Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 21 : Cinta Pertama?



Satu Jam Sebelumnya


Di ruangan Dokter Fadil


"Joon, apalagi yang ingin kamu bicarakan dengan ku?." Tanya Dokter Fadil.


"Apa kamu dekat dengan Raya?." Tanya Joon Woo.


"Raya?. Siapa Raya?." Dokter Fadil yang tak mengenal Raya yang dimaksud oleh Joon Woo.


"Maksud ku Laras." Ucap Joon Woo mengoreksi.


"Heh!. Karena ini kamu membawa ku kemari?." Tanya Dokter Fadil heran.


"Memang apa hubungan mu dengan Laras?." Tanya Fadil mulai penasaran.


"Eehhm... dia wanita itu. Wanita yang sering aku bicarakan." Ucap Joon Woo sedikit ragu.


"Maksud mu?." Ucap Dokter Fadil sembari menerka arah pembicaraan Joon Woo.


"Teman kecil ku." Ucap Joon Woo.


"Ah!. Cinta pertama mu itu?." Ucap Dokter Fadil yang berhasil menerka maksud dari Joon Woo.


"Sstt!. Jangan berisik!." Ucap Joon Woo ingin Dokter Fadil merendahkan suaranya.


"Jadi wanita itu adalah Raya?." Ucap Dokter Fadil menegaskan.


Joon Woo pun mengiyakannya dengan anggukan kepala.


"Joon!. Akhirnya setelah sekian lama dia kembali juga. Tapi apa dia sudah menikah?. Bukankah kamu bilang dia di bawah mu dua tahun?." Tanya Dokter Fadil penasaran.


"Sepertinya tidak, karena dia karyawan ku sekarang." Jawab Joon Woo yang langsung membuat Dokter Fadil terkejut.


"Apa?. Ini memang benar-benar takdir!." Dokter Fadil yang menepuk tangan saking tak percaya.


"Aku tak tahu, tapi aku pun tak pernah menduganya." Joon Woo yang seperti memiliki harapan terhadap takdir yang terjadi diantara dirinya dan Raya.


"Tapi Joon, apa dia sudah tahu bahwa kamu sudah menjadi duda?." Tanya Fadil sembari menatap lekat wajah Joon Woo.


"Sepertinya tidak." Jawab Joon Woo sedikit kecewa.


"Lebih baik kamu memulai kembali hubungan mu dengannya tanpa ada kebohongan di dalamnya. Jujur lah padanya!. Ingat!. Ini adalah kesempatan kedua yang Tuhan berikan kepada mu!. Mungkin saja dia benar-benar adalah takdir mu, Joon!." Tegas Dokter Fadil seraya menepuk bahu Joon Woo.


"Entahlah!. Aku tak yakin dengan perasaannya saat ini. Karena aku merasa dia sedang menghindari ku." Ucap Joon Woo yang sekali lagi memperlihatkan wajah kecewanya.


"Menghindar?. Tapi aku lihat, kamu membawa Leon bersama dengannya. Dan aku melihat dia juga sangat mengkhawatirkan anak mu Leon?." Tanya Dokter Fadil yang ingin tahu hubungan Raya dengan Leon.


"Leon dekat dengan Raya, aku juga baru tahu hal itu. Dan hari ini aku menemui keduanya di rumah lama kami." Ucap Joon Woo menjelaskan.


"Seperti yang kubilang mungkin saja ini takdir Joon!. Aku harap kamu tidak menyia-nyiakannya!." Ucap Dokter Fadil menyemangati sahabatnya yang sudah berteman dengannya selama lima tahun terakhir ini.


"Aku harap demikian, kali ini aku akan memantapkan hati ku." Tegas Joon Woo.


"Ah, padahal baru saja aku menemukan permata yang hilang. Ternyata permata itu milik orang lain. Bagaimana ini?." Keluh Dokter Fadil menyayangkan bahwa ternyata Laras adalah teman kecil Joon Woo.


"Apa maksud mu?. Jangan berani mendekatinya!. Aku tahu kamu itu seperti apa!. Raya hanyalah wanita polos tidak seperti diri mu!." Joon Woo yang memasang wajah gaharnya di depan Dokter Fadil sebagai peringatan.


"Hei!. Hei!. Sabar kawan!. Aku tak mungkin mengambil milik orang lain, apalagi milik kawan sendiri. Itu namanya pagar makan tanaman!." Tegas Dokter Fadil.


Lalu setelah percakapan itu Joon Woo kembali menemui Leon di IGD.


Tak disangka begitu sampai di bilik Leon, pemandangan yang menyejukkan hati terlihat. Joon Woo melihat Raya yang sedang mengelus pucuk kepala Leon seakan menenangkan Leon yang tidur dalam kegelisahan.


Entah perasaan apa yang dirasakan Joon Woo saat ini, yang jelas ia hanya ingin Raya menganggapnya sebagai Kak Joon yang dulu.


Flash Back Selesai


***


Beberapa saat setelah perdebatan mereka berdua, akhirnya Raya tertidur karena kelelahan. Dan di saat itu Leon pun terbangun.


"Dad.. Daddy?." Ucap Leon sembari berusaha membuka ke dua matanya.


"Sstt!. Kamu akan membangunkannya!." Bisik Joon Woo yang tak ingin suara Leon membangunkan Raya yang tertidur tepat di samping ranjang.


"Kenapa dia ada di sini?. Lalu kenapa aku ada di sini?." Leon yang memperhatikan ke sekelilingnya.


"Kamu pingsan sayang. Daddy panik, dan Raya membantu Daddy membawa mu ke sini." Ucap Joon Woo.


"Pingsan?." Ucap Leon yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Aku hanya ingin berdua saja dengan wanita ini." Ucap Leon sembari menatap Raya yang tertidur di sampingnya.


Joon Woo melihat sebuah tatapan yang tak biasa dari mata Leon terhadap Raya.


"Apa kamu menyukainya?." Tanya Joon Woo yang mulai mencari tahu akan arti tatapan anaknya itu.


"Tentu saja tidak!. Mana mungkin aku menyukainya?." Ucap Leon yang wajahnya mulai memerah.


"Jangan harap Leon!. Dan panggil dia Tante!. Bukan Wanita!. Jaga sopan santun mu!." Pinta Joon Woo yang sepertinya memiliki saingan yang berat yaitu anaknya sendiri.


Di sela-sela perdebatan antara Ayah dan anak itu, Raya pun terbangun dari tidurnya karena terusik oleh suara keduanya.


"Leon, kamu sudah bangun?." Raya yang langsung menyentuh kening Leon begitu tahu ia sudah sadar.


"Apa yang kau lakukan?. Aku baik-baik saja!." Leon yang tersipu saat keningnya disentuh Raya.


Joon Woo yang melihat itu seketika menjadi geram dengan tingkah anaknya yang seakan malu disentuh oleh wanita.


"Leon, dia hanya ingin memastikan apa kamu sudah sehat atau belum?." Ucap Joon Woo sembari menahan amarahnya.


"Apa hal ini sering terjadi dengan mu Leon?." Tanya Raya yang masih khawatir dengan kondisi Leon.


"Aku akan memanggil Dokter Fadil, kamu tunggulah di sini!." Pinta Joon Woo yang ingin Raya tetap di sisi Leon.


Dan tak lama Dokter Fadil datang bersama seorang Suster di sampingnya.


"Wah!. Wah!. Kamu rupanya sudah sadar bocah ingusan!." Sapa Dokter Fadil kepada Leon.


"Siapa yang kau maksud dengan bocah ingusan?." Leon yang memasang wajah tak sukanya pada Dokter Fadil.


"Oh, ternyata Nona Laras belum pulang?. Apa hari ini aku bisa mengantar mu kembali?. Tampaknya hari sudah semakin gelap." Tawaran Dokter Fadil yang disaksikan oleh Leon dan juga Joon Woo seakan Dokter Fadil sengaja menyatakan perang.


"Tidak!." Ucap Joon Woo dan Leon bersamaan.


"Ehem!. Maksud ku Raya akan pulang bersama kami, karena ia pergi bersama kami, jadi alangkah baiknya jika dia kami yang antar." Ucap Joon Woo malu-malu.


"Maaf sebelumnya, ini adalah rumah sakit. Bisakah kalian semua merendahkan suara kalian!." Ucap seorang suster yang ada di rumah sakit.


"Ppfftt..!. Ini sungguh lucu ternyata Ayah dan anak ini sangat kompak!. Nona Laras!. Akhirnya aku menemukan wanita yang dapat menyatukan mereka." Ucap Dokter Fadil seraya berbisik di telinga Raya.


Raya yang tak mengerti dengan maksud Dokter Fadil padanya hanya tersenyum menanggapinya.


Kemudian Dokter Fadil pun memeriksa keseluruhan kondisi tubuh Leon. Dan setelah itu Dokter Fadil memastikan bahwa Leon sudah dapat pulang ke rumah.


"Semua sudah baik, kamu sudah boleh pulang!." Ucap Dokter Fadil.


"Aku memang baik-baik saja!. Mengapa kalian membawa ku ke rumah sakit?." Ucap Leon yang berpura-pura kuat dihadapan semua orang.


"Hei!. Bocah ingusan!. Apa perlu aku mengeluarkan riwayat sakit mu?. Aku sampai bosan melihat mu yang bolak-balik ke rumah sakit ini karena tak sadarkan diri!." Ucapan Dokter Fadil yang seketika di hentikan oleh Leon dengan menutup mulut Dokter Fadil.


"Bisakah kau diam untuk saat ini!." Leon yang menutup mulut Dokter Fadil sembari menatap ke arah Raya seakan tak ingin Raya mengetahui kelemahannya.


"Leon!. Jaga sikap mu!. Dokter Fadil hanya ingin kamu menjaga kondisi mu!." Tegas Joon Woo.


"Benar, aku tak ingin kejadian ini terulang lagi di masa mendatang. Begitu bukan bocah Ingusan?." Dokter Fadil yang memperingatkan Leon akan kondisinya.


"Iya!. Iya!. Aku tahu!." Ucap Leon sedikit terpaksa dan memasang wajah masamnya.


Raya lagi-lagi dibuat tersenyum melihat Leon yang berwajah masam seperti itu. Raya melihat sebenarnya Leon hanyalah seorang anak kecil seperti yang lainnya, yang butuh kasih sayang dan perhatian, hanya saja ia tak mau menunjukkannya kepada orang lain.


Setelah itu Raya pun ikut pulang bersama Joon Woo dan juga Leon, karena Apartemen Raya tak jauh dari rumah sakit berada, Raya pun dipulangkan terlebih dahulu oleh Joon Woo.


"Terima kasih atas perhatian mu terhadap Leon. Dan berhati-hatilah saat masuk!." Ucap Joon Woo yang mulai bersikap lembut terhadap Raya.


"Tidak, tindakan ku saat ini adalah karena kemanusiaan. Aku rasa jika ada orang lain yang melihat hal itu, pasti dia akan melakukan hal yang sama terhadap Leon." Lagi-lagi Raya bersikap formal terhadap Joon Woo yang membuat Joon Woo sedikit canggung.


"Raya, aku tahu dirimu!. Dan kamu masih sama seperti Raya yang dulu aku kenal." Ucap Joon Woo yang percaya bahwa Raya masih sama seperti dulu.


"Anda salah Mister, yang ada di hadapan anda saat ini bukanlah Raya yang dulu tapi Laras. Baiklah!. Karena sudah sampai, saya permisi dulu!. Dan terima kasih telah mengantar saya." Ucap Raya seraya memutar tubuhnya menuju ke apartemen.


"Wanita jelek!. Jangan lupa janjimu!." Teriak Leon yang saat itu melihat kepergian Raya.


Raya yang mendengar teriakan Leon langsung memutar kembali tubuhnya.


"Baiklah!." Senyum Raya dengan tulus ke arah Leon sebagai jawaban.


Rasa kecewa mendengar kata-kata terakhir dari Raya membuat Joon Woo tersenyum getir malam itu.


"Raya, apa yang membuat mu begitu menghindari ku?." Batin Joon Woo yang kecewa dengan sikap Raya.