Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 41 : Darren Bukan Tunangan ku



Aku masih memperhatikan sekitar kamar tempat ku berbaring saat ini. Kamar dengan nuansa klasik persis seperti Mansion milik keluarga Joon Woo yang ada di Korea. Aku berpikir mungkin saja ini merupakan ciri khas keluarganya yang gemar dengan nuansa klasik.


Dan ketika aku yang masih merasa asing dengan apa yang ada di ruangan itu tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari depan ruangan ku dan seketika pintu itupun terbuka dan muncullah Leon yang dengan hati-hati memasuki ruangan ku.


"Aunty, apa kau sudah bangun?." Ucap Leon seraya menatap ku dengan penuh kekhawatiran.


"Tentu saja!. Aku sudah sehat, lihat lah!." Ucap ku dengan diiringi senyuman untuk memberikan tanda bahwa aku baik-baik saja.


"Syukurlah!. Kau tahu aku terkejut melihat mu yang tiba-tiba tergeletak...!. Itu sungguh membuat aku dan suster Eka kewalahan!. Apalagi tubuh mu sangat berat!." Ucap Leon yang tiba-tiba saja mengungkit berat badan ku hingga membuat aku malu.


"Leon, maafkan aku!. Tapi bolehkah aku bertanya?." Tanya ku pada Leon.


"Apa itu?."


"Bagaimana aku bisa ada di sini?. Dan siapa yang membawa ku?."


"Tentu saja Daddy!. Saat itu aku sedang panik dan hanya Daddy yang terlintas dipikiran ku saat itu. Dan untungnya Daddy segera menemui ku di mall itu dan membantu membawa mu ke sini."


"Daddy?. Maksudmu Mr. Joon?." Aku yang masih tak percaya bahwa Kak Joon yang menyelamatkan ku.


"Siapa lagi memangnya?." Ketus Leon.


"Tidak hanya saja... "


"Leon?." Ucap Kak Joon yang sudah ada di depan kamar ku.


"Dad.. Daddy." Ucap Leon yang saat ini tengah panik melihat Kak Joon yang tiba-tiba saja datang.


"Mau apa kamu kemari?. Laras harus beristirahat!. Jangan kamu ganggu dia!." Tegas Kak Joon.


"Kenapa aku tak boleh menemuinya?. Aku hanya mencemaskan nya saja." Ucap Leon yang malu-malu untuk mengatakan bahwa dia begitu mencemaskan ku.


"Bukan begitu tapi... "


"Tidak apa-apa Mr. Joon, Leon hanya mengkhawatirkan saya." Ucap ku menengahi mereka.


"Baiklah!. Tapi jangan lama-lama!. Ingat Nona Gisel menunggu mu!." Tegas Kak Joon yang tak ingin Leon melewatkan pendidikannya.


Namun aku yang mendengar nama Gisel itu seketika terdiam dan berpikir kira-kira Gisel siapa yang dimaksud oleh Kak Joon baru saja?. Apakah perasaan ini benar adanya?. Karena perasaan ku saat ini berkata bahwa Gisel yang dimaksud oleh Kak Joon adalah Gisel teman semasa SMA dan kuliah ku.


"Nenek Sihir itu lagi!." Lalu Leon pun pergi dengan wajah murung meninggalkan aku di kamar itu hanya berdua saja dengan Kak Joon.


"Ehemm!. Ini minum mu!." Kak Joon yang menyodorkan air putih yang aku minta saat itu.


"Terima kasih." Ucap ku pada Kak Joon.


"Apa Kakak yang membawa ku ke sini?." Tanya ku.


"HHmm.." Jawab Kak Joon dengan dehaman nya.


"Maksudnya benar begitu?." Tanya ku yang ingin memastikan bahwa jawaban yang ia maksud adalah itu.


"Iya." Jawab Kak Joon.


"Terima kasih telah menyelamatkan ku untuk yang ke dua kalinya."


"Raya!."


"Iya, Kak!."


Tiba-tiba saja ponsel milikku berbunyi saat ini.


"Angkatlah!." Ucap Kak Joon yang menyuruh ku untuk menjawab panggilan dari ponsel ku.


"Halo." Aku pun menjawab panggilan yang ada di ponsel ku sesuai instruksi Kak Joon dan ternyata panggilan tersebut datangnya dari Darren.


"Kamu di mana?. Aku menelpon mu sejak tadi bahkan aku ke apartemen mu!. Kamu tidak ada!. Ke mana saja kamu!. Kamu tidak tahu kalau aku sangat khawatir?." (bahasa inggris) Ucap Darren yang yang panik mencari ku.


"Laras!. Kamu itu masih sakit!. Wajah mu masih pucat!. Apa yang terjadi kalau seumpama kamu pingsan di tempat berbahaya!. Bagaimana?. Hah?." (bahasa inggris) Darren yang lagi-lagi memarahi ku.


Tapi apa yang dia khawatirkan memang sudah terjadi, kalau saja Kak Joon tak menyelamatkan ku, entah apa yang terjadi pada ku tadi sore.


"Ya sudah Dar, aku sudah baik-baik saja saat ini dan aku ingin beristirahat, bila kamu terus saja mengganggu ku seperti ini mungkin bisa saja yang kamu khawatirkan akan terjadi." (bahasa inggris) Ancam ku pada Darren.


"Baiklah!. Tetap berhati-hati!. Bila kau ingin menemui Dokter hubungi aku!." (bahasa inggris) Pinta Darren.


"Iya. Sudah ya!." (bahasa inggris) 


"Dah!." (bahasa inggris)


Dan aku pun mengakhiri percakapan ku dengan Darren saat ini, tanpa disadari sudah ada mata tajam yang memandang ku saat ini.


"Apa itu dari Mr. Darren?." Tanya Kak Joon.


"Iya." Jawab ku singkat.


"Tentu saja, dia sangat perhatian terhadap mu." Ucap Kak Joon yang entah bagaimana aku melihat Kak Joon saat ini mencoba menahan rasa cemburu.


"Darren hanya teman bagi ku." Ucap ku yang tiba-tiba saja keluar dari mulut ku entah bagaimana kata-kata itu bisa keluar begitu saja.


"Apa?." Tanya Kak Joon memastikan.


"Aku dan Darren hanya teman. Kami teman sejak kuliah dan Ayah ku dan Ayahnya pun berteman.


"Kamu tak perlu menjelaskannya, karena biar bagaimana pun dia adalah tunangan mu." Ucap Kak Joon yang tiba-tiba saja membuat ku berpikir dari mana ia berpikiran bahwa aku adalah tunangan Darren. Dan sepintas aku pun teringat dengan candaan Darren untuk membuat Mr. Fred tak berani mendekati ku.


"Tunangan?. Dari mana Kak Joon mendengar hal itu?." Tanya ku yang ingin memastikan jawaban darinya.


"Kau tak perlu tahu dari mana aku mengetahuinya." Tegas Kak Joon yang tak ingin lagi aku bertanya.


"Aku tidak tahu mau sampai kapan aku menjelaskannya, hanya saja aku tidak ingin ada rumor yang tidak jelas di kantor nanti. Aku tekankan sekali lagi bahwa Darren bukanlah tunangan ku, terserah Kakak mau menanggapinya seperti apa." Tegas ku yang tak ingin Kak Joon berspekulasi sendiri.


"Lain kali jangan membuat ku cemas seperti ini!. Kau tahu beristirahat itu sangatlah penting!. Apalagi kamu baru saja keluar dari rumah sakit!. Jangan sampai aku harus menemui Dokter sialan itu lagi!." Tegas Kak Joon lalu tak lama ia pergi begitu saja dari kamar ku tanpa menatap ku sama sekali.


"Apa ia salah makan?. Moodnya benar-benar membuat orang kesal!." Gumam ku yang melihat kepergiannya saat itu.


***


"Mr. Joon." Sapa Gisel yang melihat Joon Woo lewat di depannya. Ia melihat senyuman yang tak biasa dari tuannya itu, pertama kalinya setelah sekian tahun ia melihat senyuman terbit dari Joon Woo. Ia pun menjadi penasaran dengan kejadian apa yang telah terjadi kepadanya?.


"Apa jangan-jangan ia sedang berhubungan dengan seorang wanita?.Ini tidak boleh dibiarkan!." Batinnya saat itu yang tak ingin bila tuannya dimiliki wanita lain.


Namun Joon Woo tetap berjalan sambil tersenyum seolah-olah dunia yang tadi terasa gelap di penglihatannya sekarang menjadi terang benderang di matanya. Selepas pernyataan dari Raya bahwa Darren bukanlah tunangannya seketika hati Joon Woo merasa bahagia tak terkira sampai-sampai rasanya ia ingin berteriak dan melompat kegirangan saat ini juga.


"Hei!. Nenek sihir!." Panggil Leon yang melihat Gisel tak berhenti menatap Joon Woo.


"Oh ya bagaimana Tuan Kecil?. Apa anda sudah mengerjakan tugas yang saya suruh?." Tanya Gisel.


"Apa yang kau lakukan?. Sejak tadi aku lihat kau hanya menatap Daddy ku saja?." Ketus Leon yang tak suka bila Gisel menatap penuh nafsu ke Daddy nya.


"Tidak, Tuan Kecil, hanya saja sepertinya Mr. Joon sedang bahagia. Apa ada seorang wanita yang membuatnya bahagia akhir-akhir ini?." Tanya Gisel penasaran.


"Mungkin, tapi yang jelas bukan dengan mu. Jangan harap kau dapat memiliki Daddy ku!." Ketus Leon yang menatap tak suka ke arah Gisel.


"Tuan Kecil.. sa.. saya bu.." Gisel yang tak bisa berkata-kata karena telah ketahuan oleh Leon.


"Ini tugas yang kau berikan!. Sekarang pulanglah!. Enyah dari hadapan ku!." Tegas Leon yang ingin Gisel segera enyah dari hadapannya.


"Ba.. Baik Tuan!." Namun sepertinya Gisel tak terima dengan ucapan Leon yang seakan-akan memberitahu bahwa Joon Woo bukan lah miliknya, karena tujuannya sudah sampai sejauh ini demi untuk menjerat Joon Woo dan memiliki semua hartanya.


Tapi kenyataannya bahkan Leon anaknya saja tak menyukainya, dan apa yang Leon maksud dengan perkataan "mungkin" itu membuat dirinya semakin gusar. Dan ia pun mulai mencari tahu tentang wanita yang di sembunyikan oleh tuannya itu.