Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 32 : Bertemu Jane



Joon Woo menepis semua praduganya, di hatinya masih besar harapan bahwa Raya masih Raya yang dulu yang hanya mencintai dirinya. Dan harapan itu masih ada, dan tak akan pernah berubah sampai kapan pun. Ia bertekad bahwa ia akan berusaha untuk membuat Raya kembali padanya.


"Joon!." Panggil Nyonya Chae yang melihat putranya seperti orang frustasi.


"Omma, mengapa malam-malam keluar?. Di sini sangat dingin!." Ucap Joon Woo yang mengkhawatirkan kesehatan Bundanya.


"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa ada di sini malam-malam begini?." Tanya Nyonya Chae.


"Tidak Omma, aku hanya ingin menenangkan diri ku."


"Apa karena Raya?."


"HHmm.. "


"Joon, maafkan Omma. Ini semua karena kesalahan Omma yang membuatmu seperti ini." Ucap Nyonya Chae sambil memeluk erat tubuh Joon.


"Omma, aku tak tahu harus berbuat apalagi untuk mendekatkan diri padanya?. Ia sekarang hanya menganggap ku orang asing. Mungkin saja perasaannya sudah tidak sama seperti dulu."


"Joon, omma percaya. Jika kalian memang berjodoh, maka pasti akan didekatkan kembali dengan sendirinya." Ucap Nyonya Chae sambil menepuk-nepuk punggung milik Joon Woo.


"Ayo masuk!. Raya pasti sudah menunggu kita di meja makan." Pinta Nyonya Chae seraya menarik tangan Joon Woo menuju ruang makan.


***


Aku duduk di sebuah sofa panjang yang ada di salah satu perusahaan properti yang ada di Seoul. Hari itu aku sedang menemani Kak Joon untuk bertemu klien yang ada di Seoul untuk pendalaman project berikutnya karena kami membutuhkan material yang hanya bisa didapatkan di perusahaan itu.


Dan tak lama aku dikejutkan dengan suasana riuh yang datangnya dari arah depan Lounge, dan saat itu aku yang sedang asik menunggu Kak Joon sambil menyeruput jus mangga kesukaan ku pun ikut terkejut dengan siapa yang datang saat itu.


Ternyata saat itu semua orang sedang meneriakkan seorang model cantik yang sedang naik daun yang merupakan brand ambassador perusahaan ini yaitu Jane. Aku pun tersentak kaget dan hampir saja menumpahkan jus mangga yang sedang ku minum saat itu.


"Jane?." Batin ku.


Aku masih terperangah dengan apa yang kulihat, Jane yang ku kenal telah menjelma menjadi model cantik yang digilai kaum adam. Semua mata tertuju ke arahnya, memang tak pernah diragukan bahwa Jane adalah wanita cantik dengan sejuta pesonanya bahkan ia dapat meraih kepopulerannya hanya dalam waktu beberapa hari saja saat di kampus dulu.


Dan yang menjadi pertanyaan ku saat ini, bagaimana akhirnya Kak Joon dapat berpisah dengan wanita ini?. Bila melihat dari penampilan Jane yang seperti ini, aku sungguh sulit mempercayainya, dan wajar saja bila Leon menjadi sangat tampan dengan bibit unggul yang dimilikinya.


Jane yang ku lihat menuju ke arah ku saat ini, aku pun langsung membuang wajahku ke arah yang berlawanan agar dirinya tak mengenali ku. Namun ternyata usaha ku gagal Jane mengenali ku, hanya dalam waktu sekejap ia mengenali ku yang sedang menghindari tatapannya.


"Raya?." Panggil Jane.


"Ya?." Aku yang menoleh begitu Jane menyapa ku.


"Ternyata benar kamu Raya." Jane yang tersenyum begitu tahu bahwa terkaan nya benar.


"Akhirnya kita bertemu kembali. Apa kabar?." Tanya Jane.


"Hai Jane!." Aku yang masih salah tingkah karena sudah ketahuan.


Jane saat ini duduk di hadapan ku, dengan gemulai ia menyilangkan kakinya yang panjang itu di atas sofa tepat di depan sofa yang aku duduki.


"Apa sekarang kamu tinggal di Korea?." Tanya Jane.


"Tidak, aku sedang dalam perjalanan bisnis di sini." Jawab ku sambil memperhatikan sekitar khawatir Kak Joon datang.


"Perjalanan bisnis?. Apa pekerjaan mu saat ini?. Aku penasaran." Tanya Jane.


"Aku arsitek dari salah satu project di perusahaan ini." Jawab ku.


"Arsitek?. Wow!. Sungguh kebetulan aku pun sedang terikat kerja sama di sini." Tambah Jane.


"Oh ya?." Aku yang turut penasaran dengan apa yang akan dikatakan Jane.


"Perkenalkan!. Aku Jane, Brand Ambassador Project Green Living!." Jane yang memperkenalkan dirinya resmi kepadaku.


"Sepertinya kamu sedang menunggu seseorang?. Apa salah satu petinggi di sini?. Siapa dia?. Siapa tahu aku mengenalnya?." Jane yang penasaran dengan orang yang ku tunggu.


"Ya aku sedang menunggu salah satu klien kami... "


"Raya.." Ucapan ku yang terputus saat Kak Joon tiba-tiba saja berada di hadapan kami.


"Joon?." Sapa Jane dengan senyum manisnya menyapa Kak Joon, mantan suaminya.


Aku melihat wajah berbinar Jane saat bertemu kembali dengan Kak Joon, namun berbeda dengan Kak Joon ia melihat Jane dengan tatapan tajam.


"Raya, ayo kita pergi!. Masih banyak jadwal yang harus kita penuhi!." Pinta Kak Joon yang ingin aku segera mengikutinya.


"Tapi.." Aku yang dibuat bingung dengan situasi yang ada.


"Joon... apa kau tidak merindukan ku?. Sudah lama kita tak bertemu apa kau sudah melupakan ku?." Jane yang menarik lengan Kak Joon yang berpaling darinya.


"Raya, pergilah terlebih dulu!. Tunggu aku di mobil!." Pinta Kak Joon pada ku.


"Baiklah!." Dan aku pun yang langsung menuruti permintaan Kak Joon saat itu, karena sepertinya ada masalah yang harus mereka selesaikan berdua.


***


Selepas kepergian Raya, Joon Woo dan Jane tampak berbicara empat mata. Tak ada sikap manis yang ditunjukkan Joon Woo, hanya ada tatapan benci yang tersisa di hatinya terhadap mantan istrinya itu.


"Joon, apa kabarmu?." Tanya Jane.


"Seperti yang kau lihat, aku baik." ketus Joon Woo.


"Bagaimana kabar Leon, anak kita?." Tanya Jane yang mengarah kepada Leon.


"Heh!. Apa kau mulai mengkhawatirkan anak mu?."


"Tentu saja, biar bagaimana pun dia adalah anak ku, anak kita."


"Sejak kapan kau menganggap dia anak mu?."


"Sejak dirinya lahir sampai saat ini. Leon tetaplah anak ku." Tegas Jane yang masih ingin dianggap sebagai seorang Ibu.


"Baginya saat ini kau hanyalah orang asing tidak lebih!." Ucap Joon Woo dengan tatapan tajam ke arah Jane.


"Joon, aku tahu aku salah. Tapi apakah kau harus sebenci ini terhadap ku?." Tanya Jane yang mulai dengan tatapan mengiba.


"Benci?. Apa kau layak menanyakan hal itu?." Ucap Joon Woo yang masih menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Joon, kita sudah tidak bertemu selama 4 tahun. Apa masih tidak ada kata maaf dari mu untuk ku?." Tanya Jane masih dengan tatapan mengiba.


"Maaf, bukan aku yang harus memberi maaf bagi mu. Leon lah yang harus memberikan mu maaf." Tegas Joon Woo.


"Joon.. tolonglah!. Apa kau harus sedingin ini terhadap ku?."


"Sudahlah!. Masih banyak yang harus aku selesaikan!. Aku permisi!." Joon Woo yang memilih menyudahi percakapannya terlebih dahulu dengan Jane.


"Kalau saja di hatimu saat itu hanya ada aku seorang, mungkin saja aku tak akan pernah mengambil keputusan seperti itu!." Ucap Jane yang seketika menghentikan langkah Joon Woo.


"Apa yang kau maksud?." Tanya Joon Woo yang tak mengerti ucapan Jane.


"Aku tahu bahwa kau hanya mencintai Raya." Tegas Jane.


"Jangan bawa-bawa dia dalam masalah kita!."


"Tentu saja ada!. Aku tahu kau tak pernah mencintai ku!. Di hati mu selalu ada dia. benar kan?." Jane yang ingin sebuah penjelasan.


"Selama kita menikah aku selalu berusaha untuk menerima kehadiran mu. Tapi apa yang ku dapat?. Kau hanya memikirkan karir mu!. Bahkan kau tak pernah mempedulikan anak mu, Leon!." Balas Joon Woo yang tak ingin Jane mengada-ada dalam perkataannya.


"Joon, aku menyesal!. Dan aku minta maaf!." Ucap maaf yang sudah sangat terlambat untuk diucapkan.


"Maaf?. Setelah bertahun-tahun lamanya baru sekarang kau menyadarinya?."


"Ya aku sadar aku salah!. Dan yang aku inginkan saat ini hanya maaf mu."


"Sudah kubilang bukan aku yang harus menerima maaf dari mu!. Leon lah yang pantas!."


Setelah itu Joon Woo pun langsung membalikkan tubuhnya dan pergi menjauh dari hadapan Jane. Ia tak ingin membuang waktunya untuk hal yang hanya membuat moodnya semakin kacau. Mungkin masih banyak hal yang ingin dibicarakan oleh Jane, tapi bagi Joon Woo sudah tidak ada hal lagi yang dapat dibicarakan antara dirinya dan mantan istrinya, baginya Jane hanyalah masa lalu yang harus di tinggalkan sejauh mungkin.