
Dua hari kemudian
Hari ini aku bersama Darren dan juga Kak Joon harus menemui beberapa klien terkait project kami. Aku pun dijemput oleh Darren untuk datang ke tempat janji temu kami dengan klien tersebut. Ya, walaupun pada awalnya aku menolak tawaran Darren untuk dijemput olehnya khawatir orang lain akan salah paham dengan hubungan kami. Namun untuk menghemat waktu aku pun menerima tawaran Darren berhubung kami tinggal di apartemen yang sama.
"Laras, kamu terlihat cantik." (bahasa inggris) Puji Darren yang melihat ku tampil berbeda dari biasanya.
Darren baru tahu gaya penampilan ku saat ini, karena yang dirinya tahu aku sangat cuek dengan penampilan. Namun kini yang ia lihat aku bahkan menggunakan rok mini untuk bertemu klien.
"Terima kasih." (bahasa inggris) Aku yang agak sedikit risih dengan pandangan Darren ke arah ku.
"Coba saja dari dulu kamu berpakaian seperti ini, pastinya...."
"Pasti apa?. Kamu akan memanfaatkan ku sebagai pacar bohongan mu lebih sering lagi?." (bahasa inggris)
"Kamu selalu sangsi pada ku, kali ini aku serius!." (bahasa inggris) Jujur Darren.
"Baiklah!. Baiklah!. Terima kasih Mr. Darren, anda telah memuji saya." Ucapan tulus dari ku.
"Hhmm.. Ayo naiklah!. Aku takut Mr. Joon menunggu kita!." Ajak Darren agar aku segera menaiki mobilnya.
Dan aku pun masuk ke mobil sport milik Darren, Darren menyewa 1 unit mobil sport mewah untuk dijadikan kendaraan pribadinya selama dinas di Jakarta. Begitulah Darren, ia tak ingin menghemat dalam hidupnya. Menikmati hidup adalah salah satu mottonya, ia tak pernah takut kekurangan uang karena ia yakin dengan kemampuannya dalam mencari pundi-pundi uang. Dan memang benar adanya Darren merupakan sosok yang cakap dalam hal bisnis, selain membantu perusahaan Ayahnya.
Darren sebenarnya sudah memiliki bisnis sendiri yang berhubungan dengan jual beli mobil mewah, dan bisnisnya itu bahkan sudah go international salah satunya mobil yang ia naiki saat ini merupakan mobil produksi perusahaannya. Karena Indonesia merupakan salah satu negara yang bekerja sama dengan perusahaannya saat ini, dan tentu saja kedatangannya ke Jakarta tidak semata-mata untuk berbisnis dengan perusahaan milik Joon Woo, tapi juga untuk mengembangkan usahanya di Indonesia.
"Ada apa dengan mu?. Kenapa kamu terlihat tegang?." (bahasa inggris) Tanya Darren.
"Tidak, hanya saja ini pertama kalinya aku pergi bersama dengan mu di Jakarta." (bahasa inggris) Jawab ku yang entah kenapa hati ini merasa resah seketika.
"Kamu seperti bersama orang lain saja. Kita ini teman, sudah hal yang wajar bila kita datang bersama. Tenanglah!." (bahasa inggris) Ucap Darren mencoba menenangkan ku.
Dan beberapa menit setelah itu kami pun sampai di perusahaan tempat kami bertemu klien. Dan di depan mobil yang di tumpangi aku dan Darren saat ini sudah ada Kak Joon dan Dimas yang menatap tajam ke arah kami.
Seakan aku telah melakukan hal yang di larang, Kak Joon menatap ku dan juga Darren dengan tatapan tajam bagai pisau belati dan tatapan itu tak berhenti hingga kami keluar dari dalam mobil.
"Apa ini?." (bahasa inggris) Ucap Kak Joon.
"Maaf atas keterlambatan kami Mr. Joon." (bahasa inggris) Maaf yang diucapkan Darren mewakili kami berdua.
"Kami sudah menunggu kalian berdua hampir 10 menit." (bahasa inggris) Ucap Kak Joon dengan nada marah.
"Saya rasa 10 menit masih sangat wajar, dan hari ini masih sangat pagi jadi tidak akan membuat Mr. Joon kepanasan bila menunggu kami. Benar kan?." (bahasa inggris) Darren yang mencoba bernegosiasi dengan Kak Joon.
"Kalau anda mengerti dunia bisnis?. Karena waktu 10 menit adalah waktu yang lumayan lama untuk menentukan perusahaan kita akan jatuh atau tidak di pasar saham." (bahasa inggris) Ketus Kak Joon yang tak ingin bernegosiasi dengan Darren, entahlah sepertinya Kak Joon kali ini sangat ingin menang darinya.
"Maaf sebelumnya, bila kita terus berdebat di sini tentu saja akan membuat klien kita menunggu. Bagaimana kalau perdebatan kali ini kita tunda setelah bertemu klien kita?." (bahasa inggris)
Dan tanpa ada kata yang terucap, Kak Joon pergi begitu saja meninggalkan kami.
"Apa ini?." (bahasa inggris) Darren yang tak mengerti dengan sikap Kak Joon saat itu hanya bisa menaikkan bahunya tanda dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dan aku pun hanya membalas hal yang sama kepada Darren, karena jujur aku pun tak mengerti dengan sikap Kak Joon yang seperti itu.
"Maaf, Mr. Darren mari ikut saya!." Ucap Dimas yang mewakilkan Kak Joon untuk menemani kami bertemu klien.
"Baiklah!. Ayo Laras!." (bahasa inggris) Ajak Darren yang menginginkan ku untuk turut ikut bersamanya.
"Hai Laras!. Kita bertemu lagi!." (bahasa inggris) Baru saja Mr. Fred ingin memelukku Kak Joon tiba-tiba menjulurkan tangannya untuk memberi salam kepada Mr. Fred.
"Kami juga senang bertemu dengan anda, Mr. Fred." (bahasa inggris) Sapa Joon Woo.
"Ya.. ya saya tentu saja sangat senang bertemu dengan kalian!." (bahasa inggris) Jawab canggung Mr. Fred kepada Kak Joon, karena tentu saja dia harus mencerna apa yang dilakukan Kak Joon yang tiba-tiba itu.
"Dan siapa ini?." (bahasa inggris) Mr. Fred yang melirik Darren yang berada di samping ku saat ini.
"Halo, Mr. Fred. Saya Darren atasan sekaligus tunangan Laras." (bahasa Jerman) Ucap Darren yang langsung membuat senyum Mr. Fred hilang seketika.
"Oh Halo." (bahasa Jerman) Jawab Mr. Fred yang masih berusaha ramah dengan kami.
Namun berbeda hal dengan Kak Joon, aku melihat wajahnya yang memerah seakan menahan rasa kesal di dalam hatinya.
"Apa ia marah?. Bukankah ia tak mengerti ucapan Darren?. Sudahlah!. Buat apa aku peduli?." Batin ku yang melihat Kak Joon berwajah suram.
Dan tak lama kami pun digiring ke ruang meeting dan kami pun memulai pembicaraan seputar project kami. Dan meeting kali ini adalah membahas aliran dana yang akan dijanjikan perusahaan Mr. Fred kepada project kami. Setelah melewati dua jam lamanya pembahasan, akhirnya Mr. Fred menyetujui perencanaan kami hingga kucuran dana pun berhasil dikirim dalam seminggu ke depan oleh perusahaan millik Mr. Fred.
"Bagaimana kalau kali ini saya akan mentraktir kalian makan siang?." (bahasa inggris) Tawaran Mr. Fred kepada kami semua.
"Tidak perlu Mr. Fred." (bahasa inggris) Tolak Kak Joon kepada niat baik Mr. Fred.
"Mr. Joon alangkah baiknya bila kita menerima tawaran baik ini!. Karena ini salah satu wujud terima kasih kita atas kesepakatan kali ini. Benar tidak?." (bahasa inggris) Ucap Darren kepada Kak Joon.
"Ini sungguh tidak perlu.." (bahasa inggris) Tolak Kak Joon lagi.
"Oh ayolah!. Saya yakin Nona Laras pasti menyetujuinya?. Iya kan?."(bahasa inggris) Tatapan nakal Mr. Fred kepada ku saat itu yang mulai membuat ku risih. Namun Darren tiba-tiba saja menggenggam tangan ku seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Dan aku yang tidak menyadari ada sebuah tatapan tajam yang tertuju ke arah kami berdua di saat yang sama.
"Baiklah!. Ayo kita pergi!."(bahasa inggris) Jawab Kak Joon yang langsung pergi memenuhi permintaan Mr. Fred ke restoran yang sudah dipesan olehnya.
Dan kami pun pergi ke sebuah restoran kelas atas yang berada tak jauh dari perusahaan milik Mr. Fred. Dan di sana kami pun langsung disajikan berbagai menu asal negara Jerman.
Aku pun mulai melahapnya satu persatu karena jujur saja aku sudah kangen dengan masakan asal negara tersebut. Apalagi masakan-masakan ini membuat ku merindukan Ayah secara bersamaan.
"Laras, apa kamu sangat lapar?. Tenang saja menu di sini tidak akan habis walau kamu memakannya dengan cepat." (bahasa inggris) Bisik Darren ke telinga ku agar aku tetap menjaga Manner ku.
"Gulp." Aku yang menelan makanan ku dengan sedikit tergesa-gesa karena melihat semua mata saat itu tertuju kepada ku.
"Maaf, aku kelepasan."(bahasa inggris) Aku pun meminta maaf atas perlakuan ku yang sangat memalukan itu.
Dan dengan rasa yang masih terasa canggung aku pun dengan gegabah mengambil salah satu menu yang terlihat seperti tempe di dekat ku. Lalu aku pun melahapnya tanpa memperhatikan kembali apa yang sudah ku makan saat itu.
"Laras!. Ituu.. ituuu kan ikan!. Muntahkan sekarang juga!." (bahasa inggris) Teriak Darren yang sontak membuat ku terkejut bukan main, pasalnya aku alergi terhadap makanan laut. Lalu aku tersedak dan mulai merasa sulit bernafas saat ini...
"Prang!."
Tubuh ku tiba-tiba saja terasa ringan, aku melihat Kak Joon menggendongku ala bridal style dan menutup bagian bawah ku yang menggunakan rok mini itu dengan jasnya. Dan alhasil aku pun sekarang di bawa pergi olehnya entah ke mana. Aku hanya pasrah dengan perlakuannya, karena saat ini aku sudah kesulitan bernafas.