
Dua hari kemudian...
"Tet!. Tet!." Suara bel apartemen ku berbunyi.
Aku pun yang saat itu tengah bersiap-siap untuk berangkat bekerja harus tergesa-gesa membuka pintu. Dan benar saja dugaan ku bahwa Kak Joon sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen ku saat ini.
"Masuklah!." Aku yang kemudian menarik dengan cepat tangan Kak Joon masuk ke apartemen ku.
"Aw!. Sakit Raya!." Protes Kak Joon yang merasa sakit saat tangannya ditarik oleh ku.
"Maaf Kak, aku hanya tak ingin kamu berlama-lama di depan pintu takut tetangga yang lain melihat." Ucap ku menjelaskan.
"Kamu terlalu banyak khawatir, kurasa tetangga mu juga tidak akan berkata apa-apa jika aku bertamu di rumah mu." Tukas Kak Joon.
"Tetap saja aku yang merasa tidak enak. Kak." Aku yang masih tetap teguh pada pendirian ku.
"Baiklah!. Baiklah!. Mulai besok aku akan berhati-hati." Kak Joon yang akhirnya mengalah pada ku.
"Ayo!. Kita segera pergi!. Aku sudah siap." Pinta ku.
"Tidak ada sarapan pagi untuk ku?." Tanya Kak Joon yang mengharapkan sesuatu dari ku.
"Aku tidak sempat memasak hari ini. Bahkan hampir setiap hari aku membeli menu sarapan di pinggir jalan." Ungkap ku.
"Bagaimana bisa?. Itu tidak sehat setidaknya kamu bisa membuat selembar roti sebelum berangkat?." Ucap Kak Joon.
"Kak, aku tinggal sendiri yang ada roti itu akan basi sebelum aku memakannya." Balas ku.
"HHmmm... tapi beda hal jika kamu tidak tinggal sendiri kan?." Tanya Kak Joon yang ingin memastikan sesuatu.
"Jika saja hal itu terjadi, aku pasti tidak akan melewatkan sarapan bersama." Senyum ku untuk menjawab pertanyaan Kak Joon.
"Itu pasti!. Kamu harus berjanji!." Kemudian Kak Joon menarik ku pergi keluar pintu apartemen dengan semangat.
Dan kami pun menuju perjalanan kantor menaiki mobil Kak Joon yang di supiri Pak Udin seperti biasanya. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba saja mobil kami tiba harus mengerem mendadak karena ada sesuatu yang melewati kami.
"Ada apa Pak Udin?." Tanya Kak Joon yang terkejut dengan hal itu.
"Ada orang yang tiba-tiba berlari di depan kita Mister." Jawab Pak Udin.
"Siapa?." Tanya ku yang ikut penasaran.
"Tidak tahu Nona." Jawab Pak Udin.
"Saya akan keluar dan memeriksanya Mister." Lalu Pak Udin pun keluar dan memeriksa hal tersebut.
"Ada apa ini?. Kenapa anda berlari di depan mobil saya?." Tanya Pak Udin kepada wanita yang berada di depan mobil yang terlihat seperti kebingungan.
"Ma.. maaf Pak. Sa... saya sedang terburu-buru." Jawab wanita itu yang terlihat agak ketakutan. Dan melihat hal tersebut aku pun ikut keluar dari dalam mobil karena sepertinya Pak Udin membutuhkan bantuan.
"Maaf mba, ada yang bisa saya bantu?." Tanya ku mendekati wanita itu yang terlihat sangat ketakutan. Wanita itu tampak sangat lusuh dan kotor sepertinya sudah lama ia tak membersihkan diri.
Lalu aku pun mencoba berbicara dengannya dan mulai menatap wajahnya. Dan begitu wajahnya terlihat aku pun sontak terkejut dengan wajah yang sangat amat aku kenal dan sangat kurindukan beberapa tahun ini. Aku melihat Ratna sahabat ku yang sudah hilang kontak selama dua tahun lamanya.
"Ratna?." Tanya ku pada wanita itu karena aku takut salah mengenali orang.
"Maaf, anda salah orang!." Ucapnya yang kemudian menutupi sebagian wajahnya di hadapan ku.
"Ratna?. Ini kamu kan?. Iya aku yakin ini kamu!." Aku tak kuasa menahan rindu akan sosoknya yang sudah lama aku nantikan lalu aku pun memeluknya tanpa berpikir lagi.
"Hiks... Hiks." Isak tangis terdengar di telinga ku dan aku pun menarik wajah Ratna agar dapat melihat wajahnya dengan jelas dan benar saja aku melihat Ratna yang sedang menangis saat ini.
"Ada apa dengan mu, Na?." Tanya ku.
"Hiks.. Hiks." Ratna yang tak kuasa menahan tangisnya.
"Ada apa ini?." Tanya Kak Joon yang melihat aku tengah berpelukan dengan Ratna ikut keluar dari dalam mobil.
"Kak, lihatlah!." Aku yang menunjukkan Ratna kepada Kak Joon.
"Masuklah!. Bawa dia bersama kita!. Di sini sangat ramai!." Pinta Kak Joon.
Dan Ratna pun akhirnya ikut dengan kami di mobil. Dan ia juga ikut bersama kami ke dalam perusahaan. Namun Ratna di bawa ke ruangan khusus yang disediakan Kak Joon melalui perantara Dimas. Jadi dengan ini tidak ada yang tahu bila Ratna, aku dan juga Kak Joon pergi di satu mobil yang sama.
Aku yang hanya bisa melihat sesekali di sela-sela istirahat itu juga diam-diam mengunjunginya atas izin Kak Joon tentunya. Dan selama satu jam aku dapat melepas rindu dengan sahabat ku itu.
"Ratna, ceritakan apa yang terjadi?." Tanya ku pada Ratna yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Aku.. aku.." Ucap Ratna yang masih ragu-ragu. Terlihat dari matanya yang masih malu untuk menatap ku.
"Tenanglah!. Katakanlah tak perlu takut!. Ada aku di sini. Ingat!. Kita ini sahabat tak boleh ada rahasia diantara kita!." Ucap ku seraya mengelus bahunya saat ini.
"Aku malu... Hiks!." Ratna pun kembali menangis tersedu-sedu mengingat kejadian yang terjadi padanya. Dan secara perlaha-lahan iapun mulai menceritakan biduk masalah yang terjadi padanya selama dua tahun belakangan ini. Di mana ayahnya terlilit hutang hingga milyaran dan karena hal itu Ayahnya meninggal karena serangan jantung. Bisnisnya seketika hancur, hidup Ratna beserta keluarganya yang tadinya hidup mewah kini harus bersembunyi dari kejaran lintah darat.
Di tengah-tengah persembunyiannya Ratna terpaksa bekerja sebagai buruh pabrik karena ia tak bisa lulus dari kuliah karena masalah keuangan. Ternyata setelah kepergian ku, beberapa bulan setelah itu kehidupan Ratna mulai berubah, keuangannya mulai morat-marit. Ia mulai sering absen bahkan cuti kuliah untuk bekerja paruh waktu menutupi keuangan keluarganya. Namun pertemanan Ratna dengan ku masih berjalan lancar di media sosial maupun melalui surel.
Tapi selang beberapa tahun kemudian kondisi keuangan Ratna semakin tak stabil bahkan ia harus berhenti kuliah karena itu. Dan ia pun dipaksa menikahi seorang anak renternir hingga memiliki satu orang anak yang entah di mana keberadaannya saat ini karena Ratna sedang dalam pelarian dari keluarga suaminya tanpa berhasil membawa kabur anaknya.
Dan kini Ratna tinggal di pinggir jalan dan makan dari sisa makanan orang untuk bertahan hidup sambil mencari keberadaan keluarganya yang terpisah darinya. Begitulah kisah yang diceritakan Ratna mengenai kehidupannya saat ini, aku ikut merasa bersalah atas penderitaannya. Aku merasa semua ini juga karena kepergian ku, andai saja saat itu aku tak pergi meninggalkannya mungkin saja hidupnya tak akan seperti saat ini. Ratna harus menderita hidup terbengkalai di luar sana.
"Na, maafin aku ya!. Ini pasti karena aku yang ninggalin kamu saat itu." Sesal ku pada Ratna.
"Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir ku Raya." Ucap Ratna pada ku.
"Apa aku mengganggu kalian?." Tanya Kak Joon yang tiba-tiba datang menghampiri kami yang tengah berpelukan itu.
"Kak.." Sapa ku yang melihat kedatangannya.
"Kamu Ratna sahabatnya Raya?. Kenalkan, aku Joon Woo kekasih Raya. Maaf sebelumnya kita tak pernah sempat berkenalan." Sapa Kak Joon kepada Ratna.
"Jun.. Junaedi yang itu?." Ratna yang terkejut melihat Kak Joon cinta bertepuk sebelah tangan ku tiba-tiba menjadi kekasih ku.
"Iya, Kak Joon cinta bertepuk sebelah tangan ku, Na. Sekarang ia kekasih ku." Senyum ku yang mengiringi setiap perkataan ku.
"Tapi, bukankah ia sudah menikah?." Tanya Ratna yang masih terheran-heran.
"Tidak, dia dan Jane sudah bercerai." Lalu aku pun menggenggam jemari Kak Joon tepat di hadapan Ratna. Menandakan bahwa aku dan Kak Joon sudah menjadi sepasang kekasih.
"Kak, sepertinya Ratna harus tinggal di apartemen ku bersama dengan ku." Pinta ku pada Kak Joon.
"Lalu bagaimana dengan ku?." Tanya Kak Joon yang mengingatkan akan janji ku padanya untuk tinggal bersama dengannya di Mansion.
"Tidak mungkin aku meninggalkan Ratna sendirian di sana." Ungkap ku.
"Bagaimana jika kalian berdua tinggal bersama di Mansion ku?." Pinta Kak Joon.
"Ku rasa tidak untuk saat ini, Kak. Karena ia masih sangat trauma untuk tinggal di tempat yang ramai."
"Tidak Raya, bagaimana bila kamu sedang bekerja?. Pasti tidak akan ada yang menjaga Ratna. Lagipula di Mansion ku ada pelayan dan petugas keamanan yang akan menjaga Ratna."
Setelah dipikir-pikir perkataan Kak Joon ada benarnya juga. Lalu aku pun menanyakan hal tersebut kepada Ratna. Dan akhirnya Ratna pun setuju untuk tinggal bersama di Mansion milik Kak Joon.
"Dimas, belikan beberapa baju yang layak untuk Nona Ratna!." Pinta Kak Joon kepada Dimas.
"Baik Mister!." Jawab Dimas.
"Sayang, aku harus pergi menemui beberapa klien saat ini. Kamu dan Ratna aku tinggal dulu, bila ada sesuatu yang kalian ingin kan, bisa hubungi Dimas." Pinta Kak Joon yang kemudian mengecup kening ku lalu pergi meninggalkan kami berdua di ruangan.
"Ciee.. kalian co cweet!." Goda Ratna.
"Ssstt.. aku jadi malu!." Ucap ku malu-malu pada Ratna.
"Bagaimana kalian akhirnya dapat bersama?." Tanya Ratna yang masih penasaran dengan kisah ku dan Kak Joon.
Dan hari itu kami habiskan dengan bercerita satu sama lain mengenai kisah kami selama 8 tahun berpisah. Kisah suka maupun duka yang terjadi selama 8 tahun ini.