
Ruang Rektor
“Kamu yakin tidak akan mengikuti program wisuda?.” Tanya Pak Will salah satu rektor di kampus ku.
“Tidak Pak, karena saya tidak punya waktu untuk itu.” Ucap ku tegas.
“Padahal kamu salah satu siswi terbaik di sini, sangat disayangkan.” Pak Will yang kecewa dengan keputusan ku.
“Bagi saya lulus dengan nilai memuaskan sudah cukup, Pak.” Ucap ku yang tak ingin Pak Will bertanya lebih dalam tentang keputusan ku ini.
“Baiklah!. Saya harap kamu mau meneruskan gelar master di sini.” Ucap Pak Will.
“Itu akan saya pikirkan kembali, Pak.” Jawab ku tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Pak Will.
“Ok!. Semoga kamu bisa segera mendapatkan pekerjaan yang baik setelah ini!.” Ucap Pak Will berharap yang terbaik untuk ku.
Tentu saja aku tidak akan mengatakan soal kepergian ku ke Jerman, karena aku tak akan mengatakannya pada siapapun terkecuali keluarga dekat dan Ratna tentunya.
Dan di depan Ruangan Pak Will, Ratna dengan setia menunggu ku keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana?.” Tanya Ratna penasaran dengan hasilnya.
“Sukses!.” Aku yang mengatakannya sambil tersenyum sumringah saking bahagianya.
“Akhirnya!. Aku pikir Pak Will akan memaksamu!. Aku tahu sifat keras kepalanya.” Ucap Ratna yang sedikit bernada tinggi.
“Hussh!. Nanti terdengar orangnya loh!.” Ucap ku berhati-hati.
Dan aku pun lantas menarik Ratna menjauh dari ruangan Pak Will menuju ke taman yang agak sepi.
“Untung aja!. Hampir ketahuan!.” Aku yang membuang nafas kasar karena berlari sambil menarik Ratna.
“Heboh deh!. Biasa aja kali!.” Ucap Ratna sewot karena tangannya yang ditarik kencang oleh ku.
“Maaf!. Maaf!.” Ucap ku yang tak enak hati.
“Udah lah!. Trus bagaimana itu si Junaedi urusannya?. Kamu masih belum pamitan sama dia?.” Tanya Ratna yang langsung membuat mood ku seketika berubah.
Aku pun menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Trus kamu mau hadir ke pesta pernikahan dia?.” Tanya Ratna lagi.
Lalu aku pun menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
“Mau aku temani?.” Tanya Ratna dengan sedikit rasa khawatir.
“Gak usah, Na. Aku mau menyelesaikannya sendiri. Karena aku yang memulai, aku juga yang harus mengakhiri.” Ucap ku dengan tegas.
“Raya, aku tahu kamu perempuan yang kuat. Dan aku yakin kamu akan dapatkan seribu lelaki yang lebih baik dari si Junaedi!.” Ucap Ratna yang membuat hati ku bersemangat.
“Ya!. Pastinya!.” Jawab ku.
Lalu setelah itu aku pun pergi pulang ke rumah di antar oleh Ratna, dan Ratna berjanji hari ini ia akan menginap di rumah ku agar aku tak kesepian. Dan hari ini juga ia membantu ku membereskan beberapa barang yang harus aku bawa ke Jerman.
“Ini apa Raya?.” Ratna yang tiba-tiba menemukan kalender perjuangan ku.
Dan aku pun yang melihat itu langsung memasukannya ke sebuah kotak berbarengan dengan sejumlah barang lainnya. Barang-barang di mana terdapat kenangan diri ku bersama Kak Joon. Aku berniat membuang semua barang-barang itu, tapi aku sepertinya belum sanggup melakukannya. Tapi hari ini aku pastikan bahwa semuanya harus musnah tak tersisa seiring dengan kepergian ku.
Lalu aku pun membawa kotak itu ke halaman belakang rumah, lalu aku menyalakan korek api kemudian membakar satu kotak berisi kenangan Kak Joon saat itu. Ratna menjadi saksi atas musnahnya kenangan ku bersama Kak Joon dan kotak itu tak lama lenyap menjadi arang yang tak tersisa.
“Aku bangga sama kamu, Raya!. Akhirnya kamu bisa move on juga!. Aku pikir kali ini hanya omdo aja!.” Ratna yang kemudian memelukku malam itu.
“Aku harus bisa, Na. Demi Ayah, Bunda dan demi diri ku sendiri.” Tegas ku.
Malam itu kami menghabiskan malam sambil mengingat kenangan kami saat baru masuk kuliah. Kami malam itu juga menonton maraton drama Korea di TV berbayar. Walaupun kami harus begadang tapi kami bahagia karena dapat menghabiskan malam berduaan sebelum nantinya berpisah jauh.
Ingin rasanya aku turut membawa Ratna tinggal bersama ku, namun sayang Ratna adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Sudah pasti tanggung jawabnya lebih besar dari yang lain oleh karena itu aku tidak tega memisahkan dirinya dari keluarganya. Namun kami berjanji akan tetap menjadi teman setia meski jarak memisahkan.
***
Aku melakukan semua ini sebagai perpisahan terakhir ku dengan Kak Joon, setidaknya aku harus memperlihatkan padanya bahwa aku bukan lah perempuan cengeng yang ia tahu, diri ku sekarang adalah perempuan yang kuat.
Aku melihat penampilan ku yang sudah rapih dengan gaun berwarna putih di bawah lutut yang membuat penampilan ku semakin anggun. Lalu aku pun pergi menuju pesta pernikahan Kak Joon, dengan langkah yang tegap aku melangkah tanpa ragu-ragu.
Sesampainya di lokasi acara, aku sempat tercengang dengan kemeriahan yang ada. Dekorasi yang ditata mewah seperti sebuah pernikahan di istana. Tampaknya selama ini aku tak menyadari bahwa Kak Joon adalah keluarga yang sangat kaya hingga dirinya bisa mengadakan pesta seperti ini. Dan para tamu undangannya pun bukanlah orang sembarangan.
Dan di pesta itu aku pun dipertemukan dengan Nyonya Chae, yaitu Ibu dari Kak Joon. Aku masih ingat terakhir kali aku bertemu dengannya, kira-kira dua tahun yang lalu. Ternyata dia masih tetap sama seperti dua tahun yang lalu, selalu cantik dan ramah pada semua orang.
Nyonya Chae pun mengenali diri ku yang datang, meski penampilan ku sudah berbeda namun di mata nya aku masih Raya gadis kecil tetangga sebelah yang lugu baginya.
“Raya?.” Sapa Nyonya Chae kepada ku.
“Bibi?.” Sapa ku kembali.
“Kamu apa kabar?.” Tanyanya.
“Aku baik, Bi.” Jawab ku.
“Kamu cantik sekali hari ini!. Pasti kamu mau ketemu Joon kan?.” Tanyanya yang tahu dengan tujuan ku.
Aku pun menganggukkan kepala ku menjawab pertanyaannya.
“Kebetulan Joon sedang di kamar ganti, mari Bibi antar!.” Nyonya Chae yang lalu menggiring ku hingga ke kamar ganti Kak Joon.
Seketika jantung ku berdetak tak karuan, pasalnya aku merasa canggung sekaligus gugup karena akan berhadapan dengan Kak Joon secara langsung.
“Joon!. Lihat siapa yang Omma bawa!.” Nyonya Chae yang menarik ku ke hadapan Kak Joon.
Dan aku pun kini sudah berada di hadapannya, ingin aku melarikan diri saat ini juga saking malunya. Tapi aku yang sudah membulatkan tekad ku untuk berhadapan dengannya untuk yang terakhir kali membuat ku memberanikan diri.
“Sekarang kalian mengobrol lah berdua, sebelum Joon resmi menjadi seorang suami. Pastinya kalian tidak akan ada waktu bersama lagi.” Ucap Nyonya Chae seakan ini memang pertemuan terakhir kami.
“Ehem!. Raya, kamu akhirnya datang!.” Kak Joon yang bersikap seakan ia menunggu kedatangan ku.
“Apa kamu datang bersama Paman?.” Tanya Kak Joon.
“Maaf, Ayah sedikit sibuk jadi ia tak dapat hadir.”Jawab ku sedikit berbohong.
“Kamu sedikit berbeda hari ini.” Kak Joon yang menatap ku berbeda.
“Aku hanya ingin tampil berbeda di hari pernikahan mu.” Ucap ku yang mulai sedikit membuat mata ku berkaca-kaca, aku teringat bahwa hari ini adalah hari pernikahannya. Aku yang hampir saja lupa akan hal itu.
“Ya Tuhan!. Perasaan apa ini?.” Batin ku yang merutuki kebodohan ku saat ini.
“Raya!. Apa ada yang ingin kamu bicarakan pada ku?.” Kak Joon yang mulai menatap ku penasaran.
Dan bodohnya saat ini mulutku terasa kaku, tak dapat mengeluarkan kata-kata.
“Apa yang terjadi pada ku?.” Batin ku yang bingung dengan keadaan ku sendiri.
“Joon!. Cepatlah!. Jane sudah menunggu!.” Teriak seseorang dari balik pintu.
“Baiklah!.” Jawab Kak Joon kepada orang itu.
Lalu Kak Joon bergegas menuju pintu dan meraih handle pintu, seketika tangan ku menarik tangan Kak Joon yang hendak meninggalkan diri ku.
“Kak Joon, selamat atas pernikahanmu. Dan terima kasih atas semua yang telah kau berikan kepadaku. Mulai saat ini kau tak perlu bertanggung jawab atas diriku. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan terakhir kepadamu. Selamat tinggal Kak!. Aku harap kau bahagia bersama pilihanmu!.” Ucapku kepada Kak Joon dengan berusaha menahan air mata ku agar tak terjatuh dihadapannya.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku langsung bergegas pergi meninggalkan Kak Joon yang terdiam setelah mendengar kata-kata dari ku.
Aku pun keluar dengan hati yang merasa sangat lega, akhirnya hari ini datang juga, di mana aku memberanikan diri melepas semua kenangan tentang Kak Joon. Akhirnya mulut ku dapat mengeluarkan kata-kata itu.
“Selamat tinggal Kak Joon!.” Air mata ku pun yang ku tahan di hadapan Kak Joon tumpah ruah saat itu. Entah itu air mata bahagia ataukah air mata kesedihan yang jelas saat ini hati ku sudah siap untuk pergi jauh darinya.
Dan dua hari setelah itu aku pun meninggalkan Indonesia dan menyusul Ayah tinggal di Jerman untuk memulai kehidupan yang baru di sana.