
Di Warung makan, Septi dan beberapa rekan kerja ku terfokus kepada seorang bule tampan asal Jerman dengan sejuta pesonanya yaitu Darren yang saat ini duduk di antara kami. Mereka semua terpana dengan penampilan sekaligus terheran-heran bagaimana seorang eksekutif muda dan juga bule tampan bisa ada diantara kami? yang notabene-nya hanya pegawai biasa?.
"Laras, kamu gak kenalin Mr. Darren dengan kita?." Pinta Septi yang menginginkan penjelasan ku.
"Baiklah!. Ini Mr. Darren General Manager FX sekaligus teman masa kuliah ku di Jerman." Aku yang memperkenalkan Darren kepada rekan kerja ku.
"Wah!. Ternyata Mr. Darren teman masa kecil mba Laras toh!." Ucap Shidiq salah satu rekan kerja ku yang memiliki aksen jawa medok.
"Ya benar!." Ucap Darren dengan mencoba menggunakan bahasa Indonesia, Darren memang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia namun sangat jarang ia gunakan terkecuali untuk menyambut kliennya saja.
"Wah, ternyata Mr. Darren bisa bahasa kita ya?." Ucap Septi yang terkagum-kagum mendengar Darren menggunakan bahasa Indonesia.
"Ya, aku sedikit bisa dengan bahasa di sini, karena teman ku yang satu ini sering mengajarkan ku." Darren yang mengarahkan tatapan nakalnya ke arah ku.
"Tidak juga, kamu memang sudah mempelajarinya sejak masih kecil. Jadi aku tak ada hubungannya dengan ini." Ucap ku tak ingin yang lain salah paham.
"HHmm.. tapi sepertinya hubungan kalian tidak seperti teman biasa?." Septi yang lagi-lagi mulai mencari tahu tentang kami.
"Tidak!. Seratus persen kami hanya berteman!." Tegas ku.
"Yakin nih!. Berarti Mr. Darren lagi jomblo?." Tanya Septi yang sangat penasaran dengan status Darren.
"Mau aku jujur atau tidak?." Tanya Darren kepada Septi.
"Jujur donk!." Teriak Septi.
"HHmm... aku sudah memiliki orang yang aku suka, hanya saja aku ragu dengan perasaannya, aku takut ditolak olehnya." Ucap Darren sambil melirik ke arah ku seolah akulah wanita yang ia maksud.
"Wah!. Ini tidak salah?. Mr. Darren yang terhormat. Jika wanita itu menolakmu.Aku pastikan!. Aku akan siap menampung anda!. Lagipula apa kurangnya anda!. Anda sangatlah tampan!. Belum lagi anda adalah seorang eksekutif muda!." Ucap Septi yang mengagung-agungkan Darren.
"Entahlah!. Namun sepertinya wanita ini memiliki pandangan yang berbeda terhadap ku." Ucap lesu Darren yang terdengar bahwa dirinya benar-benar telah dicampakkan oleh wanita itu. Namun entah kenapa aku merasa semua pernyataannya itu tertuju kepada ku.
"Ini tidak mungkin kan?. Tidak mungkin Darren menyukai ku?." Batin ku.
"Baiklah!. Karena Mr. Darren telah hadir bersama kita hari ini, maka untuk penyambutan, Mr. Darren wajib mentraktir kita makan!. Bagaimana Mister?." Tanya Septi.
"Baiklah!. Aku akan mentraktir kalian!." Ucap Darren gegabah.
"Dar, apa kamu punya rupiah saat ini?." Tanya ku yang melihat tingkah gegabah Darren.
"Oh, aku pinjam dengan mu dulu." (bahasa inggris) Bisik Darren yang seketika membuat ku geram, pasalnya aku jadi terbebani gara-gara kecerobohannya.
"Lagi-lagi aku jadi sial karena mu!." Gumam ku.
"Terima kasih, Mr. Darren. Anda sangat baik!." Teriak semua.
"Kalian tidak tahu penderitaan ku." Aku yang saat itu hampir menangis karena ulah Darren.
"Sama-sama, semuanya!." Ucap Darren dengan keras.
***
Sore itu Joon Woo kembali ke Mansion nya dalam keadaan kalut, rasa kecewanya terhadap Raya semakin menjadi-jadi terlihat dari raut wajahnya yang tak ada sedikitpun senyuman yang tertinggal di sana.
"Mister, kita sudah sampai!." Ucap Pak Udin driver pribadi Joon Woo. Namun Joon Woo tak segera menyahut omongannya semata-mata karena dirinya masih terpaku dengan lamunannya.
"Mister!. Mister!." Kemudian Joon Woo pun tersadar dari lamunannya dan menyadari bahwa saat ini Pak Udin sedang memperhatikannya.
"Oh maaf Pak.." Dan Joon Woo pun keluar dari mobilnya dan disambut oleh beberapa asisten rumah tangganya termasuk Gisel.
"Bagaimana kabar Leon?." Tanya Joon Woo kepada Gisel.
"Lalu apalagi?." Tanya Joon Woo lagi.
"Tuan kecil juga mulai belajar perkalian." Jawab Gisel.
"Perkalian?." Tanya Joon Woo yang kemudian menghentikan langkahnya dan beralih kepada Gisel.
"Iya Mister." Jawab Gisel yang mulai memainkan gestur menggodanya ke arah Joon Woo.
"Bagaimana bisa ia baru mempelajarinya?. Aku saja sudah menguasai itu dari umur 6 tahun." Tegas Joon Woo.
"Maaf Mister, Tuan kecil masih sering menolak belajar. Tapi Mister tenang saja saya..."
"Nona Gisel, kamu aku gajih untuk mendidik anak ku. Tapi bagaimana ini?. Aku tidak melihat perkembangan di dirinya?. Apa ada yang salah dengan teknik mengajar mu?." Tanya Joon Woo sambil menatap tajam Gisel.
"I.. itu Mister saya rasa Tuan kecil selalu berbuat ulah..."
"Cukup!. Aku tidak ingin mendengar alasan lagi!. Untuk saat ini aku akan melihat selama dua minggu ke depan. Jika saja selama dua minggu ini masih tidak ada kemajuan dari Leon, maaf anda tidak dapat menginjakkan kaki di Mansion ini lagi!." Tegas Joon Woo yang seketika membuat Gisel menjadi lemas dibuatnya, pasalnya baru saja beberapa minggu yang lalu Joon Woo kembali mempercayakan Leon kepadanya, tapi apa ini hanya dalam beberapa minggu kemudian Joon Woo seakan menarik kembali ucapannya.
Gisel ingin menjelaskan kembali kepada Joon Woo dan berusaha untuk meminta pengampunan kepadanya namun usahanya tak berhasil, Joon Woo sudah tak ingin mentolerir nya.
"Awas saja kau!. Aku pasti akan berhasil menaklukkan mu!." Tekad Gisel yang masih sangat terobsesi dengan Joon Woo.
Joon Woo menaiki tangga dan menuju ke kamar Leon, ia tersadar sudah beberapa minggu ini ia selalu disibukkan dengan padatnya jadwal kerja. Dan selama itu pula ia tak sempat memperhatikan Leon, putranya. Dan hari ini niat hati ingin mengunjungi putra satu-satunya itu, perlahan-lahan ia menaiki anak tangga agar tak mengganggu Leon dengan kedatangannya.
Dan sampailah ia di depan pintu kamar yang terlihat sudah setengah terbuka itu. Ia pun memberanikan diri untuk memeriksa ke dalam kamarnya dan mencari keberadaan Leon. Dan ia melihat Leon yang sedang tertidur dengan nyenyak di sebuah kursi di ruang belajarnya, Joon Woo pun mendekatinya dan ingin melihat apa yang sedang dikerjakan Leon.
Joon Woo melihat sebuah gambar kasar seorang wanita sedang menggandeng anak laki-laki yang sama-sama membawa ice cream di tangannya. Dan Joon Woo pun sedikit menggeser jemari Leon yang menutupi gambar tersebut. Dan terlihatlah sebuah tulisan hangul yang memiliki arti "Merindukan mu". Entah siapa yang dimaksud oleh Leon, namun terlintas dipikirannya jika wanita itu adalah Raya.
"Apa yang ku pikirkan?." Batin Joon Woo.
"Seandainya saja dia tidak berbohong?. Apa aku harus meminta konfirmasi darinya?." Batin Joon Woo yang masih saja terus bertanya-tanya siapakah sosok Darren bagi Raya.
"Wanita jelek!. Kau sungguh jahat!." Racau Leon yang mengiringi tidurnya.
"Leon, apa kamu sangat menyayangi Raya?. Sehingga kamu harus menyebut wanita itu di tidurmu?." Gumam Joon Woo yang tidak habis pikir dengan julukan wanita jelek yang ditujukan Leon untuk Raya.
Dan Joon Woo pun pergi begitu memindahkan Leon ke tempat tidurnya dengan aman.
Di ruangan Joon Woo membersihkan tubuhnya dan mengganti bajunya dengan piyama seksinya. Lalu ia pun meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Halo Dimas, tolong kamu selidiki identitas Darren dan ada hubungan apa dirinya dengan Raya maksud ku laras saat di Jerman!." Pinta Joon Woo kepada Dimas.
"Baik, Mister." Ucap Dimas.
"Dimas."
"Apalagi, Mister?."
"Pastikan kamu segera mendapatkan informasi itu!." Tegas Joon Woo.
"Tenang saja Mister, lagipula Darren itu anak dari bos Nona Laras pastinya mudah untuk mendapatkannya. Saya usahakan besok sore anda sudah mendapatkannya!." Jawab tegas Dimas yang selalu tak mengecewakan bosnya itu.
"Aku tahu kau tak pernah mengecewakan ku!. Kalau sampai itu terjadi, aku akan mengirim mu ke Alaska!." Ancam Joon Woo.
"Jangan dong, Mister. Kalau saya di Alaska siapa yang bantu Mister untuk mendapatkan si dia?." Goda Dimas.
"Dimas!. Kau berani ya?." Teriak Joon Woo.