
Aku malam itu memutuskan untuk merenungi apa yang terjadi di hari itu, di mana aku harus kembali ke Indonesia tempat Kak Joon berada. Aku langsung membuka laptop ku dan mengecek pesan yang masuk saat itu. Aku mencari pesan balasan dari Ratna sahabat ku, namun sudah beberapa tahun ini aku tak mendapatkan pesan satupun darinya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya aku pun tidak tahu.
Aku hanya ingin sekedar bertukar informasi mengenai keadaan kami masing-masing, tapi sudah empat tahun lamanya Ratna menghilang tanpa kabar. Jangankan melalui surel, pesan singkat di jejaring sosial yang aku kirim pun tak kunjung mendapat balasan.
Dan akhirnya malam itu aku berkutat dengan laptop mencari tahu keberadaan Kak Joon, namun aku tak menemukannya karena aku tak pernah berteman dengannya di sosial media, dan aku tak tahu nama akun miliknya.
“Apa yang harus ku lakukan?. Semoga saja aku tak pernah bertemu dengannya!.” Batin ku yang berharap.
Pagi harinya Ayah ku dikejutkan dengan wajah ku yang sudah seperti Panda saat sarapan. Setelah semalam mencoba mencari cara untuk menggali informasi mengenai Kak Joon, membuatku menjadi tak dapat tertidur. Alhasil mata ku di hiasi kantung hitam yang terlihat seperti Panda saat itu.
“Apa yang terjadi dengan mu, Raya?.” Tanya Ayah sambil menatap mata ku yang kurang tidur.
“Aku tidak apa-apa.” Ucap ku mencoba menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa kamu lembur lagi semalam?.” Tanya Ayah yang mulai mengkhawatirkan ku.
“HHhmm.. begitulah.” Ucap ku sambil melahap roti yang ada di hadapan ku dengan terburu-buru.
“Kamu masuk kerja hari ini?.” Tanya Ayah yang tidak yakin aku akan bekerja dengan kondisi seperti itu.
“Ya, Ayah!. Hari ini ada dead line yang harus aku selesaikan.” Jawab ku lalu lekas pergi meninggalkan Ayah ku yang masih menatap ku cemas.
“Aku pergi dulu!.” Teriak ku yang langsung berjalan cepat menuju parkiran motor.
Aku lantas menjalankan motor ku hingga menuju perusahaan tempat ku bekerja, dan hari itu lagi-lagi aku berpapasan dengan Darren yang sedang asik merayu sekretaris barunya di parkiran.
“Halo!!. Bisa kah kalian meneruskannya di tempat yang semestinya?.” (bahasa inggris) Pinta ku pada mereka berdua yang tengah menghalangi jalan ku masuk ke parkiran motor berada.
“Ehem!. Oh maaf aku tidak lihat.” (bahasa inggris) Ucap Darren yang lagi-lagi berpura-pura tidak mengenalku di hadapan wanita barunya.
Aku pun langsung melajukan motor ku secepat kilat untuk menghindari dirinya yang tak kenal tempat itu. Dan di perjalanan menuju lift aku kembali bertemu dengan Darren dan kali ini ia menarik ku ke dalam lift dengan tergesa-gesa.
“Ada apa dengan mu?.” (bahasa inggris) Ucap ku yang kesal dengan dirinya yang tiba-tiba menarik tangan ku dengan kasar.
“SSstt!. Aku sedang menghindari wanita itu.” (bahasa inggris) Ucap Darren sambil membenarkan dasinya yang sudah teracak sekretarisnya.
“Apa lagi yang kamu lakukan dengan wanita mu?.” (bahasa inggris) Ucap ku sedikit malas.
“Ia pikir aku akan menjadikannya kekasih, tapi aku tidak pernah menjanjikan hal itu. Kau tahu aku sudah berhenti main-main.” (bahasa inggris) Ucap Darren yang membuat ku memutar bola mata.
“Sudah?.” (bahasa inggris) Ucap ku yang menatapnya sambil bersedekap di hadapannya.
“Sudah apanya?.” (bahasa inggris) Tanya Darren penasaran.
“Sudah ngomongnya?.” (bahasa inggris) Jawab ku malas, lalu bertepatan dengan pintu lift yang terbuka aku pun langsung keluar tanpa mengucap kata perpisahan kepada Darren.
“Tunggu Laras!.” (bahasa inggris) Darren yang seketika keluar dari pintu lift dan menghentikan langkah ku.
“Kau menghalangi jalan ku!.” (bahasa inggris) Ucap ku kesal.
“Raya, aku pastikan bahwa aku serius kali ini!.” (bahasa inggris) Darren yang menatapku dengan sungguh-sungguh.
“Aku tak peduli. Terserah!.” (bahasa inggris) Ucap ku datar.
Lalu aku pun pergi tanpa mempedulikan Darren sedikit pun. Mungkin karena aku sudah terlalu jenuh dengan semua janjinya yang sebenarnya sama sekali tak membawa pengaruh apapun terhadap ku, hingga aku memutuskan seolah tak mendengarnya hari itu.
“Aku akan membuktikannya kepada mu kali ini!. Tunggu saja Raya!.” (bahasa inggris) Teriak Darren dari kejauhan yang ingin aku mendengarnya. Dan aku yang tetap pada pendirianku menganggap semuanya seolah tak pernah terjadi.
***
“KRUukkk!.”
Aku sudah tak kuat menahan rasa lapar, membuat otak ku tak dapat berpikir. Dan tak lama Angela menghampiri diri ku yang terlihat terdiam melihat layar komputer.
“Laras!. Ayo kita cari makan!. Kebetulan aku juga belum makan siang.” (bahasa inggris) Ajakan Angela yang seperti angin segar bagi ku, aku pun langsung menyetujui permintaannya.
Dan sampailah kami di sebuah kafe tak jauh dari kantor kami, kafe di mana kami sering nongkrong walau hanya sekedar mengobrol. Di sana ada menu favorit yang biasa kami pesan, yaitu Rouladen. Daging gulung dengan acar dan bawang yang sangat nikmat di santap saat makan siang. Aku biasa memakannya dengan tambahan pasta, membuat sajiannya semakin mantap.
Dan perut ku yang sudah terisi full saat itu membuat ku bersendawa tak tertahankan.
“ARrkkHH!.”
“Laras!. Kamu tuh ya!. Jadi perempuan kok cuek banget!. Ingat bersikap!.” (bahasa inggris) Ucap Angela yang mencoba mengingatkan ku akan pentingnya bersikap sebagai seorang wanita.
Tapi aku yang tak pernah peduli dengan semua itu membuat ku tak mengindahkan perkataan Angela.
“Aku tak peduli Angela!.” (bahasa inggris) Ucap ku cuek.
“Hadeuhhh!. Untung saja Darren nerima kamu apa adanya. Coba kalau di lihat dari penampilan mu?.” (bahasa inggris) Angela yang menatap ku dari kepala hingga ujung kaki.
Aku memang masih tak jauh dari saat diri ku 10 tahun yang lalu, hanya saja gaya ku kali ini sedikit berbeda, aku lebih sering menggulung rambut ku dengan menggunakan pensil atau pulpen yang sering aku gunakan untuk merevisi design. Dan baju yang aku kenakan masih tak jauh dari warna gelap, namun karena aku sudah bekerja, aku lebih sering mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak dengan bawahan jeans.
Menurut Angela selera fashion ku sangatlah buruk, karena apa yang aku kenakan tak beda jauh dengan yang dikenakan seorang kuli proyek. Tapi aku tak peduli dengan penilaian orang, karena bagi ku kenyamanan lah yang terpenting. Dan yang lebih parah lagi, aku tak pernah menjaga image sedikit pun di hadapan seorang laki-laki, aku selalu bertindak apa adanya termasuk bila tiba-tiba mulut ku keluar suara sendawa. Aku tak bisa menahannya karena itu merupakan hal yang tak bisa diprediksi, dan lagi aku tak merasa bersalah atas itu.
Bagi ku tetap sama, bila memang lelaki menyukai ku. Dia akan menyukai ku apa adanya, hal itu yang selalu aku tanamkan dalam pikiran ku.
“Apa kamu bilang?. Darren?. Sudah aku bilang…” (bahasa inggris) Belum aku menyelesaikan perkataan ku, Angela sudah menyelanya.
“Iya, aku tahu kalian pasti menjaga profesionalisme kan?. Aku pastikan!. Aku takkan mengatakannya pada siapapun!.” (bahasa inggris) Angela yang lagi-lagi salah paham dengan hubungan ku dan Darren.
Selesai makan siang aku dan Angela memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menyusuri pertokoan yang ada di sepanjang jalan di dekat kafe.
Dan aku menemukan sebuah toko kosmetik Korea yang menjual masker wajah lucu dengan bentuk wajah dari para idol K Pop di sana. Itu membuatku teringat dengan Cheryl adik Darren, aku bermaksud untuk membelikan beberapa untuknya.
“Angela, aku akan mampir ke toko itu sebentar.” (bahasa inggris) Aku pun masuk ke toko kosmetik itu tanpa ragu-ragu.
Dan aku menuju rak di mana masker wajah itu tersusun, dan aku pun mengambil beberapa untuk ku berikan kepada Cheryl. Lalu setelah itu aku membawanya ke kasir untuk di bayar, namun sontak aku dikejutkan oleh sebuah layar berukuran 52 inch yang terpampang di atas kasir.
Di sana terdapat wajah dari istri Kak Joon yaitu Jane yang sedang menjadi model dari salah satu produk dari toko tersebut. Aku pun mulai memperhatikan layar itu dengan seksama. Aku lantas berpikir “Apa benar yang ku lihat adalah Jane?.”
Dan aku pun penasaran dan mencoba bertanya dengan wanita yang menjaga kasir.
“Maaf, apa dia model di Korea?.” (bahasa inggris) Tanya ku pada kasir itu.
“Iya!. Dia model baru produk kami, namanya Jane. Dia sangat terkenal di sana.” (bahasa inggris) Ucap Kasir tersebut.
“Apa dia sudah menikah?.” (bahasa inggris) Tanya ku lagi.
“Setahu saya tidak, karena produk kami ditujukan untuk para anak muda saja. Kami tidak mungkin menggunakan model yang sudah menikah.” (bahasa inggris) Ucap kasir itu yang seketika membulatkan mata ku.
“Apa benar itu adalah Jane yang aku kenal?.” Batin ku yang ragu saat itu.
Aku pun kemudian keluar dari toko itu dan menghampiri Angela yang menunggu di luar.
“Apa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau?.” (bahasa inggris) Tanya Angela.
“Sudah. Ayo kita kembali!.” (bahasa inggris) Jawab ku lalu pergi menuju kantor bersama Angela.