
Hari itu aku memutuskan untuk membawa Kak Joon kencan berdua, niat hati ingin berbicara dengannya secara santai mengenai persoalan Ayah. Dan hari itu Kak Joon memutuskan untuk pulang lebih awal demi membawaku ke pantai Ancol di pulau Bidadari dan ia pun memesan satu lantai Cottage yang ada di sana demi kenyamanan diri ku.
"Mengapa harus mengosongkan satu lantai?. Itu pemborosan kak." Ucap ku yang protes dengan tindakan yang terkesan lebay dari Kak Joon.
"Katanya kamu ingin melihat pantai?. Di lantai ini dapat melihat jelas pantai. Jadi aku mengosongkan seluruh lantai ini hanya untuk mu." Ucap Kak Joon dengan bangga.
"Tapi bukan begini juga caranya." Kesal ku.
"Sudahlah sayang. Lagi pula saat-saat seperti ini memang pengunjung tidak terlalu ramai seperti di weekend." Ucap Kak Joon yang membenarkan tindakannya.
"HHmm.. tetap saja ini menurutku berlebihan." Aku yang masih menjawab Kak Joon dengan nada kesal.
"Baiklah!. Baiklah!. Tapi apa mau dikata semua sudah terjadi. Kini kita hanya bisa menikmatinya saja. Mumpung hari masih sore, langit di pantai sangatlah bagus. Ayo kita ke bawah!." Ucap Kak Joon seraya menarik ku pergi menuju lantai bawah Cottage.
"Kak!. Kita mau ke mana?."
"Ikut saja!." Pinta Kak Joon sambil menuruni tangga.
Akhirnya sampai juga kami di lantai bawah Cottage, pemandangan tepi pantai dari bawah Cottage sangatlah indah. Apalagi matahari sedang berwarna jingga menambah keindahan pemandangan saat itu. Aku pun yang melihatnya membuat hati ku berdesir, rasanya sudah lama aku tak menikmati keindahan alam seperti ini. Mungkin di Jerman aku pernah beberapa kali bepergian ke tepi pantai, tapi rasanya tidak seperti ini. Mungkin aku hanya rindu pada kampung halaman ku.
"Raya!. Ayo kita ke tepi pantai mumpung airnya masih belum pasang."
"Tapi aku tidak membawa sandal."
"Nyeker saja. Lihat!. Aku pun tak membawanya." Ucap Kak Joon sambil melepas sepatu yang ia pakai di hadapanku.
"Baiklah!." Akhirnya aku pun ikut membuka sepatu milik ku lalu setelah itu ikut berlari bersama Kak Joon ke tepi pantai.
"Zrasss!." Suara desir ombak yang membasahi tepi pantai kala itu. Aku sedikit-sedikit menghindari ombak yang hampir menerpa kami.
"Jangan menghindar!. Biarkan saja itu membasahi mu." Pinta Kak Joon yang saat ini tubuhnya sudah separuh basah karena terpaan ombak.
"Aku tak suka bila harus kotor, karena air pantai sangat kotor." Ucap ku yang memang tak suka bila tubuh ku terlihat kotor dan lepek.
"Sini!."
"ZraSss!!." Ombak pun menerpa ku dan alhasil tubuh ku seluruhnya basah karena air ombak yang saat itu sedang kencang menerpaku.
"Kak!." Teriak ku kesal kepada Kak Joon yang menarik ku paksa mendekati ombak.
"Maaf!. Maaf!." Ucap Kak Joon sambil tertawa riang.
Lalu Kak membawa ku berlari di tepi pantai, dan kami pun berakhir dengan saling mengejar satu sama lain persis seperti yang ada di drama Korea. Dan aku pun merasa bahagia karena akhirnya aku dapat merasakan apa artinya memiliki seorang kekasih dimana kami dapat mengisi satu sama lain baik suka maupun duka.
Dan setelah itu kami pun duduk di tepi pantai sambil melepas lelah karena telah lama berlarian. Kak Joon dan aku menatap matahari yang saat itu hampir tenggelam karena cuaca sudah memasuki senja dan hampir menjelang malam hari. Aku menatap Kak Joon yang sangat tampan dengan wajahnya sudah basah dengan air.
"Ternyata beginilah pemandangan menatap kekasih sendiri. Bersyukurnya aku yang sudah memiliki mu, Kak." Senyum ku menghiasi wajah ku, yang menatap kagum Kak Joon saat itu.
"Raya, katanya ada yang ingin kamu bicarakan?. Apa itu?." Tanya Kak Joon yang seketika membuat mimik wajah ku berubah. Pasalnya aku tahu apa yang akan ku katakan ini akan membuat Kak Joon sedikit resah.
"Ayah akan ke Jakarta bulan depan." Ucap ku yang langsung membuat Kak Joon tercengang.
Namun seketika wajah Kak Joon pun berubah, ia lalu tersenyum menatap ku.
"Baiklah!." Ucap Kak Joon yang kali ini berbalik membuat ku tercengang dibuatnya. Pasalnya reaksi Kak Joon tak seperti yang kupikirkan.
"Kamu tidak terkejut?. Atau panik?." Tanya ku heran.
"Buat apa?. Aku justru mengharapkannya agar aku segera bisa melamar mu." Kak Joon yang lagi-lagi tersenyum.
"Tapi.."
"Sstt.. sudahlah!. Aku tahu lambat laun kita harus bicarakan ini dengan Ayah mu." Ucap Kak Joon.
"Kapan rencana Ayah mu akan kemari tepatnya?." Tanya Kak Joon.
"Dua minggu lagi." Jawab ku.
"Baiklah!. Aku akan menyiapkan segalanya untuk Ayah mu. Aku tak akan membiarkan Ayah mu itu datang tanpa sambutan bukan?." Ucap Kak Joon pada ku yang seketika membuat hati ku luluh kepadanya. Ternyata Kak Joon sebegitu pedulinya dengan ku dan Ayah. Aku pun semakin dibuat terkagum-kagum padanya.
"Ayo kita kembali!. Hari sudah gelap!." Ajak Kak Joon seraya membantu ku berdiri.
Dan kami pun kembali ke Cottage menjelang malam hari.
***
Di Mansion keluarga Kim di Busan
"Nyonya, ada telpon dari Mr. Joon." Ucap seorang pelayan lelaki yang ada di Mansion itu.
"Oh, baiklah!." Ucap Nyonya Chae sembari mengambil telpon dari tangan sang pelayan.
"Halo. Joon. Apa kabar mu?." Sapa Nyonya Chae pada putranya Joon.
"Ada apa Joon?. Tumben kamu butuh Omma?."
"Aku harus melamar Raya." Ucap Joon Woo.
"Apa ada yang harus aku siapkan?." Tanya Nyonya Chae padanya.
"Tidak perlu, omma hanya cukup membawa diri omma saat itu."
"Baiklah Joon. Tunggu Omma, Omma harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda di sini."
"Baiklah, Omma. Jangan membuatku menunggu terlalu lama!."
"Kau ini sangat tidak sabaran dengan apa yang berhubungan dengan Raya."
"Omma sudah tahu hal itu, kenapa masih saja membuat ku menunggu?."
"Tenanglah, Joon. Jika Raya memang jodoh mu, ia tak akan ke mana-mana. Percayalah!."
"Baiklah, Omma. Aku tutup dulu karena Raya sedang menunggu ku."
Nyonya Chae terkejut dengan alasan Joon Woo menutup telponnya dengan cepat yaitu karena Raya. Ia berpikir bahwa anaknya sudah sangat berubah dan senyum pun terbit di wajahnya mengetahui hal tersebut.
"Joon ternyata kamu telah berubah, dan sepertinya kamu sudah menemukan kebahagiaan mu."
Nyonya Chae langsung melihat ke sebuah majalah yang ada di atas meja. Terlihat headline foto Jane di majalah tersebut. Senyum pun seketika memudar dari wajah Nyonya Chae.
"Apa yang membuat Joon ingin segera melamar Raya?. Apa karena ini?."Nyonya Chae memicingkan matanya melihat majalah tersebut sambil berpikir serius.
"Aku harus mencari tahu hal ini." Nyonya Chae pun berpikir siapa yang dapat menolongnya saat ini. Lalu ia pun memijit nomor di telponnya. Dan nomor itu pun terhubung kepada seseorang.
"Halo."
"Halo, sayang. Apa kabar mu?." Sapa Nyonya Chae kepada orang tersebut.
"Siapa ini?." Tanya orang tersebut yang merasa tak mengenali Nyonya Chae.
"Ini Omma, bisa-bisanya kau tak kenal Ibu mu sendiri!."
"Ya, Nyonya apa kabar anda?." Ucap lelaki itu bila terdengar dari suaranya.
"Sampai kapan kamu akan terus memanggil ku dengan sebutan Nyonya. Panggil aku Omma!." Paksa Nyonya Chae.
"Memang itu yang harus aku lakukan setidaknya."
"HHmm.. panggilah aku Omma setidaknya saat hanya kita berdua seperti ini."
"Baiklah, Omma."
"Sayang, ada yang ingin Omma minta pada mu."
"Apa itu, Omma?."
"Omma minta tolong awasi Jane. Aku rasa Jane sedang ada di Jakarta saat ini."
"Aku sibuk Omma!. Omma tahu pekerjaan ku."
"Aku tahu, tapi setidaknya kau bisa membantu ku sedikit untuk mengawasi wanita itu. Aku khawatir ia akan berbuat nekad. Setidaknya sewalah seorang ahli teknologi untuk meretas ponselnya agar kau tahu kemana saja ia pergi."
"Itu perbuatan ilegal!. Aku tak mau!." Tolak lelaki tersebut.
"Omma tahu kamu memiliki teman yang handal dibidang tersebut. Mintalah teman mu untuk membantu Omma. Boleh ya!. Pliss!." Mohon Nyonya Chae.
"Hhmm... Aku akan coba tapi aku tak janji karena ia juga sibuk."
"Kau pasti bisa sayang!. Pliss!." Nyonya Chae yang tak gentar memohon.
"Baiklah!. Baiklah!." Akhirnya lelaki itu memenuhi permintaan Nyonya Chae.
"Kamu memang yang terbaik!. Andai saja kau juga bisa membantu Joon dalam hal bisnis, mungkin itu lebih baik."
"Sudahlah Omma!. Kau sangat tahu jawabannya."
"Maaf sayang, Omma hanya mengharapkan agar kalian dapat bersatu."
"Sudah Omma, aku harus segera kembali bekerja."
"Baiklah, sayang."
Dan Nyonya Che pun menyudahi panggilannya dengan lelaki itu, lagi-lagi senyum terbit di wajahnya. Ia bersyukur akhirnya permintaannya dipenuhi oleh lelaki itu.