
Aku kembali mencoba pakaian yang diberikan pelayan toko, setelah yang sebelumnya Kak Joon tak menyukainya karena alasan yang tidak jelas. Kali ini pelayan di sana memilih warna yang lebih cerah dari sebelumnya yang banyak di dominasi dengan warna-warna nude dan monochrome.
Dan aku pun kembali memamerkan pakaian yang kupakai kepada Kak Joon yang mengamati dari kursi kebesarannya yang disediakan toko khusus untuk para tamu VIP mereka.
Aku yang saat ini mengenakan sebuah dress panjang di bawah lutut, berlengan panjang dengan kerah turtle neck membuat diri ku yang memiliki perawakan sedikit tomboy itu berubah 180 derajat menjadi feminine.
Kemudian aku berdiri lalu memutar tubuh ku untuk mendapatkan penilaian dari Kak Joon. Dan aku yang dibuat sedikit menahan kesal karena hanya dengan persetujuannya maka penderitaan ku akan berakhir.
"Sabar Raya!." Batin ku.
"Ok!. Cocok!." (bahasa korea) Ucapan Kak Joon yang langsung membuat ku bernafas lega.
"Bungkus semua baju yang telah dicoba!." (bahasa korea) Ucap Kak Joon kepada pelayan wanita yang ada di toko tersebut.
"Tidak!. Tidak!. Aku tidak sanggup membayarnya, Mister!." Ucap ku seraya mengiba pada Kak Joon karena tak ingin semua itu dipotong dari gajih ku.
"Tenang saja, ini fasilitas dari perusahaan." Ucap Kak Joon seraya mengeluarkan Black Card nya.
"Apa anda tidak sedang menipu saya?." Tanya ku memastikan.
"Apa yang kamu khawatirkan?." Tanya Kak Joon sembari menatap wajah ku yang terlihat kebingungan.
"Tidak, hanya saja harga baju itu terlalu mahal untuk saya." Ucap ku.
"Ku rasa ini sepadan untuk mu yang sudah bekerja keras!." Balas Kak Joon yang kemudian meminta para pelayan toko untuk membawakan semua barang-barang yang telah di beli ke dalam mobil.
Dan percuma saja meminta barang-barang itu dikembalikan, karena sekeras apapun usaha ku tak akan di dengar oleh Kak Joon, dan alhasil baju-baju tersebut sudah berada di bagasi mobil.
Sesampainya di hotel, Kak Joon langsung mengirimkan baju pemberiannya ke Busan, tempat cabang perusahaan JF berada karena kami hanya menetap semalaman di Incheon untuk beristirahat.
Dan kami hari itu pergi ke Busan menggunakan kereta, dan perjalanan dari Incheon menuju ke Busan memakan waktu kurang lebih 4 jam lamanya.
Sesampainya di Busan aku pun di sediakan kamar hotel sebagai tempat ku menginap selama dua minggu di sana. Tidak seperti di Incheon, Kak Joon kali ini memilih tidak tinggal di hotel bersama ku. Aku pun tak mengetahui di mana dirinya tinggal saat ini, tapi aku tak peduli setidaknya aku dapat bernafas lega karena tidak harus bersinggungan dengannya terkecuali urusan pekerjaan saja.
Hari yang melelahkan, karena harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya aku dapat beristirahat dengan tenang. Namun begitu aku membuka pintu, aku dikejutkan dengan banyaknya barang yang memenuhi kamar hotel ku.
Diantaranya baju-baju yang diberikan Kak Joon kepada ku, tapi ternyata tidak hanya itu saja, ada beberapa pakaian dalam, tas, sepatu, alat mandi dan bahkan aksesoris mahal.
"Dia sudah gil*!." Batin ku yang merasa kesal karena ini, aku tak memiliki ruang cukup untuk diri ku di kamar hotel ini dikarenakan barang-barang tersebut.
"Bagaimana bisa Kak Joon melakukan ini kepada ku?. Apa otaknya sekarang sudah bermasalah?." Gumam ku.
"Tok!. Tok!. Tok!."
Aku pun yang tengah kesal lalu membuka pintu kamar hotel dengan tergesa-gesa sambil memaki tamu yang ada saat itu.
"Apa lagi?." Teriak ku.
Namun ternyata kali ini adalah layanan kamar yang mengantarkan menu makan malam yang sangat banyak, padahal saat itu jelas-jelas aku tak memesannya. Dan detik itu juga aku tahu siapa yang melakukannya.
"Baiklah!." (bahasa korea) Dan aku pun membawa masuk trolly makanan itu ke dalam kamar.
Dan tak lama aku pun menelpon Kak Joon untuk mengkonfirmasi atas hal ini.
"Halo?." Jawab Kak Joon dari sebrang ponselnya.
"Mr. Joon, apa yang telah anda lakukan?." Ucap ku masih menahan amarah saat ini.
"Maksud mu apa, Raya?." Jawab Kak Joon yang tak mengerti dengan pertanyaan ku.
"Apa sudah sampai?. Aku belum mendapatkan laporan bahwa semua barang itu sudah sampai." Ucap Kak Joon yang merasa tak bersalah dengan perbuatannya.
"Tidak Mister, yang saya ingin katakan adalah... bahwa saya tidak membutuhkan semua barang ini. Cukup baju mahal yang siang tadi anda berikan saja sudah membuat saya kewalahan. Apalagi ditambah tas dan aksesoris mahal." Tegas ku.
"Aku rasa kamu membutuhkannya, Raya. Karena aku lihat kamu hanya membawa sedikit barang." Balas Kak Joon yang masih merasa bahwa tindakannya benar.
"Dan juga apa ini?. Anda pikir saya bab* yang bisa makan sebanyak ini?." Aku yang sudah mulai kesal dengan sikap Kak Joon dengan mengarahkan ponsel ku pada setumpuk makanan yang sangat banyak yang telah dikirim pelayan hotel.
"Kalau itu, karena aku melihat mu tak makan apa pun sepanjang perjalanan. Dan aku tak tahu kamu suka makan apa?." Jawab Kak Joon yang akhirnya mulai merasa bersalah.
"Mister, lebih baik barang-barang ini anda kembalikan segera ke tokonya paling lambat besok!. Kalau tidak saya akan membuangnya!." Ancam ku pada Kak Joon.
"Raya, kenapa kamu semarah ini?. Aku hanya berusaha membantu mu saja, tidak lebih." Ucap Kak Joon memohon.
"Tolong Mister, anda mengerti akan keputusan saya. Saya tahu ini bukan fasilitas dari perusahaan, dan saya tidak ingin menerimanya." Pinta ku sekali lagi kepada Kak Joon.
"Baiklah!. Pagi hari barang-barang itu sudah tidak ada di hadapan mu." Ucap Kak Joon yang akhirnya mengalah pada keputusan ku.
Aku tahu ini hanyalah niat baik Kak Joon kepada ku, namun aku tak ingin mendapatkan sedikitpun rasa simpati yang diberikan Kak Joon pada ku.
"Maaf Kak, aku tak bisa." Batin ku.
***
Joon Woo terdiam di dalam kamarnya, dirinya merasa resah karena sedikit perdebatannya dengan Raya malam itu. Mungkin bagi Raya itu adalah beban baginya, namun bagi Joon Woo itu adalah usahanya untuk mendekat kepadanya. Sayangnya hal itu dianggap lain oleh Raya, Joon Woo pun tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menurunkan egonya terhadap Raya agar dirinya tak lagi menjauh.
Lalu Joon Woo pun terlihat menghubungi seseorang malam itu, sepertinya ia membutuhkan seorang teman untuk berbagi.
"Dimas?." Panggil Joon Woo di ponselnya.
"Mister, ada apa malam-malam menelpon?." Tanya Dimas yang suaranya saat itu terdengar seperti orang yang menahan kantuk.
"Syukurlah kau belum tidur!." Perasaan lega Joon Woo ketika tahu Dimas belum tertidur.
"Hampir, Mister. Ada yang bisa saya bantu?." Tanya Dimas.
"Tidak, aku hanya ingin sebuah saran."
"Saran apa, Mister?." Tanya Dimas.
"Apa yang akan kau lakukan bila wanita mu sedang marah?." Tanya Joon Woo sambil mengusap tengkuk lehernya.
"Mister, anda harus mengalah padanya. Karena wanita selalu benar, ikuti saja kemauannya dulu." Nasihat Dimas.
"Tapi itu kan sama saja aku tidak akan melakukan apa-apa?. Bagaimana jika dia malah menjauh?." Tanya Joon Woo yang mulai frustasi dengan apa yang harus dilakukannya.
"Mister, apa ini yang pertama untuk anda?." Tanya Dimas yang seketika membuat Joon Woo sedikit terdiam.
"Tidak, tapi baru kali ini aku tak tahu harus berbuat apa?." Ucap Joon Woo yang memang tak pernah melakukan hal romantis untuk seorang wanita bahkan untuk istrinya dulu.
"Percayalah pada saya, Mister!. Terkadang tidak melakukan apa-apa lebih baik untuk memenangkan hati wanita."
"Dimas, sepertinya aku memerlukan mu untuk pergi ke Korea segera!. Pesan lah tiket untuk keberangkatan besok sore!." Perintah Joon Woo yang tiba-tiba dan seketika membuat Dimas menjadi merana dibuatnya. Pasalnya rencana awal adalah membiarkan bosnya itu berduaan dengan sang pujaan hati, tetapi yang ada kali ini ia harus menjadi orang ketiga di antara mereka.
"Mister!. Anda yang ingin memenangkan hati wanita. Kenapa harus saya yang susah?." Batin Dimas yang menangis.