
Di depan kantor perusahaan JF sudah berdiri Farid yang menatap kagum gedung pencakar langit tersebut. Dalam hatinya timbul rasa kagum kepada anak tercintanya serta calon menantunya itu.
"Hebat sekali mereka bisa bekerja sama dengan perusahaan sebesar ini." Pikirnya.
Iapun melangkahkan kaki menuju ke dalam perusahaan tersebut. Ya, Farid bermaksud ingin memberikan kejutan kepada anak dan calon menantunya, ia diam-diam mengunjungi mereka ke perusahaan mereka yang ada di Jakarta. Dengan langkah percaya diri ia pun masuk dan menuju ke arah receptionis yang ada di sana.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?." Tanya Receptionis itu dengan senyum manisnya.
"Ya, saya ingin bertemu Mr. Darren. Apa ia ada?."
"Maksud Bapak, Mr. Darren dari perusahaan FX begitu?." Tanya balik Receptionis itu memastikan.
"Iya, benar. Ia anak dari teman ku di Jerman." Ulasnya.
"Seharusnya hari ini bukan jadwalnya masuk ke kantor. Biasanya Mr. Darren melakukan pekerjaan melalui rumah saja. Tapi coba saya memastikan terlebih dahulu, Pak." Receptionis itu pun memastikan keberadaan Darren melalui sekretarisnya.
Sambil menunggu Farid pun menatap sekitar dalam gedung perusahaan JF. Ia terkagum-kagum dengan design interior yang ada. Dan seketika ia teringat akan mendiang istrinya terdahulu.
"Andai saja kamu masih hidup, pasti kamu juga kagum dengan design interior di sini, Mira." Batin Farid yang masih menatap keindahan design interior di dalam perusahaan tersebut.
"Pak, Mr. Darren ternyata ada di ruangan. Tapi saat ini beliau sedang ada meeting on line. Dan saya belum mendapatkan jawaban dari beliau. Bagaimana jika bapak duduk saja di sofa itu sambil menunggunya." Pinta Receptionist dengan sangat ramah.
"Baiklah!. Receptionis ini sungguh ramah. Memang Indonesia bukan negara yang main-main. Semuanya enak dipandang dan juga ramah tamahnya sangat terjaga. Aku benar-benar merindukannya." Senyum mengembang dari wajah Farid dan iapun duduk di sofa yang ada di lobby sambil menunggu kabar dari Darren.
Di Ruangan Darren
"Tok!.Tok!. Tok!"
"Masuk!." (bahasa inggris) Teriak Darren yang mempersilahkan sekretarisnya memasuki ruangan.
"Pak, di bawah ada tamu yang menunggu Bapak." (bahasa inggris) Ucap Sekretarisnya.
"Siapa dia?." (bahasa inggris) Tanya Darren penasaran.
"Katanya namanya Pak Farid." (bahasa inggris) Sontak wajah Darren pun berubah tegang.
"Apa?. Farid?." (bahasa inggris) Ia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Bilang receptionis di bawah!. Aku akan langsung menjemputnya." (bahasa inggris) Pinta Darren kepada sekretarisnya.
"Baik, Mister." (bahasa inggris)
Di sisi lain Farid masih asik menatap kagum interior lobby yang ada tiba-tiba saja terdengar suara riuh orang yang baru saja datang dari arah lobby. Dan ia pun dikejutkan dengan beberapa orang yang berlari dan menyambut orang tersebut dengan cepatnya termasuk receptionis yang tadi menyapa ramah dirinya.
"Sepertinya orang itu orang yang berpengaruh di sini. Atau mungkin dia pemilik perusahaan ini?." Entah mengapa hati Farid saat ini sedikit resah dikala melihat pemandangan yang agak ganjil baginya.
"Sore, Mr. Joon." Sapa seseorang yang terdengar dibalik kerumunan itu.
"Sore, Apa Mr. Fred sudah datang?." Tanya Joon Woo.
DEG. Jantung Farid bereaksi seakan mengenal suara orang tersebut.
"Sepertinya aku mengenal suara itu?." Tapi ia berusaha menepis dan tetap fokus pada layar hpnya saat ini.
Dan tak lama datang lah sebuah limosin di lobby tersebut kembali manambah riuh suasana lobby. Itu tentu saja membuat lobby kembali dalam keadaan berkerumun. Pasalnya kali ini yang datang adalah salah satu klien besar mereka.
"Hallo, Mr. Fred. Akhirnya anda datang juga." (bahasa inggris) Sapa Mr. Joon kepada mr. Fred.
"Bagaimana dengan arsitek kita?." (bahasa inggris) Mr. Fred yang baru saja datang sudah menanyakan keberadaan Raya.
"Oh, maksud anda nona Laras?." (bahasa inggris)
DEG. Jantung Farid yang kembali resah begitu mendengar nama anaknya disebut.
"Siapa dua lelaki itu sampai mengenal Raya, anakku?." Farid yang mulai penasaran akan sosok dua lelaki yang menyebut nama Raya ini.
Dan saat itu pun kerumunan mulai membuka jalan untuk dua orang besar tersebut dan terlihatlah wajah ke dua orang itu dan salah satunya orang yang tentunya sangat Farid kenal. Orang yang merupakan cinta pertama putri satu-satunya dan sudah membuat hati putrinya itu porak poranda dan susah move on. Siapa lagi kalau bukan Joon Woo.
"Saat itu Farid langsung beranjak dari sofanya dan menatap intens Joon Woo dari kejauhan. Ia tak sadar bahwa reaksinya itu akan mengundang pertanyaan banyak orang, karena yang ia tatap tajam saat ini adalah bos perusahaan tempat di mana anaknya bekerja.
Sampai Joon Woo dan Mr. Fred beranjak dari Lobby, Farid masih saja menatap tajam wajah Joon Woo. Hingga akhirnya tatapan mereka bertemu. Joon Woo melihat terkejut ke arah seorang pria paruh baya yang menatap dengan penuh kebencian.
"Dimas, tolong bawa Mr. Fred ke atas aku akan menyusul kalian secepatnya!." Melihat kedatangan Ayah Raya yang tiba-tiba membuat Joon Woo terkejut sekaligus bingung. Pasalnya ia tentu saja belum memiliki persiapan, hal yang saat ini ingin dia lakukan adalah menyapa calon mertuanya itu.
"Pak Farid." Sapa Joon Woo dengan ramah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?." Tanya Farid yang masih memperlihatkan rasa tak sukanya terhadap Joon Woo.
"Ehhmm.. aku pemilik perusahaan ini, Pak." Dengan sedikit ragu-ragu ia pun menjawab pertanyaan Farid.
"Apa?. Kalau aku tahu Raya pergi ke Jakarta untuk menemui mu aku sudah pasti tak akan mengizinkannya." Ucap Farid yang sedikit lesu. Ia sangat kesal karena putrinya itu tak pernah memberitahu bahwa perusahaan yang ia masuki adalah milik Joon Woo.
"Sabar dulu, Pak. Mari ke ruangan saya." Pinta Joon Woo agar Farid tenang dan berbicara empat mata terlebih dahulu dengannya.
"Dar, di mana Laras?." (bahasa inggris)
"Ah, Laras sedang ada urusan. Aku akan menghubunginya nanti." (bahasa inggris) Jawab Darren yang saat ini sudah ada diantara Farid dan Joon Woo.
"Bagaimana ini bisa terjadi?. Kenapa kau juga tak memberitahu ku?." (bahasa inggris) Ucap Farid yang sedikit memijit dahinya seakan semua ini membuat darahnya mendidih seketika.
"Pak, Farid. Anda tidak apa-apa?." (bahasa inggris) Darren yang langsung memapah Farid yang sedikit oleng dari tempatnya berdiri.
"Mr. Darren. Bawa Pak Farid ke ruangan yang ada di sebelah ruangan saya terlebih dahulu!. Saya harus menemui Mr. Fred, setelah itu saya akan menemui kalian." (bahasa inggris) Pinta Joon Woo kepada Darren.
"Baiklah!. Pergilah!. Ini urusan ku." (bahasa inggris) Ucap Darren. Lalu Joon Woo pun pergi sambil menunduk hormat kepada Farid sebelum dirinya pergi.
"Dar, hubungi Raya secepatnya!. Aku ingin bicara dengan anak itu!." (bahasa inggris) Pinta Farid tak ingin menunggu lagi.
"Sabar dulu, Pak. Ayo kita ke ruangan atas. Supaya Bapak bisa beristirahat." (bahasa inggris) Pinta Darren yang kemudian memapah farid berjalan.
***
Flashback satu jam yang lalu
POV Raya
Entah mengapa perasaan tak enak sejak pagi tadi. Aku terdiam sesaat sampai tak menyadari bahwa mobil Kak Joon sudah berhenti di persimpangan kantor.
"Kita sudah sampai." Ucap Kak Joon.
"Oh ya?." Aku yang masih seperti orang ling lung di hadapan Kak Joon. Aku tak mendengar perkataannya saat itu karena aku fokus pada pikiran ku.
"Kamu kenapa, sayang?." Tanya Kak Joon yang mengkhawatirkan ku.
"HHmm.. tidak Kak." Ucap ku yang tak ingin ia khawatir.
"Benar?. Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan?." Tanya Kak Joon seraya menatap manik mata ku mencari kebohongan di sana.
"Tidak."
"Hhmm.. baiklah. Kita sudah sampai. Apa kamu tidak mau turun?. Apa kamu masih ingin berduaan dengan ku?." Tanya Kak Joon yang menggoda ku.
"Kamu hari ini ada rapat penting dengan Mr. Fred. Ingat!." Tegas ku.
Kak Joon yang menatap lesu diri ku karena sebenarnya ia tak ingin berpisah dari ku saat ini.
"Seandainya aku bisa berterus terang kepada semua orang bahwa kamu adalah calon istri ku. Mungkin rasanya tak akan tersiksa seperti ini."
"Tenang, Kak. Pasti ada saatnya kita bisa jujur dengan semua ini. Sabar ya!. Sekarang aku harus kembali bekerja." Aku lalu membuka pintu mobil namun seketika Kak Joon kembali memeluk ku dari samping.
"Kak, ada Pak Udin."
"Aku tak peduli. Biarkan saja dia jadi kambing conge!." Ucap Kak Joon yang sudak tak peduli dengan keberadaan Pak Udin yang selalu dianggap sebagai patung diantara mereka.
"Lepas, Kak!. Kalau tidak aku akan terlambat." Pinta ku.
Namun Kak Joon masih berat melepas kepergian ku. Ia tak ingat bahwa setiap hari ia pun dapat menemui diri ku di mansion.
"Baiklah!. Sampai jumpa nanti malam, sayang!." Ucap Kak Joon yang kemudian membiarkan ku pergi.
Selang beberapa lama aku pun sudah sampai di dalam kantor menuju lantai di mana ruangan ku berada. Tiba-tiba saja ponsel ku berdering, dan aku menatap layar ponsel ku yang terlihat nama Darren di sana. Aku pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Dar." Jawab ku.
"Laras, cepat ke lobby ada Ayah mu di sana!." (bahasa inggris) Pinta Darren yang sontak membuat ku membelalakkan mata.
"Ayah?."
Lalu aku pun lekas ke atas ruangan terlebih dahulu untuk meminta izin Bu Fatma untuk menemui Ayah. Namun kenyataannya aku harus menunggu Bu Fatma meeting di ruangannya. Dan waktu ku 15 menit terbuang untuk menunggu dirinya.
Setelah mendapatkan izin dari Bu Fatma, aku pun bergegas pergi ke arah lobby mencari keberadaan Ayah. Namun sayangnya Ayah sudah tidak ada di sana. Aku pun berinisiatif untuk menghubungi Darren kembali.
"Dar, apa kamu sudah bertemu Ayah?." (bahasa inggris) Tanya ku.
"Ayah mu sudah ada bersama ku. Dia ada di ruangan Joon Woo." (bahasa inggris) Ungkap Darren.
"Apa?. Kak Joon?." (bahasa inggris)
"Iya dia sudah bertemu dengannya. Dan Ayah mu ingin segera bertemu dengan mu." (bahasa inggris)
DEG
Dan Raya pun langsung menutup panggilan itu dan bergegas ke ruangan dimaksud Darren dengan nafas memburu.