap Ratna sambil tertunduk lesu.


"Sabar, Na. Aku dan Kak Joon akan membantu mu untuk mencari keluarga mu yang lain dan juga mendapatkan hak asuh anak mu."


"Ken." Ucap Ratna yang seketika mengingat putranya yang tertinggal di rumah suaminya.


"Ken?. Itu anak mu, Na?." Tanya ku.


"Kenzo, dia baru 6 bulan. Aku baru saja memberikannya makanan tambahan." Senyum miris Ratna yang mengiringi setiap perkataannya.


"Na, yang sabar ya!." Ucap ku seraya mengusap bahunya sambil menggiringnya menuju ke meja makan.


Di meja makan sudah ada Kak Joon dan Leon dan juga menu masakan yang berbagai macam rupa sudah tersaji di depan kami. Dan aku menyadari bahwa tak ada satupun menu makanan laut yang tersaji, rupanya Kak Joon yang sudah mempersiapkan ini semua.


"Tuan Rumah duduk dengan permaisurinya." Goda Ratna.


"Ehem!. Sebaiknya kita segera makan!. Ayolah!." Pinta Kak Joon yang seketika menghentikan perasaan canggung diantara kami.


"Daddy, apa Aunty akan tinggal di sini terus bersama kita?." Tanya Leon.


"Tentu saja, Aunty Laras dan Aunty Ratna akan tinggal di sini untuk sementara waktu." Ucap Kak Joon.


"Benarkah?." Tanya Leon tak percaya.


"Benar sayang." Ucap ku.


"Asiikkk!. Aku jadi tak kesepian lagi!. Bolehkah aku tidur bersama Aunty, Daddy?." Pinta Leon yang seketika membuat Kak Joon tersedak, pasalnya tujuannya membuat ku tinggal di sini adalah agar bisa tidur bersama dengan ku.


"Leon, kamu sudah cukup besar untuk ditemani tidur!. Kalau kamu ingin ditemani tidur?. Kamu bisa menyuruh Bi Ijah untuk menemanimu." Ucap Kak Joon.


"Daddy, kalau aku sudah besar bagaimana dengan Daddy?." Lagi-lagi ucapan Leon membuat Kak Joon seketika tersedak.


"Apa maksud mu?." Tanya Kak Joon yang tak mengerti ucapan Leon.


"Aku melihat mu keluar dari kamar Aunty minggu lalu. Bukankah Daddy juga tidur ditemani Aunty Laras?." Ucap Leon yang ternyata diam-diam tahu bila Kak Joon keluar dari kamar ku pagi itu.


"Itu kan..?." Kak Joon yang sudah tak tahu harus berkata apa pada anaknya yang pintar ini.


"Leon, saat itu Daddy ke kamar ku hanya untuk mendiskusikan pekerjaan. Ini tak seperti yang kamu kira." Ucap ku berdalih.


"Pekerjaan apa yang dilakukan pagi-pagi buta?. Dan dengan menggunakan baju tidur, Aunty?." Ucap leon yang lagi-lagi menyentil ku.


"Hush!. Leon tidak baik mencampuri urusan orang dewasa, sayang!. Biarlah itu menjadi urusan Daddy dan Aunty mu, nanti kelak jika kamu dewasa kamu juga kan mengerti." Ucap Ratna yang mencoba memberi pengertian kepada Leon. Namun seperti menyindir diri ku dan Kak Joon di saat yang bersamaan.


"Aunty, apa itu urusan orang dewasa?. Bukankah aku sudah cukup besar untuk tahu?." Tanya Leon yang tak mau kalah.


"Apa kamu sudah memiliki tanda pengenal?." Tanya Ratna pada Leon.


"Belum." Jawab Leon.


"Nah, untuk menjadi orang yang dewasa kamu memerlukan kartu identitas." Ucap Ratna.


"Sudahlah Leon!. Bagaimana kamu bisa membicarakan hal aneh di saat makan seperti ini?." Tegas Kak Joon.


"Baik, Daddy." Kata-kata Kak Joon yang seketika membuat Leon mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.


Setelah makan aku pun membawa Ratna untuk berjalan di taman bunga di belakang Mansion untuk meneruskan pembicaraan kami. NamunĀ  di dalam perjalanan kami bertemu Gisel mantan sahabat kami berdua yang sudah berubah menjadi ular berkepala dua.


"Hei!. Hei!. Siapa ini?." Sapa Gisel dengan tingkah sombongnya.


"Hei?." Tanya Ratna yang tak percaya dengan tingkah Gisel saat berpapasan dengan kami.


"Ya, Hei ada apa kalian di sini?." Tanya Gisel sambil berkacak pinggang.


"Hei, kamu tanya kami?. Harusnya kami yang tanya kamu?. Ngapain kamu di sini?." Ratna yang sudah tak sabar menghadapi Gisel.


"Sudah, Na. Biar aku yang hadapi." Ucap ku.


"Ternyata kamu masih berani ya menginjakkan kaki di sini?." Tanya ku pada Gisel yang semakin terlihat seperti seorang jal*ng saja dengan pakaiannya yang semakin hari semakin minim.


"Ya, tentu aku masih berani. Karena aku adalah tutor Tuan kecil." Ucap Gisel.


"Sudahlah!. Anggap kami tak ada di sini!. Pergilah dari hadapan kami!. Aku tak ingin berdebat panjang lebar dengan mu!." Ucap ku yang tak ingin berurusan lagi dengan Gisel yang menguras tenaga dan pikiran saja.


"Hei!. Siapa kamu berani bicara seperti itu dengan ku?." Tantang Gisel.


"Siapa kamu bilang?. Dia ini.."


"Sudahlah, Na. Percuma berdebat panjang lebar dengan wanita ini, hanya buang-buang waktu saja." Ucap ku lalu menarik Ratna menjauh darinya.


"Eh!. Eh!. Mau pergi ke mana kamu?." Teriak Gisel yang kesal karena kami tak pedulikan.


"Ada apa ini?." Ucap Kak Joon yang kebetulan melihat perdebatan kami. Lalu ia pun menghampiri ku kami yang masih terlihat bersitegang.


"Ada apa ini, Nona Gisel?. Dan untuk apa kamu kemari?."


"Maaf Mister, Nona Gisel sudah melaksanakan hukuman untuk selama satu minggu tidak menginjakkan kaki ke Mansion ini dna hari ini adalah hari di mana hukumannya telah berakhir.


"Oh begitu, kalau begitu buat selamanya ia tak dapat menginjakkan kakinya di Mansion ini!." Pinta Kak Joon pada kepala pelayan.


"Loh!. Loh!. Mister?. Maksud anda?." Tanya Gisel yang tak mengerti dengan perkataan Kak Joon.


"Nona, awalnya aku menerima mu di rumah ini karena ku pikir kamu adalah teman baik Raya. Tapi ternyata aku salah, kamu sudah berani menyenggol Raya, kekasih ku. Jadi buat apa aku mempertahankan mu lagi?." Ucapan Kak Joon yang langsung membuat Gisel tak dapat berkata-kata. Pasalnya ia tak menyangka bahwa lelaki yang sangat diidam-idamkannya telah menjadi milik orang lain, rasanya bagai tersambar petir di siang bolong.