Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 55 : Titik Terang



Makan malam pun siap aku membantu menyiapkan beberapa hidangan untuk dihidangkan di meja kami. Menu kali ini adalah masakan khas Indonesia yang sering kami makan bersama saat masih kuliah dulu. Ada Sayur asem, ikan teri balado, pepes tahu, ikan nila goreng sampai terong balado dan semuanya adalah masakan kesukaan aku dan Ratna.


"Apa ini?." Tanya Kak Joon yang menghampiri kami di meja makan saat itu.


"Ini menu kesukaan saat kuliah dulu." Ucap ku.


"Iya benar. Kami selalu memasaknya di saat aku menginap di rumah Raya." Ucap Ratna yang membenarkan ucapan ku.


"Oh, sepertinya ini sangat lezat." Ucap Kak Joon yang sudah tak sabar ingin segera mencicipinya.


"Duduklah!. Aku akan segera menyiapkannya untukmu." Pinta ku.


"Di mana Leon?." Kak Joon yang mencari keberadaan anaknya.


"Leon?. Apa ia tak ada?." Tanya ku yang juga menyadari ketidak beradaannya.


"Bukannya dia bersama kalian?." Tanya Kak Joon yang semakin penasaran dengan keberadaan Leon saat ini.


"Daddy!." Suara Leon yang terdengar menuju ke meja makan.


"Ke mana saja kamu?." Tanya ku yang melihat Leon sudah rapih dengan stelan baru, sepertinya ia pergi untuk membersihkan diri.


"Aku pergi mandi sebentar karena bau dari pepes tahu yang kalian buat terlalu menyengat. Masakan apa itu?. Aku baru melihatnya?." Leon yang sedikit asing dengan pepes tahu yang ku buat bersama Ratna.


"Ini sangat lezat!. Cobalah baru kamu akan tahu rasanya." Aku yang menyodorkan pepes tahu itu ke arahnya.


"Tidak!. Kau saja!." Tolak Leon yang tak ingin mencicipinya.


"Hei, ada apa ini?." Tanya Ratna yang melihat aku berusaha menyodorkan pepes tahu ke hadapan Leon.


"Mommy, sudah ku bilang aku tidak mau!." Tegas Leon yang tak ingin lagi dipaksa oleh ku lalu pergi duduk menjauh dari ku.


"Sudah!. Sudah!. Mari kita makan sekarang!. Leon jangan pilih-pilih makanan!." Tegas Kak Joon.


"Tapi Daddy.." Ucap Leon.


"Tidak ada tapi!. Duduk dan makanlah!." Tegas Kak Joon sekali lagi.


Dan kami pun makan dengan tenang malam itu, Kak Joon memakan makanan masakan ku dan Ratna dengan lahap. Sama dengan Leon walau ia ragu-ragu mencobanya tapi akhirnya ia memakannya juga, walau tidak dengan pepes tahu ia tetap tak bersedia untuk mencobanya hingga akhir.


Lalu setelah makan malam, Kak Joon melanjutkan percakapannya yang tertunda dengan Ratna di ruang keluarga. Aku pun ikut menemaninya di ruangan itu atas permintaan Ratna.


"Jadi bagaimana, Mr. Joon?." Tanya Ratna yang penasaran dengan kelanjutannya.


"Pak, Zaid baru saja telpon dan ia memastikan sudah membaca semua berkas-berkas kita. Dan besok akan segera datang mengunjungi mu di sini." Jawab Kak Joon yang seketika membuat wajah Ratna terlihat sumringah karena berita tersebut.


"Akhirnya!." Ucapan lega dari Ratna.


"Pak Zaid berpesan bahwa kasus ini dapat diselesaikan dengan mudah karena melihat dari bukti-bukti yang ada sudah cukup untuk menggugat cerai suami mu dan mengambil hak asuh anak mu." Ucap Kak Joon dan Ratna pun yang mendengarnya mulai meneteskan air mata.


"Na, kamu tidak apa-apa?." Tanya ku yang melihat Ratna mulai menangis lalu ia pun memeluk ku sambil menangis.


"Aku bahagia Raya karena akhirnya aku dikabarkan dapat merebut anak ku kembali." Ucap Ratna sambil menyeka air mata dengan ke dua tangannya.


"Syukurlah!. Akhirnya kamu akan segera bertemu dengan anak mu, Na." Ucap ku seraya mengusap punggung Ratna.


Keesokan Harinya


Hari ini aku memutuskan untuk mengambil libur satu hari untuk menemani Ratna menemui Pak Zaid, pengacara yang ditunjuk Kak Joon untuk menangani kasus Ratna saat ini. Dan Kak Joon juga ikut mengambil izin pulang cepat untuk ikut menemani kami di siang harinya.


Kami janji temu jam 2 siang di Mansion hari ini dengan Pak Zaid, dan sepanjang hari Ratna merasa gelisah karena tak sabar menunggu kedatangannya. Dari pagi hingga siang hari dia habiskan untuk mondar-mandir dari ruang keluarga hingga ke ruang tamu hanya ingin memastikan kedatangannya.


Hingga salah satu pelayan di Mansion memberi sebuah berita bahwa Pak Zaid sudah sampai di Mansion.


"Nona, Pak Zaid sudah tiba di Mansion." Kabar itu sontak membuat Ratna membelalakkan mata dan langsung berlari ke arah untuk menyampaikan kabar ini.


Dan aku pun yang mendengar itu lantas mengikutinya menuju ruang tamu di mana Pak Zaid berada. Sesampainya di sana aku melihat sosok lelaki berbadan tinggi besar dengan perawakan tegas dan ku perkirakan umurnya sudah memasuki kepala 4 sudah berdiri menyambut kami di ruang tersebut.


"Selamat pagi, Nona. Saya Zaid pengacara yang ditunjuk oleh Mr. Joon untuk menangani kasus anda." Salam perkenalan yang dilontarkan Pak Zaid kepada kami berdua.


"Pagi, Pak Zaid. Silahkan duduk!." Sapa ku yang langsung menyuruhnya untuk segera duduk kembali.


"Jadi bagaimana Nona Laras?. Nona Ratna?." Pak Zaid yang ragu-ragu dalam menyebutkan nama kami berdua.


"Oh, saya Laras dan ini Ratna sahabat saya." Aku yang kemudian memperkenalkan kami berdua kepadanya.


"Maaf, saya takut salah dalam menyebutkan nama." Ucap Pak Zaid.


"Tidak apa-apa, Pak. Kami yang belum memperkenalkan diri." Ucap ku.


Dan hari itu kami menghabiskan waktu membahas masalah yang dialami Ratna bersama suami dan keluarganya kepada Pak Zaid dengan lebih rinci. Pak Zaid mau mendengarkan cerita Ratna dengan ramah sehingga ia dapat menanggapi detail masalah yang dihadapinya dengan baik. Ratna pun menjadi lebih terbuka dengannya dan akhirnya mau menceritakan hal yang dialaminya dengan sebenar-benarnya tanpa dia tutupi.


"Jadi apa kasus saya dapat menang pada akhirnya, Pak?." Tanya Ratna yang masih penasaran akan hasilnya nanti.


"Bu Ratna tidak perlu khawatir, dari bukti yang ada dipastikan bahwa anda dapat menggugat cerai suami anda dan mendapatkan hak asuh anak anda." Tegas Pak Zaid.


"Syukurlah!." tatapan lega yang terpancar dari wajah Ratna saat ini setelah mendengar langsung jawaban dari Pak Zaid.


"Bagaimana Pak Zaid?." Teriak Kak Joon yang datang tiba-tiba dari arah pintu.


"Mr. Joon, kapan anda datang?." Tanya Pak Zaid yang melihat kedatangan Kak Joon yang tiba-tiba itu.


"Baru saja, maaf aku baru datang karena masih banyak pertemuan yang harus aku lakukan."


"Tidak apa-apa Mister, kami baru saja selesai berdiskusi." Ucap Pak Zaid.


"Bagaimana hasilnya?." Tanya Kak Joon.


"Kami sudah menemukan jalan terang dan saya pastikan bahwa kasus ini dapat kita menangkan dengan mudah." Jawab Pak Zaid.


"Syukurlah!. Semoga berkas-berkas ini dapat segera dilaporkan ke kejaksaan setempat untuk segera di kirimkan surat tuntutannya."


"Baiklah!. Akan segera saya urus!. Untuk itu saya mohon pamit, karena masih ada klien yang harus saya temui setelah ini." Ucap Pak Zaid yang ingin segera undur diri.


"Baiklah Pak!. Setelah berkas diurus segera hubungi saya!." Ucap Kak Joon.


"Baik Mister." Jawab Pak Zaid lalu melaju pergi ke arah pintu dengan ditemani Kak Joon.