Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 20 : Ada Apa Dengan Leon?



Jantung ku mulai berdetak tidak karuan, nafas ku bergemuruh kencang seirama dengan suara detak jantung ini. Pertemuan hari ini memang bukanlah pertemuan yang kuinginkan, dimana aku dan Kak Joon bertemu kembali di rumah lama kami, tempat kami tumbuh bersama.


Bagaimana bisa aku tak memperhitungkannya?. Aku tahu Leon berada di rumah lama Kak Joon, dan pastinya aku tahu Kak Joon pasti akan datang menjemputnya. Aku sangat bodoh yang tak memikirkannya sampai ke sana.


"Oh Tuhan!. Aku sungguh bodoh!. Aku sudah tidak bisa lagi menghindar darinya!." Sedih ku menghadapi kenyataan bahwa diri ku sudah ketahuan.


***


Flashback Dua Jam yang lalu


Di ruangan CEO Joon Woo, sudah ada Dimas dan Suster Eka yang berdiri di hadapan Joon Woo saat ini. Tatapan mereka berdua sangatlah tegang, seakan mereka melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal terhadap CEO mereka.


"Kalian tahu kenapa kalian dipanggil kemari?." Tanya Joon Woo yang menatap ke dua manusia di hadapannya dengan nyalang.


"Tahu, Mister!." Jawab Dimas dan Suster Eka.


"Kalian ditugaskan untuk mengawasi Leon selama di sini!. Lalu sekarang apa yang terjadi?." Tanya Joon Woo dengan nada tinggi seakan ingin melahap ke dua orang tersebut.


"Ma.. maaf Mister. Tadi yang saya tahu Tuan Kecil pergi dengan Nona Laras." Jawab Suster Eka.


"Laras?." Joon Woo yang seketika terkejut dengan nama yang tersebut dari mulut Suster Eka.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?." Kesal Joon Woo karena baru tahu.


"Saya ba.. ba.. baru mau kasih tahu, tapi Tuan sudah terlanjur marah." Jawab Suster Eka dengan terbata-bata.


"Ke mana mereka pergi?." Tanya Joon Woo yang sudah mulai sedikit tenang.


"Tadi saat saya pergi mengambil minuman untuk Tuan Kecil, Tuan Kecil sudah tidak ada di tempatnya." Ucap Suster Eka ragu-ragu.


"Lalu, dia hanya pergi berdua dengan Laras?." Tanya Joon Woo lagi.


"Tenang saja Mister!. Tadi saya sempat menyuruh Pak Seto untuk mengantar mereka." Ucap Dimas memastikan bahwa Leon pergi dengan selamat.


"Kalian tahu ke mana mereka pergi?." Tanya Joon Woo mulai penasaran dengan kepergian Leon dan Laras.


"Saya tidak tahu, Mister." Jawab Suster Eka dan Dimas berbarengan.


"BraAkk!." Suara hentakan tangan Joon Woo yang mengenai meja.


"Bagaimana kalian bisa tidak tahu?." Tegas Joon Woo.


"Ma.. maaf Mister. Tapi Tuan Kecil tidak ingin kami tahu keberadaan mereka." Jawab Dimas ragu-ragu.


"Bagaimana pun juga kalian harus tahu ke mana mereka pergi!. Cari keberadaan mereka!." Pinta Joon Woo yang harus dituruti ke dua bawahannya tanpa ada bantahan.


Dimas dan Suster Eka mulai mencari tahu keberadaan Leon dan Laras dengan mencoba menghubungi mereka berdua termasuk menghubungi supir keluarga mereka. Namun hasilnya nihil, tak ada satu pun dari mereka yang dapat dihubungi.


Joon Woo mulai tampak kesal dengan hasil pencarian Dimas dan Suster Eka. Dan iapun memasang wajah gaharnya lagi di hadapan mereka berdua.


"Apa tidak ada hasil?." Tanya Joon Woo sembari menatap keduanya dengan nyalang.


Dimas dan Suster Eka pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa!." Teriak Joon Woo sembari menggebrak meja di hadapannya.


"Tapi Mister, saya sempat mendengar Tuan Kecil menyebut kata Taman sebelum pergi." Ucap Suster Eka yang saat itu memberikan satu-satunya petunjuk.


Dan Joon Woo yang mendengar itu serasa mendapat angin segar dan berakhirlah dirinya di rumah lamanya saat ini dan bertemu dengan Raya.


Mungkin bagi Raya pertemuan ini tidak dia harapkan. Namun berbeda dengan Joon Woo, pertemuan ini adalah pertemuan yang diharapkan dirinya selama 8 tahun penantian.


Flash Back Selesai


***


Joon Woo menatap kepergian Raya yang menjauh dari dirinya saat ini.


Ia tahu bahwa dirinya bersalah selama bertahun-tahun terhadap Raya. Namun ia tak menyangka karena hal tersebut ia harus kehilangan teman kecilnya untuk selama-lamanya.


"Raya, tahukah kamu bahwa aku sangat mengharapkan dirimu kembali." Gumam Joon Woo sambil menatap rumah lama Raya dari kejauhan.


Kemudian tak lama Joon Woo pun pergi dan masuk ke dalam rumah lamanya untuk menemui Leon.


"Leon!." Panggil Joon Woo yang mencari keberadaan Leon di dalam rumah.


"Leon!." Panggil Joon Woo sekali lagi.


Hingga ia melihat kaki tergeletak di sebuah ruangan yang terlihat seperti gudang yang ada di rumah besar itu.


Joon Woo perlahan membuka pintu gudang tersebut dan terkejut dengan sosok Leon yang sedang tergeletak tak berdaya sambil memeluk sebuah foto.


"Leon!." Teriak Joon Woo sambil memeluk erat Leon yang sudah tak berdaya di hadapannya.


Joon Woo menangis meratapi Leon yang terlihat lemah itu.


"Kak Joon." Suara seseorang yang membuat Joon Woo mencari ke asal suara.


"Raya?." Joon Woo yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Raya berada tepat dihadapannya.


"Ada apa dengan Leon?." Raya yang kemudian menghampiri Joon Woo yang terlihat memeluk Leon.


"Aku tidak tahu." Ucap Joon Woo yang saat itu terlihat frustasi karena keadaan Leon, anaknya.


"Tenang, Kak!. Mari kita bawa Leon ke rumah sakit!." Ucap Raya yang ikut memapah Leon ke tempat mobil terparkir.


Dan Leon pun di bawa ke rumah sakit dengan diantar Pak Seto, Joon Woo yang saat itu masih terlihat panik dibantu Raya dengan memapah dan mengelus kepala Leon selama perjalanan, hingga akhirnya Leon di bawa ke ruang IGD dan ditangani dokter yang ada.


"Bagaimana keadaan anak ku, Fadil?." Tanya Joon Woo yang sepertinya mengenal Dokter Fadil.


"Tenanglah!. Dia hanya kelelahan." Jawab Dokter Fadil mencoba menenangkan Joon Woo yang terlihat frustasi.


"Apakah dia akan baik-baik saja?." Tanya Joon Woo yang masih tidak yakin dengan jawaban dari Dokter Fadil.


"Joon. Aku tahu kamu khawatir. Tapi lihat dirimu saat ini?. Kau sudah sangat tahu keadaan Leon seperti apa?. Dan kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi." Jawab Dokter Fadil berusaha tenang dalam menjawabnya.


"Kak, Tenang lah!. Benar kata Dokter Fadil." Raya yang mencoba ikut menenangkan Joon Woo.


"Hai!. Nona Laras!." Sapa Dokter Fadil yang lagi-lagi memamerkan senyum mempesonanya kepada Raya.


"Kalian saling mengenal?." Joon Woo yang terkejut dengan kedekatan Dokter Fadil dan Raya.


"Ya, tentu saja. Kami bertemu di tempat ini dan aku pernah mengantarnya pulang." Ucap Dokter Fadil yang seketika membuat Joon Woo sedikit berwajah masam.


"Fadil, sepertinya kita harus bicara!." Ucap Joon Woo yang kemudian menarik lengan Dokter Fadil menuju ke ruangannya.


***


POV Raya


Melihat kepergian Kak Joon dan Dokter Fadil yang tiba-tiba itu membuat ku sedikit merasa cemas dengan keadaan Leon. Dan aku pun saat itu menghampiri bilik Leon di ruang IGD dan memilih menemaninya sesaat sembari menunggu Kak Joon dan Dokter Fadil selesai berbicara.


"Leon, apa yang terjadi terhadap mu?. Banyak misteri yang ada pada diri mu." Gumam ku sembari menatap wajah Leon yang tertidur.


"Aku tahu, aku tak boleh ikut campur, tapi apa kamu tak ingin membagi luka mu pada ku?." Ucap ku membisik ke telinga Leon saat ini.


Aku mengeluarkan bingkai foto yang sempat di genggam Leon saat dirinya pingsan. Dan aku mengeluarkan bingkai foto tersebut dari tas milik ku, ternyata di bingkai foto tersebut terdapat foto Jane yang terlihat sedang berdua dengan Leon kecil. Dan di foto itu Leon dan Jane tersenyum bersama memancarkan sinar kebahagiaan mereka.


"Apa yang terjadi dengan diri mu dan Jane?." Gumam ku yang mulai penasaran dengan hubungan mereka.


"Apa yang terjadi dengan Jane?." Pertanyaan demi pertanyaan terlintas dalam benak ku. Ingin rasanya aku menanyakan semua hal itu kepada Kak Joon dan juga Leon, tapi apa daya diri ku yang tak ingin mencampuri urusan rumah tangga mereka memilih tak mau tahu dengan semua itu.


Aku pun kembali mengelus pucuk kepala Leon karena aku tahu pasti saat ini Leon sedang gelisah dan aku hanya ingin melepaskan kegelisahannya walau hanya sedikit.


"Raya?." Panggil Kak Joon yang saat ini sudah ada di samping ku.


"Mr. Joon!." Aku yang saat ini mulai kembali menganggapnya atasan ku.


"Kenapa kamu kembali memanggil ku seperti itu?." Tanya Kak Joon yang merasa sedikit canggung terhadap panggilan ku padanya.


"Kamu memang atasan ku saat ini, dan selamanya akan seperti itu." Ucap ku yang tak ingin Kak Joon menganggap ku Raya yang dulu.


"Raya, aku mohon bersikaplah seperti dulu!." Kak Joon yang memohon kepada ku.


"Tidak mungkin!." Jawab ku.


"Raya, setidaknya demi Leon." Kak Joon yang mulai membawa Leon dalam hubungan kami.


Aku tahu Leon sangat berarti baginya, tapi bukan berarti dia memanfaatkan diri ku untuk bisa seperti dulu.


Tapi akhirnya aku pun mengalah dan memilih diam tanpa perlawanan demi Leon yang masih sakit. Dan aku saat ini memilih menemani Kak Joon merawat Leon hingga Leon sadar. Aku tak tega melihat wajah pucat Kak Joon karena insiden hari ini, seakan separuh jiwanya hilang.


"Apa aku memang harus membiarkan semua ini?. Apa benar aku masih memiliki perasaan terhadap Kak Joon?. Tuhan!. Apa yang harus ku lakukan?." Batin ku yang masih ragu dengan situasi yang ada.