
Hari itu aku dan Leon bermain di taman hingga menjelang senja, dan setelahnya Leon mengajakku untuk membeli Ice Cream yang iya janjikan kepada ku, yang tokonya berada tak jauh dari komplek perumahan tempat rumah lama ku berada. Leon memilih Ice Cream Coklat dengan Strawberry Cream yang lumer di dalamnya sedang diri ku memilih Ice Cream Caramel yang sangat nikmat di mulut.
Toserba yang kami datangi ini sudah berdiri selama 13 tahun lamanya dan sedari kecil Ayah sering mampir ke toko ini untuk membelikan cemilan kesukaan ku. Masih terbayang rasanya saat-saat menanti Ayah pulang kerja hanya karena sebungkus camilan. Hari itu selalu ku nantikan saat aku kecil, dan hal itu selalu dilakukan Kak Joon ketika mampir ke rumah ku, Ia tak pernah lupa membawakan camilan kesukaan ku.
Aku melihat 1 dus coklat ben*-ben* kesukaan ku sedari kecil yang ada di toserba tersebut, lalu membelinya kemudian kuberikan kepada Leon sebagai hadiah.
"Apa ini?." Tanya Leon.
"Bawalah!. Anggap itu hadiah dari ku." Jawab ku sembari menyerahkan sekantong camilan coklat itu kepadanya.
"Kau pikir aku anak kecil yang suka dengan makanan manis?." Ucap Leon yang memasang wajah masamnya.
"Kalau kamu bukan anak kecil?. Lantas apa dong?." Ucapku seraya mengelus pucuk kepalanya.
"Kau yang anak kecil!." Kesal Leon kepada ku dan menyingkirkan tangan ku dari kepalanya.
"Sudah!. Ayo!. Kita harus segera kembali!. Kalau tidak Daddy mu pasti khawatir." Tegas ku yang tak ingin Kak Joon mengkhawatirkan anaknya, bisa jadi aku akan dituduh sebagai seorang penculik anak bila Leon tak segera dikembalikan.
"Bisakah kau menemaniku di lain waktu?." Ucap Leon menatap ku malu-malu.
"Tentu bisa, kapan pun kamu mau!." Ucap ku seraya menyeka noda di wajahnya karena makan Ice Cream.
Wajah Leon yang lucu karena berlumur noda Ice Cream coklat itu sangat membuat diri ku gemas terhadapnya. Ia mengingatkan ku akan Kak Joon belasan tahun lalu, di mana diri nya yang sengaja ku lumuri Ice Cream Coklat karena telah ingkar janji.
Aku teringat saat Kak Joon yang berjanji membawa ku pergi ke tempat latihan basketnya, namun karena suatu hal Kak Joon membatalkan janjinya itu. Dan hari itu sebagai pengganti rasa bersalahnya Kak Joon memberikan ku Ice Cream Coklat kesukaan ku, tapi karena aku yang sudah terlanjur marah kepadanya, aku pun melakukan tindakan ekstrim dengan menempelkan Ice Cream coklat pemberian Kak Joon ke wajahnya. Hari itu Kak Joon kecewa terhadap ku, aku yang tak pernah ingin mendengar penjelasannya memilih tetap egois dan tak ingin meminta maaf kepadanya.
Hingga Kak Joon memilih mengalah dan meminta maaf kepada ku karena telah ingkar janji. Mengingat hal itu membuat ku tersadar mungkin saja sikap ku yang seperti itulah yang membuat Kak Joon tak pernah menganggap ku sebagai seorang wanita di matanya.
"Apa yang ku pikirkan?." Batin ku saat ini.
"Hei!. Wanita jelek!." Panggil Leon.
"Leon, bisakah kamu memanggil ku dengan sebutan lain?." Tanya ku pada Leon masih dengan amarah yang sebisa mungkin ku tahan.
"Tidak!. Karena hanya itu yang pantas untuk mu!." Jawab Leon masih dengan wajah masamnya.
"Apa aku terlihat jelek di mata mu?." Tanya ku sembari mengarahkan jari telunjuk ke wajah ku.
"Aku tak harus menjawabnya!." Tegas Leon.
"Baiklah!. Terserah kamu saja!. Tapi hal itu tidak sopan dikatakan terhadap orang yang lebih tua." Ucap ku menasihatinya.
"Apa kau merasa lebih tua dari ku?. Jelas-jelas otak mu seukuran ini!." Leon yang menunjukkan kelingkingnya ke arah ku.
"Bagaimana bisa anak sekecil ini berbicara tidak sopan terhadap ku?. Apa yang telah Kak Joon ajarkan kepada anaknya?." Batin ku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam keluarga Kak Joon, tapi aku sangat mengenal Kak Joon. Dia adalah pribadi yang hangat sebelum dirinya berubah dingin terhadap ku. Dan aku yakin tidak mungkin anak ini bisa berlaku seperti sekarang bila Kak Joon menunjukkan sisinya yang hangat seperti dulu. Bisa jadi Kak Joon telah berubah dingin tidak hanya terhadap ku tetapi juga terhadap anaknya.
"Kasihan sekali anak ini. Aku tahu yang kamu rasakan." Batin ku yang merasakan penderitaan Leon saat ini.
Sepintas aku teringat perlakuan dingin Kak Joon terhadap ku, dan aku meyakini bahwa sikap yang ditunjukkan Leon adalah sikap seorang anak yang kurang kasih sayang.
"Tidak." Jawabnya.
"Aku pikir Daddy mu mungkin tidak akan menjemput mu. Jadi apa mungkin aku harus menghubungi Ibu mu?." Tanya ku memastikan.
"Tidak!. Sudah ku bilang tidak!. Ya tidak!." Teriak Leon sambil menatap ku dengan nyalang.
"Aku hanya mengkhawatirkan mu, Leon." Ucap ku sedikit bernada rendah agar ia sedikit tenang.
Aku tak ingin melawannya, karena pasti ada sesuatu hal yang ia tak ingin ceritakan.
"Eh, maaf. Aku hanya ingin tinggal sementara waktu di rumah kakek ku. Bawa aku ke sana saja!." Pinta Leon yang meminta ku untuk mengantarnya ke rumah lama Kak Joon.
Aku menyerah dan akhirnya membawa Leon ke rumah lama Kak Joon. Setelah itu aku pun ikut pulang ke rumah lama ku tanpa sepengetahuan Leon. Leon tentunya tidak tahu bahwa aku pernah bertetangga dengan Daddy nya. Aku diam-diam mengawasinya dari rumah ku, walaupun Leon mengusir ku pergi tapi tetap saja hati ini ragu untuk meninggalkannya.
***
Malam pun tiba, belum ada tanda-tanda Leon dijemput oleh seseorang, aku pun mulai khawatir dan akhirnya memilih untuk memeriksa ke depan rumah.
"Raya?."
DEG
Lagi-lagi suara ini, aku sangat mengenal suara ini. Suara yang muncul saat aku memutar tubuh ku setelah memeriksa rumah yang ada di sebelah. Sontak aku menoleh ke asal suara, dan benar saja dugaan ku, aku mendapati Kak Joon yang berada tepat di belakang ku.
"Aku memang tidak salah, bahwa kamu adalah Raya." Kak Joon yang mulai menatap ku dengan tatapan yang tak biasa.
Aku yang melihat tatapannya saat itu, sekilas merasakan adanya sebuah kehangatan yang telah lama hilang dari dirinya. Aku merasakan Kak Joon yang pernah melimpahkan kasih sayang terhadap ku kini telah kembali, ingin rasanya aku memeluknya saat ini tapi aku sadar akan status ku.
"Mr. Joon, apa yang anda lakukan di sini?." Tanya ku seolah-olah tak mengenalnya saat ini.
"Raya, apa kamu telah kembali?." Tanya Kak Joon yang masih menatap ku dengan tatapan yang sama. Tatapan yang seakan merindukan ku dengan sepenuh hati.
"Kak, tolong jangan menatap ku seperti itu." Batin ku yang ingin segera menghindarinya.
"Maaf, saya bukan Raya!." Aku pun langsung pergi menghindari Kak Joon saat itu.
"Raya!. Aku tahu itu kamu. Tolong jangan menghindar!." Ucap Kak Joon sembari menarik tangan ku yang hendak pergi darinya.
"Maaf, bisakah anda pura-pura tidak mengenal saya?. Saya mohon!." Ucap ku tanpa menoleh ke belakang dan sembari menahan air mata yang hampir saja terjatuh.
Aku tak ingin Kak Joon mengingat ku, aku hanya ingin hidup dengan melupakan masa lalu.
"Raya, tapi apa salah ku?." Tanya Kak Joon yang tidak mengerti dengan perkataan ku.
"Tolong lepaskan saya!. Dan lupakan saya!. Anggap lah anda tak pernah mengenal saya!." Aku pun menarik tangan ku dari genggaman Kak Joon dan langsung berlari menghindarinya secepat kilat tanpa menatap wajahnya sama sekali.
Aku menutup pintu rumah ku dengan tergesa-gesa seakan takut Kak Joon menghampiri ku dan menerobosnya. Aku tahu ini salah, tapi apa yang ku lakukan saat ini adalah karena aku ingin hidup dalam damai tanpa ada bayang-bayang masa lalu.
Tapi kenapa semakin aku menghindarinya justru ia semakin dekat?. Mungkin kah ini permainan Tuhan?. Ataukah ini takdir?. Tapi bagaimana mungkin?. Padahal aku sangat tahu bahwa dia adalah pria beristri.