
"BRaKKK!."
"Aku benar-benar sudah tidak ada harga dirinya dihadapan mu, Joon!." (bahasa korea) Kesal Jane sambil melempar tasnya di sembarang tempat begitu sampai di kamar hotelnya.
"Apa itu semua karena wanita itu?. Apa kau sudah gila mengganti diri ku dengannya?." (bahasa korea) Jane yang masih tak percaya atas sikap mantan suaminya yang telah mengusirnya tanpa perasaan.
"Sial!." (bahasa korea)
Tiba-tiba saja suara ponsel milik Jane berbunyi. Iapun memeriksa siapa yang menghubunginya saat itu, dan ternyata itu telepon dari manajernya.
"Kamu di Jakarta?." (bahasa korea) Tanya manajer Jane yang merupakan seorang wanita terdengar dari suaranya.
"Ya, kenapa?." (bahasa korea)
"Kau gila Jane!. Pak Mun, sedang murka kau malah pergi seenaknya?." (bahasa korea)
"Ada apa memang?." (bahasa korea) Tanya Jane yang seperti tak mau tahu tentang persoalan yang disebabkan olehnya.
"Kau tahu apa yang akan kita dapatkan dari ulah mu?." (bahasa korea) Kesal manajer Jane.
"Bayar saja pinalti yang ada!. Aku sudah tak peduli!. Aku akan menetap di sini mulai detik ini!.".(bahasa korea)
"Jane!. Kau tak bisa pergi begitu saja!. Semua yang terlibat dengan mu ikut merasakan kerugian. Termasuk diri ku!. Apa kau sudah tak memiliki hati nurani?." (bahasa korea) Tanya manajer Jane memohon.
"Kau pikirkan saja sendiri!. Aku sedang tak dapat berpikir jernih saat ini!." (bahasa korea) Lalu tanpa mau mendengar penjelasan lagi Jane memutus panggilannya secara sepihak.
Mungkin Jane berpikir bahwa iya dapat berbuat seenaknya setelah ia sampai di Jakarta, tapi ternyata itu tak semudah yang ia bayangkan dirinya justru dikejar manajemennya. Bahkan bisa jadi ia tak akan pernah bisa hidup tenang selama kasusnya belum terselesaikan.
"Aku tak mungkin bersembunyi terus. Aku harus minta bantuan seseorang. Tapi siapa?. Bahkan orang tua ku saja membuang ku." (bahasa korea) Senyum miris Jane yang teringat bahwa dirinya sudah tak dianggap anak oleh orang tuanya sendiri.
Ya, semenjak Jane memutuskan memilih karirnya dan bercerai dengan Joon Woo. Keluarganya tak ingin berurusan lagi dengannya, karena Mr. Kim sangat merasa tak enak hati terhadap keluarga Joon Woo terutama mendiang kakeknya Mr. Lee.
Mr. Kim merasa sudah tak punya muka di keluarga Joon Woo karena keputusan anaknya yang sembrono itu. Tapi mau bagaimana lagi?. Jane lebih memilih keegoisannya yaitu menjadi seorang model ternama di Korea. Namun sayang jalannya sebagai model ia mulai dengan cara berbohong, ia membohongi identitasnya sebagai istri dan seorang ibu. Ia memanfaatkan keadaan dengan tidak mendaftarkan pernikahannya di Korea, karena hal tersebut ia dapat berbohong hingga ke puncak karir.
Namun siapa sangka, akhirnya kebohongannya terungkap. Bahkan netizen sampai tahu, bahwa Jane menelantarkan anaknya di Indonesia. Untuk itu ia ingin mengubah imagenya menjadi seorang istri dan ibu yang baik dengan meminta Joon Woo untuk rujuk kembali. Tapi sayangnya Joon Woo menolaknya mentah-mentah, kini ia tak tahu apalagi yang harus dilakukan untuk kembali meneruskan karirnya.
"Sial!." (bahasa korea) Umpatan kesekian kali yang diucapkan Jane saking kesalnya karena otaknya yang sudah buntu.
Jane hanya bisa tertunduk lesu akan nasibnya, ia tahu ia salah dalam memilih keputusan saat itu. Namun ia sesungguhnya memilih jalan itu juga karena sesuatu. Apalagi kalau bukan karena cinta Joon Woo yang tak pernah bersambut kepadanya. Jane frustasi mengejar cinta Joon Woo. Ia berusaha untuk menjadi calon istri yang diidam-idamkan oleh Joon Woo tapi apa yang ia dapatkan?. Bahkan pandangan mata Joon Woo tak pernah tertuju padanya, ia melihat pandangan mata Joon Woo hanya tertuju kepada gadis yang bernama Raya.
Dan dari mulai saat itu Jane selalu penasaran dengan sosok Raya, dan akhirnya iapun memutuskan untuk mendekati Raya dan menjadi temannya.
Flashback 9 tahun lalu
Lobby Fakultas Sastra
Suara riuh orang mengerumuni Jane yang kala itu menjadi murid pindahan di Universitas Indonesia jurusan sastra Indonesia.
"Wah, cantik sekali gadis itu. Pasti blesteran ya?." Puji para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat Jane.
Jane pun disibukkan dengan banyaknya mahasiswa yang berebut ingin berkenalan dengannya. Baru saja hari pertama masuk kuliah sudah tak terhitung orang yang ingin menjadi temannya. Tentu saja bukan hanya karena dirinya yang cantik, tapu juga karena Jane terkesan ramah dengan mereka.
Dan pas sekali Raya melewati beberapa kerumunan yang tepat berada di depan Jane saat itu dan wajah Raya pun terlihat olehnya. Sejak saat itu Jane menjadi tahu siapa Raya yang dimaksud oleh Joon Woo yaitu teman kecil sekaligus gadis yang telah menjadi pusat perhatiannya.
Selang beberapa minggu setelah itu, Jane pun menjadi penasaran akan sosok Raya. Ia ingin tahu sosok seperti apa yang begitu melekat di hati Joon Woo.
"Oppa!." Panggil Jane yang saat itu tak sengaja melihat Joon Woo yang memandangi Raya dari kejauhan. Jane tampak kesal dengan pemandang yang ia lihat saat itu, ia pun berusaha untuk mengalihkan perhatian Joon Woo.
"Berapa kali kubilang jangan panggil aku Oppa." (bahasa korea) Kesal Joon Woo.
"Lalu aku harus memanggil mu apa?. Joon Woo?." (bahasa korea)
"Terserah kau lah!." (bahasa korea) Joon Woo yang kemudian bergegas pergi dari hadapan Jane karena tak ingin orang lain melihat mereka berduaan.
"Joon Woo, aku boleh menumpang di mobil mu?." (bahasa korea)
"Tidak!."
"Tapi hari ini Ajoemma menyuruh ku untuk main ke rumah. Apa katanya nanti kalau kita tidak bersama?." (bahasa korea) Bujuk Jane.
"Apa kau sudah tahu caranya mengancam ku?." (bahasa korea) Tanya Joon Woo yang tak habis pikir Jane sudah bisa mengancamnya.
"Ya, bisa dibilang begitu." (bahasa korea) Ucap Jane dengan tak tahu malu.
Namun Joon Woo tak ingin membalasnya ia memilih membiarkan Jane mengikutinya hingga ke parkiran mobil.
"Brakk!!." Joon Woo yang menutup pintu mobilnya dengan kesal.
Lalu Jane pun duduk di bangku sebelah kemudi tanpa peduli pemikiran Joon Woo terhadapnya.
"Apa kau ingin kita tampak seperti seorang kekasih?." (bahasa korea) Tanya Joon Woo sambil menatap Jane di sebelahnya.
"Tentu saja." (bahasa korea) Jawab Jane tegas.
"Kau memang orang paling tak tahu malu yang pernah ku kenal." (bahasa korea)
"Memang, karena kalau tidak!. Kau tak akan pernah memandang ku seperti ini." (bahasa korea)
Namun entah bagaimana saat itu Raya terlihat sedang menatap mobil Joon Woo dari kejauhan. Dan Jane yang kebetulan melihat itu memanfaatkan situasi dengan memeluk paksa Joon Woo.
"Apa yang kau lakukan?." (bahasa korea) Tanya Joon Woo yang terkejut dengan Jane yang tiba-tiba memeluknya.
"Sebentar saja, aku hanya ingin memeluk Oppa seperti ini." (bahasa korea)
"Hei!." (bahasa korea) Joon Woo yang membentak Jane karena bertindak di luar batas.
Dan Jane pun yang melihat Raya sudah menjauh, baru melepas pelukannya sehingga Raya dapat mengartikan ini sebagai pelukan antar kekasih. Entah mengapa Jane menjadi puas dengan kenyataan Raya yang telah salah paham terhadap hubungan dirinya dan Joon Woo.
Flashback selesai