Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 72 : Kemalangan Sherly



POV Raya


"Ckiittt!."


"BraKK!!."


"Dar, ada apa?." (bahasa inggris) Tanya ku begitu melihat Darren yang berhenti mendadak."


"Tidak tahu, sepertinya mobil di depan kita menabrak sesuatu." (bahasa inggris) Jawab Darren.


"Siapa yang ditabrak olehnya?. Apa orang itu baik-baik saja?." (bahasa inggris) Tanya ku.


"Tidak tahu, apa perlu aku lihat keadaan?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang hendak ingin melihat keadaan di luar.


Saat ini aku dan Darren dalam perjalanan menuju ke kantor, setelah lama beradu argumen dengan akhir Darren menyatakan perasaannya terhadap ku. Membuat ku tak dapat berkata-kata dan lebih memilih diam sepanjang perjalanan. Namun siapa sangka di jalan kami malah menemukan kejadian, di mana mobil di depan kami menabrak seseorang di jalan. Itu membuat ku harus terjebak di jalan bersama dengannya.


Aku yang tak bisa diam saja melihat situasi saat ini, ikut cemas dengan keadaan orang tertabrak itu. Aku pun akhirnya memilih untuk menyuruh Darren membantu korban di depan.


"Apa lagi yang kamu tunggu!. Bantulah orang itu! Pastinya belum banyak orang yang membantunya!." (*bahasa *inggris) Lalu Darren pun menuruti permintaan ku untuk keluar mobil dan membantu korban yang ada di depan.


***


"Pak, apa yang terjadi?." Tanya Darren pada pengemudi di depan.


"Saya tidak tahu ada anak itu ada di depan jalan. Sungguh!." Ucap lelaki paruh baya yang sedang panik di depan mobilnya melihat seorang gadis tergeletak bercucuran darah.


"Kenapa wanita ini terasa tidak asing?.Siapa dia?." Tanya Darren dalam hati.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak?." Tanya Darren pada lelaki itu yang masih panik dan tidak bisa melakukan apapun.


"Saya tidak tahu Mister. Saya cuma supir. Ini juga mobil majikan saya. Aduh bagaimana ini?." Ucap pria itu sambil bergetar.


"Tenang, Pak!. Bagaimana kalau kita panggil ambulance dulu saja?." Lalu Darren pun bergerak memanggil ambulance untuk mengevakuasi korban.


Selang beberapa menit setelah itu ambulancepun datang dan membawa korban ke rumah sakit terdekat.


***


POV Raya


"Bagaimana keadaan korban?." (bahasa inggris) Aku yang tak bisa tinggal diam di dalam mobil dan ikut melihat keadaan.


"Kamu bikin kaget saja!." (bahasa inggris)


"Lihat dia sudah dibawa pergi dengan ambulance." (bahasa inggris)


Aku melihat para petugas sudah menggotong wanita yang tertabrak itu ke mobil ambulance. Namun tak sengaja aku melihat wajah gadis yang terluka itu sangat mirip dengan seseorang yang ku kenal.


"Sherly?." Aku mengingat gadis itu. Dia adalah Sherly adik perempuan Ratna. Lalu akupun bergegas mendekati ambulance tapi sayang dicegah oleh Darren.


"Apa yang kamu lakukan?. Kamu menganggu proses evakuasi." (bahasa inggris)


"Tapi.." (bahasa inggris)


"Laras, ayo kita pergi sebelum terlambat!. Ingat ada meeting yang harus kita hadiri!. Biarlah wanita itu jadi urusan Bapak tadi."  (bahasa inggris) Ucap Darren lalu membawa ku kembali ke mobil.


Namun di sepanjang perjalanan otak ku terus mengingat kejadian itu, karena aku sangat yakin dengan apa yang ku lihat.


"Sepertinya aku tidak salah. Bahwa gadis itu pasti Sherly." Batin ku yang yakin akan penglihatan ku.


"Kita sudah sampai." (bahasa inggris) Ucap Darren yang hampir tak dihiraukan oleh ku karena otak ku yang masih saja mengingat kejadian itu.


"Oh ya benar." (bahasa inggris)


"Ada apa dengan mu Laras?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang melihat ku masih terlihat seperti orang bingung.


"Dar, apa kamu tahu ambulance itu dibawa ke mana?." (bahasa inggris) Tanya ku.


"Seperti ke rumah sakit Bunda yang ada di dekat situ." (bahasa inggris) Jawab Darren.


"Bawa aku ke sana sore ini, Dar." (bahasa inggris)


"Iya, aku ingin memastikan sesuatu." (bahasa inggris) Jawab ku sambil menggenggam erat tangan Darren seraya memohon padanya.


"Hhmm... baiklah!. Nanti sore kita ke sana." (bahasa inggris)


Lalu aku dan Darren masuk ke dalam perusahaan dan melakukan rutinitas kerja seperti biasa.


***


Di rumah sakit


“Bapak, keluarga korban?.” Tanya Dokter yang ada di ruang IGD.


“Bukan, saya hanya orang yang tak sengaja menabraknya, Dok. Bagaimana keadaannya, Dok?.” Tanya lelaki paruh baya tersebut.


“Fisiknya hanya mengalami luka ringan saja, tapi sayang janinnya tak bisa kami selamatkan.” Ucap Dokter tersebut. Dimana Dokter yang menanganinya saat ini adalah Dokter Fadil yang memang Dokter IGD di rumah sakit tersebut.


“Apa, Dok?. Janin?. Anak itu sedang hamil?.” Tanya lelaki paruh baya itu menatap tak percaya.


“Bagaimana bisa?. Dia terlihat masih sangat muda.”


“Yah, mungkin saja ia menikah muda. Banyak yang memilih menikah muda untuk menghindari dosa, Pak.” Ucap Dokter Fadil berusaha berpikir positif.


“Saya jadi merasa bersalah pada anak itu, karena saya ia jadi kehilangan calon anaknya.” Ucap lelaki tersebut sambil tertunduk lesu.


“Tidak usah terlalu merasa bersalah, Pak. Semua sudah takdir, lagipula yang saya dengar ini bukan sepenuhnya salah Bapak. Gadis itu hanya mencoba menyelamatkan anak itu saja.” Ucapan penghiburan dari dokter Fadil untuk lelaki itu dan langsung membuat lelaki itu tersenyum tipis seketika.


“Baiklah!. Saya akan melihat keadaan gadis itu dulu. Apa Bapak mau ikut?.” Ajak Dokter Fadil kepada lelaki paruh baya itu.


“Baik, Dok!.” Akhirnya mereka pun melihat keadaan Sherly yang sedang terkapar tak berdaya di ruang IGD.


Di IGD Sherly terlihat masih tak sadarkan diri, terlihat selang infus dan kantong darah menempel pada dua tangannya. Tampaknya ia sudah kehilangan banyak darah akibat kecelakaan tersebut.


Dokter Fadil memperhatikan keadaan Sherly dengan mengecek selang infusnya dan menyuruh suster untuk menyuntikkan vitamin pada tubuh Sherly yang kehilangan banyak darah. Lalu Dokter Fadil melihat Sherly yang telah bangun dari tidurnya.


“Di mana saya?.” Tanya Sherly yang saat itu melihat dirinya di tempat asing.


“Anda di rumah sakit saat ini.” Jawab Dokter Fadil yang masih ada saat dirinya tersadar.


“Apa anda dokter?.”


“Iya, saya dokter yang memeriksa anda.”


“Dan.. siapa anda?.” Tatapannya berhenti dikala melihat pria paruh baya di hadapannya.


“Saya Pak Ridwan yang membawa anda kemari nona.” Jawab pria tersebut.


Kemudian Sherly pun berusaha bangkit dari tidurnya untuk mencerna semua yang ada. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi, setelah ia berusaha menyelamatkan anak yang tertabrak itu. Ia sudah tidak ingat apa-apa lagi dan malah berakhir di sini.


“Nona, anda jangan bergerak dulu!. Anda baru saja kehilangan janin anda!.” Ucap dokter Fadil yang langsung bagaikan sambaran petir bagi Sherly, pasalnya pacar saja tidak punya apalagi suami. Bagaimana ia bisa hamil?.


“A.. aku hamil?.” Tanya Sherly yang masih tak percaya.


“Iya, anda baru saja kehilangan janin yang ada di kandungan anda.” Terang dokter Fadil lagi.


“Ta.. tapi dok. Bagaimana saya bisa hamil?.” Tanya Sherly yang sontak membuat orang-orang yang ada di hadapannya terkejut.


“Ehhm.. nona tenanglah!. Istirahatlah dulu setelah itu kita bicara pelan-pelan nanti.” Ucap Dokter Fadil khawatir Sherly jadi panik.


“Iya benar Nona, dan maafkan saya yang sudah menabrak anda tadi.” Ucap maaf dari Pak Ridwan.


"Tapi maaf setelah ini saya tidak bisa menemani anda, saya harus mengembalikan mobil terlebih dahulu ke majikan saya. Setelah itu saya akan usahakan kembali lagi.” Ucap Pak Ridwan.


“Tidak usah, Pak!. Biar saya sendiri saja. Saya sudah terbiasa sendiri.” Jawab Sherly yang tak ingin merepotkan Pak Ridwan dengan dirinya.


Setelah itu Dokter Fadil dan Pak Ridwan pun pergi dari hadapan Sherly dan tinggallah Sherly yang hanya bisa meratapi nasibnya saat ini. Ia teringat sesaat kejadian malam naas itu dan kembali menangisinya. Ia tak menyangka kejadian satu malam itu membuat dirinya hamil, bahkan ia tak tahu dirinya tengah hamil sampai janin itu pergi dengan sendirinya.


“Nak, bahkan ibu gak tahu kehadiranmu. Maafkan Ibu yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Hiks! Hiks!.” Tangis Sherly yang kembali pecah saat itu.