Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 15 : Tangisan Leon



“Kenapa dia harus minta maaf?.” Tanya ku sambil menatap Kak Joon yang berada di samping ku.


Dan Kak Joon kemudian menatap ku dengan penuh tanda tanya, karena ucapan ku saat itu.


"Kenapa dia harus minta maaf?." Ucapku sekali lagi.


"Karena dia bersalah pada mu." Jawab Kak Joon pada ku


"Apa salahnya?." Tanya ku lagi.


"Karena ia berlari sembarangan hingga menabrak mu tentunya " Jawab Kak Joon.


"Mister, dia hanya seorang anak kecil yang belum tahu mana yang benar dan mana yang salah. Saya rasa tindakannya tidak bisa dikatakan sebuah kesalahan." Ucap ku yang sekali lagi membuat Kak Joon terperangah.


"Maksud ku adalah..." Kak Joon yang mencoba menjelaskan kepada ku mengenai kesalahan anaknya.


Namun tak disangka tiba-tiba saja Leon menangis dan berlari menjauhi kami. Suster itu kemudian mencoba mengikutinya, tapi tak diperbolehkan oleh Kak Joon.


"Biarkan saja dia!. Biar aku yang mengurusnya." Ucap Kak Joon pada Suster itu.


"Pokoknya sekali lagi aku minta maaf atas perlakuan anak ku terhadap mu. Selepas dia salah atau tidak, jadi kamu tidak perlu merasa sungkan." Ucap Kak Joon yang membuatku merasa geram.


"Apa anda tidak pernah merasakan menjadi seorang anak?." Tanya ku pada Kak Joon dengan tatapan nyalang, karena aku tak mengira bahwa dirinya dapat berlaku dingin terhadap anaknya sendiri.


"Tentu, dan pasti diri mu pun juga begitu." Jawab Kak Joon sambil menatap ku dengan tatapan yang penuh arti.


Aku yang menjadi geram padanya memutuskan untuk mengejar anak itu dan meninggalkan Kak Joon yang termangu karena sikap ku.


Aku pun berlari dan mencari keberadaan Leon. Aku mencarinya di lobby hingga ke area parkir, akan tetapi tak kunjung menemukannya. Lalu aku mendengar suara tangisan anak kecil yang terdengar di sebuah gudang yang tak jauh dari parkiran berada.


Aku hanya menerka suara itu mungkin saja berasal dari Leon. Aku mulai mendekatinya dan perlahan membuka pintu gudang tersebut. Dan benar saja dugaan ku bahwa Leon berada di sana.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya?." Batin ku. Aku tak menyangka hubungan Ayah dan anak ini menjadi sangat rumit. Lalu aku pun mencoba mendekati Leon yang sedang menangis.


"Apa yang kau lakukan di sini?. Pergi!." Ucap Leon sambil menatap ku dengan nyalang.


"Tidak, aku hanya kebetulan lewat." Jawab ku.


"Cepatlah kau pergi!. Aku ingin sendiri!." Teriak Leon sambil menangis.


Lalu aku duduk di sebelahnya sambil memainkan game sakura kesukaan ku. Lalu Leon pun berhenti menangis dan mulai penasaran dengan apa yang ku mainkan.


"Mau main?." Tanya ku.


Leon menggelengkan kepala atas pertanyaan ku. Lalu aku berusaha untuk memamerkan apa yang ku mainkan kepadanya. Aku pun memperlihatkan game kesukaan ku padanya.


Dan Leon mulai tertarik dengan apa yang ku lakukan, lalu ia mulai mengintip permainan ku.


"Mau coba?." Tanya ku menawarkan permainan itu padanya.


"Memangnya aku anak kecil?." Ucap Leon yang masih gengsi.


"Aku bukan anak kecil dan aku suka permainan ini. Karena permainan ku waktu kecil bukan ini dan itu jelas lebih seru dari ini." Ucap ku.


"Benarkah?." Ucap Leon yang mulai penasaran dengan permainan apa yang ku lakukan saat kecil.


"Kamu ingin tahu?." Tanya ku sambil menatap wajah Leon yang masih basah karena air mata.


"Janji dulu!." Tegas ku.


"Tidak mau!." Tolak Leon.


"Ya sudah!. Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap ku lalu bangkit dari tempat ku.


"Tunggu!." Teriak Leon.


Aku pun menoleh ke arahnya dan mencoba mencari tahu maksud dari dirinya yang berusaha menahan ku.


"Janji apa yang kau maksud?." Tanya Leon.


"Janji kau akan mentraktir ku Ice Cream!." Ucap ku.


"Heh!. Dasar wanita kekanakan!. Sudah sebesar ini masih suka Ice Cream?." Sindir Leon.


"Siapa yang tidak suka Ice Cream?." Senyum ku ke arah Leon.


"Baiklah!. Semudah itu membuat janji dengan mu?." Ucap Leon.


"Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?." Tanya ku.


"Boleh!. Asal itu bukan pertanyaan mengenai hal tadi." Tegas Leon.


"Tentu tidak." Jawab ku.


"Baiklah!." Leon yang memberikan izin kepada ku


"Berapa usia mu?." Tanya ku sambil menatap kedua bola mata Leon untuk meyakinkannya.


"Untuk apa kau tahu?." Tanya Leon yang ragu untuk menjawabnya.


"Aku hanya penasaran." Jawab ku.


"Usia ku 8 tahun." Jawabnya.


Benar saja dugaan ku bahwa Leon sudah melebihi dari usia perkiraan ku. Leon memang bertubuh kecil, namun usianya ternyata melebihi tubuhnya. Namun ia sangat tampan untuk seorang anak kecil, dan wajahnya memang perpaduan antara Jane dan juga Kak Joon.


"Aku pikir kau baru 7 tahun?." Ledek ku pada Leon.


Lalu kami pun menghabiskan waktu kami di gudang itu sambil bermain game sakura kesukaan ku bersama.


Aku tak menyangka anak yang terlihat nakal dan keras kepala itu akhirnya luluh. Walau Leon masih menutup dirinya pada ku, tapi kami sudah resmi berteman.


***


Leon dan Joon Woo sampai di mansion mereka. Leon turun dari mobil beserta suster Eka. Dan Joon Woo terlihat menyusul mereka dari belakang.


Sesampainya di dalam mansion, Joon Woo menghentikan langkahnya dan menghampiri Leon yang tampak berwajah murung.


"Leon!." Panggil Joon Woo.


Leon pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Joon Woo.


"Kamu tahu apa kesalahan mu?." Ucap Joon Woo.


Dan Leon yang mendengar hal tersebut seketika menjadi geram.


"Tidak!. Aku tidak bersalah!. Siapa kau berani memerintah ku!." Setelah meneriakkan kata-kata itu, Leon pun pergi berlari meninggalkan Joon Woo.


"Leon!." Teriak Joon Woo sekali lagi kepada Leon sambil melihat Leon yang berlari dan menaiki tangga mansion nya.


"Mister!." Ucap Suster Eka.


"Ada apa?." Tanya Joon Woo.


"Tadi saya menemukan Tuan Kecil bersama Nona Laras di Gudang kantor." Jawab suster Eka.


"Siapa kamu bilang?." Tanya Joon Woo yang ingin mendengarnya sekali lagi.


"Laras, Mister. Dan saya sempat mendengar mereka tertawa bersama dan sangat akrab. Saya sudah lama tidak mendengar Tuan Kecil seperti itu." Ucap Suster Eka.


"Baiklah, saya akan segera ke kamar. Tolong sebelum pergi saya ingin kamu mengecek ke kamar Leon. Pastikan kalau dia tidak melakukan hal yang aneh!." Ucap Joon Woo lalu bergegas pergi ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, Joon Woo membuka pakaian dan menggantinya dengan sebuah handuk yang menutupi area bawah tubuhnya. Lalu ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan piyama satin berwarna biru langit yang memancarkan ketampanannya. Dan ia mulai menyalakan laptop untuk memeriksa beberapa pesan yang terkirim di surelnya.


Dan iapun melihat pesan surel atas nama Laras, di mana di surel tersebut terdapat sebuah design yang telah disetujui olehnya.


Joon Woo terlihat tersenyum membaca pesan dari surel itu. Entah mengapa hanya sebuah gambar design membuatnya mengembangkan senyumnya.


Lalu ia terlihat mencari sesuatu di balik laci yang ada di bawah mejanya. Dan ia menemukan sebuah dompet usang berwarna abu-abu yang tersembunyi di laci tersebut.


Dan iapun membuka dompet itu dengan hati-hati lalu ia mengeluarkan sebuah foto yang ada di dalamnya. Sebuah foto di mana terdapat dirinya yang berumur 12 tahun bersama dengan Raya yang saat itu masih berumur 10 tahun.


Joon Woo kembali mengembangkan senyumannya, sepertinya ada rasa rindu yang mendalam di dirinya begitu melihat foto tersebut.


Dan kemudian ia kembali merogoh dompet tersebut dan menemukan sebuah gelang rajut berwarna biru yang sepertinya sudah sangat lama tersimpan di dalamnya.


Ia menatap gelang tersebut dan mulai teringat sebuah kenangan antara dirinya dengan Raya di mana ia mengenakan gelang yang sama dengannya. Dan sepintas ia pun mengingat Raya yang tadi sore ia temui tak seperti yang ada di dalam ingatannya.


Raut wajah Joon Woon seketika menjadi murung, ia seakan menyayangkan Raya yang berubah sikap terhadapnya.


"Apa kamu adalah Raya yang ku kenal?." Gumam Joon Woo sambil mengerutkan dahinya.