
"PranKK!." Suara gelas terjatuh.
"Apa yang kamu lakukan?." (bahasa inggris) Teriak seorang pria.
Aku pun menoleh ke asal suara yang sangat ku kenal itu. Dan ternyata suara itu berasal dari Kak Joon yang diam-diam mengikuti ku ke restoran itu ia melangkah tergesa-gesa ke arah kami berdua ketika mendengar kata-kata menikah dari Darren, hingga membuat gelas-gelas yang ada di sekitarnya terjatuh karena langkahnya.
"Kak Joon?." Ucap ku yang terkejut melihat kedatangannya.
"Apa yang kamu lakukan dengan kekasih ku?." (bahasa inggris) Ucap Kak Joon yang menatap tajam Darren.
"Hah?. Kekasih?. Apa ini lelucon?." (bahasa inggris) Ucap Darren yang tak percaya dengan kata kekasih yang terucap dari mulut Kak Joon.
"Ya, Raya adalah kekasih ku!. Apa yang kamu lakukan kepadanya?. Dan apa ini?. Apa kamu hendak melamar kekasih orang?." (bahasa inggris) Tanya Kak Joon yang masih dengan tatapan tajam ke arah Darren.
"Jadi kalian memang mempunyai hubungan?. Sejak kapan, Laras?." (bahasa inggris) Tanya Darren menatap ku dengan tatapan kecewanya.
"Dar.. itu sejak seminggu yang lalu." (bahasa inggris) Ucap ku sedikit tak enak hati kepadanya.
"Jadi, aku satu-satunya yang tidak tahu?. Kamu anggap apa aku ini?." (bahasa inggris) Ucap Darren yang menatap ku seperti seorang yang bersalah di matanya.
"Ini bukan seperti yang kamu kira. Dan aku tak bermaksud membohongi mu dan menyembunyikannya. Kak Joon dan aku sudah mengenal dari kecil sewaktu di Indonesia." (bahasa inggris)
"Apa dia cinta pertamamu itu?." (bahasa inggris) Tanya Darren yang seketika membuat ku bingung. Bagaimana ia mengetahuinya?.
"Aku sudah tahu dari Ayah mu. Dan dia tak pantas untuk mu!. Kamu hanya akan menjadi milik ku, karena Ayah mu menginginkannya." (bahasa inggris) Lalu Darren pun menarik tangan ku untuk ikut pergi bersama dengannya saat ini. Namun Kak Joon mencoba menghalanginya.
"Apa yang akan kamu lakukan?. Lepaskan dia!." (bahasa inggris) Pinta Kak Joon seraya menggenggam lengan Darren untuk mencegahnya.
"Minggir!. Ini urusan ku dengan nya!." (bahasa inggris) Darren yang menatap tajam Kak Joon seolah ia menantang dirinya.
"Kamu pikir aku akan diam?. Itu tidak mungkin!. Singkirkan tangan mu darinya!." (bahasa inggris) Tegas Kak Joon yang terlihat seperti ingin memukulnya saat ini juga.
"Darren, hentikan!." (bahasa inggris) Ucap ku.
"Diam lah!. Dan ikuti aku!." (bahasa inggris) Dan Darren tetap melangkahkan kakinya sambil menarik tangan ku. Melihat itu aku tak bisa diam saja.
"Aku mencintainya!." (bahasa inggris) Ucap ku lantang dan langsung membuat Darren menghentikan langkahnya.
Dan saat itu Darren menatap ku dengan lekat seakan ingin tahu kesungguhan dari ucapan ku.
"Apa lelaki ini begitu berharga?. Hingga kamu menyia-nyiakan waktu mu untuk mencintainya?." (bahasa inggris) Tanya Darren.
"Dar, ku mohon berhentilah!." (bahasa inggris)
"Apa kamu tidak ingat sikapnya pada mu dulu?. Kamu sudah dibutakan oleh cinta, Laras!." (bahasa inggris) Ucap Darren.
"Apa hak mu berkata seperti itu?." (bahasa inggris) Ucap Kak Joon yang tak terima dengan perkataan Darren.
"Diam kamu!. Aku sedang berbicara dengan Laras!." (bahasa inggris) Ucap Darren seraya menunjuk kan jari telunjuknya ke arah Kak Joon.
"Dar, ini keputusan ku!. Apapun yang kamu katakan saat ini tak akan pernah mengubahnya!." (bahasa inggris) Tegas ku.
"Bahkan jika itu keinginan Ayah mu sendiri?." (bahasa inggris) Ucap Darren yang mengingatkan ku akan Ayah. Namun aku tetap pada pendirian ku.
"Baik!. Mulai detik ini jangan anggap aku Darren yang kamu kenal!." (bahasa inggris) Darren pun pergi meninggalkan kami di restoran itu dengan perasaan kecewa, tampaknya aku baru tahu sisi Darren yang seperti ini. Tanpa tahu alasan dirinya melamar ku saat itu ia pergi begitu saja dan memutuskan pertemanan kami.
Di dalam benak ku banyak pertanyaan yang muncul. Apa yang Ayah ceritakan kepada Darren?. Bagaimana Darren bisa tahu hubungan ku dengan Kak Joon?. Dan banyak lagi yang mengganggu pikiran ku.
"Ya, Tuhan. Mengapa masalah terus terjadi dalam hidup ku?." Batin ku yang menyadari bahwa masalah baru dalam hidup ku baru saja terjadi.
***
"Kak, kenapa mengikuti ku?." Tanya ku seraya menatap Kak Joon di hadapan ku di restoran itu.
"Kamu tanya, Raya?." Kak Joon yang bingung dengan pertanyaan ku.
"Ya, aku bertanya kepada mu, Kak." Tegas ku.
"Apa kamu membicarakan hal ini kepada ku?. Apa kamu bilang akan ke restoran ini kepada ku?." Tanya Kak Joon yang sepertinya tidak mengakui kesalahannya.
"Kak, aku kan sudah janji akan mengakui hubungan kita pada nya. Dirimu lah yang menyuruh ku untuk melakukannya."
"Aku menyuruh mu untuk mengatakan kebenaran kepada bule itu, tapi tidak menyuruh mu untuk kencan seperti ini." Kak Joon yang masih dalam mode marahnya.
"Kak, apa aku harus mengatakan semuanya kepada mu?. Termasuk berbicara kepada teman ku sendiri?." Tanya ku lagi.
Karena jujur saja tindakan Kak Joon membuat ku agak sedikit kesal, dengan dia yang tiba-tiba muncul di waktu yang tidak tepat seperti ini. Apalagi aku harus kehilangan teman ku satu-satunya tanpa sempat menjelaskan apa pun. Namun sikapnya ini tidak lebih karena rasa cemburunya terhadap Darren, dan akhirnya aku memilih memaklumi hal ini.
"Oppa... Apa kamu cemburu?." Tanya ku yang seketika membuat Kak Joon melunak.
"Ya. Tentu saja!. Apalagi tebakan ku selama ini benar adanya. Bule itu tak hanya menyatakan cinta kepadamu, bahkan dia sudah berani melamar mu!." Tekan Kak Joon.
"Dia belum menyatakan perasaan pada ku. Mungkin saja ia melamar ku hanya karena desakan Ayah." Ucap ku yang masih berpikir positif tentang Darren.
"Kamu itu masih saja naif, Raya." Ucap Kak Joon yang yakin akan perkataannya.
"Mau dia menyukai ku atau tidak?. Bahkan sampai ia melamar ku pun, pastinya hati ini sudah jadi milik mu Oppa..." Ucap ku mencoba menghilangkan kemarahannya.
"Tetap saja kamu salah, karena tak memberitahu ku soal ini!. Bahkan aku harus membututi mu pulang!." Ungkap Kak Joon.
"Nah, benarkan?. Bahkan oppa membuntuti ku pulang. Berarti tandanya Oppa tidak percaya pada ku!." Ucap ku.
"Bukan itu maksud ku. Aku hanya ingin memastikan saja kamu pergi ke mana?. Itu saja." Kak Joon yang berdalih.
"Maksud Oppa, membuntuti lalu mencuri dengar dan berujung melabrak seseorang?." Ucap ku yang seketika membuat Kak Joon tertegun. Ia sangat tahu kesalahannya, bahkan ia tak berani untuk membalas kata-kata dari ku.
"Kak, mulai detik ini percayalah pada ku!." Pinta ku seraya menatap kedua manik matanya agar ia percaya kata-kata ku.
"Raya... bukan maksud ku.."
"Aku tahu, tapi ku mohon percayalah pada ku!." Kemudian aku pun menarik ke dua tangan Kak Joon dan menggenggamnya dengan erat seolah ingin dirinya melihat kesungguhan ku.
"Baiklah!. Aku percaya padamu." Jawab Kak Joon. Dan detik itu pun kami mulai percaya satu sama lain, dan kami berjanji apapun yang terjadi tak akan ada yang akan memisahkan kami berdua.
Dan setelah itu aku pun pulang ke Mansion bersama dengan Kak Joon pada malam harinya. Dan aku berharap keesokkan harinya Darren mau berbicara empat mata kembali dengan ku tanpa ada batasan diantara kami.