Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 69 : Perdebatan Ayah dan Anak



Di ruang tunggu...


"Berapa lama aku harus menunggu?." (bahasa inggris) Tanya Farid yang sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan anaknya Raya.


"Mungkin sebentar lagi. Raya sedang dalam perjalanan kemari." (bahasa inggris) Jawab Darren.


"Kau pasti sudah tahu semua ini?. Kenapa kau tidak beritahu aku?. Padahal aku ke sini ingin melihat perkembangan hubungan kalian berdua?." (bahasa inggris) Ucap Farid.


"Maksud anda?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang tak mengerti dengan ucapan Farid.


"HHmm.. aku sudah menetapkan jadwal pernikahan kalian. Jadi sebaiknya setelah project di sini selesai pulanglah!." (bahasa inggris) Ucap Farid yang seketika membuat Darren tersedak karena kaget.


"Apa?."(bahasa inggris)


"Kenapa kau terkejut seperti itu?. Apa tidak ada perkembangan diantara kalian?. Apa anak itu masih tak bisa melupakan bajing** itu?." (bahasa inggris) Tanya Farid yang sedikit mengepal.


"Bu.. bukan. Maksud saya..." (bahasa inggris)


"Tok!. Tok!. Tok!." Tiba-tiba saja suara ketukkan pintu pun menghentikan perkataan Darren.


"Ayah!." Teriak Raya begitu melihat Ayahnya yang sudah berada di sofa ruang tunggu.


"Raya." Ucap Farid begitu melihat wajah putri kesayangannya.


"Ayah, kenapa gak bilang kalau mau datang?." Tanya Raya seraya memeluk Ayahnya.


"Ayah hanya ingin memberimu dan Darren kejutan." Ucap Ayahnya namun setelah itu Farid pun memasang wajah tajam ke arah Raya.


"Ayah kenapa melihat ku seperti itu?." Tanya Raya yang melihat perubahan dari mimik wajah Ayahnya.


"Kenapa kamu gak pernah cerita soal si bajing** itu yang punya perusahaan ini?." Tanya Farid dengan tatapan tajam ke arah Raya.


"Ayah, tenang ya!. Raya bisa jelasin." Raya yang kemudian membawa Farid duduk kembali ke sofanya.


"Jelaskanlah!." Pinta Farid dengan tatapan nyalang ke arah putrinya.


"Sebenarnya sampai hari keberangkatan aku ke Jakarta. Aku tidak tahu bahwa pemilik perusahaan ini adalah Kak Joon. Oleh karena itu aku tidak memberitahukan Ayah, karena aku sendiri pun tidak tahu menahu soal itu. Dan... "


"Dan apa?." Tanya Farid yang tak ingin anaknya berbelit-belit.


"Dan soal Kak Joon sebenarnya aku dan dia sudah..."


"Sudah apa?."


"Sudah.."


"Kami sudah berencana untuk menikah dan meminta restu kepada anda, Pak Farid." Ucapan Kak Joon yang datang dengan tiba-tiba dan langsung membuat mata Farid terbelalak.


"Iya begitu maksud ku Ayah." Ucap Raya mempertegas kalimat yang diucapkan Joon Woo saat itu.


"Kalian pikir dengan ini kalian akan aku restui?." Ucap Farid.


"Kalian urus lah ini!. Aku tak akan mencampuri urusan kalian. Aku permisi dulu!." (bahasa inggris) Ucap Darren langsung beranjak pergi dari ruangan tersebut dan meninggal Farid, Raya dan Joon Woo.


"Ayah, dengarkan aku dulu!." Mohon Raya sambil bersimpuh dihadapan Ayahnya.


"Tidak Pak, ini bukan salah Raya. Saya yang bersalah dalam hal ini bukan Raya. Saya yang memaksa ia untuk menerima cinta saya." Ucap Joon Woo yang ikut bersimpuh di hadapan Farid.


"Heh, kau benar-benar sudah berani memaksa anak ku untuk mau menikahi mu!. Lantas apa yang kau lakukan 8 tahun lalu?. Kau sia-siakan anak ku ini!." Ucap Farid dengan nada meninggi pada Joon Woo.


"Maafkan saya, Pak." Ucap Joon Woo.


"Heh, bukankah kau sudah menikah?. Kau ingin menjadikan anak ku ini sebagai yang ke dua begitu?." Tanya Farid lagi yang tak tahu bahwa Joon Woo sudah bercerai.


"Saya sudah bercerai dengan Jane."


DEG


Seketika mimik wajah Farid berubah, ia sedikit terenyuh dengan perkataan dari Joon Woo.


"Apa?. Kamu sudah bercerai?. Sejak kapan?." Tanya Farid yang mulai menatap Joon Woo dengan tatapan iba.


"Sejak 4 tahun yang lalu." Jawab Joon Woo.


"Bapak turut merasa menyesal." Seraya menepuk bahu Joon Woo.


Sebenarnya Farid sangat menyayangi Joon Woo sedari kecil. Bahkan sudah ia anggap seperti anaknya sendiri karena dirinya tak memiliki anak laki-laki maka dari itu ia selalu menitipkan Raya kepadanya. Dan sempat mengharapkan bahwa dirinya nanti bisa menjadi pendamping hidup putrinya. Namun karena sikap Joon Woo yang terkesan menyia-nyiakan amanat darinya dan karena itulah ia sangat kecewa dengan Joon Woo. Mungkin baginya tidak apa-apa menolak cinta putrinya, tapi tidak dengan mengacuhkannya.


"Tidak Pak!. Saya dan anak Bapak saling mencintai dan kami tidak bisa dipisahkan."


"Cinta itu bisa hilang seiring dengan berjalannya waktu. Bapak yakin dengan kepiawaian mu kau bisa mencari wanita pengganti istri mu itu yang lebih baik dari anak ku." Tegas Farid.


"Tapi Pak.." Joon Woo yang mencoba menjelaskan kepada Farid, namun Farid tak ingin berlama-lama di ruangan tersebut dan memilih segera keluar dengan menenteng barang-barangnya.


"Raya, bawa Ayah ke Apartemen mu sekarang!." Pinta Farid yang tak bisa ditolak Raya.


"Tapi Ayah dengarkan dulu penjelasan Kak Joon Yah... Raya mohon!."


"Sudah sayang... Ayah sungguh lelah. Jangan menambah lelah Ayah!." Pinta Farid.


"Sudahlah!. Bawalah Ayah mu pulang terlebih dahulu." Pinta Joon Woo.


"Tapi aku kan tinggal... "


"Biar barang-barang mu aku yang urus!." Pinta Joon Woo lalu meminta Dimas untuk mengantar Farid dan Raya kembali ke apartemennya.


"Dimas tolong antarlah Raya dan Pak Farid ke apartemennya."


"Tidak, aku lebih baik naik taksi saja!."


"Tidak Pak. Anggaplah ini balas budi ku kepada mu selama ini. Saya mohon!." Ucap Joon Woo sambil menunduk ke arah Farid.


"Baiklah!. Tapi jangan pernah menghitung ini sebagai restu ku atas lamaran mu kepada anak ku."


"Tentu saja tidak, Pak." Jawab Joon Woo.


"Ayo pergi Raya!." Pinta Farid kepada Raya.


Namun tatapan Raya masih mengarah kepada Joon Woo, ia merasa berat harus berpisah seperti ini dengan Joon Woo. Apalagi hari ini bukan hanya tak dapat restu dari sang Ayah, bahkan Joon Woo juga tak dapat maaf dari Ayahnya.


"Pergilah!." Ucap Joon Woo seolah ia mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Dan akhirnya Raya pun pergi meninggalkan perusahaan walau belum jam pulang tiba, karena Joon Woo sudah memberi izin sebagai atasannya.


Sebenarnya berat bagi Joon Woo untuk tinggal terpisah dengan kekasihnya yang sudah dua bulan ini tinggal bersamanya. Apa yang harus ia katakan kepada anaknya Leon?. Ia harus memutar otak untuk berdalih menghadapi rentetan pertanyaan yang dilayangkan Leon nantinya.


***


POV Raya


Di Apartemen


Raya, tempat ini sepi sekali seperti sudah lama tidak di huni?. Tanya Ayah kepada ku.


"Aku harus berkata apa pada Ayah?. Masa harus bilang kalau aku tinggal bersama Kak Joon di Mansionnya?." Batin ku saat ini.


"Apa kamu jarang pulang karena pekerjaan di kantor?." Tanya Ayah lagi.


"Yah, begitulah Ayah. Aku terlalu sibuk untuk pulang ke rumah." Ucap ku berbohong.


"Raya, bukannya Ayah tidak peduli kepada mu soal Joon. Tapi justru Ayah melakukan semua ini untuk masa depan mu nantinya. Apa kamu tidak ingat perlakuan dia dulu?. Hingga kau memutuskan untuk meninggalkan negri ini hanya untuk melupakan dia?. Apa kamu sudah lupa tujuan mu?." Tegas Ayah.


"Ayah, tapi itu dulu. Ayah harus mendengar kenyataan yang sebenarnya terlebih dahulu dari Kak Joon. Pasti Ayah akan mengerti nantinya." Ucap ku yang ingin Ayah tidak menilai Kak Joon hanya dari masa lalunya.


"Sudahlah Sayang!. Ayah sedang merasa tak enak badan. Tidak ingin membahas itu lebih jauh. Untuk sementara lupakan soal Joon Woo itu!. Ayah tak ingin mendengar ataupun melihat kamu bersama dengannya!. Mulai besok aku akan menyuruh Darren mengawasi mu 24 jam!." Tegas Ayah yang langsung membuatku membelalakkan mata.


"Ayah!. Darren itu hanya teman ku tidak lebih!. Kapan Ayah sadar!. Jangan terus-terusan mencoba menjodohkan ku dengannya!." Ucap ku dengan nada sedikit meninggi saking kesalnya. Walau aku menyayangi Ayah tapi bukan berarti aku menyetujui setiap tindakannya. Apalagi sampai mengatur siapa jodohku.


"Raya, menurutlah!. Dan yakinlah bahwa pilihan Ayah adalah yang terbaik untuk mu!. Sudah!. Ayah akan berisitirahat sejenak!. Keputusan Ayah tidak akan pernah berubah sampai Ayah dikubur bersama Bundamu nanti!." Tegas Ayah yang setelah itu segera menutup pintu kamarnya.


"Ayah." Aku tak bisa berbuat apa pun saat ini, aku hanya bisa pasrah dan berdoa agar hati keras Ayah nantinya akan melunak.


"Ayah, awalnya aku juga ragu untuk menerima Kak Joon, tapi sekarang aku yakin akan pilihan ku. Dan aku tak akan pernah menyesalinya!." Ucap ku dari balik pintu.


***


"Nak, Ayah tahu kamu mencintai Joon. Tapi Ayah belum bisa memaafkan dia atas perlakuannya dulu terhadap mu." Batin Farid setelah mendengar perkataan dari anaknya Raya.


Farid setelah itu mengusap wajahnya kasar seakan tekanan yang ia hadapi saat ini sangatlah berat. Mungkin Farid tahu ini berat juga untuk putrinya, tapi ia tetap merasa semua ini demi kebaikan putri satu-satunya.


Memang tak mudah menjadi seorang Ayah, apalagi single parents seperti dirinya. Ia harus memposisikan dirinya selain sebagai seorang Ayah juga sekaligus sebagai seorang Ibu bagi Raya.