
Berlin, Jerman Siang Hari.
"Pak, Farid. Apa kabar anda hari ini?." (bahasa jerman) Seorang wanita bule dengan umur kira-kira 60 tahunan menyapa Farid, Ayah Raya yang sedang duduk santai di sebuah restoran pinggir jalan.
"Halo, Nyonya Maria. Aku baik, bagaimana dengan mu?." (bahasa jerman) Sapa balik Farid.
"Kudengar anak mu, Raya. Sedang dinas di Indonesia?. Apa benar?." (bahasa jerman) Tanya wanita paruh baya yang bernama Maria itu.
"Iya, itu benar Nyonya." (bahasa jerman) Jawab Farid.
"Apa anak mu sudah menikah?." (bahasa jerman)Tanya Nyonya Maria yang sontak membuat wajah Farid berubah seketika. Pasalnya pertanyaan itu adalah hal yang tabu baginya.
"Belum Nyonya, tapi dia sudah memiliki calon." (bahasa jerman) Jawab Farid dengan percaya diri. Seakan ia tak peduli dengan penolakan anaknya Raya bahwa ia tak ingin dijodohkan. Namun tekadnya sudah bulat untuk menjodohkan Raya dengan menantu pilihannya siapa lagi kalau bukan Darren.
"Benarkah?. Aku sudah tak sabar untuk menghadiri pesta pernikahan anak mu itu. Kau pasti tak lupa untuk mengundang ku, bukan?." (bahasa jerman) Tanya Nyonya Maria dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja Nyonya Maria, aku tak akan pernah lupa untuk mengundang mu." (bahasa jerman) Ucap Farid yang sedikit ragu.
"Apakah calon menantu mu orang Jerman?. Atau orang Indonesia?." (bahasa jerman) Tanya Nyonya Maria lagi.
"Tentu saja, dia asli sini." (bahasa jerman) Dengan lantang Farid menjawab pertanyaan dari Nyonya Maria.
"Oh, syukurlah. Aku pikir ia akan mendapatkan jodoh di Indonesia, karena pasti setelah itu ia akan ikut suaminya menetap di sana. Dan aku tak bisa berjumpa dengan kalian lagi." (bahasa jerman)
"Dia akan tinggal di sini bersama suaminya tentunya. Karena aku berharap demikian." (bahasa jerman) Ucapan penuh harapan dari Farid kepada putrinya.
Namun yang terjadi anaknya menolak keinginan terakhir sang Ayah untuk memberikannya cucu. Tapi Farid tak akan mau menyerah dan masih tetap bersikukuh untuk menjodohkan Raya dengan Darren bagaimanapun caranya, karena dia sangat tahu Darren adalah lelaki baik dan sangat mencintai Raya dengan tulus.
Ya, Farid sudah tahu bahwa Darren sangat mencintai putrinya Raya. Ia melihat dari tatapan diam-diam yang diarahkan Darren terhadap Raya. Ia sangat tahu tatapan itu adalah penuh cinta. Untuk kebiasaan Darren yang sering bergonta ganti pasangan pun sebenarnya Farid sudah mengetahuinya. Namun ia tak mempermasalahkan hal tersebut, karena Darren mengingatkan dirinya yang memiliki hobby yang sama seperti Darren saat dirinya masih muda.
Tapi setelah bertemu Samira mendiang istrinya, kebiasaannya pun lambat laun ditinggalkannya. Samira dapat merubah dirinya yang bejat menjadi seorang lelaki yang tergila-gila hanya kepada satu wanita. Samira mampu merubah dunianya yang gelap menjadi terang. Dan Samira mampu membuat dirinya mengerti arti menghargai dan menyayangi. Karena hal itulah ia percaya bahwa Darren mampu menyayangi Raya sama seperti dirinya yang menyayangi Samira.
Untuk itulah ia sangat berharap bahwa Darren dapat menjadi menantunya suatu hari nanti.
"Raya, mengertilah Ayah mu ini." Batin Farid kala itu.
***
POV Raya
"Ha.. ha.. ha.." Suara gelak tawa menggema di ruangan yang berada di lantai 28 tempat di mana divisi ku berada.
"Kamu benar mau nikah?." Tanya Septi sambil menahan tawa, namun tetap saja ia tak dapat menahannya. Septi kembali tertawa terbahak-bahak.
"Hei!. Kali ini aku serius mau nikah!. Suer!." Tegas Zul pada Septi.
"Apa yang akhirnya buat kami memilih jalan untuk menikah?. Apalagi baru beberapa bulan yang lalu kamu bersumpah gak akan nikah!. 'Sumpah aku gak akan pernah nikah!. Karena menikah itu gak ada di kamus ku!'." Ucap Septi Sambil meniru ucapan dari Zul.
"Ih!. Undangannya diterima gak?." Tanya Zul yang sudah mulai kesal dengan ocehan Septi.
"Baik!. Baik!. Aku janji akan datang ke nikahan kamu. Suer!." Ucap Septi sambil membuat janji dua jari.
"Kamu datang juga kan, Raya?." Ajak Zul pada ku saat itu.
"Hhmm... ok." Jawab ku.
"Eh!. Eh!. Tapi kita harus janji nih!. Kalau kali ini kita pergi dengan pasangan masing-masing?. Janji?." Septi yang berharap pada ku.
"Mudah-mudahan."
"Kok?. Mudah-mudahan?." Tanya Septi yang terkejut dengan jawaban ku.
"Ya.. aku bingung mau ajak siapa?."
"Ya, pacar kamulah!. Memangnya siapa?." Tegas Septi.
"Hhmm.."
"Kalau belum punya pacar. Kan ada si bule tampan yang selalu siap nemenin kamu tuh!." Goda Septi yang mengarah pada Darren.
"Aku tidak mungkin mengajaknya." Jawab ku.
"Kenapa gak mungkin?. Pasti dia mau kan?. Bukannya dia teman dekat mu?." Sanggah Septi.
"Mana mungkin aku bilang kalau aku udah nolak dia, trus dia marah sama aku?. Hadeuhh bagaimana ini?." Batin ku lagi.
"Eh.. tapi kalau dipikir-pikir si bule kok udah lama gak kelihatan ya?. Biasanya dia diam-diam samperin kamu ke sini?." Tanya Septi penasaran.
Aku yang hanya menaikkan bahu sebagai jawabannya. Dan memang benar aku tak tahu keberadaan Darren sampai saat ini, karena sejak kejadian penolakan itu aku selalu menghindarinya. Mungkin begitu pun dengan dia, padahal aku sebenarnya berharap bahwa kami dapat kembali lagi seperti dulu.
"Tak!. Tok! Tak! Tok!." Suara heels menaiki tangga.
"Ada apa?." Semua mata tertuju ke arah tangga yang ada di bawah ruangan kami.
Dan ternyata itu adalah Viola salah satu sekretaris direksi yang terkenal sebagai tukang gosip di kantor ini.
"Gaswat!. Gaswat!." Teriaknya.
"Ada apa sih?." Teriak Septi yang memang kurang menyukai wanita tengil itu. Wanita yang diam-diam sering mencoba menggoda Kak Joon dengan akal muslihatnya.
"Hei!. Biasa aja dong nanyanya?. Kamu ada masalah sama saya?." Teriak Viola menjawab pertanyaan Septi.
"Kamu yang biasa aja!. Datang!. Datang!. Udah seperti orang kesetanan!." Kesal Septi.
"Eh!. Terserah donk aku mau kayak gimana? Yang penting aku bawa kabar penting!." Lalu dalam sekejap Viola pun dikerumuni para karyawan yang selalu menunggu gosip darinya.
"Hari ini, Nyonya Jane datang!." Ucap Viola yang seketika membuat ku terdiam. Dan Septi pun yang melihat ku tiba-tiba tercengang itu langsung bertanya.
"Ada apa Raya?."
"Tidak, tidak apa-apa." Jawab ku agar Septi tak curiga.
Aku tak menampik bahwa hal itu membuat ku terkejut, pasalnya aku tak tahu tujuan Jane datang ke kantor ini.
"Kenapa Nyonya Jane tiba-tiba datang?." Tanya salah satu karyawan wanita yang ada di sekitar Viola.
"Hush!. Nyonya Jane!. Sudah mantan!." Tegas karyawan yang lain.
"Dengar ya!. Nyonya Jane sepertinya datang ingin rujuk dengan Mr. Joon." Ungkap Viola.
"Hah?. Rujuk?." kata-kata kompak yang diucapkan seluruh karyawan yang mendengarnya.
Dan sontak aku pun menjatuhkan tutup gelas yang saat itu sedang kupegang.
"Prang!."
"Raya?. Kamu kenapa?." Tanya Septi dan Zul bersamaan.
"Enggak kok, aku gak kenapa-kenapa?." Jawab ku yang lagi-lagi ingin menutupi perasaan ku saat itu.
"Wah!. Sepertinya akan ada pesta besar!." Ucap Zul.
"Pesta besar apa?." Tanya Septi.
"Ya, pernikahan lah!. Kan mereka mau rujuk!."
"Mana mungkin mereka rujuk?. Bukannya Mr. Joon yang menalaknya?." Ucap Septi.
"Kamu salah!. Nyonya Jane lah yang menalaknya, karena sebenarnya Mr. Joon masih sangat mencintai Nyonya. Hanya karena ingin Nyonya Jane bahagia, akhirnya ia melepasnya pergi. Begitulah cerita yang sesungguhnya." Ungkap Zul yang seperti mengarang cerita itu dengan indah.
"Kamu tahu dari mana?." Tanya Septi tak percaya.
"Yah, itu kan udah rahasia umum. Kamu aja yang gak tahu." Balas Zul.
Aku memang tak banyak tahu soal masa lalu Jane dan Kak Joon. Yang aku tahu Jane telah menelantarkan anaknya Leon hanya untuk mengejar karirnya. Namun tiba-tiba saja aku teringat akan perkataan Jane yang berkata bahwa diri ku lah penyebab mereka bercerai. Dan sampai detik ini aku tak sempat bertanya soal hal tersebut kepada Kak Joon karena akhir-akhir ini aku fokus dengan masalah Ratna.
"Apa aku harus bertanya padanya?." Batin ku.