
Kak Joon menatap ku dengan tatapan menyelidik nya seakan ia menginginkan sebuah kejujuran dari ku. Aku yang mengetahui dirinya yang seperti itu, berusaha bersikap biasa saja seolah-olah aku tak mengetahui maksudnya.
“Di Indonesia dulu kamu tinggal di mana?.” Tanya Kak Joon.
“Aku tidak memiliki rumah di sini.” Jawab ku yang tak jujur kepadanya.
“Aku ingat seseorang yang mirip dengan mu, hanya saja nama panggilannya berbeda.” Ucapnya sambil menatap ku dengan curiga.
“Tidak Mister, itu hanya perasaan anda saja.” Ucap ku mencoba mengelak.
“Apakah di dunia ini orang memang memiliki kembaran mereka tanpa kita ketahui?.” Tanya Kak Joon masih mencoba mencari tahu tentang diri ku.
“Mungkin saja.” Ucap ku tanpa menatap wajah Kak Joon saat itu.
Dan tak lama menu makanan pun terhidang lengkap di hadapan kami, Kak Joon pun mempersilahkan diri ku untuk menyantap hidangan yang ada. Namun aku tak pernah tahu bahwa menu di restoran ini hampir semuanya makanan laut, dan aku sangat tahu bahwa diri ku alergi terhadap makanan itu.
“Makan lah!. Aku yakin kamu sangat lapar.” Ucap Kak Joon.
“Iya.” Aku pun tanpa pikir panjang langsung mengambil menu sayuran yang paling aman ku makan diantara menu hidangan lainnya yang rata-rata makanan laut itu.
“Apa kamu tidak berselera makan?. Ku lihat kamu hanya memakan sayuran itu?.” Tanya Joon Woo.
“Ya ampun!. Apa Kak Joon tahu aku mencoba menghindari makanan laut?.” Batin ku yang merutuki diri ku yang tidak ikut memilih menu makanan.
“Apa kamu alergi makanan laut?.” Tanya Kak Joon yang lagi-lagi mencoba mencari tahu tentang diri ku.
“Tidak.” Jawab ku yang lagi-lagi berbohong.
“Kalau begitu, kamu harus memakan ini, karena aku melihat hari ini tenaga mu sudah terkuras karena presentasi tadi.” Ucap Kak Joon sambil memberikan beberapa udang dan ikan yang tersedia kepada ku.
Dan aku pun terpaksa memakannya karena takut ketahuan, rasanya mulut ini tiba-tiba saja gatal saat memakannya tapi tentunya aku berusaha menyembunyikannya.
Kemudian makan siang kami pun berakhir, dan akhirnya kami kembali ke perusahaan tanpa adanya konflik yang terjadi terkecuali kondisi tubuh ku yang harus gatal-gatal karena makan makanan laut.
“Mr. Joon, sepertinya saya harus segera kembali ke ruangan. Saya permisi!.” Aku yang bergegas ke kamar mandi untuk melihat kondisi tubuh ku saat itu.
Untungnya Kak Joon tidak curiga akan sikap ku yang terkesan buru-buru itu, ia langsung memberi izin pada ku untuk pergi terlebih dahulu.
Aku pun langsung memeriksa seluruh tubuh ku, dan ternyata seluruh tubuh ku sudah memerah karena makanan laut itu. Dan sepertinya aku harus mengambil izin pulang lebih awal karena ini.
Karena bila tubuh ku sudah memerah pastinya akan disertai panas tinggi dan gatal yang luar biasa bila terkena angin luar.
Dan aku pun menelpon atasan ku Bu Fatma untuk mendapatkan izin darinya.
“Halo Bu!. Saya baru kembali dari perusahaan W, sepertinya saya harus izin pulang lebih awal karena tiba-tiba saja saya tidak enak badan.” Ucap ku yang tidak memberitahu detail penyakit ku yang sebenarnya.
“Baiklah!. Kamu sudah bekerja keras hari ini. Beristirahatlah!.” Ucap Bu Fatma yang mengizinkan ku.
Setelah mendapatkan izin dari atasan ku, ku putuskan untuk memeriksakan kondisi ku ke rumah sakit yang terdekat dari kantor. Dan aku pun mendaftar di klinik dokter umum, dan mengambil nomor antrian yang sudah dipersiapkan.
Kemudian aku duduk di kursi antrian yang ada di depan ruangan, aku mulai memeriksa pesan yang ada di surel ku, dan ternyata itu adalah beberapa pesan dari Sesil. Dan ternyata aku lupa bila hari ini adalah jadwal ku untuk bertemu dengannya. Aku pun mulai memberi sebuah pesan ke nomor pribadi Sesil untuk minta maaf.
-Pesan-
Pengirim : Raya
“Sesil, maafkan aku hari ini tidak bisa menemui mu karena ada jadwal meeting mendadak.”
Pesan untuk Sesil dan aku harap dia tidak marah karena batal bertemu hari ini.
-Pesan-
Pengirim : Sesil
“Oh Raya, tidak apa-apa. Aku juga masih sibuk dengan pekerjaan ku saat ini.”
Rupanya Sesil tidak marah dengan ku, karena membatalkan jadwal seenaknya. Dan aku pun mencoba menawarkan jadwal penggantinya kepada Sesil.
-Pesan-
Pengirim : Raya
“Bagaimana kalau hari Minggu saja kita bertemu?.”
Dan tanpa disangka aku pun mendapatkan jawaban yang cepat darinya.
-Pesan-
Pengirim : Sesil
Aku dan Sesil akhirnya sepakat untuk bertemu di hari Minggu jam 4 sore, di Minggu ini. Dan aku pun tersenyum karena akhirnya aku bisa menemukan kawan lama ku di Indonesia, rasanya hidup yang aku takutkan akan sepi saat tinggal di Jakarta namun ternyata tidak sesepi yang ku kira.
Dan tak lama nama ku pun dipanggil untuk mendapat giliran masuk ke ruang dokter. Dan hari itu aku dikejutkan dengan penampakan dokter tampan berkacamata yang sangat langka ku lihat di setiap rumah sakit bahkan di Jerman sekalipun. Dokter itu tersenyum ramah ke arah ku dengan tatapannya yang sungguh menggoda. Dan dengan tatapan itu ia mulai menyapa diri ku dengan suaranya yang terdengar lembut namun dalam. Namun tentunya tak seindah tatapan milik Kak Joon.
“Aduhh!. Apa yang kupikirkan di saat-saat seperti ini?.” Batin ku yang merutuki kebodohan ku karena masih saja teringat wajah Kak Joon yang beberapa jam lalu ku temui.
“Nona Laras?.” Tanya Dokter itu pada ku.
“Iya dok!.” Jawab ku.
“Kenalkan saya dokter Fadil, jadi apa keluhan anda?.” Dokter itu mulai menanyakan keluhan penyakit ku.
Dan aku pun menceritakan riwayat alergi ku padanya. Dan Dokter Fadil pun menyuruhku berbaring di tempat tidur yang disediakan, tapi entah kenapa aku tiba-tiba saja merasa risih dengan semua ini. Apa aku gugup karena harus berhadapan dengan dokter Fadil yang ada dihadapan ku?. Namun aku mencoba menepisnya karena aku sangat yakin aku hanya gugup karena kondisi ku saja.
Dan Dokter Fadil pun mulai memeriksa leher sampai kaki ku yang sudah memerah karena alergi dan juga mengukur suhu badan ku saat ini. Dan benar saja kondisi ku sudah lumayan parah dan Dokter Fadil mengatakan untuk saat ini aku harus beristirahat di IGD sampai kondisi ku membaik. Dan ia pun menyuruh suster yang bertugas untuk menggiring ku ke ruang IGD yang ada. Dan aku harus berbaring di sana sementara waktu untuk beristirahat.
Aku tak menyangka ternyata kebohongan bukanlah jalan yang terbaik untuk melupakan seseorang. Buktinya karena sebuah kebohongan aku jadi terdampar di rumah sakit. Tapi bila diri ku harus jujur dan harus menghadapi Kak Joon yang seperti itu setiap hari rasanya sangat lah berat.
“Ya Tuhan!. Apa yang harus ku lakukan?. Haruskah aku terus berbohong?.” Batin ku yang tersiksa karena kebohongan.
Kemudian Dokter Fadil mendatangi ku ke IGD dan memberikan beberapa resep obat untuk ku minum. Ia juga mengambil sample darah milikku karena dikhawatirkan ada penyakit lainnya yang menyebabkan tubuhku menjadi lemah seperti ini. Dokter Fadil memberikan arahan meminum obat agar aku tidak salah dalam meminumnya dan lalu iapun pergi dengan meninggalkan senyum hangat nya kepada ku. Rasanya sudah lama aku tak melihat senyuman hangat yang seperti itu selain dari Ayah ku.
Wajah ku seketika memerah karena senyuman Dokter Fadil pada ku.
“Saya rasa tidak perlu ada yang Nona khawatirkan lagi, karena setelah meminum obat ini anda akan segera membaik.” Ucap dokter Fadil.
Lalu ia pun berlalu untuk mengurus pasien-pasien lainnya.
“Nona, apa nona sedang tersipu?.” Tanya Suster yang ada di bilik ku.
“Aku?.” Tanya ku yang sedikit malu.
“Siapa yang tidak tersipu dengan senyuman dokter Fadil?. Semua pasien di sini sangat menanti dirawat olehnya, jangankan pasien, saya pun juga ingin menjadi pasiennya.” Ucap Suster itu sambil membayangkan menjadi pasien Dokter Fadil.
“Benarkah?.” Ucap ku pada suster itu.
“Benar Nona, baiklah setelah ini beristirahatlah sejenak di sini!. Nanti kami akan kembali membawakan hasil lab." Ucap Suster itu setelah memberikan ku segelas air putih dan beberapa resep obat.
“Terima kasih, Sus!.” Ucap ku kepada suster tersebut.
Aku pun sedikit terperangah dengan ucapan suster itu, ternyata ada juga lelaki yang memiliki senyuman manis seperti biang gula. Bisa gawat nantinya kalau sampai aku terjerat oleh lelaki seperti itu, pikirku yang masih menyamakan semua lelaki seperti Darren yang sering kali tersenyum di hadapan mangsa wanitanya.
“Aku tak boleh terjerat oleh lelaki brengsek!.” Batin ku yang meyakinkan diri ku agar tak terjebak oleh lelaki playboy.
***
Di ruangan, Joon Woo seperti menunggu sebuah kabar dari seseorang hingga terlihat mengetuk-ngetuk kan jari-jarinya ke meja. Dan tak lama datanglah Dimas membawa kabar yang ditunggu olehnya.
“Mister, Nona Laras hari ini izin pulang cepat karena sakit. Saya sudah mengkonfirmasinya melalui Ibu Fatma atasannya.” Lapor Dimas.
“Sakit apa dia?.” Tanya Joon Woo yang seketika berdiri dari tempat duduknya dan terlihat panik.
“Ia hanya mengatakan pusing dan tidak enak badan. Itu saja Mister.” Ucap Dimas.
“Apa?.” Ucap Joon Woo yang masih terlihat panik.
“Apa benar kamu adalah Raya yang ku kenal Laras?. Kenapa kamu tidak mengakuinya?.” Gumam Joon Woo.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Mister?.” Tanya Dimas pada Joon Woo.
“Tidak, kau sudah boleh pergi!.” Lalu Dimas pun segera berlalu dari hadapan Joon Woo.
“Dimas!.” Panggil Joon Woo.
Dimas yang mendengar panggilan dari bosnya langsung membalikkan arah tubuhnya.
“Iya, Mister.” Jawab Dimas.
“Bawakan semua data mengenai Laras dari bagian HRD!.” Pinta Joon Woo.
Rupanya Joon Woo sudah tidak tahan dengan kebohongan Laras, karena ia meyakini bahwa Laras adalah Raya teman kecilnya yang hilang secara misterius delapan tahun yang lalu.
“Aku harus mencari kebenarannya.” Gumam Joon Woo.