
Di Sebuah Hotel bintang lima yang ada di Jakarta
"Sherly!!." Teriak seorang wanita dari ujung koridor yang ada di bar hotel.
"Sher, dipanggil tuh sama mak Lampir." Ucap salah satu pelayan bar wanita.
"Iya, mba. Aku samperin Bu Chaterine dulu." Ucap wanita yang bernama Sherly itu.
Akhirnya setelah menuangkan minuman ke salah satu gelas tamunya ia beralih ke wanita yang memanggil keras dirinya.
"Iya Bu, ada apa memanggil saya?." Tanya Sherly kepada Bu Chaterine.
"Itu ada yang cari kamu. Katanya pacar kamu." Ucap wanita beralis tegas tersebut namun memiliki tubuh seksi layaknya wanita penghibur.
"Siapa Bu. Saya gak punya pacar."
"Ish!. Jangan bohong!. Udah dua kali lelaki itu kemari mencari mu!. Kau jangan membuang waktu!. Cepat kau temui dia, sebelum pekerjaanmu jadi terbengkalai karenanya!." Tegas Bu Chaterine.
"I..iya Bu. Saya segera ke sana." Jawab Serly lalu bergegas pergi menemui lelaki yang dimaksud wanita itu.
Setelah itu Sherly pun mencari lelaki yang dimaksud Bu Chaterine namun ia tak menemukan lelaki tersebut. Lalu tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang.
"Ayo tebak siapa?." Seorang lelaki menutup kedua mata Sherly dari arah belakang.
"Siapa?. Apa kamu Tommy?." Tebak Sherly.
"Ah gak asik masa kamu bisa tahu kalau itu aku?." Ucap lelaki yang bernama Tommy itu lalu membalikkan tubuh Sherly ke arahnya.
"Ngapain kamu ke sini?." Tanya Sherly.
"Yah ngapain lagi karena kangen kamu lah!." Ucap Tommy tanpa malu-malu.
"Tom, sudah aku bilang jangan pernah mengharap aku lagi. Aku gak punya perasaan sedikit pun dengan mu." Ucap Sherly pada lelaki itu.
"Sher, kamu sekejam itu sama aku. Aku kurang apa Sher?. Sudah empat tahun lamanya aku menunggu mu. Tapi apa yang ku dapat?. Kamu menolak ku ber kali-kali." Ucap Tommy dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu tahu bagi ku kamu tak lebih dari seorang sahabat. Dan lagi aku sekarang sedang fokus dengan keluarga ku. Aku harus menemukan Kakak ku Ratna yang hilang, dan kondisi perekonomian keluarga ku juga tidak baik-baik saja. Aku harus fokus dengan mereka." Ungkap Sherly kepada Tommy.
Sherly adalah adik Ratna yang sudah lama terpisah akibat ulah si renternir. Ia, Ibu dan adik laki-lakinya sedang bersembunyi di daerah pinggiran Jakarta, tepatnya di salah satu daerah kumuh di Jakarta Pusat. Ia dan keluarganya terpaksa tinggal di sana demi menghindari Pak Mansur, Ayah Jalal.
Dan sekarang ia bekerja sebagai pelayan bar di salah satu hotel bintang 5 yang ada di Jakarta. Sedang Ibunya membuka warung makan kecil-kecilan di bawah jembatan untuk membiayai sekolah dan menyambung hidup.
"Aku janji Sher, setelah aku lulus aku akan menjadi orang sukses dan melamarmu. Dan kamu beserta keluargamu tidak akan kesusahan nantinya." Ucap tulus Tommy kepada Sherly.
"Aku tahu kamu akan jadi orang sukses. Tapi setelah itu aku yakin, Ayahmu tidak akan merestui hubungan kita, karena aku miskin." Ucap Sherly yang memang benar adanya, pasalnya Ayah Tommy tak menyukai Sherly karena sudah jatuh miskin.
Meski dulu Ayah Tommy dan Ayah Sherly berteman dekat, namun begitu kondisi keuangan mereka merosot sikap Ayah Tommy terhadap keluarganya mulai berubah. Bahkan ia sempat melarang Tommy untuk berdekatan dengan Sherly.
"Sudah ya, Tom. Aku harus kerja takut Bu Chaterine marah." Ucap Sherly.
"Sher, tapi jujurlah pada ku. Apa tidak ada sedikit pun perasaan mu kepada ku?." Tanya Tommy yang mengharapkannya.
Wajah Sherly seketika ragu.
"Tom, sebenernya aku udah lama suka sama kamu. Tapi mau bagaimana lagi, aku ini miskin bahkan sekarang aku sudah tidak suci lagi." Batin Sherly menangis mengingat kenyataan itu.
"Kalau saja malam itu tidak terjadi."
Flash Back satu bulan lalu.
"Hei, tampan kamu mau aku temani?." (bahasa inggris)
"Siapa kamu?." (bahasa inggris) Tanya pria bule tampan yang sedang mabuk parah di hadapannya.
"Sayang, aku temani ya?." (bahasa inggris) Wanita itu masih berusaha menggodanya lagi.
Namun tiba-tiba saja lelaki bule itu pingsan dan berakhir dipelukan wanita penghibur itu. Langsung saja wanita itu membopong bule yang tak sadarkan diri tersebut dan membawanya menuju salah satu kamar hotel.
Kala itu wanita itu tak sengaja berpapasan dengan Sherly yang hendak membawakan minuman ke salah satu kamar hotel di koridor tersebut.
Wanita itu tampak keberatan membawa lelaki bule itu hingga tak sengaja menjatuhkannya. Tepat di saat Sherly melewatinya dan...
"Brukk!." Pria itu terjatuh di atas tubuh Sherly.
"Hey perempuan!. Jangan diam saja!. Bantu aku mengangkatnya!." Ucap wanita itu dengan nada kesal karena melihat mangsanya malah jatuh ke pelukan wanita lain.
Namun yang ada lelaki itu tak mau lepas dari Sherly dan malah meracau tak jelas.
"Raya, kau kah ini?. Kamu sangat cantik sayang!." Ucap lelaki itu yang tak lain adalah Darren yang saat itu sedang patah hati karena Raya.
"Hei!. Kamu malah bengong. Bawa dia kepada ku!. Kau dengar!." Teriak wanita itu yang semakin kesal dengan Sherly.
"Ma.. maaf tapi saya juga tidak bisa bangun mba."
Lalu wanita itu berusaha mengangkat Darren. Namun Darren malah semakin mendekap Sherly dan menatapnya dengan penuh gairah. Darren pun mengangkat tubuh Sherly dan tanpa sadar iapun mencium Sherly dengan nafsu kemudian menariknya ke sebuah kamar yang sudah terbuka oleh wanita yang membawanya tadi.
"Hei!. Kalian mau ke mana?." Teriak wanita itu ketika melihat Darren malah menutup kamar hotel tersebut.
Di dalam Sherly berusaha melepaskan Darren, tapi yang ada Darren mengunci gerakannya. Dan akhirnya terjadilah kejadian satu malam itu. Di mana Sherly dikira sebagai wanita bayaran, walaupun memang setengahnya benar karena ia tak menolak bayaran dari Darren mengingat ia juga butuh uang untuk biaya sekolah adiknya. Namun di sisi lain Sherly hanyalah seorang gadis muda berusia 19 tahun yang masih suci. Dan kesuciannya diambil paksa oleh Darren yang sedang tak sadarkan diri kala itu.
Flash Back Selesai.
"Daddy!. Mana Mommy?." Tanya Leon begitu sadar bahwa Raya tak ada bersama Joon Woo.
"Beberapa hari ini Mommy akan tinggal di apartemennya bersama Kakek." Mendengar kata Kakek Leon pun menjadi penasaran.
"Kakek siapa?."
"Ayah Mommy mu."
"Wah asik!. Kapan Leon bisa ketemu Kakek, Daddy?." Tanya Leon yang bersemangat ingin bertemu dengan Ayah Raya.
"Aku harus berkata apa pada anak ini?." Batin Joon Woo yang bingung dengan jawabannya.
"Leon, ayo makan!. Nasinya nanti dingin!. Teriak Ratna dari kejauhan yang melihat gelagat aneh Joon Woo berusaha untuk menyelamatkannya dari pertanyaan Leon.
"Ayo kita ke ruang makan saja!. Aunty mu sudah menunggu." Pinta Joon Woo agar Leon menuruti perintah Ratna.
Melihat Leon pergi tak lama Ratna pun mendekati Joon Woo yang sedang melangkah menuju kamarnya.
"Mister, apa Ayah Raya sudah datang?." Tanya Ratna yang langsung menghentikan langkah Joon Woo.
"Iya." Jawab Joon Woo lesu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?." Tanya Ratna lagi.
"Yah begitulah. Tapi lebih baik kita bicarakan nanti setelah makan malam." Pinta Joon Woo lalu melangkah kembali menuju kamarnya.
"Baiklah!."
"Sepertinya ada yang tidak beres. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Joon Woo dan Ayah Raya?." Batin Ratna menerka-nerka.