Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 13 : Pertemuan Kembali



Pagi hari aku bersiap menuju ke kantor baru ku yang letaknya tak jauh dari kantor, aku pun berangkat menggunakan sepeda listrik yang ku sewa di depan apartemen. Aku melajukan sepeda sambil melihat pemandangan di pagi itu yang terlihat sudah riuh dengan banyaknya orang yang berlalu lalang karena kesibukan mereka.


Dan tak lama aku pun tergiur oleh gorengan di sebrang apartemen yang terlihat baru matang dan sangat kress di mulut. Aku pun berhenti sejenak untuk membeli gorengan tersebut sebagai menu sarapan ku kali ini, maklum sudah 8 tahun lamanya aku tidak kembali dan rasanya sudah sangat rindu dengan jajanan khas di Jakarta.


Lalu aku pun melajukan kembali sepeda listrik ku menuju kantor. Dan sampailah aku pada gedung pencakar langit tempat di mana aku bekerja. Terpampang jelas di atas gedung tersebut sebuah logo raksasa ber-inisialkan JF.


Ya, aku bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di Indonesia yang bergerak di bidang properti yaitu JF. Perusahaan ku dan perusahaan JF melakukan kerjasama untuk membangun sebuah hunian mewah di salah satu daerah elit di Kota Jakarta. Dan arsitek yang terpilih untuk project ini adalah diri ku, karena design ku yang terpilih oleh pemilik dari perusahaan JF. Entah siapa nama pemilik perusahaan ini aku belum sempat mencari tahu, tapi aku tak peduli bagi ku cukup menyelesaikan dengan baik project ini selama satu tahun maka aku akan dapat segera kembali ke Jerman dan berkumpul kembali bersama Ayah.


Selesai memarkirkan sepeda listrik ku, aku pun memasuki gedung raksasa tersebut. Aku menghampiri receptionist yang berada di depan lobby untuk memberitahukan kehadiran ku kepada Pak Dimas sekretaris CEO perusahaan JF.


Lalu aku dibawa oleh receptionist tersebut keruang  HRD untuk di mintai keterangan seputar perpindahan ku dari Jerman ke Jakarta. Setelah itu aku pun dibawa ke ruangan tempat aku bekerja dan aku diperkenalkan oleh rekan-rekan se-tim ku oleh HRD tersebut.


“Hai, nama saya Laras. Saya adalah arsitek baru di sini.” Salam ku pada semua orang di divisi design.


Dan mereka sangat antusias dengan kehadiran ku, karena aku merupakan arsitek dari Jerman yang direkomendasikan langsung oleh CEO tempat mereka bekerja.


“Hai, Laras!. Kenalkan nama ku Septi, aku arsitek yang membantu mu dalam project kali ini. Dan dia Bobby, yang akan membantu mu dalam urusan orderan.” Septi satu-satunya karyawan di divisi tersebut yang menyapa ku dengan sangat ramah dan aku berharap kami dapat bekerja sama dengan baik.


Lalu aku pun mulai menata meja ku dengan beberapa barang yang ku bawa. Aku tak membawa banyak barang aku hanya membawa beberapa foto diri ku bersama Ayah dan juga Bunda, hanya foto ini yang dapat membuat ku bersemangat dalam menjalani hari-hari ku.


“Laras, apa kamu sudah punya pacar?.” Tanya salah satu laki-laki yang ada di divisi ku. Lelaki itu adalah lelaki tertampan yang berada di divisi kami, dan tampaknya ia merupakan lelaki yang menjual ketampanannya untuk sebuah keuntungan.


“Untuk saat ini masih belum.” Ucapku.


“Masih belum?. Oh iya kenalkan nama ku Zul.” Ucapnya memperkenalkan dirinya kepada ku.


“Panggil aja dia Zak**.” Teriak Septi yang memanggilnya dengan istilah alat kelam** pria kepada Zul.


“Eh Septi!.” Zul yang marah dengan panggilan Septi padanya.


“Ya, karena nama kamu kan Zulfi Zakaria.” Teriak Septi sambil tertawa.


“Awas kamu Sep!.” Zul yang menghampiri Septi sambil membawa sebuah buku untuk menghajarnya.


Aku pun tanpa sengaja tersenyum melihat kelakuan mereka, ternyata kembali ke Jakarta tidaklah buruk seperti yang aku duga.


Kemudian aku pun diajak makan siang bersama dengan mereka ke sebuah kantin yang tak jauh dari kantor namun menunya sangat bervariasi, aku jadi teringat dengan kantin yang ada di kampus ku di Jakarta.


***


Di sebuah ruang meeting besar terlihat Joon Woo dan Dimas sekretarisnya sedang menghadiri meeting besar. Di sana Joon Woo terlihat berwibawa dengan tatapan tegasnya yang memperhatikan setiap bawahannya mempresentasikan sebuah project kepadanya. Dan mereka masing-masing berusaha untuk meyakinkan Joon Woo agar project mereka dapat terpilih.


Dan meeting itupun selesai dengan Joon Woo yang menyudahinya.


“Mr. Joon, hari ini Tuan Kecil berkunjung ke kantor.” Ucap Dimas menghampiri Joon Woo yang masih belum beranjak dari tempat duduknya di ruang meeting.


“Apa?.” Joon Woo yang terkejut dengan penuturan Dimas.


“Tuan Kecil sudah ada di lobby sedang bermain dengan Suster Eka.” Ucap Dimas sambil berbisik di telinga Joon Woo.


“Apa yang anak itu lakukan di sini?. Biarkan saja dia terlebih dahulu, kita harus pergi ke meeting selanjutnya. Tolong bilang pada receptionist yang ada untuk mengawasi mereka!.” Pinta Joon Woo kepada Dimas.


“Baik, Tuan!.” Ucap Dimas lalu membawakan file milik Joon Woo kemudian menemaninya keluar ruang meeting.


Di lobby perusahaan, seorang wanita muda memakai pakaian Baby Sitter sibuk berlarian mengejar seorang anak lelaki yang membawa bola. Wanita itu terlihat kewalahan dalam mengejar anak lelaki itu.


“Tuan Kecil, hati-hati!. Mainnya jangan jauh-jauh!.” Pinta wanita itu sambil mengejar anak lelaki itu.


“Nona Eka, saya Mira yang ditugaskan untuk mengawasi kalian selama di sini.” Salah seorang receptionist menghampiri Suster Eka yang sedang mengejar anak tersebut.


“Ya, mohon bantuannya Nona!. Maafkan Tuan Kecil yang mengganggu kalian!.” Maaf yang diucapkan Eka kepada receptionist yang bernama Mira itu.


“Tidak apa Nona, kami mengerti Tuan Kecil yang ingin mengunjungi Daddy nya.” Ucap Mira yang berusaha tetap tersenyum meski tatapan tajam dilayangkan anak kecil itu.


“Eka!.” Teriak anak kecil itu kepada Suster Eka.


“Ya, Tuan.” Jawab Suster Eka.


“Tangkap ini!.” Teriak anak kecil itu yang serta merta melemparkan bola ke arahnya secara tiba-tiba. Dan secara tak sengaja bola itu mengenai seorang wanita yang kebetulan lewat di tengah-tengah mereka berdua.


“Aduhh!.” Pekik wanita tersebut karena bola mengenai kepalanya.


Wanita itu adalah Raya yang kebetulan lewat hendak menuju lift selepas makan siang bersama teman-temannya.


POV Raya


"Leon!."


Suara yang sudah lama tak ku dengar selama delapan tahun ini.


DEG


Ingin rasanya aku menoleh ke asal suara, namun tubuh ini terasa sangat berat. Aku sangat tahu siapa pemilik suara itu.


Rasanya ingin segera melarikan diri dari situasi yang memalukan ini. Anak itu tampak berlari ke arah ku untuk mengambil bolanya.


"Tolong jangan kemari!." Batin ku agar anak itu tak menghampiri ku.


"Leon!." Suara itu kembali terdengar, dan perlahan terdengar suara langkah kaki mendekati ku.


"Sudah Daddy katakan jangan bermain sembarangan di kantor!." Tampaknya lelaki itu mendekati anak itu, perasaan ku yang sangat lega karena ia tak menghampiri ku.


"Nona, anda baik-baik saja?."


"Aku baik-baik saja." Sambil merapihkan baju ku, aku secara tak sengaja mendapati lelaki itu sudah berada tepat di hadapan ku.


Dan sepertinya hari sial ku bertambah, orang yang benar-benar ku hindari selama 8 tahun lamanya kini berada tepat di hadapan ku. Joon Woo, cinta pertama ku dan yang pernah mengisi seluruh ruang di hati ku dulu.


Dan apa ini?. Aku mendengar lelaki ini di panggil Daddy oleh anak itu?. Rupanya aku sudah lupa bahwa dirinya telah menikah.


“Raya?.” Panggil Joon Woo kepada ku.


Joon Woo yang menatap ku dengan tatapan yang tak dapat diartikan itu membuat ku sedikit merasa canggung hingga akhirnya aku tak berani menatap wajahnya.


“Laras?.” Panggil Septi dari kejauhan.


“Maaf Pak!. Saya permisi dulu!.” Ucap ku lalu pergi dengan tergesa-gesa menuju Septi dan rekan kerja ku yang lain.


Aku tak tahu perasaan apa yang ada di diri ku saat ini, apakah rasa rindu atau rasa malu karena harus bertemu kembali dengan Kak Joon dalam keadaan yang tidak di duga.


“Mr. Joon!. Kita harus kembali ke ruang meeting.” Panggilan seseorang yang mengarah kepada kak Joon.


Tak disangka setelah delapan tahun lamanya berusaha mati-matian melupakan masa lalu. Kak Joon menampakkan wajahnya kembali dihadapan ku sebagai seorang CEO di mana tempatku bekerja dan dengan status yang berbeda yaitu seorang duda beranak satu. Apa yang harus ku lakukan?. Dan mengapa juga status ku masih saja lajang sampai saat ini?. Padahal umurku sudah menginjak 29 tahun. Aku benci takdir ini!. Apa yang harus aku lakukan Tuhan?. Kau sungguh tak adil padaku!. Sedihku meratapi nasib diriku sendiri.