Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 45 : Aku Merindukan mu



DEG


DEG


DEG


Entah kenapa jantung ini semakin berdetak tak karuan, Kak Joon menatap ku dengan dengan penuh arti. Ia mulai menarik selimut dan duduk memposisikan diri di tempat tidur.


"Ayo tidur!." Kak Joon yang meminta ku berbaring di dekatnya.


"Tidak." Jawab ku yang masih ragu untuk menaiki tempat tidur.


Lalu aku pun berbaring di sebelah Kak Joon dan mulai menjaga jarak ku dengan dirinya. Aku mulai mencoba tidur dengan posisi yang membelakangi Kak Joon. Namun, walau mata ini tertutup tetap saja aku tak dapat tertidur karena jantung ini masih berdetak sangat kencang.


"Raya." Panggil Kak Joon.


"Apa kamu sudah tertidur?." Tanya Kak Joon.


"Belum." Jawab ku.


DEG


"Apa yang kamu pikirkan?." Tanya Kak Joon seraya meraih pinggang ku. Dan aku yang merasakan gerakan dari Kak Joon yang tiba-tiba, semakin dibuat gugup saja. Pasalnya saat ini jarak kami semakin dekat, tak hanya itu bahkan Kak Joon mencium ceruk leher ku yang semakin membuat getaran aneh di dalam diri ku bangkit.


"Kak!. Ayo tidur!." Pinta ku yang kemudian mulai sedikit terdengar deru nafasnya yang tepat di telinga ku.


"Kak?. Kak?." Aku yang berusaha memanggil Kak Joon namun tak mendapat jawaban darinya. Lalu aku pun menoleh ke samping dan menyadari bahwa Kak Joon sudah tertidur sambil merangkul ku.


Melihat itu aku pun berusaha untuk tidak mengganggunya dengan tidak merubah posisi nya yang tengah merangkul ku. Dan tak lama setelah itu aku pun ikut masuk lautan mimpi bersamanya.


***


"Aunty!." Teriak Leon yang melihat ku keluar dari kamar.


"Iya Leon." Jawab ku yang tersenyum melihat tingkah lucu dirinya saat berlari menghampiri ku.


"Kau mau ke mana?." Tanya Leon yang melihat ku sudah rapih dengan stelan kantor.


"Ke kantor."


"Kau kan masih sakit?. Kenapa sudah masuk?." Tanya Leon.


"Aku tidak enak bila harus absen terlalu lama, dan setelah ini aku pun harus kembali ke apartemen ku." Jawab ku yang seketika membuat wajah Leon sedikit sedih.


"Kenapa kau pergi?. Kenapa tidak tinggal bersama ku saja di sini?. Pasti Daddy akan mengizinkanmu." Pinta Leon yang tak ingin segera berpisah dari ku.


"Leon..." Lalu aku pun memeluknya untuk menenangkan hatinya saat ini.


"Raya, apa kamu sudah siap?." Tanya Kak Joon yang menghampiri kami yang tengah berpelukan.


"Daddy, kenapa aunty dibiarkan masuk?. Bukannya dia masih terlihat sakit?." Tanya Leon sambil menatap tajam Daddy nya seakan ini semua karena ulah darinya.


"Daddy sudah memperingatkan Aunty Laras, tapi sayangnya ia tetap bersikeras untuk tetap masuk." Ungkap Kak Joon.


"Aunty!. Kau tidak boleh pergi!. Kalau tidak aku akan berhenti belajar!." Ancam Leon.


"Eits!. Anak baik tidak boleh mengancam orang tua!." Tegas ku.


"Aku tak peduli!." Tegas Leon.


"Leon!. Apa maksudmu dengan memaksanya seperti ini?." Kak Joon yang mulai bernada tinggi kepada anaknya Leon.


"Tidak, Daddy hanya akhir-akhir ini aku sudah tidak merasa bosan tinggal di rumah ini." Ucap leon yang seketika membuat ku terenyuh. Bagaimana bisa Leon bosan di rumah yang mewah dan penuh dengan pelayan seperti ini?. Apalagi apapun yang dia inginkan dapat terpenuhi.


"Leon, jaga bicara mu!." Tegas Kak Joon.


"Tidak apa-apa, Kak. Mungkin Leon hanya butuh teman di rumah ini." Ucap ku mencoba menengahi mereka.


Dan Leon pun menganggukkan kepalanya mendukung perkataan ku. Dan setelah berdebat panjang lebar akhirnya aku dan kak Joon bisa pergi ke kantor tanpa kendala.


"Apa kamu tetap ingin pulang?." Tanya Kak Joon seraya menghentikan kendaraannya di tepi jalan yang tak jauh dari perusahaan JF.


"Ya, aku harus keluar dari mansion mu. Jika tidak, apa kata orang-orang? Apalagi kita bukan pasangan menikah." Jawab ku.


"Raya, aku janji aku tak akan melakukan hal yang akan merugikan mu. Aku janji!. Pliss!." Rajuk Kak Joon.


"Kak, ku mohon beri aku waktu. Apalagi saat ini status kita adalah karyawan dan atasan." Pinta ku pada Kak Joon agar ia tak lagi memaksa.


"Jadi kita akan terus berpura-pura?. Bahkan di perusahaan ku sendiri?." Protes Kak Joon yang lagi-lagi menatap ku dengan tatapan mengiba.


"Kak.."


"Apa kamu juga akan merahasiakannya dengan bule itu?."


"Kak.."


"Sstt!." Aku pun yang tak tahan dengan sikapnya yang tiba-tiba kekanakan seperti ini membuat ku gemas terhadap nya. Pasalnya tingkahnya saat ini sangat lah lucu, mungkin ini yang dinamakan cemburu.


"Kak, percayalah pada ku!. Tidak akan lama aku akan memberitahu semua orang mengenai hubungan kita. Okay?." Ucap ku seraya mengelus wajahnya yang terlihat menggemaskan saat merenggut kesal.


"Baiklah!. Aku percaya pada mu!. Tapi dengan satu syarat!." Ucap Kak Joon yang menginginkan sebuah syarat untuk itu.


"Apa?."


"Tinggallah bersama ku!." Pinta Kak Joon yang lagi-lagi meminta ku untuk tinggal bersama nya.


"Berikan aku waktu satu minggu untuk memikirkannya. Setelah itu aku akan menghubungi mu." Pinta ku kemudian beranjak dari kursi mobil hendak membuka pintu.


"Tunggu!." Kak Joon yang mencegah ku untuk pergi.


"Ada apa?."


"CUP." Kak Joon yang seketika mengecup kening ku sebagai tanda perpisahan.


"Sampai jumpa di kantor!." Ucap Kak Joon.


"Sampai Jumpa." Aku yang sangat senang dengan tanda perpisahan itu membuat ku merekahkan senyuman, karena baru kali ini aku merasakan kenyamanan dari seorang pria.


"Apakah ini yang dinamakan cinta?." Batin ku.


"Kalau begini apa aku harus berterima kasih pada mu, Tuhan?." Batin ku yang mensyukuri kehadiran Kak Joon di hidup ku.


Dua Jam Kemudian


"Laras!." Panggil Septi yang melihat ku sedang senyum-senyum sendiri.


"Eh iya." Jawab ku.


"Kenapa kamu?. Kok senyum-senyum sendiri?." Tanya Septi.


"Masa sih?."


"Iya tuh lihat aja gigi kamu kering." Ledek Septi.


"Mana?. Bisa saja kamu!." Ucap ku seraya memeriksa gigi ku di cermin kecil yang ada di meja.


"Nah kan?." Ledek Septi lagi.


"Apaan sih?."


"Laras!." Panggil Bu Fatma dari kejauhan.


"Mr. Joon memanggil mu." Pinta bu Fatma agar aku segera pergi ke ruangan Kak Joon.


"Ada apa Kak Joon memanggilku pagi-pagi begini?." Batin ku yang penasaran.


"Sana pergi!. Mungkin saja ada berita bahagia darinya." Ucap Septi dengan tatapan yang sangat ingin tahu.


"Apa sih?." Aku yang mencoba menyembunyikan perasaan ku yang sesungguhnya agar tak ketahuan.


"Ih jangan Su'udzon gituh dong!. Aku kan cuma kepo." Ledek Septi kemudian beranjak pergi meninggalkan ku.


Setelah itu aku pun pergi ke ruangan Kak Joon atas perintah Bu Fatma.


"Tok!. Tok!. Tok!."


"Masuk!." Panggil Kak Joon.


"Apa Mister mencari ku?." Aku yang sudah ada dihadapan Kak Joon saat ini. Tapi Kak Joon yang masih asik menyeruput kopinya sambil memperhatikan Ipad nya tidak bergeming dengan kehadiran ku.


"Duduklah!." Pinta Kak Joon pada ku.


Dan aku pun menuruti perintahnya dengan duduk di sofa yang diarahkan olehnya.


"Jadi apa kamu bertanya untuk apa aku memanggil mu?." Tanya Kak Joon yang menghampiri ku yang duduk di sofa.


"Iya tentu saja." Jawab ku.


Dan saat ini Kak Joon sudah berada tepat di hadapan ku menatap manik mata ku dengan lekat seakan ingin mencari sesuatu di dalamnya.


"Mr. Joon, jangan bercanda!." Aku yang sudah mulai kesal dengannya karena berputar-putar dalam ucapannya.


"Aku sedang tidak bercanda!. Aku memanggil mu ke sini karena aku merindukan mu." Seketika aku pun terkejut dengan ucapannya.