
Beberapa Hari Kemudian
POV Raya
Hari minggu yang cerah secerah warna baju yang ku pakai hari ini yaitu oranye.
Ya, hari ini adalah hari diri ku janji bertemu dengan teman se-fakultas ku Sesil.
Hari ini kami janji temu di kafe dekat kampus kami dulu. Dan tentunya aku sangat senang akhirnya aku bisa lepas dari bayang-bayang Mr. Joon walau hanya di waktu weekend.
Sangat berat rasanya harus berhadapan hampir setiap hari dengan Kak Joon. Apalagi kami harus terlibat satu project bersama, membayangkan saja rasanya sudah sesak.
Dan lagi kerap beberapa kali Kak Joon memanggil ku dengan alasan revisi design, yang menurut ku hampir tak masuk akal, contohnya beberapa kali aku harus merevisi warna dari materi yang ada hanya karena dirinya tidak suka.
Dan juga beberapa kali Kak Joon memanggilku hanya karena menginginkan sebuah saran. Rasanya ini semakin sulit, apalagi aku yang notabene-nya adalah arsitek yang dikirim oleh perusahaan FX. Membuat ku tak dapat menolak setiap perintahnya, karena apa yang kulakukan adalah wajah dari perusahaan FX.
Tapi pada akhirnya aku dapat bernafas lega, karena setiap weekend setidaknya aku bisa lepas dari tugas-tugas kantor.
Aku pun yang sudah rapih dengan segala atribut yang melekat di tubuh ku saat ini sudah siap untuk melangkah menuju tempat janji ku dengan Sesil.
Dan aku pun pergi dengan menggunakan taksi online menuju Kafe tersebut.
Selang 45 menit perjalanan, akhirnya aku sampai di tujuan. Sebuah Kafe dengan design unik dekat dengan kampus ku yang masih ada sampai saat ini, dan aku sekilas teringat di mana aku sering menghabiskan hari bersama Ratna di Kafe ini.
"Raya!." Panggil Sesil yang sudah menunggu ku di salah satu meja yang ada di sudut Kafe itu. Dan aku pun yang melihat Sesil melambaikan tangannya ke arah ku, lalu menghampirinya.
Aku sedikit terkejut dengan penampilan Sesil yang hampir 60 persen berubah itu. Sesil yang kuingat sangatlah modis, namun Sesil yang ku lihat saat ini sangat bertolak belakang dengan yang dulu. Ia terlihat jauh lebih gemuk dari Sesil 8 tahun yang lalu.
"Apa kabar?." Sapa ku pada Sesil.
"Raya!. Kamu tampak jauh lebih cantik dari yang dulu." Puji Sesil yang melihat penampilan ku hari ini.
Aku memang berpenampilan tidak jauh seperti diri ku yang dulu, hanya saja semenjak kembali ke Jakarta aku sedikit mengubah gaya berpakaian ku. Yang biasanya hanya mengenakan warna-warna gelap, kali ini aku banyak mengenakan warna-warna cerah untuk mengubah suasana hati ku.
Mungkin yang Sesil lihat hari ini, bahwa aku terlihat jauh berbeda dengan warna baju yang ku kenakan saat ini. Dan rambut yang biasanya selalu ku ikat dulu, sekarang berani ku urai sehingga memperlihatkan rambut ku yang sudah sangat panjang dan tanpa sekalipun ku potong selama 5 tahun belakangan ini.
"Kamu juga, sedikit berubah. Terlihat lebih sehat." Ucap ku yang ingin membalas pujiannya.
"Maksudmu aku terlihat lebih gemuk begitu?." Ucap Sesil yang mengerti maksud dari ucapan ku.
"Tidak maksud ku..." Ucap ku yang sedikit berhati-hati dalam memilih kata-kata.
"Sudah lah! Aku tahu dan aku mengakuinya. Aku sudah tidak peduli dengan penampilan. Pekerjaan ku yang padat membuat ku tak memiliki waktu untuk merawat diri. Hehe." Ucap Sesil seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Maaf aku tak bermaksud. Sungguh!." Ucap ku sedikit merasa tak enak hati.
"Aku tahu, Raya. Lebih baik sekarang kita kembali ke maksud dan tujuan pertemuan kita." Ucap Sesil yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah!. Apa kamu sudah dapat kabar Ratna?." Tanya ku langsung pada intinya.
"Terakhir kali aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu. Saat itu aku bertemu dengannya di sebuah kawasan perumahan dan dia terlihat mengenakan daster saat itu, tampaknya dia sudah berubah menjadi seorang ibu rumah tangga atau semacamnya. Dan sayangnya aku belum sempat menanyakan kabar, dia sudah terlebih dahulu meninggalkan ku." Tutur Sesil yang memberikan informasi mengenai Ratna sahabat ku.
"Apa kamu tidak memiliki kontaknya?. Dan apa dia masih tinggal di rumah lamanya?." Tanya ku yang masih ingin mencari tahu lebih dalam mengenai Ratna.
"Aku sempat mencari Ratna di rumahnya beberapa bulan yang lalu. Dan sepertinya keluarganya sudah tidak menempati rumah itu." Ucap Sesil yang membuat ku semakin penasaran dengan keberadaan Ratna.
"Apa Ratna pernah berbagi kabar dengan mu di media sosial maupun surel?." Tanya ku lagi.
"Kau tahu aku tidak berteman dengannya di sosial media, dan lagi kami tidak sedekat itu kecuali di sosial media grup kuliah kita. Sepertinya Ratna masih aktif di sana." Ucap Sesil yang kemudian mengaktifkan sosial media grup tempat kami kuliah.
Dan Sesil mulai mencari nama anggota yang men-follow akun tersebut dan benar saja Ratna adalah salah satu followers-nya.
"Aku tahu mungkin kamu sangat peduli dengan Ratna saat ini. Tapi yang aku tahu, dengan sikapnya yang tiba-tiba memutus kontak dengan mu, pasti ada suatu alasan. Maaf, itu hanya pemikiran ku saja." Argumen Sesil saat itu terhadap Ratna.
"Aku tidak memiliki masalah dengannya, bahkan beberapa tahun setelah aku pindah ke Jerman Ratna masih menghubungi ku. Namun entah mengapa, seketika ia menghilang tanpa jejak, bahkan semua pesan ku baik di surel maupun di sosial media tak pernah di balas." Ucap ku yang masih menerka alasan Ratna menjauh.
"Aku kenal Ratna Seperti apa, jadi sangat mungkin bila dia seperti ini. Ya, walau aku tak sedekat dirimu." Terang Sesil.
"Apa mungkin sesuatu terjadi dengan kamu, Na?." Ucap ku dalam hati.
"Sudahlah kita lupakan Ratna sejenak. Bagaimana kalau kita membicarakan kabar kita masing-masing?. Kabarnya kamu sudah menjadi arsitek ternama sekarang?." Tanya Sesil yang kembali mengalihkan pembicaraan.
"Aku?. Tidak seperti itu. Aku anak baru di bidang arsitektur, masih terlalu dini bila dikatakan ternama." Jawab ku merendah.
Dan aku pun mulai berbagi kisah ku dengan Sesil, sepertinya tidak buruk untuk menjalin keakraban dengan kawan lama. Dan hari itu aku dan juga Sesil melalui waktu kami sambil berkeliling area kampus kami yaitu Universitas Indonesia.
Aku menaiki motor milik Sesil, Sesil membawa ku berkeliling kampus menggunakan motornya. Dan kami pun berhenti di danau yang ada di kampus kami.
Masih ingat rasanya saat di mana aku dan Ratna berbagi cerita di danau tersebut. Dan selepas berkeliling dan mengabadikan beberapa gambar di danau, kami pun beralih ke arah fakultas kami.
Namun saat sampai di depan fakultas tiba-tiba saja ponsel milik Sesil berbunyi.
"Halo, ya Bu!. Apa?. Pak De lagi di rumah?." Terdengar suara Sesil yang menjawab ponsel dengan nada yang tinggi, sepertinya itu panggilan penting untuknya.
"Iya, iya Bu!. Sesil segera ke sana!." Lalu Sesil pun menutup ponselnya secepat kilat dihadapan ku.
"Maaf Raya, sepertinya aku harus pulang karena Pak De ku tiba-tiba datang. Maaf ya!." Maaf Sesil karena tak bisa menemaniku lebih lama.
"Tak apa Sesil, kamu pergilah!." Aku yang mengizinkannya pergi lebih dulu.
"Tapi kamu gak mau ku antar ke depan?." Tanya Sesil yang menawarkan ku pulang.
"Tidak, aku masih ingin di sini." Ucap ku yang masih ingin berkeliling di kampus.
"Baiklah!. Berhati-hatilah!." Pinta Sesil dan juga sebagai ucapan perpisahan kami.
"Baiklah!. Kamu juga hati-hati!." Jawab ku.
Dan Sesil pun pergi meninggalkan ku di depan fakultas kami.
Selepas kepergian Sesil aku pun memasuki fakultas kami, dan mulai menyusuri kembali ruangan yang pernah aku tempati bersama Ratna.
Aku teringat di sebuah taman di mana tempat aku, Ratna dan juga Gisel berbagi cerita sambil menunggu mata kuliah selanjutnya.
Taman tempat aku melihat Kak Joon dan juga Jane bermesraan. Lagi-lagi aku mengingat kejadian itu, hari di mana akhirnya aku percaya bahwa Kak Joon tak pernah memiliki perasaan terhadap ku dan hari di mana aku meyakinkan diri untuk menyerah.
Sekilas bayangan itu kembali diingatan ku, dan tanpa kusadari air mata ku mulai mengalir dari pelupuk mata ku saat ini.
"Aku bisa gila!. Mengapa aku belum juga bisa melupakannya?." Batin ku yang menangis karena ternyata hati dan pikiran ini masih belum bisa lupa akan hal itu.
Aku pun menghapus air mataku yang mengalir tanpa permisi itu, namun terlintas sebuah bayangan Kak Joon yang samar-samar terlihat menuju ke arah ku.
"Apa ini sebuah fatamorgana?. Mengapa Kak Joon ada di hadapan ku?." Aku yang masih mencoba untuk fokus ke arah bayangan itu berasal.
"Nona Laras?." Suara yang kudengar yang berasal di hadapan ku saat ini.
"Nona Laras?." Suara itu sekali lagi memanggil ku.
Aku mendapati seorang lelaki tampan yang mirip dengan Dokter Fadil menatap ke arah ku.
Dan ternyata bayangan yang ku kira Kak Joon adalah bayangan milik Dokter Fadil yang saat itu menghampiri ku karena melihat aku yang berdiri dan terlihat melamun di depan taman.
"Dokter Fadil?." Tanya ku memastikan bahwa yang kulihat adalah Dokter Fadil.
"Ternyata kamu benar Laras. Sedang apa kamu di sini?." Tanya Dokter Fadil.
"Aku hanya melihat-lihat kampus ku dulu." Jawab ku.
"Oh!. Aku sempat terkejut, aku pikir kamu orang lain. Karena aku melihat kamu menangis sambil melamun, aku hanya ingin memastikan bahwa ini benar kamu. Ternyata tebakan ku benar adanya." Ucap Dokter Fadil.
"Ah... aku hanya kelilipan." Ucap ku menutupi keadaan yang sebenarnya.
"Oh... memang cuaca saat ini sedang tidak bagus. Ayo kita masuk ke ruangan ku saja!." Ajak Dokter Fadil kepada ku.
"Ruangan mu?." Aku yang sedikit terkejut dengan ajakan Dokter Fadil, pasalnya bagaimana bisa dirinya memiliki ruangan di kampus ini?.
"Oh... aku lupa memperkenalkan diri kalau aku salah satu dosen di sini." Ucap Dokter Fadil yang selalu memberikan senyuman menawan seperti biasanya.
"Dosen?." Tanya ku penasaran.
"Ya, aku adalah dosen Sastra Inggris di sini. Salam kenal!." Ucap Dokter Fadil yang lagi-lagi merekahkan senyumannya, yang bisa kapan saja membuat wanita terpesona.
Aku tak menyangka setelah teringat kembali dengan kenangan Kak Joon justru aku di dekatkan dengan Dokter Fadil yang merupakan teman dekatnya.
Dan hari itu aku dan Dokter Fadil bercengkrama layaknya dosen dan juga anak muridnya. Dan memang benar Dokter Fadil merupakan dosen yang cukup berbakat, karena pembawaannya yang cukup ramah, aku yakin banyak dari muridnya yang sudah menjadi fans beratnya.