Good Bye Mr. Joon

Good Bye Mr. Joon
BAB 31 : Perasaan Joon Woo



Aku sibuk memainkan gadget ku di kamar yang telah di sediakan Nyonya Chae, sambil menunggu Nyonya Chae atau Kak Joon memanggil ku. Karena saking bosannya aku pun memutuskan untuk bermain games kesukaan ku.


Dan tak lama seorang pelayan laki-laki menghampiri ku dan menyuruh ku untuk menemui Nyonya Chae ke ruangannya. Dan aku pun memenuhi panggilan dari Nyonya Chae dan mengikuti arah pelayan itu membawa ku. Dan sampailah kami di sebuah ruangan besar, yaitu ruangan yang dipenuhi dengan barang klasik.


Ruangan itu persis seperti ruangan milik Ratu Elizabeth yang ada di Inggris, aku hampir saja berpikir bahwa diri ku ini salah masuk ruangan. Namun setelah mengedarkan pandangan, aku melihat Nyonya Chae yang sedang menikmati teh hijaunya duduk dengan elegan di sebuah sofa besar bak di negeri eropa. Sofa klasik dengan nuansa merah dan gold itu menambah kesan klasik ruangan itu, dan Nyonya Chae tampak dikelilingi para pelayan yang dengan setia melayaninya persis seperti seorang ratu.


"Raya!. Kamu sudah datang?. Kemari lah!." Nyonya Chae yang sadar akan kedatangan ku, lalu meminta ku untuk menghampirinya. Dan aku pun memenuhi permintaannya dengan duduk di sebelahnya saat ini.


"Minumlah!. Ini teh hijau yang kubawa langsung dari Jepang. Aku tahu kamu sangat menyukainya." Pinta Nyonya Chae yang menyodorkan secangkir teh kepadaku.


Nyonya Chae sangat tahu kesukaan ku saat kecil, aku sangat gemar meminum teh. Karena sedari kecil aku sering ikut Bunda pesta teh bersama teman-temannya.


Di sana selalu disediakan berbagai jenis teh dari berbagai negara, dan aku pun sangat terpesona dengan warna teh yang berwarna-warni dan harumnya yang menggugah selera itu. Bahkan dulu aku pernah memiliki cita-cita untuk menjadi peracik teh profesional, tapi sejak aku mulai menyukai Kak Joon cita-cita itu pun sirna.


Entah sejak kapan aku hanya memiliki cita-cita menjadi pendamping hidup Kak Joon, terdengar naif memang tapi itulah yang terjadi selama hampir 12 tahun lamanya.


Aku yang mengingat hal itu menjadi sedikit malu, pasalnya aku yang sekarang baru tersadar bahwa itu adalah cita-cita konyol yang pernah ku miliki.


"Raya, sejak kapan kamu tinggal di Jerman?." Tanya Nyonya Chae yang seketika membuyarkan lamunan ku.


"Sejak 8 tahun yang lalu, Bi." Jawab ku.


"Berarti tepat saat Joon menikah dengan Jane?. Apa kepergian mu karena Joon?." Curiga Nyonya Chae.


"Ti.. tidak seperti itu Bi. Itu dikarenakan Ayah yang harus Dinas secara tiba-tiba." Aku yang sedikit berbohong mengenai alasanku pergi.


"Tapi sepertinya dugaan ku tidak salah, karena sejak hari itu aku tidak pernah lagi melihat mu. Kamu dan Ayah mu menghilang tanpa jejak, bahkan Joon tak tahu kepergianmu."


"Semua memang sangat mendadak, dan saat itu Aku dan Kak Joon sedang sibuk dengan urusan kami masing-masing. Dan maafkan aku yang pergi tanpa berpamitan, Bi." Ucap ku berusaha tenang agar Nyonya Chae tak curiga.


"Kamu tak tahu bahwa hari itu Joon sangat mengkhawatirkan mu. Ia mencoba menghubungi mu dan mencari tahu ke teman-teman terdekat mu juga saudara mu. Dan herannya tak ada satupun dari mereka yang tahu kepergian kalian." Nyonya Chae yang masih mencoba mencari tahu.


Bagaimana mungkin aku memberi tahunya, bahwa mereka semua sepakat dengan ku dan Ayah agar tidak memberitahu siapa pun yang menanyakan kepergian kami.


"Ayolah Raya!. Cerita lah pada ku apa yang sebenarnya terjadi?. Aku tahu, pasti ada sesuatu kan?." Tanya Nyonya Chae yang kali ini sedikit memaksa.


"Bibi, sungguh aku tidak bermaksud untuk tidak memberitahu Kak Joon maupun Bibi. Tapi itu memang sangat tiba-tiba, sampai aku pun tak memiliki persiapan." Aku yang masih mencoba mengelak.


"Raya, apa kamu tidak sedang berbohong?." Nyonya Chae yang menatap lekat mata ku, mencoba mencari kebenaran di sana.


"Bi, sepertinya aku harus kembali ke hotel karena ada pekerjaan yang menunggu." Aku yang berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Pekerjaan?. Ini hari libur Raya. Joon tidak sekeras itu dalam bekerja, dan aku yakin dia tidak akan membuat karyawannya bekerja di hari libur." Perkataan Nyonya Chae yang sulit untuk dilawan.


"Ta.. tapi Bi..


"Itu benar!." Tiba-tiba saja kak Joon muncul di hadapan kami.


"Joon!. Apa yang kamu lakukan di sini?." Tanya Nyonya Chae yang geram karena tiba-tiba putranya itu menyela percakapan kami.


"Omma, bagaimana kalau selama di Korea, Raya tinggal di sini?. Daripada ia harus di hotel, itu sangat tidak nyaman." Usul Kak Joon yang bagaikan sebuah kartu checkmate untukku.


"Ide yang sangat bagus!. Tenang saja Raya, aku pun akan di sini menemani mu. Kau tahu aku sudah lama tidak ke Korea, karena sudah beberapa tahun ini aku tinggal di Amerika bersama Ayah Joon." Terang Nyonya Chae yang mencoba merayu ku.


"Tapi Bi.. bagaimana dengan hotel yang sudah disediakan perusahaan pastinya akan sia-sia." Sanggah ku.


"Hotel itu kan yang menyewa perusahaan kami, jadi kapan pun kamu check out itu tidak masalah. Benarkan Joon?." Ucap Nyonya Chae yang lagi-lagi menjadi kartu checkmate bagi ku.


"Itu benar. Lagi pula di sini ada pelayan yang dapat melayani mu kapan saja. Jadi kamu tak perlu khawatir akan kesehatanmu di sini." Ucap Kak Joon yang membuat ku sedikit terharu akan perhatiannya.


"Tenang saja, kamu tidak perlu repot-repot kembali ke hotel mengambil barang-barang mu!. Karena pelayan di rumah ini akan mempersiapkan semua, dan barang-barang mu akan ada di rumah ini nanti sore."


Aku tak dapat menghindar lagi, Nyonya Chae rupanya sudah merencanakan ini semua dan aku tak bisa membantahnya. Dan lagi Kak Joon sama sekali tak menentangnya, dan aku sama sekali tak mengerti akan semua sikapnya yang telah berubah 180 derajat.


Kak Joon yang sekarang seakan memiliki kepribadian yang berbeda, terkadang ia kekanakan, terkadang posesif, bahkan dirinya akhir-akhir ini bersikap hangat kepada ku. Sebenarnya apa yang dia inginkan?. Aku justru berharap bahwa Kak Joon tak pernah berubah, aku berharap dia tetap bersikap dingin seperti dulu dan menganggap ku tak pernah ada.


Aku takut jika dirinya yang seperti ini dapat membuat perasaan ku terhadapnya yang telah ku lupakan selama 8 tahun lamanya kembali lagi dan menyiksa ku seperti dulu.


"Raya?." Kak Joon yang menatap ku yang sedang melamun di depan kamar.


"Ya?."


"Apa koper ini aku taruh di sini saja?." Ucap Kak Joon yang sudah membawa barang-barang ku dari hotel.


Aku yang saat itu masih tak percaya bahwa aku akhirnya terjebak di Mansion milik keluarga besar Kak Joon, Aku mencoba mencerna semua ini dengan seksama dan alhasil aku malah melamun di depan kamar. Dan entah sejak kapan Kak Joon sudah berada tepat disamping ku dengan membawa koper milikku.


"Iya di sini saja!. Dan maaf merepotkan mu!." Ucap ku sambil mengambil koper dari tangan Kak Joon.


"Raya, apa kamu terbebani tinggal bersama ku?." Tanya Kak Joon.


"Hah!. Apa yang bisa ku lakukan?. Andai saja aku bisa mengatakan tidak apa kalian dapat menerimanya?." Tanya ku sambil mendengus kesal.


Lalu aku pun memutar handle pintu dan mulai masuk ke kamar yang telah disediakan pelayan. Namun tiba-tiba saja Kak Joon ikut masuk dan menutup pintu kamar itu dengan cepat. Dan Kak Joon tiba-tiba saja mengukung ku di balik pintu itu, wajahnya terlihat sendu menatap ku.


DEG


Jantung ini kembali berdetak kencang tanpa kemauan ku.


Aku melihat Kak Joon menatap mata ku dengan lekat, entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Raya, apa kamu sebenci itu terhadap ku?." Tanya Kak Joon yang lagi-lagi menatap mata ku dengan lekat seakan mencari sebuah jawaban. Jarak kami saat ini semakin dekat, Kak Joon mendekatkan bibirnya ke arah ku seakan ia akan meraupnya habis saat ini.


"Tidak!." Teriak ku spontan yang melihat bibir itu semakin mendekat dan semakin menggoda.


"Tidak?. Maksud mu?." Tanya Kak Joon yang tak mengerti dengan reaksi ku.


Aku pun mencoba meraup oksigen yang ada di sekitarku setelah menjauhkan Kak Joon dari sisi ku.


"Bisakah anda menjauh!. Setidaknya biarkan saya bernafas!." Pinta ku pada Kak Joon sambil menatapnya tajam.


Aku tahu ini sulit tapi aku harus mempertegas batas antara diri ku dan dirinya, bahwa hubungan kami tak bisa sama seperti dulu. Ya, walaupun aku mengakui bahwa akulah Raya yang dia maksud, tapi tak membuat diri ku dapat memperlakukan dirinya sama seperti dulu.


"Sekali lagi, apa yang membuat saya dapat membenci anda?." Tanya ku masih dengan tatapan tajam kepada Kak Joon.


"Raya, mengapa kamu berubah?. Apa yang terjadi?." Kak Joon yang masih tak mengerti atas sikap ku.


"Mr. Joon!. Pergilah!. Sebelum saya menjadi sangat marah!." Aku yang menunjuk arah pintu kepada Kak Joon.


"Tapi Raya, ada yang harus kamu jelaskan pada ku. Ku mohon!." Kak Joon yang memohon sebuah penjelasan. Tapi sayangnya saat ini aku terlalu marah dan tak ingin memberikan penjelasan apapun.


"Sekali lagi saya mohon anda pergi!." Aku yang kembali menatapnya tajam, ingin Kak Joon segera meninggalkan ku.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku tak akan mengganggumu untuk saat ini." Kak Joon yang akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan ku.


Setelah kepergian Kak Joon herannya jantung ini masih berdetak kencang, entah sejak kapan ia tak pernah mau menuruti ku apalagi ketika harus berada di dekat Kak Joon.


"Maafkan aku!. Aku tak bisa bersikap seperti dulu. Ini sulit bagi ku."


***


Joon Woo duduk sambil tertunduk lesu di gazebo yang ada di taman belakang Mansion, ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Raya yang selama ini ia rindukan menolaknya dengan keras, dan tak ingin menganggapnya seperti Kak Joon yang dulu.


Entah apa yang harus dia lakukan untuk mendekatkan dirinya kembali dengan cinta pertamanya itu. Mungkin ini terdengar konyol, bila ternyata Joon Woo sangat mencintai Raya bahkan sedari dulu. Dan cinta itu tak pernah hilang meski ia telah menikahi Jane dan memiliki anak dari hasil pernikahan mereka.


Joon Woo mencintai Raya, namun berusaha keras untuk menolak kehadiran Raya saat itu. Joon Woo ingat ketika itu ia pulang dengan perasaan bahagia setelah bertemu dan bermain bersama Raya. Ia baru ingin menceritakan hal itu kepada orang tuanya, namun tak sengaja ia mendengar bahwa dirinya ternyata telah dijodohkan dengan seorang gadis asal Korea yang merupakan rekan bisnis kakeknya. Saat itu ia melihat wajah bahagia kedua orang tuanya yang menceritakan kisah perjodohannya.


Ingin rasanya menolak permintaan dari orang tuanya, namun melihat wajah bahagia kedua orang tuanya itu Joon Woo hanya bisa mengangguk dan menyetujui permintaan mereka. Sedih?. Tentu saja, ia tak pernah menyangka bahwa nasibnya akan miris seperti ini. Baru saja ia menemukan cinta pertamanya, tapi ia sudah harus menguburnya dalam-dalam. Dalam pikirannya saat itu mungkin saja ini karena dirinya masih terlalu muda yaitu 13 tahun, maka mengira bahwa perasaan terhadap Raya hanyalah cinta sesaat sehingga ia menyetujui permintaan orang tuanya.


Namun ternyata ia salah besar, semakin hatinya menolak Raya, semakin perasaannya bertambah besar terhadap Raya. Joon Woo frustasi, bahkan ia sudah menolak Raya hingga ke dua kalinya untuk membuat perempuan itu menyerah terhadapnya.


"Aku adalah lelaki bodoh!." Joon Woo yang menyesali penolakannya saat itu.


Ia pikir ia akan menggila bila tahu bahwa perasaan Raya mungkin saja telah berubah terhadapnya, ia sangat takut hal itu terjadi.