Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 35 : Kedatangan Darren



Malam sebelum kepulangan kami ke Indonesia aku merenung di kamar meratapi semua permasalahan yang terjadi selama dua minggu ini. Aku baru tahu ternyata selama ini Kak Joon memiliki perasaan terhadap ku. Tapi aku juga tak dapat menampik bahwa aku masih memiliki perasaan dengan Kak Joon.


"Haruskah aku menjawab pernyataan cintanya?." Pertanyaan itu selalu berputar di kepala ku.


Namun hati ini masih terus ragu. Bagaimana tidak?. Aku yang selama belasan tahun mendapat tatapan dingin dan sikap acuh dari Kak Joon tiba-tiba semuanya berubah 180 derajat. Aku yang sudah terbiasa dengan sikap acuhnya itu sekarang harus dihadapkan kenyataan bahwa Kak Joon memiliki perasaan yang tulus terhdap ku.


"Tok!. Tok!. Tok!."


"Raya!. Ini aku!." Teriak seseorang yang berada di balik pintu kamar ku.


aku pun yang mendengar itu langsung membuka pintu karena tak ingin sampai membangunkan penghuni rumah yang lain.


"Kak Joon?." Aku yang terkejut dengan kehadiran Kak Joon yang sudah ada di depan kamar dengan kondisi mabuk.


"Raya, akhirnya kamu memanggil nama ku dengan benar." Ucap Kak Joon seraya memegang ke dua pundakku.


"Kak, apa yang terjadi dengan mu?." Aku yang melihat dirinya yang terlihat berantakan karena mabuk.


"Raya, maafkan aku. Bisakah kamu memberiku maaf atas sikap acuh ku?." Tatapan mengiba dari Kak Joon kepada ku.


"Kak, kembalilah ke kamar!. Ini sudah terlalu malam!." Aku yang menepis tangannya yang berada di pundak ku dan mengusirnya pergi dari hadapan ku.


Aku pun masuk ke dalam kamar ku dengan tergesa-gesa karena tak ingin Kak Joon berbuat lebih nekad.


"Raya!." Kak Joon yang menghalangi daun pintu untuk menyelinap masuk ke kamar ku.


"Kak Joon!. Apa yang kamu lakukan?. Ini sudah malam!. Bagaimana kalau yang lain melihatnya?."


"Aku tak peduli!." Kak Joon yang dengan cepat menutup pintu kamar ku dan seketika...


"Cup!."


Kak Joon mencium ku seketika, aku pun terkejut dengan perlakuannya. Namun ia mengulangi kedua kalinya, tapi anehnya kali ini aku tak kuasa menahan godaan dari bibir milik Kak Joon, Seakan bibir itu sudah menggoda ku dan menarik ku kuat malam itu.


Kini aku berada di dalam permainan Kak Joon, ia menghujani ku dengan ciuman dari bibirnya yang sedikit kasar namun memabukkan. Aku di buat tak berdaya serasa malam ini adalah malam kami untuk mengakui perasaan kami masing-masing.


"Raya, aku tahu kamu masih mencintai ku." Kak Joon yang melepas pagutannya dan menatap manik mataku lekat seolah ingin melihat kebenaran di dalamnya.


"Kak, hentikan!." Aku yang langsung tersadar lalu menjauhkan Kak Joon yang saat itu masih memeluk tubuh ku dengan erat.


"Raya, bicaralah!." Kak Joon yang menarik tangan ku dan menginginkan sebuah jawaban dari diri ku dengan tergesa-gesa.


"Kak, sudahlah!. Aku bukanlah Raya yang dulu. Tidak sepantasnya kamu memperlakukan diri ku seperti ini!." Bentak ku pada Kak Joon.


Ia pun kemudian terdiam dan kembali menatap ku dengan tatapan memohon sebuah jawaban.


"Aku tahu aku salah selama bertahun-tahun terhadap diri mu Raya. Tapi aku sudah mengakuinya, kini hanya maaf mu yang ingin ku dengar." Pinta Kak Joon yang lagi-lagi dengan tatapan memohonnya.


"Kak,,, aku sudah memaafkan mu bertahun-tahun yang lalu. Dan aku sudah mengikhlaskan diri mu yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi maaf, aku belum bisa menerima cintamu, karena... "


"Karena apa Raya?."


"Karena aku masih ragu dengan perasaan ku saat ini, maaf.... "


Entah perasaan kecewa ataukah marah yang ada di diri Kak Joon saat ini. Kak Joon langsung melepaskan tangannya lalu pergi meninggalkan ku begitu saja tanpa ada kata yang terucap.


Aku tahu ini semua berjalan tidak seperti keinginannya, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya butuh waktu, karena sudah tersakiti selama belasan tahun tak mudah bagi ku untuk membuka hati kembali dengan siapa pun itu termasuk cinta lama ku.


"Maaf, Kak. Aku mengecewakan mu." Gumam ku.


***


1 Minggu kemudian


Aku dan Kak Joon telah kembali ke Indonesia, dan seperti biasa aku menjalani hari-hari ku sebagai arsitek di perusahaan JF dan dengan pekerjaan yang semakin menumpuk karena sudah mendekati deadline.


Mengenai Kak Joon, setelah kejadian seminggu lalu aku dan dirinya tidak banyak pembicaraan selain hal yang berkaitan dengan pekerjaan saja. Sama seperti sebelum-sebelumnya sepertinya Kak Joon berusaha untuk menghindari ku.


Tapi aku sudah tak terlalu mempedulikannya, bagi ku untuk saat ini adalah ketenangan batin dan fokus bekerja. Hal selain pekerjaan adalah hal yang perlu dikesampingkan, mungkin aku yang dulu selalu menomor satukan hal yang berhubungan dengan perasaan tapi aku yang sekarang berbeda dan aku harus teguh pada pendirian ku tak boleh cepat goyah dalam hal tersebut.


"Huft!." Helaan nafas ku yang ku buang kasar sesaat mengingat kejadian seminggu yang lalu.


"Laras!." Panggil Septi.


"Oh Septi, ada apa?."


"Ada apa dengan mu?. Sepertinya selepas pulang dari Korea, kamu agak sedikit aneh, sedikit-sedikit buang nafas. Apa ada sesuatu diantara kalian berdua?. Apa kamu sudah berhasil menaklukan si Duren?." Tanya Septi dengan lirikan nakalnya.


"Apa sih!." Aku yang sedikit kesal dengan ucapannya.


"HHmm... kalau diliat dari wajah mu sepertinya benar ada sesuatu deh." Septi yang menatap curiga kepada ku.


"Gak ada!. Dan gak mungkin!. Sudah!. Sudah!. Kembali ke tempatmu!. Aku banyak pekerjaan!." Usir ku.


"Laras, aku ke sini mau kasih tahu gosip baru."


"Aduh kalau gosip gak deh!."


"Eh.. yang ini bukan sembarang gosip."


"Apa?." Tanyaku yang akhirnya penasaran dengan gosip milik Septi.


"Siapa?."


"Bule ganteng... kita tunggu aja pastinya akan diperkenalkan ke divisi kita."


"Ah kamu... kalau yang ganteng-ganteng tahuuu.. aja."


Tiba-tiba saja suasana di ruangan kami menjadi ricuh, karena bos perusahaan kami datang menghampiri.


"Maaf telah mengganggu kalian semua!. Hari ini saya akan memperkenalkan Mr. Darren sebagai perwakilan dari perusahaan FX untuk bergabung bersama kita di Project kali ini." Kak Joon yang memperkenalkan Darren kepada kami semua.


"Halo, Saya Darren. Senang berkenalan dengan kalian." (bahasa inggris) Sapa Darren pada seluruh karyawan yang ada di lantai ku.


Dan Darren yang melihat diriku berada diantara para karyawan, tersenyum lurus ke arah ku hingga membuat tatapan karyawan lain juga tertuju ke arah ku.


"Wah dia senyum ke arah kamu terus tuh!." Septi yang menggoda ku karena melihat tatapan Darren yang tak pernah henti ke arah ku.


"Ssstt!. Diam!." Pinta ku pada Septi agar menghentikan godaannya.


Lalu selepas perkenalan kami, Darren pun di bawa kembali ke ruangan di mana para Executive berada yaitu di lantai atas. Aku pun merasa lega setelah kepergiannya, karena tidak ada Darren yang tak henti melirikku.


Dan tak terasa jam istirahat pun sudah tiba, aku pun seperti biasa berencana untuk pergi makan siang bersama rekan kerja ku.


"Ayo, kita makan!." Ajak Septi.


"Kalian duluan saja!. Setelah ini selesai, aku akan menyusul." Aku yang masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai itu memilih menyusul mereka.


"Baiklah!. Ingat di warung biasa ya!."


"Ok!."


Setelah menyelesaikan pekerjaan ku aku pun bersiap-siap untuk menyusul Septi dan rekan kerja lainnya ke warung langganan kami. Aku pun bergegas menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Dan sampailah aku di lorong tepat executive lift berada, sebelum turun aku melirik ke sekitar takut tiba-tiba saja Darren muncul dan menerjang ku. Setelah ku pastikan aman, aku pun melangkahkan kaki keluar dari dalam lift menuju arah lobby dan baru saja melangkahkan kaki...


"Laras!." Sebuah pelukan dari seorang pria yang tiba-tiba datang dari arah belakang ku.


"Siapa kamu?." Aku pun membalikkan tubuh ku seketika sambil memiting tangannya.


"Aku Darren, sayang." (bahasa inggris) Ucap Darren sambil kesakitan karena pitingan ku.


"Apa yang kamu lakukan?. Ini masih siang, dan masih banyak karyawan yang berlalu lalang." (bahasa inggris) Bentak ku pada Darren yang selalu tak kenal tempat.


"Tidak ada orang saat ini, kamu lihat!." (bahasa inggris) Darren yang melihat ke sekitar memang sedang tidak ada orang di sekitar kami saat itu.


"Bagaimana kamu bisa menganggap enteng ini?. Tetap saja ini perusahaan, Dar!." (bahasa inggris) Tegas ku.


"Laras, apa yang kamu khawatirkan?. Apa omongan orang-orang?. Tenang saja karena sebentar lagi kita akan bertunangan." (bahasa inggris) Ucap Darren yang sembarangan.


"Jaga bicaramu, Dar!. Selagi aku masih baik terhadap mu!." (bahasa inggris)


"Laras!. Tenanglah!. Aku cuma bercanda!." (bahasa inggris)


"Kamu!." (bahasa inggris)


"Kamu mau ke mana?. Temani aku makan ya!. Pliss!." (bahasa inggris)


"Tidak, aku sudah ada janji dengan teman ku." (bahasa inggris) Tolak ku.


"Kalau begitu aku ikut!." (bahasa inggris) Pinta Darren yang ingin ikut dengan ku.


"Tidak!. Mereka pasti akan canggung." (bahasa inggris)


"Tenanglah, aku akan berusaha menjadi penurut. Asal kamu mau mengajakku." (bahasa inggris) Mohon Darren sekali lagi.


"Baiklah!. Tapi jangan berulah, apalagi menggoda semua orang!." (bahasa inggris) Aku yang memperingatkan Darren agar tak memperlihatkan sisi playboy nya.


"Tidak akan!. Karena di sini hanya kamu yang cantik di mata ku." (bahasa inggris) Darren yang membuat janji dua jari untuk meyakinkan ku.


"Baiklah!. Ayo!." (bahasa inggris) Aku pun akhirnya membolehkannya untuk mengikuti ku dan segera menyusul rekan kerja ku berada.


***


Di sisi lain di dalam executive lift, berdiri Joon Woo beserta asistennya yang masih terdiam di dalamnya tanpa melangkah sedikit pun keluar dari dalam lift. Joon Woo mengepalkan kedua jemarinya seolah apa yang ia dengar adalah sebuah hal yang sangat di bencinya.


Ya, Joon Woo mendengar percakapan mereka berdua secara tak sengaja. Saat itu ia bersama Dimas hendak keluar dari dalam lift, namun mendengar percakapan mesra antara Darren dan Raya membuatnya menghentikan langkahnya dan meminta Dimas untuk menekan tombol buka agar tetap dalam posisi terbuka.


Mungkin bagi Raya, percakapan mereka berdua adalah percakapan biasa yang ia lakukan ketika dirinya berdua dengan Darren. Tapi berbeda dengan Joon Woo ia menganggap percakapan mereka berdua adalah percakapan antara dua insan yang sedang di mabuk cinta. Apalagi mendengar kata tunangan yang diucapkan Darren barusan membuat hati Joon Woo semakin tak karuan.


"Apa Raya menolak ku karena ini?." Batin Joon Woo.


Hati Joon Woo kecewa sekaligus marah, ia berpikir Raya tak jujur padanya karena yang ia tahu Raya mengaku bahwa dirinya masih berstatus jomblo.


"Apa Raya berbohong?." Pertanyaan itu terlintas di benak Joon Woo saat ini.


"Mister, apa saya harus menekan ini terus?." Dimas yang masih dalam posisi menekan tombol buka di lift.


"Lepaskan!. Kita pergi dari sini!." Pinta Joon Woo.


"Baik." Lalu Dimas dan Joon Woo pergi keluar dari lift tersebut begitu melihat Raya dan Darren menjauh dari depan lift.