Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 38 : Kesalahpahaman



"Ka...Kakkk... Ma.." Aku yang berusaha berbicara dengan Kak Joon yang sudah membawa ku ke dalam mobilnya.


"Diam!. Jangan bicara!." Tegas Kak Joon yang hanya ingin aku diam.


Setelah sampai di rumah sakit, aku pun dibaringkan di tempat tidur yang ada di ruang IGD. Aku melihat ada rasa cemas yang teramat sangat di wajah Kak Joon saat ini.


"Ternyata ia sangat mengkhawatirkan ku." Batin ku yang terenyuh dengan sikap Kak Joon.


Lalu masuk seorang dokter untuk memeriksa ku dan ternyata dokter tersebut adalah Dokter Fadil dan rumah sakit ini adalah rumah sakit yang terakhir kali ku datangi karena keluhan penyakit yang sama.


Aku pun setelah itu diberi nafas bantuan dengan tabung oksigen dan aku pun seketika tak sadarkan diri begitu jarum bius menusuk tubuh ku.


Beberapa jam setelah itu aku terbangun dengan kepala yang sedikit berat, masih dalam penglihatan yang sedikit buram sekilas aku melihat seseorang di depan tempat tidur yang ku tempati. Hingga penglihatan ku menjadi jelas dan ternyata orang itu adalah Kak Joon yang sudah ada tepat di hadapan ku.


"Kamu baik-baik saja?." Tanya Kak Joon yang melihat ku yang sudah sadar.


"Hhmm..." Aku yang masih sulit untuk berkata karena rasa sakit di kepala ku.


"Sudah berbaringlah!. Tak perlu bangun!." Pinta Kak Joon yang melihat ku berusaha untuk bangkit dari tempat tidur.


"Ha.. haus!." Aku yang tiba-tiba merasa tenggorokan ini terasa kering.


"Biar aku saja!." Ucap Kak Joon lalu menuangkan minuman yang ada di sebelah ku.


"Mari ku bantu!." Kak Joon yang membantu ku untuk minum dengan membantu ku bangun dari tempat tidur ku.


"Terima kasih." Ucap ku.


"Sudah berbaringlah kembali!." Ucap Kak Joon yang melihat ku masih dalam keadaan yang sulit untuk menegakkan tubuh.


Aku pun kembali berbaring dan mencoba memejamkan mata ku agar kembali tertidur.


"Joon!. Apa Laras sudah sadar?." Tanya seorang lelaki yang tak bisa kulihat rupanya karena mata ku yang tertutup. Tapi aku yakin bahwa itu suara Dokter Fadil.


"Iya, hanya saja ia kembali tertidur." Ucap Kak Joon.


"Ayo kita bicara sebentar!." Pinta Dokter Fadil kepada Kak Joon.


"Baiklah!." Ucap Kak Joon lalu mereka pergi meninggalkan ku sendiri di ruangan.


Dan aku yang mengetahui kepergian mereka lalu membuka mata dan melihat kepergian mereka dari kejauhan.


Aku sadar saat ini aku terselamatkan karena tindakan Kak Joon yang langsung membawa ku ke rumah sakit, entah apa yang terjadi pada ku bila Kak Joon tak melakukan tindakan itu?.


Setelah kejadian ini aku pun menyadari perasaan dalam yang di miliki Kak Joon pada ku, dan Kak Joon yang begitu sangat mempedulikan ku.


"Kak, terima kasih." Ucap ku dalam hati sambil meneteskan air mata.


***


"Joon, bagaimana ini bisa terjadi?." Tanya Dokter Fadil pada Joon Woo.


"Ia memakan ikan itu." Jawab Joon Woo dengan wajah lesu.


"Tapi kamu tahu kan kalau dia tak bisa memakannya?." Tanya Dokter Fadil lagi.


"Aku tahu."


"Kalau tahu kenapa kamu tak bisa mencegahnya?." Tegas Dokter Fadil.


"Maaf, itu salah ku karena aku tak bisa mencegahnya." Ucap Joon Woo yang sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Raya.


"Joon, sebelumnya ia pernah ke rumah sakit ini untuk mengobati alerginya setelah makan bersama atasannya. Apa atasan yang dia maksud itu adalah kamu?." Tanya Dokter Fadil sambil menatap tajam Joon Woo yang ada di hadapannya.


"Apa itu kejadian beberapa bulan lalu ?." Tanya Joon Woo yang mengingat-ingat kejadian di saat Raya sengaja memakan udang di hadapannya demi melanjutkan kebohongannya.


"Iya itu aku." Jawab Joon Woo.


"Kenapa kamu bisa melakukan itu padanya?. Kamu sangat tahu ia alergi terhadap makanan laut?." Tanya Dokter Fadil yang mulai meninggikan suaranya.


"Karena saat itu ia sedang berbohong." Jawab Joon Woo yang seketika membuat Dokter Fadil terdiam.


"Maksudmu?."


"Dia sedang berusaha untuk membuat ku percaya bahwa dia bukanlah Raya yang ku kenal." Ucap Joon Woo dengan nada lirih.


"Apa?."


"Ehmm.. dia ingin aku tak mengenalinya... secara tidak langsung ia ingin aku melupakannya."


"Joon, tapi kamu tahu bahwa ia tak bisa memakannya.. dan kamu membiarkan..."


"Aku tahu!." Teriak Joon Woo.


"Aku tahu dia alergi terhadap udang itu!. Aku hanya ingin tahu seberapa jauh ia ingin membohongi ku!." Teriak Joon Woo yang mulai tak dapat menahan diri.


"Joon, tenanglah!." Pinta Dokter Fadil yang mulai mengkhawatirkan Joon Woo sahabatnya yang terlihat mulai gusar.


"Aku sangat tahu Fadil... tapi dia mencoba menghindari ku. Dan... hari ini pun dia.. membawa lelaki itu.."


"Lelaki.. siapa lelaki yang kamu maksud?."


"Lelaki itu mengaku tunangannya dan mereka terlihat sangat akrab, dan aku.. aku tak menyadari makanan itu masuk ke mulutnya karena rasa cemburu ku yang teramat sangat terhadap lelaki itu." Ucap Joon Woo yang terlihat sangat gusar karena kedekatan Raya dengan Darren.


"Apa?." Dokter Fadil yang terkejut dengan ucapan Joon Woo.


"Tentu saja aku sudah tidak berarti di hadapannya saat ini, Fadil."


"Joon, tenanglah!. Mungkin saja ini hanya prasangkamu saja?." Dokter Fadil yang mencoba memberikan pendapat positif kepada sahabatnya.


"Heh!. Salah sangka?. Mungkin mereka berpikir aku tak mengerti ucapan lelaki itu?. Kenyataannya aku sangat tahu apa yang dikatakannya." Ucap Joon Woo.


"Mungkin saja Raya hanya menganggap teman, tadi kudengar hanya Darren yang mengakuinya sebagai tunangan. Apa Raya juga mengakuinya sebagai tunangan?." Tanya Dokter Fadil yang membuat Joon Woo mengangkat kepalanya dan mulai berpikir bahwa perkataan Dokter Fadil ada benarnya.


"Memang aku tak pernah mendengar Raya mengatakannya. Apa benar yang kamu katakan?." Joon Woo yang kemudian memegang ke dua pundak Dokter Fadil ingin memastikan jawabannya dan Dokter Fadil pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Benarkah?." Raut wajah Joon Woo yang seketika berubah mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


"Dan sekarang apa kamu sudah lebih baik?." Tanya Dokter Fadil.


"Ya tentu saja!." Joon Woo yang sudah merubah perangainya menjadi 180 derajat.


Lalu Joon Woo membalikkan badannya dan pergi menjauh dari Dokter Fadil.


"Mau ke mana?." Tanya Dokter Fadil.


"Tentu saja menemui Raya. Aku akan menanyakan hal ini." Ucap Joon Woo dengan semangat menggebu-gebu.


"Eh!. Kamu hanya akan menganggu nya!." Teriak Dokter Fadil yang melihat Joon Woo sudah menjauh dari pintu.


Joon Woo tak mendengarkan ucapan Dokter Fadil dan memilih pergi begitu saja dari ruangannya. Ia sudah tak sabar untuk menanyakan perihal tersebut kepada Raya.


Namun apa yang terjadi begitu ingin memasuki kamar Raya, ia melihat Darren yang sudah ada di sisi Raya dan tengah menggenggam jemari Raya dan mengusap lembut rambut Raya yang sedang tertidur. Adegan ini sungguh sangat romantis di pandangan Joon Woo saat itu, hingga membuat hatinya terbakar api cemburu.


Niat hati ingin menghampiri Raya dan mengklarifikasi, tapi yang di dapatnya sekarang adalah sebuah pemandangan yang membuat hatinya tak membutuhkan sebuah jawaban lagi, baginya apa yang dia lihat sudah menjawab semuanya.


Joon Woo tak menyangka bahwa Raya yang sudah ditunggunya selama 8 tahun ini telah memiliki orang lain. Ia merasa semua penantiannya sia-sia karena Raya bukanlah Raya yang dulu dan perasaannya sudah tak lagi sama. Kini ia hanya bisa pasrah atas apa yang terjadi dan memilih membuang semua perasaannya selama belasan tahun lamanya.