Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 14 : Minta Maaf?



Aku tertunduk lesu dan berjalan menuju lift bersama rekan se-tim ku, walau raga ini bersama yang lain pikiran ini tertuju pada seorang lelaki tampan berjas hitam yang baru saja kutemui. Kak Joon adalah bos dari tempat di mana aku bekerja, entah apa yang Tuhan rencanakan pada ku?. Yang jelas aku harus berusaha sebisa mungkin menghindarinya karena dia adalah pria beristri, aku takut jantung ini kembali berdebar tak karuan bila berhadapan dengannya.


Tekad ku sudah bulat aku bergegas kembali ke meja, kemudian menuliskan sebuah kata yang harus selalu ku ingat “Good Bye Mr. Joon.” Ku tuliskan itu di buku catatan ku.


“Laras?. Kamu gak apa-apa?.” Tanya Septi pada ku yang sudah berada di samping meja ku.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Jawab ku berusaha bersikap biasa agar tak ketahuan.


“Apa kamu mengenal Mr. Joon?.” Tanya Septi.


“Tidak, bagaimana aku bisa mengenalnya?.” Jawab ku yang berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa aku sangat mengenalnya.


“Tidak, hanya saja dia sepertinya mengenal mu.” Ucapnya yang ragu akan jawaban ku.


“Baiklah, tidak apa-apa. Oh ya bagaimana dengan warung makan yang kita kunjungi tadi?.” Tanya Septi mencoba mengalihkan perhatian.


“Warung tadi? Oh.. sangat enak dan menunya juga variatif.” Jawab ku yang memang apa adanya.


“Lain waktu aku akan membawa mu mengunjungi tempat makan lainnya yang murah tapi rasa masakannya mantap pastinya.” Ucap Septi lalu melangkah kembali ke mejanya berada.


Aku hampir saja harus menahan nafas atas setiap pertanyaan yang Septi ajukan pada ku. Karena aku belum siap untuk menceritakan kisah ku pada siapa pun, setelah sekian tahun aku mencoba untuk melupakan hal itu, rasanya belum siap untuk membuka luka lama.


“Tring!.” Sebuah pesan yang berasal dari surel ku.


Ternyata sebuah pesan dari teman se-fakultas ku Sesil. Sesil adalah teman se-fakultas ku yang juga sedikit dekat dengan ku namun lebih tepatnya lebih dekat dengan Ratna. Aku beberapa minggu ini terus menghubunginya untuk mengetahui kabar dari Ratna. Dan ternyata isi pesan darinya hari ini adalah bahwa ia menemukan sebuah petunjuk mengenai Ratna. Dan aku akan menemuinya besok sore untuk mendapatkan kabar dari Ratna.


Aku pun membalas surel darinya dan memberitahunya tempat di mana kami akan bertemu besok sore. Setelah itu aku mulai membuka kembali buku catatan ku dan menuliskan sebuah alamat agar aku mengingatnya dan memberi tanda lingkaran merah di sana. Kemudian aku melanjutkan pekerjaan ku untuk merapihkan bahan-bahan design untuk dipresentasikan sore ini.


***


Di ruangannya Joon Woo menatap jendela dengan tatapan yang datar seolah mata dan pikirannya tidak berada di tempat yang sama. Lalu tak lama Dimas masuk ke ruangannya dan memberikan sejumlah berkas kepadanya.


“Ini semua berkas design dari perusahaan FX, Mister.” Ucap Dimas.


Kemudian Joon Woo memeriksanya satu per satu dengan sedikit terburu-buru sepertinya ia penasaran akan sesuatu, namun sepertinya ia tak menemukan satupun yang ia cari.


“Di mana design yang ku pilih waktu itu?.” Ucap Joon Woon kepada sekretarisnya.


“itu ditempat yang berbeda, karena aku sudah memisahkannya.” Jawab Dimas lalu bergegas mengambil design yang dicari Joon Woo.


Lalu Dimas masuk kembali dan memberikan design yang dimaksud. Joon Woo menatap dengan seksama design yang ada di tangannya, sepintas ia teringat dengan sebuah sketsa yang pernah ia lihat.


“Aku mengingat guratan tangan ini. Aku sangat mengenalnya.” Gumam Joon Woo.


“Apa benar wanita yang aku temui tadi adalah designer yang telah dikirimkan oleh perusahaan FX?.” Tanya Joon Woo.


“Ya, benar Mister.” Jawab Dimas.


“Siapa namanya?.” Tanya Joon Woo sekali lagi.


“Laras, Mister.” Jawab Dimas.


“Laras?. Apa aku salah hingga mengenalinya sebagai Raya?.” Gumam Joon Woo.


“Ada yang salah, Mister?.” Tanya Dimas sambil memperhatikan gerak-gerik bosnya yang terlihat sedikit aneh itu.


“Tidak, tidak ada Dimas. Kita harus langsung ke ruang meeting, bukankah kita harus bertemu dengan designer itu?.” Ucap Joon Woo yang sepertinya mood nya berubah seratus persen untuk meeting kali ini.


Joon Woo lalu melangkahkan kakinya menuju ruang meeting dengan semangat yang lebih dari biasanya. Dan Dimas yang melihat itu sedikit dibuat heran dengan tingkah bosnya.


***


POV Raya


Sore itu aku harus berhadapan dengan bos dari perusahaan ku, siapa lagi kalau bukan Mr. Joon yang merupakan teman masa kecil ku sekaligus cinta pertama ku selama 12 tahun lamanya. Aku melihatnya memasuki ruangan dengan tatapan yang sedikit menatap ke arah diri ku. Namun aku tak mempedulikannya, aku berusaha menjaga pandangan ku dari dirinya. Hingga sampai pada saat di mana nama ku di sebut olehnya.


“Nona Laras?.” Panggil Kak Joon pada ku yang saat itu sedang serius dengan laptop ku.


“Ya, saya Mister.” Jawab ku.


“Apa anda bisa mempresentasikan sendiri design anda?.” Ucap Kak Joon yang menginginkan diri ku untuk maju dan mempresentasikan design ku padanya.


Lalu aku pun maju dan mulai mempresentasikan design ku padanya. Aku mempresentasikannya tanpa menatap intens wajahnya yang saat itu tengah tertuju pada ku. Bukan karena aku tegang, hanya aku tak ingin ia mengenali diri ku.


“Bagaimana anda mendapatkan inspirasi dari design yang anda ajukan kali ini?.” Tanya Kak Joon pada ku.


Pertanyaan ini sepertinya adalah sebuah pertanyaan dengan maksud yang lain, entah aku merasakannya hanya dari tatapan matanya pada ku.


Aku pun memperlihatkan sebuah rumah klasik yang aku sempat foto dan menguploadnya di media sosial milikku.


“Saya memiliki beberapa contoh rumah klasik yang ada di Jerman tempat saya tinggal. Dan saya menyukainya dan saya rasa rumah ini sangat cocok untuk menjadi hunian yang ada di cluster tersebut. Apalagi design ini masih belum ada yang melakukannya di Indonesia. Selain sangat Homy, ini juga bisa menjadi terobosan baru sebagai hunian elite yang klasik tapi elegan.” Jawab ku dengan detail dan sejelas-jelasnya.


Namun Kak Joon tak membiarkan ku begitu saja. Ia lalu menanyakan sebuah pertanyaan kembali yang membuat ku semakin yakin bahwa ia berusaha untuk mencari tahu tentang diri ku.


“Sudah berapa lama anda tinggal di Indonesia?. Sepertinya anda sangat tahu dengan jelas bahwa di lokasi yang akan kita bangun akan cocok dengan design anda?.” Tanya Kak Joon yang ingin diri ku meyakinkannya sekali lagi.


“Saya lahir di sini, dan saya tinggal hingga saya lulus kuliah di sini.” Jawab ku.


“Bukankah anda adalah lulusan Arsitektur di Jerman, bagaimana anda bisa kuliah di sini?.” Tanya Kak Joon yang kali ini sedikit membuat diri ku geram, pasalnya ia seperti menguji kesabaran ku.


“Mr. Joon, anda bisa memeriksa riwayat saya kepada HRD. Sepertinya saya tidak harus menjelaskannya di meeting ini, karena saya rasa meeting ini hanya untuk membahas design untuk project kali ini. Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi saya sudahi saja presentasi saya, terima kasih.” Lalu aku pun kembali ke kursi tempat ku sebelumnya.


Namun tiba-tiba saja Kak Joon menyebutkan sesuatu saat diri ku melewatinya.


“Aku tahu kamu adalah teman kecil ku.” (Bahasa Korea) Ucap Kak Joon yang tampaknya tahu bahwa aku mengenal dirinya.


Tapi aku mencoba berpura-pura tak mengerti dan berlalu begitu saja.


“Baiklah!. Saya rasa design ini cukup bagus untuk kita coba di project kali ini!.” Tegas Kak Joon kepada semua yang menghadiri meeting.


Dan ia pun lalu mengakhiri meeting tersebut dan kembali ke ruangannya bersama Dimas.


Aku pun merasa lega karena akhirnya meeting kali ini lancar meski sedikit menghadapi kendala karena Kak Joon mencoba mengacaukan presentasi ku.


Dan aku pun merasa sedikit lelah hari ini lalu bergegas ke toilet untuk sekedar membasuh wajah ku. Namun tak disangka aku dikejutkan dengan seorang anak kecil yang berlari memasuki koridor toilet kantor. Dan aku pun tak sengaja menabraknya hingga ia dan diri ku terjatuh bersamaan.


“Aduhhh!.” Pekik Anak kecil itu.


Dan aku pun mulai mengangkat wajah ku dan melihat ke arah anak kecil yang terjatuh itu. Dan tak disangka ia anak kecil yang ku temui di depan lift yang telah melempar bola ke arah ku. Dan ia adalah anak dari Kak Joon.


“Ternyata kamu si wanita jelek itu?.” Ucap anak lelaki itu meledek ke arah ku.


“Sial sekali aku, bertemu dia tiga kali.” Gerutu ku yang kesal karena ucapan anak itu, namun aku tidak bisa berkata apapun karena dia adalah anak Kak Joon yang merupakan bos di mana tempat ku bekerja.


“Maafin Tuan Kecil ya Non. Dia memang begitu kalau berlari suka seenaknya.” Ucap Suster yang bersamanya.


“Tidak apa-apa, Bi. Maklum anak kecil.” Ucap ku sambil tersenyum kaku.


“Suster!. Kenapa Suster Minta maaf!. Yang harus minta maaf itu dia!. Karena jalan gak punya mata!.” Teriak anak kecil itu.


“Eh maks…” Aku yang hampir saja mengeluarkan sumpah serapah ku kepada anak itu.


“Tuan Kecil gak boleh gituh!. Tuan Kecil harus minta maaf karena Tuan Kecil berlari sembarangan!.” Ucap Suster itu kepada anak itu.


Namun sepertinya anak itu tak mau mengalah pada ku dan tetap memilih melawan diri ku.


“Aku gak mau minta maaf sama wanita jelek ini!.” Teriak anak itu sambil menunjuk ke arah ku.


“EEhh..” Aku yang hampir mengeluarkan sumpah serapah ku tiba-tiba terhenti karena suara dari seseorang.


“Leon!.” Ucap seseorang yang berasal dari arah belakang ku.


“Daddy?.” Ucap anak itu seperti sedikit ketakutan.


“Minta maaf!.” Perlahan suara itu mendekati ku dan ternyata Kak Joon sudah berada tepat di samping ku.


“Cepat!. Minta maaf!.” Ucap Kak Joon sekali lagi.


“Maafkan aku.” Anak itu langsung tertunduk dan mengikuti perintah Kak Joon.


Entah kenapa ada rasa bersalah melihat dirinya yang tertunduk itu. Aku merasa sepertinya ada yang salah dengan ini.


“Kenapa dia harus minta maaf?.” Tanya ku sambil menatap Kak Joon yang berada di samping ku.


Dan Kak Joon kemudian menatap ku dengan penuh tanda tanya, karena ucapan ku saat itu.