
Hari ini datang juga, di mana aku harus pergi menemani Kak Joon dinas ke Korea Selatan. Benci?. Tidak, aku tidak membenci ini hanya berharap agar diri ini tak lagi goyah terhadapnya.
"Ckiitt!!." Akhirnya sampai juga kami di bandara Soekarno Hatta, khusus hari ini Dimas menjemput ku ke apartemen agar diri ku sampai tepat waktu di bandara.
"Nona Laras, kalau begitu saya titip Mr. Joon kepada anda!." Pinta Dimas.
"Memangnya bos mu itu barang dititipkan pada ku?." Ucap ku.
"Tidak mungkin!. Aku sudah melayani lebih dari lima tahun ini. Dan menurut saya dia adalah bos yang paling manusiawi yang pernah saya layani!."
"Benarkah?. Aku tak melihatnya seperti itu." Ucap ku sambil bercanda.
"Nona Laras mungkin telah salah menilai. Sekali lagi saya mohon bantuan Nona!. Maaf saya tidak dapat ikut dinas kali ini!." Ucap Dimas sekali lagi.
"Sudah!. Sudah!. Sana pergi!." Usir ku pada Dimas agar aku tak lagi mendengar pujiannya terhadap Kak Joon.
"Mister, anda harus menaikkan gajih ku kali ini!." Gumam Dimas sembari tersenyum penuh arti.
"Kau bilang apa?." Tanya ku yang sedikit mendengar gumaman Dimas.
"Ah tidak!. Saya hanya bilang semoga anda selamat sampai tujuan!." Ucap Dimas yang terdengar seperti kebohongan.
Akhirnya aku pun pergi meninggalkan Dimas lalu menuju gate tempat keberangkatan ke Korea Selatan dan Kak Joon sudah menunggu ku di sana.
"Hello. Passenger of flight 56K76 bound for South Corea stops in stops in Incheon please boarding from gate C2, and please have your boarding pass ready and make sure that you have collected all your carry-on baggage. Thank you."
Suara operator bandara yang memperingatkan bahwa pesawat akan segera lepas landas, aku pun segera bergegas ke arah gate yang telah disebutkan setelah mendaftar ke bagian tiket. Di sana aku melihat Kak Joon yang berdiri di depan gate dan sedang menatap ku dari kejauhan.
Saat itu aku melihat dirinya yang gagah dengan coat panjang berwarna lilac dan dalaman kemeja putih dengan rambut yang dibiarkan terurai tanpa sedikit pun gel rambut yang menempel. Dia terlihat sangat tampan layaknya seorang pangeran yang sedang menunggu kereta Cinderella di depan gerbang istana.
"Kalau dia pangeran?. Pasti aku Cinderella nya?." Khayalan ku yang hampir mengacaukan semua rencana ku yang sudah ku susun rapih sebelum pergi.
Aku yang kemudian tersadar akan semua khayalan yang ada langsung berusaha bersikap biasa saja di hadapan Kak Joon saat ini.
"Akhirnya kamu datang juga!." Ucap Kak Joon yang melihat diri ku datang dengan terburu-buru.
"Ya?." Aku yang tiba-tiba keluar dari lamunan ku tanpa mendengar apa yang baru saja Kak Joon tanyakan.
"Sudah!. Ayo kita langsung masuk saja!." Ucap Kak Joon yang kemudian menarik tangan ku menuju ke arah gate.
Aku yang masih belum sepenuhnya sadar itu langsung menurut dan mengikuti arah langkah Kak Joon, seakan saat ini raga dan pikiran ku tak sejalan. Dan kami akhirnya memasuki pesawat dalam keadaan bergandengan tangan layaknya seperti seorang pengantin baru yang akan melakukan perjalanan bulan madunya. Pramugari dan Para penumpang yang melihat kami pun tersenyum melihat kedatangan kami yang seperti pasangan baru itu.
Hingga akhirnya aku pun tersadar bahwa tangan ku masih tergenggam hingga masuk ke dalam pesawat. Aku pun lalu menarik tangan ku menjauh dari tangan Kak Joon, kemudian langsung menduduki kursi pesawat agar terbebas dari tatapan para awak pesawat. Betapa malunya diri ku saat ini, rasanya seperti ketahuan selingkuh saja.
"Ayo Raya!. Bisa-bisanya kamu tidak sadar sedang bergandengan tangan!." Ucap ku dalam hati yang malu dengan situasi yang ada.
"Raya!. Kamu kenapa?." Tanya Kak Joon yang melihat ku berusaha menghindari tatapan orang-orang.
"Tidak!. Tolong jangan menatap ku seperti itu!." Pinta ku pada Kak Joon.
"Ada apa dengan mu?." Kak Joon yang masih menatap ku seolah-olah aku sakit.
"Tidak!. Aku tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk." Ucap ku agar Kak Joon tak lagi bertanya.
"Baiklah!." Akhirnya Kak Joon tak lagi bertanya dan menghiraukan ku karena aku yang sudah berpura-pura tertidur di hadapannya.
***
Beberapa jam setelah itu kami pun sampai di bandara Incheon, Korea Selatan. Dan parahnya aku pun benar-benar tertidur selama perjalanan, karena kemarin malam aku tak dapat tidur sama sekali. Pikiran ku hanya tertuju pada Kak Joon dan Kak Joon. Bagaimana cara menghindarinya?. Bagaimana menghadapinya?.
"Raya?. Apa kamu masih mengantuk?." Tanya Kak Joon.
"Tidak Mister!. Sebelumnya saya minta maaf karena tertidur selama perjalanan." Ucap ku yang meminta maaf karena telah lalai.
"Kenapa kamu minta maaf?. Aku mengerti pasti kamu terlalu banyak bekerja kemarin." Ucap Kak Joon yang mengerti akan situasi diri ku.
"Ya semua gara-gara anda Mister!." Ucap ku dalam hati, walaupun bibir ini tersenyum.
"Mr. Joon, anda sudah datang?." (bahasa Korea) Ucap seorang lelaki yang menjemput kami di bandara.
"Yah, mana kendaraan yang aku pesan?." (bahasa Korea) Tanya Kak Joon pada lelaki itu.
"Tenang saja, Mister." (bahasa Korea) jawab lelaki tersebut.
Lalu tak lama datanglah limousine mewah yang berhenti tepat di hadapan kami saat ini.
"Wah!. Ini dinas?. Atau liburan?." Batin ku yang tercengang dengan fasilitas mewah yang diberikan kepada kami.
Dan aku beserta Kak Joon memasuki limousine tersebut, dan di dalam terdapat banyak fasilitas mewah lainnya dari LED besar, wine, makanan ringan hingga makanan berat pun ada di sajikan di dalamnya. Ini pertama kalinya aku naik limousine seperti ini dan itu pun di negara yang pertama kali ku kunjungi dan sebenarnya ini merupakan impian ku sejak remaja yaitu mengunjungi negara Korea Selatan bersama dengan Kak Joon. Dan impian ini terwujud tanpa di duga, yaitu diri ku yang pergi dinas selama dua minggu bersama dengannya.
Setelah setengah jam perjalanan kami sampai di salah satu hotel yang berada di kota Incheon. Aku turun dari limousine sambil menatap takjub hotel mewah yang ada di hadapan ku saat ini.
Pasalnya aku tak menyangka bahwa dinas kami kali ini mendapatkan fasilitas yang tak pernah ku duga.
"Mister!. Nona!. Mari ikuti saya!."(bahasa korea) Ucap lelaki yang menemani kami selama perjalanan menuju hotel tersebut.
Dan aku beserta Kak Joon sontak mengikutinya pergi ke dalam hotel. Kami pun diarahkan ke suite room yang sudah disediakan khusus untuk kami.
Kamar itu tepat mengarah ke pantai yang sangat indah bila dilihat tepat dari balkon suite room kami.
"Mister dan Nona, kalau begitu saya permisi dulu!. Senang bisa mengantar anda sampai di sini." (bahasa korea)
"Terima kasih, tuan dan terima kasih telah mengantar kan kami." (bahasa korea) Balas ku.
"Oh Nona, ternyata anda berbahasa Korea?. Sungguh menarik!." Ucap lelaki itu yang sangat terkejut karena aku yang membalasnya dengan bahasa korea.
"Aku hanya menguasai sedikit." (bahasa korea) Ucap ku.
"Tidak, anda tidak perlu merendah!. Baiklah bila tidak ada lagi yang bisa saya bantu. Saya permisi dulu!." (bahasa korea) Ucap lelaki dengan wajah sedikit tampan dan asli Korea itu.
"Saya harap, saya tidak bertemu lagi dengan anda!." (bahasa korea) Ucap Joon Woo yang seperti perkataan untuk membuat lelaki segera enyah dari hadapannya.
"Itu tidak mungkin, Mister!." (bahasa korea) Senyum lelaki tersebut yang ditujukan kepada Kak Joon.
Setelah lelaki itu pergi tinggallah kami berdua di depan kamar kami masing-masing. Saat itu suasana canggung kami kembali terjadi, dan untuk menghilangkan kecanggungan kami, aku bergegas membuka pintu ruangan dan pergi dari hadapannya.
Tapi sayangnya pintu tak kunjung terbuka karena diri ku yang salah menggunakan kartu kunci yang ada.
"Creekk!." Suara pintu yang terbuka.
Aku yang tak sadar bahwa saat itu Kak Joon membantu ku untuk membenarkan posisi kartu ku dan saat itu tubuhnya sudah sangat berdekatan dengan ku.
DEG
Degup jantung ku yang seketika berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?