Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 30 : Kedatangan Nyonya Chae



Pagi itu aku membuka mata dan merasakan sinar matahari yang masuk dari sudut jendela di ruangan tempat ku berada. Sejenak aku mengingat kejadian malam itu di mana aku menyuapi Kak Joon dan kejadian di mana wajah kami bertatapan dan kecanggungan yang terjadi diantara kami, namun aku tak tahu apalagi yang terjadi setelah akhirnya diri ku tertidur di ruangan ini.


Sekilas di dalam mimpi, aku merasakan sebuah kehangatan dari seseorang malam itu. Namun aku tak melihat jelas siapa orang tersebut. Akan tetapi rasanya seperti nyata, bahkan sampai aku terbangun rasa itu masih tersisa di tubuh ini.


"Apa itu benar mimpi?." Gumam ku.


"Dan bagaimana aku akhirnya bisa tertidur di sini?. Dan di mana Kak Joon?." Batin ku.


Aku mengedarkan pandangan ku di ruangan itu lalu bangun dari posisi ku mencoba mencari keberadaan Kak Joon.


Sayup-sayup terdengar suara teriakan seseorang.


"Nyonya besar datang!. Bersiaplah!." (bahasa korea) Teriak salah seorang pelayan yang ada di luar ruangan.


"Maaf, siapa nyonya yang kalian maksud?." (bahasa korea) Tanya ku pada pelayan itu.


"Nyonya Chae, Ibu dari Mr. Joon Nona." (bahasa korea)


Aku mendengar itu langsung salah tingkah, aku seakan seperti wanita simpanan yang telah disembunyikan Kak Joon di Mansion miliknya.


"Apa yang harus ku lakukan bila Nyonya Chae melihat ku?. Apalagi aku berada di ruangannya saat ini?." Gumam ku yang terlihat panik saat ini.


"Tok!. Tok!. Tok!." Suara pintu yang seketika mengejutkan ku yang tengah panik itu.


"Apa itu Nyonya Chae?." Aku yang ragu-ragu untuk membuka pintu.


"Cekrek." Dan pintu pun terbuka saat aku tak menyadarinya.


Lalu aku memutar tubuhku setelah tahu bahwa di belakang sudah ada seseorang saat ini.


"Raya?."


"Mr. Joon?." Aku yang merasa lega ternyata yang ada di belakang ku saat ini adalah Kak Joon.


"Ada apa dengan mu?." Tanya Kak Joon yang melihat wajah panik ku.


"Saya pikir anda adalah Nyonya Chae." Jawabku seraya mengelus dada.


"Ibu ku?. Apa yang kamu khawatirkan?." Tanya Kak Joon yang heran dengan sikap ku.


"Anda menyembunyikan seorang wanita di ruangan anda. Apa anda tidak takut bila Ibu anda curiga?." Tanya ku.


"Bukankah kalian sudah saling mengenal?. Apa yang perlu kalian khawatirkan?." Tanya Kak Joon yang bersikap seolah ini adalah hal yang wajar. Dan aku yang melihat itu merasa sedikit geram karena sikapnya, karena menurut ku ini tidak adil kenapa aku saja yang terlihat panik?.


"Sudahlah!. Itu hanya kekhawatiran mu saja." Kak Joon yang kemudian mendekati ku dan memeluk ku secara tiba-tiba.


DEG 


"Tenanglah!. Hhmm.." Ucap Kak Joon, entah mengapa aku merasakan kehangatan atas sikapnya.


"Joon?." Panggil seseorang yang kini sudah berada di ruangan bersama kami.


Dan orang itu adalah Nyonya Chae yang melihat kami berdua saling berpelukan. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini tentang kami.


"Omma?." Jawab Kak Joon yang saat itu melepaskan pelukannya terhadap ku dan memutar tubuhnya ke arah Nyonya Chae.


"Apa yang kalian lakukan di sini?. Dan siapa wanita ini Joon?." (bahasa korea) Tanya Nyonya Chae pada Kak Joon.


"Omma, dia ini Raya. Masa tidak kenal?." (bahasa korea)


"Kamu.. Raya?." Tanya Nyonya Chae yang masih mencoba mengingat diri ku.


"Ya, ini saya Nyonya." Aku yang mengakui bahwa diri ku Raya yang dia maksud, padahal ingin sekali berbohong mengenai identitas ku, namun entah mengapa terhadap Nyonya Chae aku tak dapat melakukannya.


"Raya?. Apa kabar mu?. Kamu terlihat jauh lebih cantik." Dirinya yang terkejut akan penampilan ku saat ini. Bagaimana tidak?. Saat ini aku memang sedang menggunakan gaun pemberian Kak Joon yang memang sedikit menonjolkan lekuk tubuh ku. Aku terpaksa memakainya karena tidak ada lagi baju yang cocok untuk ku pakai saat ini.


"Baik, Nyonya." Jawab ku yang sedikit menundukkan wajah sebagai rasa hormat.


"Bagaimana kamu bisa di sini?." Tanya Nyonya Chae yang penasaran dengan keberadaan ku di Mansion nya.


"Aku... "


"Dia Arsitek ku." Jawab Kak Joon yang mewakili ku untuk menjawabnya.


"Arsitek?. Sejak kapan kamu jadi Arsitek Joon?."


"Sejak bulan lalu, Nyonya." Jawab ku.


"Yang aku tahu, bukankah kamu mengambil jurusan bahasa korea?." Tanya Nyonya Chae.


"Nyonya?. Panggil aku Bibi seperti dulu Raya." Ucap Nyonya Chae seraya memeluk ku saat itu.


Aku kembali merasakan kehangatan yang hilang 8 tahun lalu, kehangatan Bibi Chae saat menghibur ku yang tengah kehilangan Bunda saat itu. Di mana ia tak henti memeluk ku dan menghibur ku di saat diri ku sedang dalam keadaan berduka.


"Iya Bibi." Ucap ku yang akhirnya menuruti keinginannya.


"Joon, bawa Raya makan pagi bersama kita!. Kalian pasti sudah lapar." Ajak Nyonya Chae.


"Ayo, Raya!." Kemudian Kak Joon menarik tangan ku dan membawa ku ke meja makan.


Meja besar itu sekarang sudah terisi dengan kami bertiga, rasanya sangat canggung di mana aku harus berhadapan dengan mereka berdua yang merupakan masa lalu ku yang sebenarnya sangat ingin aku lupakan. Namun bagaimana bisa aku menghindarinya saat ini?. Apalagi jika harus berhadapan langsung dengan Nyonya Chae yang sangat baik terhadap ku dulu.


"Joon, ada apa dengan tanganmu?." Tanya Nyonya Chae melihat tangan Kak Joon yang di gips.


"Ini.." Ucap Kak Joon ragu-ragu seraya melihat ke arah ku.


"Maaf, itu semua salah saya Nyonya hingga Mister mengalaminya." Maaf ku secara spontan begitu mendengar pertanyaan dari Nyonya Chae.


"Mister?. Kamu memanggil Joon Mister?. Raya, saat ini kamu sedang berada bersama kami. Dan ini sudah di luar kantor. Santai saja, Sayang!." Pinta Nyonya Chae yang tak ingin aku memanggil Kak Joon dengan sebutan Mister.


"Baiklah!. Kak.. Kak Joon." Ucapku sedikit ragu-ragu.


Dan Kak Joon yang mendengar itu tersenyum penuh arti ke arah ku. Mungkin dia senang karena akhirnya aku mengakui bahwa aku adalah Raya yang dia maksud.


"Raya, suapi aku!." Pinta Kak Joon seraya memberikan sendok yang ada di tangan kirinya kepada ku.


"Astaga, Joon!. Apa tangan kiri mu sudah tidak berfungsi hingga menyuruh Raya melakukan itu?." Nyonya Chae yang geram atas perlakuan Kak Joon terhadap ku.


"Tidak apa-apa, Bi. Itu tugas ku." Aku yang terpaksa melakukannya karena sebuah janji.


"Astaga Joon..!. Joon!." Ucap Nyonya Chae yang melihat diri ku menyuapi Kak Joon seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya yang kekanakan.


"Raya, pergilah beristirahat!. Tinggalkan kami berdua!." Pinta Nyonya Chae saat melihat diriku selesai makan dan menyuapi Kak Joon.


"Baiklah, Nyo.. maksud saya Bibi. Permisi!." Lalu aku pun pergi diantar para pelayan menuju kamar ku.


***


"Joon, ada apa ini?. Sepertinya ada yang perlu kamu jelaskan kepadaku." Tanya Nyonya Chae kepada putranya.


"Apa yang harus aku jelaskan, Omma?." Jawab Kak Joon yang masih asik menikmati buah-buahan yang ada di meja makan.


"Joon, Omma serius!." Tegas Nyonya Chae.


"Omma, jangan mulai lagi!. Aku tak ingin membahas mengenai wanita itu!."


"Ini bukan tentang Jane, tapi tentang Raya!. Ada hubungan apa antara kamu dan Raya?. Pasti bukan sekedar hubungan antara bos dan karyawan kan?." Tanya Nyonya Chae yang melihat ada yang berbeda dari Joon Woo dan juga Raya.


"Aku menyukainya, dan Omma sudah tahu sedari dulu bahkan sebelum aku menikah!." Tegas Joon Woo.


"Joon, apa kamu serius?. Bagaimana dengannya?."


"Aku tak tahu, aku harap perasaannya tidak pernah berubah terhadap ku." Jawab Joon Woo yang membuang nafasnya pelan karena tak tahu isi hati Raya saat ini.


"Hhmm.. Omma tahu dulu adalah salah Omma yang telah menyetujui perjodohan itu. Sekarang waktunya Omma membantu mu, Joon."


"Benarkah, Omma?." Ucapan Nyonya Chae yang seketika membuat Joon Woo terperangah, pasalnya ia tak menyangka bahwa Ibunya itu akan mendukung hubungannya dengan Raya. Karena selama ini di matanya hanya Jane yang pantas menjadi menantunya.


"Tapi jika Raya juga menyukaimu. Aku tak akan pernah memaksanya, karena Omma sadar bahwa hubungan yang dipaksakan tidak akan menghasilkan akhir yang baik." Ucap Nyonya Chae yang menyadari kesalahannya dulu.


"Apa Omma baru menyadarinya?."


"Maaf, Joon. Seandainya Omma menyadari jika kalian saling menyukai dulu, mungkin Omma akan menentang perjodohan itu. Apalagi Omma tahu, Raya adalah anak yang sangat manis dan baik." Ucap Nyonya Chae penuh penyesalan.


"Entahlah!. Hanya saja saat ini aku tak tahu perasaan Raya terhadap ku. Tapi aku senang, karena dia dekat dengan Leon."


"Leon?. Bagaimana bisa?. Bahkan dengan ku pun ia tak ingin bicara." Ucap Nyonya Chae tak percaya.


"Iya, Raya bisa mendekati Leon dengan baik. Aku pun awalnya tak percaya, tapi aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Ia bahkan dapat tertawa lepas kepadanya." Ucap Joon Woo dengan wajah berbinar.


"Joon, kamu tak boleh melepasnya!. Mungkin ini takdirmu!." Pinta Nyonya Chae.


"Tentu saja, Omma. Aku tak akan pernah melepas kesempatan ini." Ucap Joon Woo dengan penuh tekad.


Melihat keseriusan anaknya, Nyonya Chae tak akan tinggal diam. Dia pastinya akan menyusun banyak rencana untuk mendekatkan putranya kepada calon menantunya yaitu Raya. Apapun akan dia lakukan, asalkan kesalahannya dapat dia tebus terhadap anaknya.


"Tunggu saja, Nak. Pasti aku akan menebusnya!." Tekad kuat Nyonya Chae.