
Sudah dua hari aku berada di Mansion milik Kak Joon karena Kak Joon tak memperbolehkan diri ku meninggalkan Mansion nya sampai diri ku benar-benar pulih. Dengan alasan bahwa bila aku pulang ke apartemen tidak akan ada orang yang dapat merawat ku dengan baik, bisa jadi perlakuannya ini sebagai atasan yang peduli terhadap bawahannya. Dan lagi juga tidak mungkin untuk Darren merawat ku karena biar bagaimanapun Darren adalah seorang laki-laki, tidak baik bila seorang laki-laki dan seorang perempuan berduaan saja di dalam apartemen.
Akhirnya setelah memikirkan semua itu aku pun setuju dengan tawaran Kak Joon untuk menetap di Mansion ini. Sebenarnya tidak buruk juga karena dengan ini aku mendapatkan teman baru yaitu Leon, yang setiap hari selalu ada untuk ku. Leon selalu diam-diam mengunjungi ku ke kamar dan mengajak ku berkeliling Mansion agar diri ku tidak bosan.
Seperti hari ini pun Leon membawa ku jalan-jalan ke taman mawar yang berada di halaman belakang Mansion. Taman yang sangat indah terdapat banyak sekali bunga mawar dengan warna yang bervariasi, aku sudah tidak sabar untuk memetiknya.
"Apa yang kau lakukan!. Mawar itu tidak untuk dipetik!." Teriak Leon yang melihat ku hendak memetik salah satu mawar merah yang ada di taman itu.
"Ma.. maaf." Ucap ku.
"Mawar yang lain boleh kamu sentuh, tapi tidak dengan mawar ini!." Leon yang kemudian menyambar bunga mawar merah yang terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya.
"Baiklah!. Maafkan aku!." Ucap maaf ku sekali kepada Leon agar ia tak lagi menatap ku dengan tatapan tajamnya.
"Edward!. Bawa mawar ini ke kamar ku sekarang juga!." Pinta Leon pada kepala pelayan yang mengikuti kami selama di taman.
"Baik!. Tuan Kecil." Jawab kepala pelayan itu lalu pergi untuk melaksanakan perintah Leon.
Aku tidak tahu apa makna yang tersembunyi mengenai bunga mawar merah itu?. Tapi yang jelas itu sangat berarti bagi Leon hingga aku tak boleh menyentuhnya, tentu saja aku mencoba mengerti dirinya.
"Ikut aku!." Leon yang kemudian menarik tangan ku dan membawaku ke tempat di mana lebih banyak mawar dari tempat yang sebelumnya.
"Wah!. Ini indah sekali!." Takjub ku melihat bunga mawar yang terhampar di taman itu, namun kali ini terdapat semua warna terkecuali warna merah yang hanya ada di tempat sebelumnya.
"Petik lah semau mu!. Aku tidak akan melarangnya!. Dan maafkan aku....!." Ucap Leon yang terlihat merasa bersalah telah membentak ku sebelumnya.
"Benarkah?." Tanya ku memastikan bahwa Leon tak sekedar bercanda.
Dan Leon pun menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala. Lalu aku pun memetik beberapa mawar untuk ku rangkai, aku memetik beberapa mawar putih dan hijau yang ada di taman itu dan memasukkannya di dalam keranjang yang cukup besar.
"Kau bisa merangkai bunga?." Tanya Leon kepada ku.
"Sedikit, aku mempelajarinya saat Ibu ku masih ada." Ucap ku yang saat itu tanpa sadar membuat Leon mengingat kembali tentang Ibunya. Leon terlihat terdiam dan berwajah suram ketika aku menyebutkan kata-kata itu.
"Leon, maafkan aku!." Aku yang berusaha meminta maaf karena kesalahan ku yang telah menyinggungnya.
"Tidak, kamu tidak salah." Setelah mengucapkan Leon pun mengembangkan senyumannya seolah-olah ia tak ingin aku mengkhawatirkannya. Namun di balik senyumannya aku tahu dia menyimpan luka yang sangat dalam.
"Baiklah!. Ayo aku tunjukkan bagaimana caranya merangkai bunga!." Aku pun lekas mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Leon merangkai bunga bersama.
Dan hari itu aku, Leon beserta beberapa pelayan yang ada bersama-sama merangkai bunga. Dan kami menghasilkan beberapa rangkaian bunga untuk dipanjang dibeberapa ruangan yang ada di Mansion.
"Apa kalian bersenang-senang?." Ucap Kak Joon yang saat itu menghampiri kami yang terlihat sibuk merangkai bunga.
"Daddy?. Lihat aunty mengajarkan ku cara merangkai bunga!. Dan bunga-bunga ini menjadi terlihat cantik bila dirangkai seperti ini!. LIhatlah!." Ucap Leon yang sembari menunjukkan hasil rangkaiannya.
"Boleh juga." Puji Kak Joon yang melihat usaha Leon dalam merangkai bunga.
"Daddy juga harus melihat hasil karya aunty!. Lihat itu semua adalah hasil karyanya!." Leon yang menunjukkan hasil karya ku dengan semangat kepada Kak Joon hingga aku sedikit malu dibuatnya.
"Sangat indah!." Namun tatapan mengarah kepada ku seakan ia memuji diri ku hingga membuat semakin malu saja.
"Bunga ini sangat indah!. Bisa kah itu ditaruh di kamar ku?." Pinta Kak Joon kepada ku.
"Tidak, bunga ini masih belum rapih kurangkai!." Aku yang kemudian menyembunyikan hasil rangkaian ku yang terakhir yang sedikit berbeda dari yang lainnya.
"Lebih baik Kakak memilih ini saja!. Ini jauh lebih cantik daripada yang ini!." Bujuk ki agar Kak Joon tak mengambil bunga yang ku sembunyikan.
"Apa kamu malu?." Tanya Kak Joon seraya menatapku yang terlihat malu-malu.
"Tidak, hanya ini masih banyak kekurangan." Ucap ku berdalih.
Memang rangkaian yang sedikit aneh, karena aku menggabungkan bunga mawar putih dengan bunga anggrek macan di dalamnya, karena aku merangkainya sambil membayangkan masa-masa kecil ku bersama Kak Joon.
Saat kecil Kak Joon sering kali membandingkan ku dengan bunga anggrek, dia beranggapan bahwa kalau aku besar nanti aku akan cantik seperti anggrek.
Dan di saat yang sama aku pun selalu membanding kan Kak Joon dengan bunga mawar karena dirinya yang seperti Anthony di serial Candy-Candy.
Dan rangkain bunga ku ini sama saja secara tidak langsung dengan aku menyatakan perasaan ku terhadap Kak Joon.
"Ayolah Aunty!. Itu sangat bagus bila di taruh di kamar Daddy ku!." Rajuk Leon.
"Baiklah!. Jika kalian memaksa." Aku yang akhirnya kalah dan membiarkan Kak Joon memilikinya.
"Leon, apa Daddy boleh berbicara 4 mata dengan Aunty Laras?." Pinta Kak Joon yang ingin Leon meninggalkan kami berdua.
"Ah!. Daddy hanya bisa merusak suasana!." Leon pun pergi meninggalkan kami.
Tiba-tiba aku merasa canggung di taman itu dengan tatapan Kak Joon yang mengarah pada ku.
"Raya." Panggil Kak Joon.
"Iya." Jawab ku.
"Apa kamu sudah baikan?." Tanya Kak Joon.
"Ya, aku sudah lebih sehat. Tentu saja itu berkat mu, Kak."
"Syukurlah."
"Kenapa hari ini Kakak pulang lebih cepat?. Bukankah ini masih jam kantor?." Tanya ku yang sedikit heran karena belum sore hari Kak Joon kembali ke mansion nya.
"Bila ku katakan kalau aku rindu pada mu. Apa kamu akan percaya?." Tanya Kak Joon seraya menatap manik mata ku menginginkan sebuah jawaban.
"A.."
"Sudahlah kamu tak perlu menjawabnya, mungkin hati mu tak akan pernah bisa menjawabnya." Belum juga diri ku menjawabnya Kak Joon sudah menginterupsi ku dengan spekulasinya.
"Apa yang Kakak pikirkan tentang ku?."
"Sudahlah aku tak ingin membahas itu lagi. Aku percaya bila kamu memang takdir ku pasti kamu akan datang sendirinya ke sisi ku. Dan aku percaya itu!." Ucap Kak Joon yang seketika membuat ku terenyuh.
"Jawaban apa yang sebenarnya Kakak harapkan dari ku?." Tanya ku.
"Aku tidak perlu menjelaskannya, kau sudah sangat tahu itu." Ucap Kak Joon seraya meraih kedua pundak ku.
"Kak aku juga merindukan mu."
DEG
Seketika Kak Joon terdiam mendengar kata-kata dari ku. Ia seakan tak percaya dengan apa yang dirinya dengar kala itu.
"Raya, kamu sedang tidak bercanda kan?." Tanya Kak Joon yang masih menatap ku tak percaya.
"Aku selalu merindukan mu dari dulu sampai sekarang. Rasa itu tak pernah berubah."
"Ra.. Raya.." Kak Joon yang kemudian memelukku saking bahagianya.
"Tapi, apa Kakak bisa membuktikan bahwa setiap perkataan Kakak adalah kesungguhan?."
"Apa yang kamu katakan Raya?. Aku sungguh-sungguh merindukanmu bahkan baru beberapa jam aku tak melihat mu rasanya aku bisa mati merindukan mu. " Ucap Kak Joon yang mencoba meyakinkan ku.