Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 12 : Kembali Ke Jakarta



Malam hari aku membantu Ayah untuk merapihkan beberapa design miliknya, walau aku bekerja untuk Mr. Jo kawan lama Ayah. Tapi aku tetap sering membantu Ayah ku untuk mengerjakan beberapa proyek miliknya, walau hanya sesekali saja karena ia tak ingin membebani diri ku dengan tanggung jawabnya.


Aku malam itu berencana memberitahu Ayah, perihal kembalinya diri ku ke Indonesia yang sudah kurang dari dua minggu lagi. Aku tak ingin menyembunyikan lebih lama lagi dari Ayah, Ayah harus segera mengetahuinya dari mulut ku sendiri.


“Ayah.” Panggil ku.


“Ya, ada apa Raya?.” Ayah yang sembari merapihkan beberapa file di ruang kerjanya.


“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Ayah.” Ucap ku.


“Katakanlah!.” Ucap Ayah yang kemudian menghentikan kegiatannya.


“Aku akan kembali ke Jakarta minggu depan.” Perkataan ku yang langsung membuat Ayah terperangah.


“Apa?.” Ucap Ayah dengan menatap ku tak percaya.


“Perusahaan mengirim ku untuk menyelesaikan pekerjaan bersama klien di sana.” Ucap ku.


“Kenapa kamu baru memberitahu Ayah?.” Tanya Ayah yang menatap ku dengan tatapan kecewanya.


“Maaf, ini sangat mendadak. Aku pun belum merasa siap untuk itu. Tapi perusahaan mengambil keputusan ini.” Jawab ku.


Ayah memang kecewa terhadap ku yang mengambil keputusan secara sepihak tanpa mendengar pendapatnya terlebih dahulu. Tapi mau bagaimana lagi?. Aku tak bisa menolak perintah dari Mr. Jo untuk tidak pergi, apalagi ini merupakan salah satu project besar yang sangat dinantikan oleh perusahaan kami.


“Ayah, maafkan aku.” Ucap ku lagi agar Ayah bersuara.


Ayah terlihat tak memberikan reaksi apapun ia hanya terdiam karena rasa kecewanya.


“Setidaknya aku bisa membantumu untuk melakukan negosiasi dengan Jo.” Ucap Ayah yang masih menatap ku dengan tatapan kecewa.


“Ayah, aku yakin akan keputusan ku kali ini. Dan lagi aku sudah siap untuk kembali.” Ucap ku sedikit berbohong.


Aku tahu apa yang Ayah pikirkan tentang ku, ia pasti masih merasa diri ku belum siap untuk kembali ke Indonesia. Tapi aku harus mencoba memberanikan diri meski sebenarnya diri ku masih berat untuk kembali.


“Ayah, percaya pada ku.” Ucap ku sekali lagi meyakinkan Ayah dengan memeluknya.


Malam itu pertama kalinya aku melihat Ayah yang menangis karena diri ku yang akan pergi meninggalkannya. Ini pertama kalinya setelah 8 tahun lamanya aku harus meninggalkan Ayah.


Dan ini pertama kalinya dalam 8 tahun akhirnya aku kembali ke Indonesia, tanah kelahiran ku.


***


Bandara Soekarno Hatta


Akhirnya aku sampai di Jakarta tempat di mana semua kenangan pahit ku berada. Aku menunggu seseorang menjemput ku di bandara, sudah satu jam lamanya aku menunggu namun aku tak menemukan satupun tanda orang itu telah datang.


Hingga aku menemukan sebuah papan besar dengan nama diri ku yang terlihat di antara banyaknya orang yang membawa papan nama.


“Laras!.” Panggil seorang laki-laki yang memanggil ku dari kejauhan.


“Ya, saya Laras.” Sapa ku kepada orang yang menjemput ku.


“Oh anda Laras?. Anda arsitek dari perusahaan FX yang ada di Jerman?.” Lelaki itu ingin memastikan bahwa benar aku adalah Laras yang di maksud.


“Ya, saya lah orangnya.” Jawab ku.


“Saya pikir anda adalah orang Jerman?. Ternyata anda orang Indonesia?.” Tanya orang tersebut, yang sama sekali tidak tahu mengenai diri ku. Padahal bila dilihat dari nama saja, orang pasti akan menyadari bahwa aku orang Indonesia.


“Perkenalkan nama saya Dimas, saya sekretaris Mr. Joon. Beliau yang menyuruh saya untuk menjemput anda, dan maaf hari ini beliau tidak bisa menemui anda karena ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan.” Ucap lelaki itu.


“Tidak apa-apa.” Jawab ku.


“Mari saya antar ke apartemen yang telah kami sediakan untuk anda.” Ucap Dimas sambil membawa ku ke mobil yang akan mengantarkan ku ke apartemen tempat yang akan ku tinggali selama di Indonesia.


Dan aku pun diantarkan dengan selamat hingga ke tujuan ku. Setelah menyerahkan kunci apartemen, Dimas pun  pergi meninggalkan dan langsung pergi kembali ke kantor.


Lalu aku meletakkan semua barang-barang ku di apartemen itu dan membuka jendela yang ada di sana. Rupanya apartemen yang telah di sediakan oleh perusahaan tempat ku bekerja lumayan mewah dan lokasinya sangat dekat dengan perusahaan. Perusahaan tempat ku bekerja dapat terlihat dengan jelas bila melihatnya dari jendela apartemen ku.


Kemudian aku pun menghubungi Ayah ku yang berada di Jerman.


“Halo, Ayah aku sudah sampai di Jakarta.” Ucap ku.


“Syukurlah kalau begitu. Ayah khawatir terjadi sesuatu sama kamu.” Ucap Ayah yang sedikit mengkhawatirkan ku.


“Raya, sampai dengan selamat. Ayah tidak perlu khawatir, sekarang yang terpenting Ayah dapat menjaga diri Ayah di sana, jangan khawatirkan Raya di sini. Raya sudah besar, Yah!.” Pinta ku pada Ayah.


“Baiklah!. Jangan lupa salam Ayah untuk seluruh keluarga Bunda yang ada di sana!.” Pinta Ayah agar aku tidak lupa mengunjungi sanak saudara Bunda yang ada di sini.


Lalu aku membaringkan tubuh ku di atas tempat tidur yang ada di apartemen, hingga diri ku tak terasa terlelap karena kelelahan.


***


Esok harinya aku mengunjungi makam Bunda yang sudah 8 tahun lamanya aku tinggalkan. Aku membawa sejuta cerita untuk aku ceritakan kepada Bunda. Di mana aku telah berhasil meraih cita-cita ku sebagai seorang arsitek seperti Ayah. Dan aku pun memperlihatkan beberapa design ku padanya, entah apa Bunda dapat melihat diri ku saat ini atau tidak, yang jelas aku bangga bisa membuat Bunda bangga dengan karya ku.


“Bunda, kita bertemu lagi. Kali ini aku kembali untuk mengejar cita-cita ku Bunda.” Ucap ku sambil mengusap batu nisan Bunda.


“Aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama yang ada di Jerman sebagai arsitek di sana. Seperti janji ku sebelumnya, aku akan membuat mu bangga dengan karya ku Bunda.” Ucap ku sambil menatap pusara makam Bunda yang sudah mulai ditumbuhi rumput liar.


Aku pun mencabuti rumput liar itu satu persatu dari pusara Bunda. Aku mengganti rumput liar itu dengan bunga mawar yang sengaja ku beli di pinggir jalan.


“Raya tahu, Bunda sangat suka bunga mawar putih kan?. Raya membawanya khusus untuk Bunda.” Aku yang berkata sambil menaruh bunga mawar putih tersebut di pusara Bunda.


Lalu tak berapa lama setelah itu, aku meninggalkan TPU dan pergi ke rumah lama Ayah.


Kali ini aku menggunakan taksi untuk pergi ke sana, karena mobil ku belum diri ku ambil dari rumah lama ku. Dan setelah setengah jam lamanya, sampailah aku di depan rumah lama Ayah, aku berdiri agak lama di depan gerbang rumah sambil menatap ke arah samping rumah kami.


Aku melihat rumah di sebelah ku, yaitu rumah Kak Joon berada.


“Apa Kak Joon masih tinggal di rumah itu?.” Batin ku.


Lalu tak berapa lama ada seseorang yang menyapa ku dari dalam rumah.


“Neng Raya!. Akhirnya Eneng datang juga!. Bibi udah bersih-bersih, jadi rumahnya sudah bisa ditinggali kembali Neng.” Ucap Bi Shinta yang menghampiri ke gerbang rumah.


“Bi Shinta, apa kabar?.” Sapa ku.


“Baik Neng, Neng datang sendiri?.” Tanya Bi Shinta.


“Iya, Bi. Bibi gimana kabarnya?.” Tanya ku kembali.


“Bibi baik, Neng. Alhamdulillah sekarang Bibi sudah gak kesepian lagi di Jakarta karena Bibi sudah punya cucu.” Jawab Bi Shinta sembari tersenyum hangat.


“Syukurlah!.” Ucap ku yang turut bahagia dengan berita tersebut.


“Ayo Neng masuk!. Kok diam saja?.” Bi Shinta yang masih bingung dengan diri ku yang terdiam karena terpaku pada rumah Kak Joon.


“Oh Neng Raya pasti penasaran sama si Joon ya?.” Tanya Bi Shinta yang tahu maksud ku.


“Kenapa rumahnya sepi ya, Bi?.” Tanya ku penasaran.


“Si Joon katanya sudah tidak tinggal di situ lagi. Kabarnya mereka sekeluarga sudah pindah dari sini.” Jawab Bi Shinta yang lantas membuat ku lebih penasaran.


“Pindah, Bi?.” Ucap ku.


“Bibi juga gak ngerti Neng, Bibi kan udah lama gak kemari. Kemari cuma sesekali aja, karena Bibi sibuk mengurus kedua cucu Bibi.” Jelas Bi Shinta.


Aku dibuat penasaran dengan hal yang terjadi pada keluarga Kak Joon, aku ingin tahu keberadaannya dan juga kabarnya sekarang. Tapi semua itu ku tepis, karena itu sama saja dengan mengorek luka lama.


Dan aku pun hari itu memutuskan untuk bercengkrama sebentar dengan Bi Shinta sebelum akhirnya ia kembali ke rumah kontrakannya untuk mengurus cucunya.


Dan sore hari aku memutuskan untuk berjalan kaki di sekitar rumah lama ku. Aku kembali mengunjungi taman yang ada tak jauh dari rumah. Aku melihat taman itu sudah tak terurus, banyak dari permainannya yang sudah mulai berkarat dimakan usia dan sampah dedaunan yang seperti sudah beberapa hari tidak dibersihkan.


Aku pun duduk di taman tersebut sambil menghirup udara sore hari yang menyejukkan hati dan pikiran.


“BraAkk!!.” Suara orang terjatuh.


Aku yang melihat kejadian itu langsung menghampiri anak yang terjatuh dari sepeda yang berada di depan taman tempat aku duduk. Aku mengulurkan tangan ku pada anak yang terjatuh itu agar ia dapat berdiri dari tempatnya.


“Apa kamu baik-baik saja?.” Ucap ku pada anak itu.


Lalu anak itu berdiri tanpa menerima uluran tangan ku. Ia adalah anak yang sangat tampan kurang lebih usianya berkisar 6-7 tahun, dan dia terlihat sangat tampan mengingatkan ku pada Kak Joon Woo saat dirinya kecil.


“Pergi kau wanita jelek!. Aku tidak butuh bantuan mu!.” Lalu anak itu pun meledek ke arah ku dengan menjulurkan lidahnya kemudian pergi mengayuh sepedanya kembali dan menjauh dari ku.


“Eh, dasar anak kecil!. Untung aja kamu ganteng kalau enggak udah aku injak-injak kamu!.” Kesal ku yang merutuki tingkah anak yang mengatai diri ku jelek.


“Bagaimana bisa aku dibilang jelek?.  Dia tidak  tahu saja saat aku kecil diriku sering disamakan dengan artis Indonesia. Awas kau!.” Aku yang masih kesal dengan anak itu.


Lalu tak lama ada seorang wanita yang berlari menghampiri ku.


“Nona, apa Nona menemukan seorang anak kecil tampan wajahnya sipit seperti ini dan tinggi segini dan dia membawa sepeda?.” Tanya wanita itu sambil menjelaskan ciri-ciri anak yang dicarinya.


Dan aku pun tahu bahwa anak yang dicarinya adalah anak yang telah berani mengatai ku jelek. Lagi-lagi aku kembali kesal kerena mengingatnya. Dan aku pun memberitahukan arah ke mana anak itu pergi pada wanita tersebut.