
Pagi hari di apartemen seperti kebiasaan lama, Ayah selalu membuatkan ku sarapan sebelum aku berangkat kerja.
"Sudah siap?." Tanya Ayah yang melihat ku sudah siap dengan atribut kerja.
"Iya." Jawab ku.
"Duduk lah!. Dan sarapan dulu!." Pinta Ayah sambil menyendokkan nasi goreng telur ke piring milik ku.
Lalu aku pun menyantap masakan Ayah dengan lahapnya, seperti biasa Masakan buatan Ayah memang yang terbaik. Sudah beberapa bulan ini aku merindukannya. Walau sekarang nampak kaku setelah kejadian kemarin sore antara aku, Ayah dan Kak Joon. Namun aku tetap merindukan saat-saat bersama Ayah yang seperti ini.
"Baiklah!. Aku harus segera pergi." Ucap ku setelah selesai makan.
"Tunggulah sebentar lagi!. Mungkin dia terjebak macet." Pinta Ayah yang seketika membuat ku bingung dengan ucapannya.
"Ting!. Tong!." Suara bel pintu apartemen ku berbunyi.
"Siapa pagi-pagi begini?." Ucap ku yang merasa aneh, karena seingat ku aku tak memiliki janji pada siapa pun.
"Buka lah!. Mungkin saja tamu yang penting." Pinta Ayah.
Lalu aku pun membuka pintu, dan langsung terkejut dengan orang yang datang kala itu.
"Laras, maaf aku terlambat." (bahasa inggris) Ucap Darren yang sudah ada di depan pintu.
"Hai, Dar!. Masuklah!. Makan sarapan dulu!." (bahasa inggris) Pinta Ayah begitu melihat kehadiran Darren.
"Apa ini?." (bahasa inggris) Tanya ku pada Darren namun hanya dijawab dengan menaikkan bahunya.
"Duduklah!. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu!." (bahasa inggris) Pinta Ayah yang kala itu membuat diri ku tak dapat berkata-kata. Ingin protes tapi sepertinya percuma saja melawan Ayah yang masih teguh pada pendiriannya.
"Pak Farid, terima kasih anda sudah mau repot-repot membuatkan saya sarapan. Dan kebetulan sekali aku belum sarapan." (bahasa inggris) Ucap Darren lalu melahap sarapan yang disediakan Ayah di meja.
"Dar, apa yang kau lakukan?. Ayo!." (bahasa inggris) Ucap ku kesal pada Darren.
"Emm.. ini sangat enak!. Aku benar-benar kangen masakan Bapak." (bahasa inggris) Ucap Darren yang benar-benar menikmati sarapannya.
"Mulai hari ini kamu akan pulang pergi bersama Darren, karena Ayah tak ingin kamu kenapa-kenapa!."
"Tapi Ayah!." Ucap ku yang ingin menolak.
"Sudah tidak ada tapi-tapian!. Bila kamu membantah!. Ayah akan menyuruh Mister Jo untuk segera memulangkan mu ke Jerman!." Ucap Ayah yang tak ingin ada penolakan dari ku.
"Dar.. tolong aku!. Pliss!." (bahasa inggris) Mohon ku pada Darren.
Namun lagi-lagi Darren hanya menaikkan bahunya sebagai jawaban.
"Aku sudah selesai. Sekarang ayo kita berangkat!." (bahasa inggris) Pinta Darren lalu menarik tangan ku menuju ke luar apartemen.
"Baik-baik di jalan ya!. (bahasa inggris) Pinta Ayah begitu melihat kami keluar pintu.
"Dar..! Darren!." Teriak ku saat di luar pintu.
"Ada apa sih?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang sebenarnya tak ingin berdebat dengan ku.
"Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa kamu melakukan ini?." (bahasa inggris) Tanya ku.
"Laras maksud ku Raya. Seperti yang Ayah mu bilang, ia menitip kan mu pada ku." (bahasa inggris) Jawab Darren.
"Kamu kan bisa menolaknya?." (bahasa inggris) Tanya ku.
"Hey!. Kamu ingin Ayah mu memaksa mu kembali ke Jerman dan meninggalkan kekasih mu itu?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang seketika membuat ku berpikir.
"Lalu kenapa kamu tidak mencoba membantu ku dengan menolak karena alasan itu setidaknya?." (bahasa inggris) Tanya ku sambil berjalan mengikuti Darren yang terburu-buru menuju parkiran.
"Setidaknya kamu bisa menolak keinginannya karena aku sudah memiliki kekasih." (bahasa inggris)
"Raya, apa aku tak boleh memenuhi keinginannya?. Apa aku tak pantas jadi calon suami mu?." (bahasa inggris)
Kata-kata itu membuat Raya termangu, pasalnya ia tak menyangka Darren berkata demikian.
"Dar, aku dan Kak Joon akan segera menikah. Dan aku tak ingin berpisah darinya." (bahasa inggris)
"Aku tahu!. Tapi setidaknya dengan ini aku bisa melihat bagaimana keseriusan dia pada mu!." (bahasa inggris) Ucap Darren yang langsung menghentikan langkah ku.
"Maksud mu?." (bahasa inggris)
"Aku akan tetap memperjuangkan mu apapun yang terjadi. Aku ingin melihat sejauh mana kekasih mu itu memperjuangkanmu. Bila nyalinya hanya seujung kuku, maka aku akan segera membawa mu pergi dari sisinya." (bahasa inggris) Ucap Darren.
"Dar, kamu bercanda ini gak lucu!." (bahasa inggris)
"Raya, aku mencintai mu!." (bahasa inggris) Kata-kata Darren yang semakin membuat ku tak dapat berkata-kata.
"Aku mencintai mu sedari dulu sampai detik ini!. Tapi sayangnya kamu tak pernah tahu, lebih tepatnya mungkin tak mau tahu." (bahasa inggris) Ucap Darren yang mulai menatap ku dengan tatapan yang dalam.
"Kamu selalu ada dipikiran ku dari dulu sampai sekarang. Mungkin kamu tak pernah menyangkanya, karena aku selalu menjaga persahabatan kita dengan baik. Ya, aku akui aku brengsek!. Tapi untuk mu aku janji aku akan jadi lelaki yang baik dan hanya melihat satu wanita saja yaitu diri mu. Jadi pliss kasih aku kesempatan untuk membuktikannya!. (bahasa inggris)
"Tapi Dar... " (bahasa inggris) Ucap ku yang dicegah oleh Darren dengan kata-katanya.
"Kasih aku kesempatan untuk menjagamu sesuai keinginan Ayah mu!. Aku janji jika Joon Woo berhasil meluluhkan hati Ayah mu, aku akan menyerah saat itu juga." (bahasa inggris) Ucap Darren yang kemudian memeluk ku sambil menahan air matanya dihadapan ku.
"Kamu gak usah berkata apa-apa lagi. Dan aku tak perlu izin darimu untuk melakukannya. Pliss Raya!." (bahasa inggris)
Aku masih terdiam dengan sikap Darren hari ini. Yang aku dapat lakukan saat ini hanyalah dengan diam. Aku sebenarnya tahu bahwa Darren adalah lelaki yang baik, bahkan sangat baik. Mungkin wanita-wanita yang bersamanya selalu berkata bahwa Darren adalah lelaki yang buruk dimatanya tapi tidak dihadapan ku. Ia selalu memperlihatkan sisinya yang lembut.
"Apa mungkin itu yang dirinya maksud dengan ucapannya hari ini." Batin ku saat ini.
"Masuklah!. Jika tidak kita akan terlambat!." (bahasa inggris) Pinta Darren yang menyuruh untuk masuk ke mobilnya.
Mungkin saat ini aku akan membiarkan tindakannya. Bukan berarti aku memberikan harapan kepadanya, tapi hanya ingin menghargainya sebagai sahabat ku saja.
***
Di sebuah toko buku yang ada di pinggir kota Jakarta terlihat seorang gadis muda dan manis yang sedang mencari-cari sebuah buku yang ada di rak buku. Setelah lama berkutat dengan buku-buku yang ada di rak, iapun akhirnya menemukan buku yang diinginkannya.
"Akhirnya dapat!." nampak wajah riang tercetak di wajahnya begitu mendapatkan apa yang ia cari.
Ia pun segera membawa buku tersebut ke kasir untuk dibayar.
"Berapa mba?." Tanya wanita itu kepada kasir.
"56 ribu." Lalu iapun membayarnya dengan bantuan aplikasi yang ada di ponselnya. Setelah itu iapun pergi dari toko buku tersebut sambil menenteng buku yang ia beli.
Ya, wanita itu adalah Sherly yang sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya. Sherly putus sekolah saat dirinya sedang duduk dibangku kelas 2 SMA. Melihat Kakaknya Ratna yang banting tulang demi keluarganya hingga putus kuliah. Iapun tak bisa diam saja, ia juga memutuskan untuk putus sekolah. Awalnya ia membantu keluarga dengan kerja part time menjadi SPG rokok. Dengan modal wajah manis miliknya ia mudah mendapat tawaran pekerjaan yang bergajih lumayan untuk orang seusianya.
Namun dengan padatnya kegiatan sekolah, ia tak bisa melakukan pekerjaan sambilan. Akhirnya dengan berat hati ia terpaksa putus sekolah dan fokus mencari uang. Apalagi setelah Kakaknya dinikahi Jalal, Ratna tak dapat membantu perekonomian mereka, hingga Sherly harus bekerja ekstra mengambil dua pekerjaan sekaligus dalam sehari.
Setelah dua tahun bekerja akhirnya awal bulan lalu Sherly memutuskan mengambil paket C untuk meneruskan sekolahnya. Sherly sebenarnya anaknya yang cukup pintar dan merupakan anak yang paling pintar di keluarganya. Ia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Walau dirinya sekarang sudah jatuh miskin, bukan berarti ia melupakan cita-citanya ia harus tetap menggapainya meski bagaimanapun kondisinya sekarang. Ia harus bisa menaikkan derajat keluarganya apapun yang terjadi.
Sherly saat ini mengambil paket C di pusat kota tak jauh dari tempat tinggalnya berada untuk itu dia memilih berjalan kaki sampai di tempat sekolahnya. Namun di tengah jalan ia melihat seorang anak kecil yang menyebrang dengan sembrono saat ini, hingga tak melihat ada mobil yang ada di depan matanya.
Melihat itu Sherly pun tak tinggal diam, ia berlari menyelamatkan anak itu dari terjangan mobil yang menghampirinya. Dan...
"Ckiittt!!. Brukk!!."