
"Tok!. Tok!. Tok!."
"Masuk!."
"Maaf, Mister. Ada seseorang yang ingin menemui anda." Ucap Dimas sedikit ragu-ragu.
"Siapa?." Tanya Joon Woo pada Dimas.
"HHmm.. itu Mister." Dimas yang masih menjawab ragu-ragu sambil matanya yang sedikit mengarah ke belakang pintu.
"Siapa Dimas?. Ada apa dengan mu hari ini?." Tanya Joon Woo yang mulai kesal dengan asistennya itu.
"Ini aku, Joon." Ucapan seorang wanita yang menyela masuk melewati Dimas.
Mata Joon Woo pun sontak mengarah ke asal suara yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Jane sang mantan istrinya.
"Apa kamu tak merindukan ku?." Tanya Jane dengan sangat percaya diri. Jane masih terlihat cantik seperti biasanya, ia datang dengan anggun layaknya model papan atas sungguh sangat mencolok bila ia berjalan melalui para karyawan Joon saat ini. Hingga di luar ruangan masih terdengar suara gaduh karyawan yang ingin melihat tamu siapa yang datang mengunjungi bos nya itu.
"Jane?." Dengan tatapan dingin ia menyapa mantan istrinya.
"Tutup pintunya Dimas!. Tinggalkan kami berdua!." Pinta Joon Woo yang tak ingin suara gaduh di luar sana mengganggunya.
"Baik, Mister." Dimas pun pergi menutup ruangan itu dan tinggallah Joon Woo dan Jane berdua saja.
"Joon."
"Mau apa kau kemari?." (bahasa korea) Tanya Joon Woo dengan tatapan dingin.
"Aku jauh-jauh datang dari Korea hanya untuk menemui dirimu dan anak kita, Leon. Dan sekarang aku hanya mendapatkan pertanyaan itu dari mu?." (bahasa korea) Jane yang kecewa dengan reaksi Joon Woo.
"Lalu apa yang kau harapkan dari ku?." (bahasa korea)
"Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu. Aku sudah menyerah pada karir ku, dan aku siap untuk menemani mu dan Leon." (bahasa korea) Ucapan tidak tahu malu yang terucap dari mulut Jane.
"Heh!." Joon Woo hanya bisa menarik sudut bibirnya membalas ucapan Jane.
"Bukannya itu yang dari dulu kamu harapkan. Aku tahu waktu itu kamu hanya ingin kepastian dari ku dan aku sudah siap meninggalkan dunia model saat ini." (bahasa korea)
"Apa karena mereka sudah tahu identitas mu?." (bahasa korea) Perkataan Joon Woo yang bak seperti sambaran petir bagi Jane.
"Apa maksud mu?." (bahasa korea)
Joon Woo pun mencari sebuah sumber di halaman Guugle (bacanya gugle) lalu memperlihatkannya ke arah Jane. Di halaman itu tertulis "Model kenamaan Jane ternyata sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak." Jane yang melihat itu sontak langsung memundurkan sedikit langkahnya karena sangat terkejut kalau berita mengenai dirinya bahkan sudah menyebar hingga ke Indonesia.
"Kau pikir aku tidak tahu?." (bahasa korea).
"Joon, bukan begitu." (bahasa korea)
"Sudahlah Jane!. Aku sudah mengingatkan diri mu bahwa kau tak bisa membohongi dunia terus menerus. Lambat laun mereka akan tahu identitas mu." (bahasa korea)
Jane yang mendengar itu langsung terduduk lemas. Mungkin ia hanya ingin sembunyi dari kenyataan saat ini, dan diterima oleh mantan suaminya kembali tapi reaksi yang dirinya dapat tak seperti harapannya.
"Jane, dulu aku sudah memberi mu kesempatan. Aku pun sudah menyerah dengan masa lalu ku dan mencoba menerima mu, tapi apa yang kudapat?. Kau bahkan menyerah terhadap anak mu sendiri, darah daging kita dan lebih memilih masa depan mu, karir mu. Dan lihat diri mu saat ini?. Kau pikir aku akan berlapang dada menerima mu kembali?." (bahasa korea) Joon Woo yang berdiri mendekati Jane ke tempat duduknya.
"Kau salah!. Dan sekarang lebih baik kau pergi dari sini segera!. Aku sudah tak sudi melihat mu!. Dan jangan berani menemui Leon!. Kau sudah tidak memiliki hak atas Leon!." (bahasa korea) Tegas Joon Woo.
"Tidak!. Leon anak ku!. Dan selamanya dia adalah anak ku, kau tak bisa merebutnya!." (bahasa korea) Ucap Jane yang masih mencoba berdalih.
"Heh!. Anak mu?. Apa aku tak salah dengar?." (bahasa korea)
"Iya!. Dia anak ku aku yang mengandungnya!. Aku yang melahirkannya!." (bahasa korea) Tegas Jane.
"Ya, itu memang benar. Tapi apa kamu menyusuinya?. Apa kamu mengurusnya?. Apa kamu bahkan menganggapnya anak?." (bahasa korea)
Ucapan Joon Woo yang membuat Jane bergetar dan tak bisa membalas kata-katanya. Ia hanya berdiri dan tak berani menatap mata Joon Woo saat ini.
"Benar kan?. Untuk itu kau tak berhak atasnya!. Pergi sekarang juga!. Aku tak ingin melihatmu lebih lama lagi!." (bahasa korea) Usir Joon Woo.
"Dimas, segera bawa pergi Nona Jane dari ruangan ini!." Joon Woo yang menyuruh Dimas untuk membawa pergi Jane melalui pesawat telepon.
Lalu Dimas pun masuk dan mempersilahkan Jane untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu. Dan Jane pun akhirnya menurut, mungkin saja agar dirinya tak terlihat begitu memalukan dihadapan Joon Woo sehingga memilih menuruti perintah Dimas begitu saja.
Setelah mengantar Jane Dimas pun kembali ke hadapan Joon Woo, dan dia yakin kali ini dia akan dimarahi habis-habisan karena telah membiarkan Jane masuk ke ruangannya.
"Dimas."
"Ya, Mister."
"Kamu tahu kesalahanmu?."
"Iya mister."
"Untuk itu jangan pernah lagi kau biarkan wanita itu menginjakkan kaki ke perusahaan ku. Apalagi sampai masuk ke ruangan ku!. Kau mengerti!." Tegas Joon Woo yang tak ingin Dimas melakukan kesalahan yang sama.
"Maaf, Mister. Saya tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama." Ucap Dimas yang merasa sangat bersalah pada Joon Woo.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Mister." Izin Dimas.
***
POV Raya
"Sedang apa Kak Joon di ruangannya bersama Jane?." Batin ku yang terus bertanya.
"Apa aku kirim pesan saja ya?. Tapi aku takut dia terganggu."
"Tapi kalau di diamkan aku semakin penasaran."
Pengirim : Raya
-Pesan-
"Kamu sedang apa?."
Namun sampai satu jam Kak Joo. tak kunjung membalas ku, itu sangat membuat ku semakin gelisah.
"Raya, ayo pulang!." Ajak Septi untuk bersama pergi pulang.
"Oh, iya sebentar." Namun aku masih saja mengecek ponsel ku takut-takut jikalau Kak Joon membalas pesan ku. Tapi tak satupun pesan yang datang untuk ku.
"Apa Kak Joon pergi bersama Jane?." Batin ku yang mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Ayo!. Apa yang kamu tunggu lagi?." Tanya Septi yang sudah tidak sabar untuk menunggu.
"Baiklah!." Akhirnya aku pun memilih untuk pulang lebih dulu dari Kak Joon.
"Ting!." Pintu lift terbuka aku dan Septi hendak keluar dari lift namun tak disangka aku bertemu Darren yang akan masuk ke dalam lift.
"Bos Darren!. Apa kabar?. Sudah lama anda tidak terlihat." Sapa Septi begitu melihat Darren.
Namun aku hanya terdiam melihat dirinya, karena jujur aku masih ragu untuk menyapanya setelah pertemuan terakhir kali kami di lobby, Darren sama sekali tak menyapaku bahkan dia seperti tak menganggap ku ada saat itu.
"Raya, ada yang harus aku bicarakan dengan mu." (bahasa inggris) Tiba-tiba saja Darren mengajak ku untuk berbicara.
"Apa ini mimpi?." Batin ku yang masih tak percaya dengan ucapannya.
"Ta.. tapi aku baru saja mau pulang." (bahasa inggris)
"Bisakah ikut aku dulu ke ruangan?." (bahasa inggris) Darren memaksa.
"Sudah sana!. Lagipula kalian kan satu apartemen pasti bisa pulang bareng." (bahasa inggris) Bujuk Septi.
Akhirnya aku pun menuruti permintaan Darren dengan mengikutinya hingga ke ruangannya.
"Silahkan duduk!." (bahasa inggris)
"Hah?." Aku yang masih seperti orang linglung melihat Darren yang berubah sikap terhadap ku.
"Duduk!. Apa harus berdiri?." (bahasa inggris) Ucap Darren sedikit kesal.
"Kamu mau bicara apa?." (bahasa inggris)
"Raya, apa kita sudah selama itu tidak saling bicara?." (bahasa inggris) Tanya Darren mendekati ku.
"Ya. kurang lebih sudah sebulan ini kamu mengabaikan ku." (bahasa inggris) Jawab ku.
"Lebih tepatnya aku sedang menata hati ku untuk menerima kenyataan." (bahasa inggris) Balas Darren yang langsung membuat ku tersadar bahwa aku lah yang bersalah dengan semua ini.
"Ada pesan dari Ayah ku." (bahasa inggris)
"Dari Ayah mu?." (bahasa inggris)
"Ya. Ayah ku." (bahasa inggris)
"Apa itu soal pekerjaan?." (bahasa inggris) Tanya ku kembali.
"Bukan." (bahasa inggris)
"Lantas soal apa?." (bahasa inggris)
"Pertunangan kita." (bahasa inggris) Jawab Darren yang sontak membuat ku tercengang.
"Pertunangan?. Kamu jangan bercanda!." (bahasa inggris)
"Mungkin kamu masih menganggap ini candaan. Tapi yang terjadi Ayah mu sudah menyetujui pertunangan kita. Bahkan dirinya yang mengajukannya kepada Ayah ku. Apa kamu masih tidak mempercayainya?." (bahasa inggris)
"Dar, kamu tahu aku sudah memiliki kekasih." (bahasa inggris)
"Aku tahu. Bahkan kamu menolak ku di depan kekasih mu itu." (bahasa inggris) Bagai disambar petir aku pun menyadari bahwa aku telah menolak lamaran Darren di depan Kak Joon.
"Maaf, Dar." (bahasa inggris)
"Sudahlah!. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah mengungkapkan semuanya kepada Ayah mu. Tampaknya kamu belum menceritakan hubungan mu dengannya." (bahasa inggris)
"Belum.." (bahasa inggris) Sambil menggelengkan kepala aku menjawab pertanyaan Darren.
"Raya, hanya kamu yang harus menceritakannya. Aku tak akan mengatakan apapun kepada Ayah mu sampai kamu yang mengatakannya sendiri." (bahasa inggris)
"Benar. Aku harus mengakuinya." (bahasa inggris)
"Jujurlah!. Jika dia adalah benar pilihan mu, kamu harus mengakuinya." (bahasa inggris) Kata-kata Darren yang membuat ku semakin yakin bahwa aku harus berkata jujur kepada Ayah.
"Baiklah!." (bahasa inggris)
"Dan Ayah mu berkata, bulan depan ia akan mengunjungi kita di Jakarta. Bersiap-siaplah!." (bahasa inggris)
"Apa?." (bahasa inggris)
Kata-kata terakhir Darren membuat ku semakin tak dapat berkata-kata, pasalnya aku belum sempat mempersiapkan segalanya untuk berhadapan langsung dengan Ayah.
"Bagaimana ini?." Batin ku yang masih tak tahu harus berbuat apa.